Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 52

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 52

Bentuk tubuh mereka beragam, ada yang pendek, ada yang tinggi, dengan berbagai warna seperti putih, merah, biru, hitam, dan sebagainya. Pengetahuan mereka lebih luas dan usia mereka sangat panjang hingga mencapai ribuan tahun. Kecepatan gerak jin melebihi kecepatan cahaya dalam suatu waktu.

Karena jin merupakan makhluk yang tersembunyi, tidak zahir seperti manusia dan tidak sepenuhnya gaib seperti malaikat, maka ruang yang kecil pun dapat diduduki oleh jutaan jin; mereka juga dapat merasuki dan menghuni tubuh manusia. Jumlah jin sangat banyak hingga jika jumlah semua manusia dari Nabi Adam sampai hari kiamat dikalikan dengan jumlah hewan, batu, pasir, dan semua tumbuh-tumbuhan, jumlah tersebut hanya sepersepuluh dari total keseluruhan jin.

Alam tempat berdiamnya jin berada di lautan, daratan, udara, dan di Alam Mithal, yaitu suatu alam yang terletak di antara alam manusia dan alam malaikat. Jika kita diberikan kemampuan oleh Allah untuk melihat jin, sudah tentu kita akan melihat jarum yang jatuh dari atas tidak akan sampai ke bumi, melainkan jatuh di belakang jin karena saking banyaknya jumlah mereka.

"Akh... emhhh." Parakusti menggeliat. Paraseja, Paramitha, dan Parahusada segera melepaskan pakaian mereka dan bergabung dengan Parakusti. Malam itu, bulan mengintip malu-malu. Di dalam gua terdengar jeritan-jeritan nikmat, jeritan puas, dan napas yang saling memburu menemani malam yang sepi.

Debur ombak bergemuruh memecah karang, gemerisik air menyapa pesisir pantai laksana denting piano, dan kicauan burung camar bersahut-sahutan menyemarakkan suasana. Sinar matahari kekuning-kuningan menerobos sela-sela karang, menyinari seorang pemuda yang tergeletak di antara jepitan karang. Pemuda itu dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun, rambutnya panjang menutupi dadanya yang bidang, dan tubuhnya kekar berotot dengan penuh luka sayatan.

Perlahan pemuda itu sadarkan diri dari pingsannya. Setelah berusaha duduk, pemuda itu termangu-mangu melihat di samping kanannya tergeletak satu stel pakaian berwarna hijau muda transparan dengan jas berwarna hijau tua di samping bangkai rakit.

"Aneh, mengapa aku tergeletak di sini? Ukh," pemuda itu mengeluh ringan. "Hemm, apakah kejadian itu cuma mimpi belaka? Jikalau memang hanya mimpi, mengapa baju pemberian empat selir raja jin dan luka sayatan ini ada di sini?"

Ternyata pemuda itu tidak lain adalah Aram. Rupanya ia baru sampai ke alam manusia. Setelah melakukan hubungan badan dengan keempat selir jin itu, Aram tertidur karena kelelahan, dan setelah bangun ia sudah berada di alam nyata; tidak heran mengapa ia terlihat kebingungan.

"Sudahlah. Kakek itu bilang satu tahun di sana sama dengan satu bulan di sini, dan aku berada di sana selama dua tahun setengah, berarti masih ada waktu satu tahun sembilan purnama setengah. Hemm, aku harus bergegas menemukan tempat dalam peta itu, lalu merencanakan rencana berikutnya."

Dengan bergegas, pemuda itu memakai pakaian yang menurutnya rumit. Setelah selesai, ia segera meloncat ke atas batu karang dan bersalto di udara menuju sisi hutan. Gerakannya indah dan ringan laksana rajawali perkasa dari alam dewa.

"Jlegg!" Ia mendarat dengan ringan. Baju itu sangat indah dan aneh; baju dalamnya tidak ketat dan berwarna hijau transparan dengan lengan sebatas siku, sementara baju luarnya atau jasnya hanya ada di bagian kiri, seperti peralatan untuk olahraga memanah. Baju luarnya diikat dengan lima utas tali dari bahan yang sama. Sabuknya berwarna senada dengan ukiran yang indah, celananya panjang sebatas mata kaki, namun tertutup dengan sepatu panjang sebatas lutut yang berukiran abstrak. Di bagian lututnya terdapat pelindung lutut berbentuk segitiga.

Dengan mengedarkan mata rajawalinya, Aram menatap hutan untuk menentukan suatu titik temu. Dengan sekali genjotan, tubuhnya meluncur di dahan-dahan dan ranting pohon. Laksana seekor serigala yang mencari mangsa, Aram menajamkan penciumannya dan menerobos hutan.

Setelah berlari, ia berdiri di depan sebuah bangunan batu yang sudah ambruk. Di depannya terdapat tangga dari susunan batu yang rapi. Tampaknya itu hanya tangga biasa, namun bagi mata awas Aram, ia tahu tangga itu mengandung unsur barisan kuno yang disebut dengan "Barisan Tangga Naik Surga". Barangsiapa yang terjeblos ke dalam tangga itu, ia bakal tersesat ke dalam bayangan alam bawah sadarnya; ia akan berfantasi dengan khayalan hingga mati karena kegembiraan yang berlebihan.

Dengan berjalan menurut hitungan rasi bintang, Aram mulai masuk ke dalam barisan. Ia berhati-hati maju dua langkah ke depan, lalu mundur lagi selangkah. Ia kemudian bergeser ke arah kiri, namun ketika kaki kirinya menjejak salah satu susunan batu, mendadak tanah di sekitar batu itu amblas!

Aram terkejut. Ia heran karena merasa melangkah dengan benar. Tinggal selangkah lagi ia bisa keluar dari barisan itu, namun sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi. Belum sempat Aram menyadari penyebabnya, tubuhnya tersedot ke lubang besar yang kini menganga.

*Srrr!* Tubuhnya terus meluncur dalam lubang menurun yang panjang berliku. Bunyi kerikil dan rumput yang ikut terseret tubuhnya terdengar seperti ribuan ular yang lewat. Sampai suatu ketika....

"Huppzz... hait... jlegg!" Aram mendarat di tanah dengan mulus. "Hem, apalagi yang akan terjadi padaku?" keluh Aram dengan sedih. Setelah memantapkan hatinya, Aram mulai mengawasi keadaan sekitarnya.

Rupanya, ia berada di sebuah ruangan yang cukup luas dengan dinding batu cadas yang melingkar hingga ke atas. Pada beberapa bagian dinding, terdapat mutiara-mutiara indah yang menerangi tempat itu. Hawa di dalam ruangan cukup lembap, namun tidak berbau amis, melainkan berbau harum.

Bau harum itu menarik perhatian Aram. Rupanya ada bunga berwarna putih di atas meja beralaskan kain kuning emas. Aram terheran-heran melihatnya. Bermacam-macam dugaan berkecamuk dalam benaknya, namun tak satu pun yang terjawab, sehingga kian membangkitkan rasa ingin tahunya.

Aram segera mengatur napas untuk menjaga kemungkinan yang bakal terjadi saat menghampiri bunga itu. Setelah dekat, Aram mencoba mengamatinya. Keningnya berkerut seakan tidak mengerti suatu hal. Aram mencoba menempelkan telunjuk kanan dan kirinya di sudut meja, perlahan ditarik miring hingga membentuk segitiga, lalu ditarik lagi hingga membentuk gambar kristal namun lebih panjang. Kemudian ditarik ke atas membelah bentuk tadi, telunjuk kanannya ditarik ke kiri hingga jadilah bintang segi tujuh.

*Srettt!* Sebuah benda kecil melesat dan dengan sigap berpindah ke tangan Aram. Benda itu kecil dan panjang; setelah diperhatikan, ternyata itu adalah sebuah bambu kecil dengan kain penyumpal di salah satu ujungnya. Dengan hati-hati, Aram membuka tutup itu. Ternyata di dalamnya terdapat surat bertuliskan bahasa Sunda yang bila diterjemahkan isinya adalah:

"Cucuku Aram Widiawan, aku adalah buyutmu yang bernama Avatara Batara Yuda. Surat ini aku tulis beberapa abad sebelum engkau lahir. Pada masa tuaku sebelum meninggalkan dunia ini, dunia terjadi kekacauan hebat. Menilik usiaku yang sudah tua, aku akhirnya mengambil murid yang selanjutnya bergelar Pangeran Empat Dewa. Aku perintahkan muridku itu untuk membasmi biang keladi kekacauan tersebut, namun muridku terlalu memiliki wajah cakap sehingga tiap langkahnya selalu dikacaukan oleh wanita. Singkat cerita, muridku tidak dapat membunuh biang keladi itu, ia hanya mampu membuat cacat tubuhnya dan ia telah bersumpah bahwa ia akan datang pada suatu saat melalui keturunannya. Celakanya, pembalasan itu datang pada masamu. Maka sebagai cucu buyutku, aku ingin kau membasminya demi kesejahteraan umat manusia. Di atas meja terdapat Bunga Kemuliaan; mandi dan minumlah air itu untuk menghilangkan perilaku buruk hewanisasi dan tubuh gaibmu. Darah hewan dan gaibmu tidak akan berubah sebab sudah menyatu dengan darah dagingmu, tapi perilaku seperti memakan daging mentah dan darah akan menghilang. Ambil segi positifnya, buang segi negatifnya. Aku mempercayaimu. Di peti bawah meja terdapat Kitab Penerobos Dimensi. Kau dapat berpindah alam ataupun berpindah ke negeri dan tempat lainnya hanya dalam waktu sekejap mata. Tak usah kau pergi ke perpustakaan keluargamu sebab ilmumu terlalu beragam, apalagi ilmu-ilmu itu tak dapat dipelajari dengan kondisi tubuhmu. Salam, Avatara Batara Yuda."

Aram benar-benar terkejut setelah membaca surat itu. Ternyata semua hal yang dialaminya telah diramalkan beberapa abad yang lalu. Ia benar-benar kagum terhadap buyutnya; meramalkan kejadian beberapa abad mendatang adalah hal yang benar-benar sulit dilakukan.

"Baik, Eyang. Aku pasti dapat membasminya, apa pun yang terjadi..." desisnya bersemangat.

Aram segera mengambil Bunga Kemuliaan dan membawanya ke pojok ruangan, di mana terdapat kubangan air berbentuk sumur. Ia segera melepaskan pakaiannya, turun ke sumur, lalu bersemedi. Dua hari dua malam berlalu, Aram masih terlihat bersemedi di dalam sumur. Perlahan ia membuka matanya dan meminum air sumur itu. Setelah dirasa cukup, Aram segera melompat ke darat, memakai pakaiannya, kemudian beranjak mengambil kitab di bawah meja.

Kitab itu merupakan kitab yang luar biasa. Ternyata kitab itu adalah kitab alam yang menyatakan bahwa waktu akan berjalan lebih lamban jika berada di dekat medan gravitasi; oleh karenanya, gravitasi memiliki cangkang-cangkang waktu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment