Chapter 53
Kesimpulannya, ketika kita melaju lurus pada satu kecepatan, sebenarnya kita berada pada satu cangkang dari medan gravitasi. Berdasarkan teori tersebut, akhirnya terciptalah sebuah ilmu yang dapat mengantarkan manusia ke tempat lain dalam waktu relatif singkat yang diberi nama Kitab Penerobos Dimensi.
Aram tersenyum senang. Dengan tekun ia mempelajari kitab itu sekaligus membenahi tempat tersebut. Berbekal kemampuannya dalam mengolah masukan data dan mengaplikasikannya dalam kehidupan, dalam jangka waktu satu bulan, Aram akhirnya dapat menguasai ilmu itu dengan cukup sempurna.
Selama berada di ruangan itu, Aram hanya memakan lumut hijau dan air dari sumur untuk mengisi perutnya. Seperti hari itu, terlihat di tangannya tergenggam setumpuk lumut yang menjadi santapannya. Tengah asyik mengunyah sambil melepaskan lumut dari batu, tiba-tiba ia melihat sebuah tonjolan kecil yang menurutnya tak lazim. Dengan diliputi rasa penasaran, Aram memencet tonjolan itu.
"Drtt.... jrek... drek!"
Tiba-tiba dinding ruangan terbuka, munculah sebuah ruangan lain yang penuh dengan rak buku, senjata, dan peralatan lainnya.
"Ah, ternyata ini ruangan keluargaku. Meski buyutku menyuruhku tak ke sini, ternyata aku ke sini juga," gumam Aram sambil masuk ke dalam ruangan melewati pintu batu yang terbuka. Matanya yang tajam mengedar ke sekeliling ruang yang hanya diterangi cahaya mutiara dari dinding. "Sepertinya di tempat ini banyak ruangan yang cocok dijadikan markas pusat," pikirnya dalam hati.
Aram berpikir sambil tangannya menarik salah satu pedang yang menancap di dinding. Saking asyik dengan pikirannya, ia tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Begitu tangannya memutar-mutar pedang itu, tiba-tiba... *Derrr!*
Mendadak, dinding batu cadas di samping Aram bergeser ke kiri. Perlahan namun pasti dinding itu bergerak hingga akhirnya membentuk lubang yang menembus langsung ke dunia luar. Aram terhenyak kaget. Buru-buru kakinya melangkah mendekati lubang itu dan melongok ke luar. Ternyata ia telah berada di puncak bukit di pulau tempatnya datang. Petir menyambar-nyambar dahsyat di bukit itu, ternyata bukit itu merupakan bukit tertinggi di tempat tersebut.
"Hem, hehe... hahaaha," Aram tertawa bahagia dan berjingkrakan.
Pagi mulai menjelang. Suasana sejuk menyelimuti puncak bukit di sebuah pulau yang tak diketahui namanya ini. Seorang pemuda tampan tampak sedang berkutat menaikkan batu sebesar kerbau yang telah terpangkas rapi membentuk persegi panjang sepanjang dua tombak ke atas tiang penyangga yang telah disiapkan.
"Hupzzhhh... Tahap pertama selesai, tinggal kedua," ucap pemuda itu. Pemuda yang tak lain adalah Aram.
Tampak Aram berdiri di hadapan pintu batu itu, mimik wajahnya tampak serius seperti orang yang sedang berpikir. "Hem, lebih baik aku buat dulu jalan menuju belakang Gunung Wayang. Dengan begitu, membenahi markas rasanya lebih ringan bila dikerjakan bersama-sama," gumamnya.
Setelah menimbang-nimbang secara matang, akhirnya ia memutuskan itulah salah satu jalan terbaik saat itu. Aram bersujud kepada bumi, setelah bangkit tangannya diangkat ke langit seperti menahan benda jatuh. Kedua tangannya ditarik ke samping membentuk lingkaran dan bertemu lagi di dada seperti saat menyembah. Dengan disertai teriakan nyaring, tangannya didorong ke muka.
"Wahai bumi, wahai langit, pinjamkanlah napas kalian padaku... Hiaaattt!"
Diiringi bergetarnya bumi dan menyalaknya petir, di antara kedua batu itu muncul lingkaran sihir lalu membuka dan menyedot kerikil yang ada di sana. Fenomena alam yang diciptakan oleh Aram ini, secara teoritis, merupakan lorong magnetik yang di dalamnya memiliki gravitasi kuat yang mampu menarik apapun yang masuk ke dalamnya dan mendorongnya ke ujung lorong yang lain hanya dalam beberapa saat. Yang dimaksud dengan "ujung lorong lain" ini adalah pintu dari alam semesta yang paralel dengan kita, atau bisa juga alam semesta dari galaksi lain maupun alam semesta yang sama namun berbeda tempat.
Sementara di tempat lain, di sebuah hutan yang biasanya tak tersentuh tangan manusia karena kecuramannya, terlihat beberapa kumpulan manusia, dari pemuda sampai kakek-kakek. Mereka membuat lingkaran seperti sedang berdiskusi. Terdengar salah seorang dari mereka berkata.
"Para hadirin sekalian, segenap keluarga besar Bendera Awan Langit, seperti yang kita ketahui, beberapa sahabat kita telah kehilangan jiwanya dalam sebuah rencana terakhir yang diambil ketua kita, Aram Widiawan atau Pendekar Seribu Diri. Seharusnya rencana ini tidaklah terjadi apabila pihak kerajaan tidak ikut campur. Namun, kita tidak boleh picik pikiran dengan menganggap kerajaan sebagai pihak bersalah, karena bagaimanapun kerajaan juga merupakan salah satu korban dari organisasi yang mengerikan itu.
Kita harus bersyukur karena memiliki seorang ketua yang luar biasa cerdasnya, sehingga posisi kita yang sedang berada pada kondisi terjepit masih dapat diselamatkan, meski beberapa jiwa sahabat kita menjadi korbannya. Selain itu, kita juga masih dapat menipu pandangan kaum persilatan demi kelanjutan ke depannya. Aku, Si Pengabar Langit, mempersilahkan kepada Juang organisasi kita, Ki Makmur, untuk melaporkan keuangan organisasi kita."
"Baik, Wakil Ketua. Langsung saja, pendapatan kita dari sejak didirikan Bendera Awan Langit sampai sekarang telah mencapai sembilan puluh peti emas dan seratus peti perak. Terpakai saat ini sekitar lima peti emas dan sepuluh peti perak. Sisa delapan puluh lima peti emas dan sembilan puluh peti perak. Itu didapatkan dari hasil kerja Ketua Aram dari Komandan Otoy, perampasan dari Panji Telapak Perak, pengamanan uang kerajaan oleh Tuan Muda Rehan, dan hasil kerja dari sepuluh golongan."
"Terima kasih kepada Juang kita, Ki Makmur, yang telah melaporkan kekayaan kita. Dilanjut kepada Julis kita, Ki Brahma, untuk menyampaikan laporannya," kata Si Pengabar Langit.
"Langsung saja, Bendera Awan Langit memiliki dua ratus delapan puluh jiwa pasukan inti dan sembilan ribu tiga ratus dua puluh lima pasukan luar. Akibat pertarungan dengan Panji Telapak Perak, kita kehilangan seratus sembilan puluh jiwa pasukan luar dan empat puluh sembilan jiwa pasukan inti. Sisa sembilan ribu seratus tiga puluh lima jiwa pasukan luar dan dua ratus tiga puluh satu jiwa pasukan inti. Karena bentrokan dengan kerajaan, kita kehilangan seribu tujuh ratus delapan puluh satu jiwa anggota luar dan sembilan puluh anggota inti. Sisa tujuh ribu tiga ratus lima puluh empat jiwa anggota luar dan seratus lima puluh jiwa anggota inti. Karena pembantaian Organisasi Nawa Awatara, kita kehilangan seribu enam ratus sembilan puluh dua jiwa anggota luar dan terus berkurang, sementara anggota inti tetap berjumlah seratus lima puluh. Demikian laporan dari saya, terima kasih."
"Silahkan kepada Duta Langit untuk menyampaikan laporannya tentang kondisi dunia persilatan saat ini," Si Pengabar Langit kembali berkata.
"Terima kasih Wakil Ketua. Menurut hasil laporan dari berbagai pihak dan penyelidikan kami, empat hari sejak kita menghilang dari dunia persilatan, telah muncul sebuah organisasi yang mengerikan. Mereka menamakan organisasinya Nawa Awatara (Nawa: sembilan, Awatara: penampakan dewa). Mereka muncul serentak di sembilan ratus tempat dan langsung membantai semua jago persilatan yang berani menentang, sehingga meresahkan masyarakat. Yang paling mengenaskan adalah para perempuan; setiap hari mereka harus melayani nafsu bejat para anggota Nawa Awatara."
"Maaf, Duta Langit Nyi Asri," Brahma menyela. "Sekiranya di manakah letak markas pusat Nawa Awatara itu?" tanyanya kepada seorang lelaki berpakaian penduduk biasa dengan tambang melilit di pinggangnya.
"Maaf Ki Brahma, mengenai itu akan disampaikan oleh Duta Langit Ki Siwa," Nyi Asri berpaling kepada sosok pemuda berusia tiga puluhan dengan pakaian penuh tambalan.
"Hem, menurut analisa dari hasil pengumpulan data para pengemis jalanan bawahan saya, markas pusat itu berada di sekitar Pulau Borneo, tepatnya di Desa Mujung Sungkur," Ki Siwa membeberkan secara efektif, singkat, jelas, dan padat.
"Adakah di antara kalian mengetahui ciri-ciri pemimpin organisasi itu?" yang berkata kali ini adalah seorang kakek berpakaian petani. Kakek itu berwajah ramah, dihiasi jenggot dan kumis putih, suaranya lantang bagaikan guntur. Ia tak lain adalah Ki Guntur.
"Hihihi," seorang gadis berbaju merah dengan belahan dada agak lebar tertawa cekikikan mendengar ucapan Ki Guntur. Gadis yang berwajah mungil tapi cantik itu memiliki mata bundar indah, bulu mata lentik, bibir mungil, hidung bangir, serta kulit kuning mulus. Rambutnya panjang lurus lemas dengan poni depan.
Gadis itu tak lain adalah Dewi Mawar, Duta Langit ketiga dan termuda. "Apa sih yang tak bisa kita ketahui? Jangankan wajahnya, dalamnya pun aku tahu... malu dong jika kita berpangkat Duta Langit bila masalah sepele seperti itu saja tidak tahu."
Berbeda dengan Siwa yang langsung ke inti, tampak sekali bahwa Dewi Mawar lebih suka basa-basi yang membuat semua orang menghela napas.
"Mohon jangan bertele-tele, Duta Langit Dewi Mawar," seorang pemuda tampan berpakaian perlente menyela. Dia adalah Rehan.
"Baiklah, baik... Dia merupakan seorang pemuda berusia sekitar dua puluh sembilan tahunan, wajahnya cakap dengan tahi lalat di atas alis sebelah kiri, hidungnya mancung, bibirnya tipis seperti perempuan."