Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 54

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 54

Rambutnya sebatas pundak. Biasanya dia memakai baju berwarna merah darah. Di dada kirinya terdapat rajah piramida berantai dengan tulisan angka sembilan. Di atas pangkal pahanya juga terdapat rajah naga yang melingkar ke pinggangnya. Ke mana pun ia pergi, ia selalu membawa barisan empat gadis cantik dan lima lelaki tampan," jelas Dewi Mawar.

Mereka terus berbincang-bincang. Bahkan anggota biasa pun ikut berpartisipasi. Dalam berdiskusi, memang Bendera Awan Langit memiliki adat yang bagus, yakni setiap anggota memiliki hak bicara ataupun mengambil suara (keputusan). Tengah mereka asyik berdebat, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adanya gaya tarik yang hebat dari sebuah batu cadas besar di belakang mereka. Dengan serabutan, semuanya menghindar dan berdiri agak jauh.

Ternyata dari batu cadas itu muncul sebuah lingkaran bergaris-garis, dan sesuatu yang mencengangkan segera terjadi. Dari dalam lingkaran itu, muncul sosok pemuda tampan berbaju hijau. Baju itu sangat indah dan aneh. Baju dalamnya tidak ketat, berwarna hijau transparan, berlengan sebatas siku, memperlihatkan goresan-goresan luka di tubuhnya, sementara baju luarnya—atau jasnya—hanya ada di sebelah kirinya, seperti peralatan untuk olahraga memanah. Baju luar itu diikat dengan tali dari bahan yang sama, terdiri dari lima utas tali. Sabuknya berwarna senada dengan bajunya dan berukiran indah. Celananya juga terbuat dari bahan yang sama dengan baju luar, panjang sebatas mata kaki, namun tertutup sepatu panjang sebatas lutut yang berukiran abstrak. Di bagian lututnya terdapat perhiasan pelindung lutut yang membentuk segitiga.

Rambut pemuda itu panjang dengan kuncir kuda. Di kuncirnya terselip senjata kecil berbentuk kujang. Mata pemuda itu liar dan tajam bagaikan rajawali. Kulitnya putih, seputih salju.

"Ketua..." Si Pengabar Langit berteriak dan berlutut, diiringi dengan yang lainnya.

Apa yang akan dilakukan anggota Bendera Awan Langit ketika ketuanya datang? Dan apa yang akan dikatakan seorang raja penguasa Tanah Jawa daratan Sunda kepada Aram? Laksana ribuan semut pindah sarang, beberapa ratus manusia berduyun-duyun membawa barang bawaannya. Beberapa peti mati tampak beriringan bak ular yang sedang berjalan. Seorang pemuda tampan bermata rajawali tampak diam mematung di samping ujung iringan. Ujung iringan itu ternyata adalah sebuah lingkaran berputar berwarna toska di antara batu cadas tinggi menjulang.

Setelah mencapai akhir, pemuda itu berkata, "Rehan, apakah semuanya beres? Adakah yang tertinggal?"

"Semuanya beres, Ketua."

"Baiklah, lekas masuk."

"Mari."

Lalu keduanya masuk ke dalam lingkaran dan menghilang. Di sebuah bukit di pulau tanpa nama, tampak manusia berbagai usia sedang duduk melingkar. Di sebelah utara mereka tampak batu berbentuk pintu tinggi menjulang dengan dua orang pemuda tampan bersedekap dada berjalan menuju ke arah lingkaran. Setelah sampai, seorang di antaranya duduk bersama yang lain, sementara yang satunya lagi meneruskan hingga berada di tengah lingkaran.

"Selamat sore semuanya... lama kita tak berjumpa, aku harap kalian semua dalam keadaan sehat walafiat," sapa pemuda bermata rajawali itu.

"Siap mati, siap tempur!" jawab mereka serempak.

"Hem, syukurlah. Adakah di antara kalian yang paham dengan maksudku membawa kalian kemari?"

Semua hening tak ada yang menjawab, namun di antara semuanya ada seseorang yang mengacungkan tangan.

"Silahkan, Buana Dewa?" Pemuda yang tak lain Aram itu mempersilahkan.

"Maafkan hamba, Ketua," kata Buana Dewa. Buana Dewa adalah pemuda yang tidak terlalu tampan namun menarik dengan jenggot tipis yang dicukur.

"Jangan sungkan, utarakan yang ingin kau katakan."

"Baik, Ketua. Saya yang bodoh ini menduga bahwa Ketua membawa kami kemari karena memang Ketua menginginkan tempat ini sebagai markas pusat."

"Hahaha... bagus, bagus! Tak sia-sia kau menjadi komandan bendera. Memang maksudku membawa kalian kemari adalah untuk membenahi markas kita, markas yang takkan bisa dijangkau dengan darat, tapi tidak untuk kita, sebab kita bisa melakukannya seperti membalikkan telapak tangan," puji Aram yang membuat wajah Buana Dewa memerah.

"Sebelum aku memulai ke acara inti dalam diskusi ini, aku ingin mempersilahkan kepada yang mulia Adipati Rajalela untuk mengucapkan beberapa patah kata yang mengganjal hatinya. Aku tidak suka bila ada anggotaku memiliki ganjalan yang bakal menjadi duri dalam kepemimpinanku," ucap Aram diplomatis.

Seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh delapan tahunan terhenyak, namun segera ditenangkan oleh seorang wanita paruh baya yang masih tampak kecantikannya. "Tenanglah suamiku, benar apa yang dikatakan pemuda itu. Katakan apa yang ingin kau katakan," bisiknya lembut.

"Silahkan, Yang Mulia..." Aram mempersilahkan kembali.

Adipati Rajalela tersenyum ramah, dengan perlahan ia maju ke depan Aram dan bersoja. Aram tersipu, dengan senyuman di bibir ia membangunkan Adipati itu. "Tak usah banyak adat, Yang Mulia. Aku bukanlah seorang yang berdarah biru," ucapnya lagi.

"Baiklah, Ketua dan segenap anggota Bendera Awan Langit. Aku pribadi mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf atas segala ulahku. Sebagai Adipati, aku mohon maaf atas keteledoran dan kelemahanku dalam memimpin negara sehingga harus terkena siasat untuk menghancurkan organisasi yang belakangan ini kuketahui sebagai tonggak dari dunia ini. Aku... aku tak menyangka bahwa aku masih diterima dengan tangan terbuka, sekaligus diselamatkan dari kematian oleh organisasi yang telah aku hancurkan," Adipati Rajalela berkata terisak-isak. Ia menangis dengan sedihnya sehingga tempat itu diselimuti rasa duka.

"Ada yang ingin kau sampaikan lagi, Yang Mulia?"

"Ada, aku ingin ikut bergabung dengan organisasi ini. Aku ingin menebus kesalahanku terhadap organisasi ini juga masyarakatku. Aku ingin melindungi semuanya. Ketua... jadikan aku anggotamu." Adipati Rajalela bersujud di kaki Aram, namun tak kesampaian sebab Aram telah berada di belakang tubuh Adipati Rajalela.

"Hem, Yang Mulia, mintalah kepada anggotaku, bukan kepadaku... sebab keputusan paling mutlak berada pada mereka," bisik Aram lembut.

Adipati Rajalela bangkit dan segera bersujud di hadapan sekalian hadirin. Ia berkata dengan semangat dan air mata, "Mohon terimalah aku menjadi sesama anggota bersama kalian."

Para hadirin tercengang. Bagaimanapun, Adipati Rajalela adalah seorang raja yang dihormati. Kini ia bersujud di hadapan mereka, bukankah dunia sudah terbalik? Tiba-tiba dua sosok perempuan ikut juga bersujud di samping Adipati Rajalela dan meminta menjadi anggota. Mereka adalah istri Adipati dengan putrinya. Sebenarnya putri Adipati yang bernama Laraspati adalah seorang gadis yang manja, namun setelah kejadian pembantaian keluarganya, ia berubah tiga ratus enam puluh derajat menjadi gadis pendiam dan penurut.

"Hahaha... bila Adipati yang mulia saja berani mengambil risiko, mengapa aku tidak?" Seorang lelaki paruh baya berpenampilan perlente ikut bersujud. Dia bernama Brajangpati, seorang hartawan dari Kotapraja Padjampangan. Ia merupakan ayah dari Rehan, pendamping Ketua Aram Widiawan.

Para hadirin saling pandang. Seakan dikomando, mereka segera menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka telah menyetujui permintaan itu. "Maafkan saya, Ketua. Saya mewakili yang lainnya menyatakan setuju dengan permintaan mereka." Yang berbicara itu adalah seorang perempuan muda bernama Kenanga. Di luar, ia berperan sebagai salah satu ketua sepuluh perguruan, sementara di dalam, ia menjadi seorang komandan bendera.

Aram mengangguk-anggukkan kepala. "Ada yang keberatan?" ucapnya tenang. Semuanya diam tak menjawab.

"Baiklah, jika tak ada keberatan, silahkan Ki Brahma mengurus sisanya."

"Siap, Ketua!" Ki Brahma segera membangunkan mereka untuk kembali duduk bersama di lingkaran itu.

"Baik, ganjalan telah hilang. Sekarang kita langsung ke inti. Para sahabatku sekalian, ketahuilah bahwa tempat ini merupakan pulau keluargaku turun-temurun. Pada hari ini aku membawa kalian kemari mengingat bahwa kalian adalah sahabatku yang utama. Di bawah sana terdapat ribuan kitab yang telah dikumpulkan oleh buyutku sampai generasiku, mulai dari Kyai Avatara Batara Yuda, Pangeran Empat Dewa, dan yang lainnya. Terakhir, nenekku yang kalian kenal sebagai Dewi Pemanah Asmara, ayahku Pendekar Pedang Pelintang Jagat Pembelah Sagara, dan ibuku Si Pengumpul Ilmu Tunggal Jagat."

Para golongan muda mengangguk-angguk; mereka cukup terkejut sebab nama-nama terakhir yang disebutkan adalah para dedengkot kaum persilatan. Sementara itu, golongan tua bergetar mendengar nama Pangeran Empat Dewa. Mau tak mau mereka diingatkan kejadian beberapa abad ke belakang. Mereka tak menyangka bahwa salah satu keturunannya berada di hadapan mereka. Kini mereka sadar bahwa ketua mereka bukan hanya memiliki kecerdasan dan kedigdayaan yang luar biasa, namun juga memiliki riwayat yang sama luar biasanya.

Aram terdiam cukup lama, membiarkan anggotanya mencerna ucapannya. Setelah dirasa cukup, ia kembali melanjutkan, "Sahabatku sekalian, musuh kita sebenarnya adalah keturunan dari biang keladi kejadian beberapa abad ke belakang, sezaman dengan Pangeran Empat Dewa. Maka dari itu, aku memohon kerja sama dari kalian. Apa kalian siap menggoyangkan jagat?!" Aram berteriak lantang di akhir kalimat.

"Heaaaaaaa!" Teriak serempak menggelora dari mereka mengguncang bukit itu. Suara tertawa gembira bak tawon liar menggaung-gaung di tempat itu.

"Cukup!" Suatu bentakan laksana komandan perang mengomando prajuritnya. Bentakan itu sangat berpengaruh, terbukti dengan berhentinya suara secara berbarengan. Itu menunjukkan bahwa organisasi Bendera Awan Langit merupakan organisasi yang berdisiplin tinggi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment