Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 55

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 55

"Adakah di antara kalian yang mengetahui sebuah tempat yang tidak mungkin dimasuki oleh manusia?"

Semuanya diam merenung. "Bretttt," sekitar lima orang mengacungkan tangan.

"Silakan."

"Jurang Halayuda, sepuluh mil dari Desa Wonolinggo."

"Lembah Nirwana, seratus mil dari Desa Kartikawangi."

"Padang Dewa Arwah, tujuh mil dari Desa Mangu."

"Bukit Dasar Bumi, empat mil dari Hutan Kematian."

Aram masih merenung, sepertinya semua tempat itu belum masuk ke dalam daftarnya. Lama ia tertegun, lalu sadar bahwa masih ada seorang lagi yang belum angkat bicara.

"Ah, maafkan aku. Silakan, Kisanak."

"Tebing Langit di..."

"Cukup, aku tahu tempat itu." Aram berseri-seri. Wajahnya begitu ceria, membuat orang-orang di sampingnya ikut merasakan kebahagiaan. Mungkin itulah yang disebut dengan suka ditanggung bersama, duka dipikul bersama jua.

"Kita jadikan tempat itu sebagai jembatan dari tempat ini ke dunia luar sana. Kakang Sobar, Kakang Guntur, aku berikan mandat untuk membangun dan mendesain tempat di sini, sementara Rehan dan aku meminta dua puluh orang untuk ikut bersamaku."

Tak perlu diperintah dua kali, segera semuanya membagi diri. Di samping Aram terdapat Rehan dan dua puluh anggota biasa.

"Kita berangkat sekarang."

Seperti hal yang dilakukannya sebelumnya, Aram bersujud ke bumi. Setelah bangkit, tangannya diangkat ke langit seperti menahan benda jatuh, kemudian ditarik ke samping membentuk lingkaran dan bertemu lagi di dada seperti saat menyembah. Dengan disertai teriakan nyaring, tangannya didorong ke muka.

"Wahai bumi, wahai langit, pinjamkanlah napas kalian padaku... Hiaaattt!"

Diiringi bergetarnya bumi dan menyalaknya petir, di antara kedua batu itu muncul lingkaran sihir berwarna toska. Segera saja dua puluh dua orang itu masuk ke dalam lingkaran hingga tiba di sebuah puncak karang seluas dua puluh tombak persegi. Ketinggian karang itu sekitar enam puluh hingga tujuh puluh tombak dari atas tanah.

"Kalian bangunlah bangunan di samping lingkaran itu menggunakan bambu yang ada di lamping tebing, sementara aku akan memanipulasi lingkaran sihir itu," perintah Aram.

Perlu diingat kembali bahwa Aram merupakan manusia setengah gaib setengah hewan. Meski perilaku buruknya hilang, tubuhnya masih berdarah-darah. Aram segera memusatkan perhatiannya, menempelkan tangan ke tanah, berkomat-kamit sebentar, dan berteriak lantang, "Tumbuhlah!"

"Dretttt... Jer... jreng... Hoeeekkk..."

Tiba-tiba dari dalam batu cadas yang tanahnya hanya sedalam sejengkal itu, muncul sebuah pohon besar luar biasa. Pohon itu tidak berdaun, hanya berupa ranting-ranting besar saja. Kejadian yang luar biasa itu membuat dua puluh anggota Aram berikut Rehan terhenyak melihat kedigdayaan ketuanya. Mereka melongo sampai melupakan pekerjaannya, namun semuanya terkejut dengan suara ketuanya yang muntah darah.

"Ketua..." Rehan cemas.

"Aku tak apa-apa."

"Ketua, itu jurus apa? Maafkan aku tak mampu menahan penasaran di hati."

"Itu adalah jurus hasil dari penggabungan ilmu ninja dengan ilmu dari alam jin. Maaf, aku tak bisa menerangkan secara detail. Ayo, kerja!" ajak Aram sambil membungkuk.

"Brettt..." sebuah sayap mengembang dari punggungnya, membuat Rehan dan yang lainnya melotot seakan bermimpi. Kini mereka melihat ketuanya seakan makhluk indah yang tak diketahui namanya. Mereka juga melihat keganjilan lain, yakni rambut berwarna perak dan ekor serigala yang berada di bagian pinggulnya.

"Aku akan membuat tangga. Kalian selesaikan pekerjaan kalian."

Tanpa berkata-kata lagi, Aram segera terjun ke bawah dan membuat tangga dari tonjolan-tonjolan batu. Semilir angin berhembus lembut menyapa rambut yang menari, Tebing Langit masih menjulang tinggi, dan matahari perlahan pergi ke singgasananya menuju esok hari.

Pagi hari, saat matahari belum sepenuhnya menduduki singgasananya, beberapa orang tampak berkerumun di sebuah lereng Bukit Pangkalan.

"Apa kesimpulanmu, Jaris?" tanya seorang lelaki setengah baya dengan pakaian mewah. Di punggung bajunya terdapat gambar piramida dengan sembilan rantai.

Lelaki yang diajak bicara itu diam sesaat, merenung seakan memikirkan sesuatu. "Menurutmu apa, Haris?" lelaki itu balik bertanya pada orang yang memiliki wajah sama dengannya. Bukan hanya wajah, perawakan maupun bajunya pun sama; hanya janggutnya saja yang membedakan, satu putih dan satu hitam.

"Aku tak tahu, mungkin ia menantang kita... Aku tak mengerti dengan kata sandi yang ada di sana!" ujarnya lesu seraya menunjuk sebuah dinding cadas lereng Bukit Pangkalan.

Ternyata di dinding cadas itu tertulis: *AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG, AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH*. Di samping tulisan itu terdapat gambar langit dengan tebing menjulang. Tulisan itu bukan dibuat dengan pena, melainkan dengan tangan, terbukti dengan bekas telapak tangan yang tertera di akhir kalimat dengan kedalaman sekitar satu jengkal tangan orang dewasa. Hal itu membuktikan bahwa penulisnya memiliki tenaga dalam yang luar biasa. Selain itu, tulisan itu tertera pada dinding cadas setinggi sepuluh tombak, sehingga mustahil bagi orang yang tidak memiliki ilmu peringan tubuh tinggi untuk melakukannya.

"Apa kau akan melaporkannya kepada Pangeran?" tanya Jaris.

"Entahlah, itu urusan orang di atas. Bagaimana denganmu?" jawab temannya.

"Emch, aku tak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Jaris."

"Mengapa?" Jaris terheran-heran.

"Sebab Pangeran sudah mengetahuinya. Kau tahu, tulisan itu sudah beredar ke seluruh penjuru negeri."

"Emch, lalu mengapa di sini hanya ada beberapa gelintir manusia yang menonton?"

"Sebab tulisan itu tidak ada di sini saja, melainkan muncul serentak di seratus desa di Nusantara, bahkan sampai ke negara tetangga," katanya sambil memasukkan rumput ke dalam mulutnya. "Sebaiknya kita kembali ke markas cabang, mungkin bakal ada tamu tidak diundang."

Lelaki itu beranjak meninggalkan kerumunan.

"Hem... Rupanya sudah dimulai, ternyata ketua sudah datang sebelum waktunya," gumam seorang lelaki dengan caping lebar. Lelaki itu berbalik dan segera meninggalkan kebisingan ocehan orang-orang awam yang lebih mirip kumpulan pengemis.

Jauh di pesisir samudra, seorang pemuda dengan pakaian compang-camping menatap lautan luas. Rambutnya diikat dengan kain biru menjadi kuncir ekor kuda. Di dahi pemuda itu terikat kain cokelat dengan senjata kujang kecil di belakangnya. Mata pemuda itu tajam laksana rajawali, wajahnya tampan meski sedikit kotor.

"Em, sudah seminggu aku mencari perahu, namun belum juga menemukannya. Tak ada cara lain, sebaiknya aku menggunakan *napak sancang* saja," gumam pemuda yang tak lain adalah Aram itu. Setelah pergi ke berbagai daerah dengan lorong penembus dimensi dan mencorat-coret cadas, membuat keributan dan kegaduhan, ia segera pergi ke daerah pesisir Pangandaran.

Aram berkomat-kamit sebentar lalu berlari menuju lautan lepas. Luar biasa, pemuda itu berlari di atas air laut seakan-akan itu adalah daratan. Itulah kehebatan ilmu yang disebut dengan *napak sancang*.

"Seandainya tenagaku memungkinkan, akan lebih baik bila aku menggunakan Lorong Penembus Dimensi saja daripada berlari seperti ini. Selain menguras tenaga, ini juga membutuhkan waktu yang relatif lama," gerutunya di sela hembusan napas.

Aram berlari dengan kecepatan angin menuju arah matahari terbit. Semakin lama semakin cepat. Matahari sudah berada di atas kepala, namun Aram masih terus berlari sampai kegelapan datang.

Di sebuah pesisir pantai di negeri yang dikenal sebagai negeri matahari terbit, seorang pemuda dengan baju compang-camping tergeletak lemah di sisi pesisir, sesekali terkena deburan ombak. Di sampingnya, seorang gadis dengan pakaian khas negeri itu duduk memandangnya, mempertimbangkan perlukah ia menolong pemuda tersebut.

Lama gadis itu memandang, lalu dengan setengah ragu ia memondong tubuh pemuda itu menuju sebuah hutan di samping pesisir pantai. Di tengah hutan itu terdapat sebuah pondok mungil yang cukup asri. Gadis itu membawa pemuda itu masuk dan meletakkannya dengan hati-hati di atas pembaringan bambu.

"Tampan juga pemuda ini..." Gadis itu memandang seraya menyibakkan rambut yang menutupi wajah pemuda itu.

Setelah merasa cukup puas, gadis itu beranjak ke sisi pembaringan dan menumpuk ranting-ranting pohon di atas sisa pembakaran. Ia mengeluarkan dua buah batu hitam dari kantongnya dan menggosokkannya keras-keras ke tumpukan ranting tersebut.

"Crekkk... crekkk... Wusss..."

Setelah dua kali gosokan, api menyambar. Terdengar suara keretak kayu, asap mengepul, dan tak lama kemudian tumpukan ranting itu berubah menjadi bara merah. Sesaat sebelum mengambil ikan yang telah ditusuk, gadis itu berpaling memandang pemuda yang tergeletak.

"Sepertinya sebentar lagi ia akan siuman," ucapnya lirih.

Setelah itu, ia kembali sibuk dengan ikan-ikannya.

"Ukhhhh..." Pemuda itu menggeliat, sepertinya ia telah siuman.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment