Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 56

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 56

Mata pemuda itu terbuka. Ternyata, mata pemuda tersebut tidaklah lazim disebut mata manusia, sebab lebih tepat jika disamakan dengan mata rajawali. Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang memiliki mata seperti itu selain Aram, Aram Widiawan alias Si Pendekar Seribu Diri.

Rupanya, setelah berhari-hari berlari di atas lautan, tenaganya terkuras cukup besar sehingga ketika sampai di pesisir, ia segera menjatuhkan diri hingga pingsan. Bau harum ikan panggang menyeruak di hidung Aram. Dengan sedikit gelengan ringan untuk menghilangkan rasa pusing, Aram bangkit duduk. Ia cukup terkejut ternyata ia berada di sebuah ruangan yang mungil namun asri.

"Konbanwa (selamat malam)," sebuah suara merdu yang mendayu-dayu mengagetkan Aram. Dengan cepat ia berpaling. Dilihatnya seorang gadis cantik dengan kimono biru berdiri tidak jauh di hadapannya sambil menenteng ikan bakar yang telah matang.

"Daijobu desu ka? (Kamu baik-baik saja?)" sapanya lagi.

Aram melongo. Dengan gelagapan, ia menjawab, "Hai, arigatou (ya, terima kasih). Mau minum sake?" tanya gadis itu menggunakan bahasa Jepang. Aram mengangguk sebab tenggorokannya terasa sakit.

"Ini, minumlah..." Gadis itu menyodorkan sebuah guci dari tanah liat. Tanpa ditawarkan dua kali, Aram segera menyerobot sake itu dengan rakus.

"Glek, glek..." Dengan cepat seluruh isi guci itu pindah ke perutnya.

"Hihi, kamu lucu sekali..." Gadis itu tertawa geli memamerkan giginya yang putih.

"Maafkan atas ketidaksopananku, Nona. Apakah kamu yang membawaku kemari?"

"Hai, kamu tergeletak di pesisir pantai. Aku menemukanmu ketika aku mencari ikan ini," gadis itu mengacungkan panggangan ikan di tangannya sambil berjalan menuju meja bundar dari batu. "Duduklah, kau pasti lapar," tambahnya.

Aram menurut. Ia duduk di hadapan gadis cantik itu dengan sedikit canggung. Malam-malam berduaan dengan gadis cantik membangkitkan sesuatu yang lain dalam dirinya.

"Dapatkah aku mengetahui nama indahmu, Nona?"

"Hihi, kau pandai merayu. Namaku sangat sederhana, Kyoko Amami, dan kamu siapa?"

"Aram, Aram Widiawan. Nona, ke mana yang lainnya? Mengapa hanya ada kamu sendiri?"

"Ah, jangan terlalu formal, panggil saja namaku. Sudah dua tahun ini aku tinggal di sini. Kedua orang tuaku sudah pergi dua tahun yang lalu," gadis itu menunduk sedih.

"Maafkan aku, Kyoko. Aku telah membangkitkan kesedihanmu," Aram gelagapan, bingung harus memanggil nama yang mana.

"Tidak apa-apa, aku sudah merelakan kepergian mereka. Panggil saja aku Kyoko."

"Baiklah Kyoko, engg..."

"Silakan dimakan..." Kyoko menitah. Aram tersipu; ternyata apa yang ia inginkan dapat ditebak oleh gadis itu. Mereka makan sambil bercakap-cakap tentang diri masing-masing. Setelah selesai, keduanya melanjutkan percakapan di sisi pembaringan.

"Hoamm," Kyoko Amami menguap.

"Tidurlah, hari sudah larut malam..."

"Ekh, tidak apa-apa, aku akan tidur di sana," Aram menunjuk pojok ruangan tempat terdapat tumpukan jerami.

"Oyasumi (selamat tidur)."

"Mata ashita (sampai bertemu besok)." Aram menjawab sambil berjalan menuju pojok ruangan, di sana ia segera merebahkan dirinya. Malam semakin kelam, debur ombak menjadi saksi di mana makhluk-makhluk yang bergerak siang hari terlelap di alam impian.

"Ayo semangat!" teriak seorang gadis cantik berkimono biru mengalahkan deburan ombak di pagi yang cerah ini kepada seorang pemuda tampan berkimono biru juga yang sedang membidik ikan dengan ranting yang ditajamkan.

"Yey, berhasil! Ayo tangkap lagi," teriaknya lagi.

"Hiat, slapppp!"

"Hore!" keduanya berteriak kegirangan saat mata ranting menancap di tubuh seekor ikan sebesar paha.

"Sudah cukup, mari kita ke pondok," ajak gadis yang tak lain adalah Kyoko Amami itu.

Mereka berjalan berdua dengan bergandengan tangan, sesekali tawa mereka terdengar sampai mereka tiba di pondok.

"Aku akan membuat api, kau urus ikannya, Kyoko," Aram berkata sambil berjalan mengumpulkan ranting.

"Hai..." Api sudah menyala, ikan pun sudah siap. Keduanya segera memanggang ikan di atas bara berdampingan.

"Kyoko..."

"Ya, ada apa?"

"Kau tahu tentang Desa Kouraningun?"

Kyoko tak menjawab. Wajahnya berubah. Dengan sebat, ia meloncat dan mencabut sebuah katana dari balik bajunya, lalu menempelkannya di leher Aram.

"Mau apa engkau dengan desa kami? Apakah engkau mata-mata dari Emerarudo?" gadis itu membentak dengan tegang. Lebih menegangkan lagi melihat lawan yang dihadapinya tak menghiraukan katana yang menempel di lehernya, apalagi mata katana itu telah menggores kulitnya hingga berdarah; ia malah asyik membolak-balikkan ikan yang dipanggangnya.

"Emch, tenanglah Kyoko... Duduklah, jangan terbawa emosi," sikap Aram tenang laksana samudra luas.

Kyoko mulai bimbang. Ia mempertimbangkan lelaki di hadapannya; dalam hatinya, ia mengakui bahwa hatinya sudah jatuh kepada pemuda itu. Pikirannya berdebat antara cinta dengan kewajiban. Namun, sehebat apa pun dia, ia tetap seorang gadis. Dengan pasrah, ia duduk kembali di samping pemuda itu.

"Aku tahu, sejak memandang dirimu pertama kalinya, aku tahu kau seorang kunoichi. Jika kau ingin menyamar menjadi seorang awam, saat kau tidur kau harus mengatur napas sebagaimana orang awam. Kedua, kau harus menyembunyikan matamu yang bersinar-sinar itu. Ketiga, langkah kakimu terlalu gesit untuk seorang gadis," Aram mengoreksi penyamaran Kyoko. Tentu saja Kyoko memerah, ia tak menyangka bahwa pemuda di sampingnya itu bukan hanya seorang pemuda jembel seperti yang pertama kali ia temui.

"Engkau belum menjawab pertanyaanku, Aram," ucap Kyoko lirih namun cukup keras di telinga Aram.

"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengunjungi sahabat-sahabatku saja. Kau kenal dengan Ryusuke atau Yumi?"

"Ah, kau kenal dengan Ryusuke-sempai dan Yumi?" Kyoko terkaget-kaget.

"Mereka sahabatku..." Aram berkata.

"Kalau begitu, ayo kita menemui mereka."

"Jangan terburu-buru, kita berangkat setelah makan."

Dengan lahap keduanya makan. Setelah selesai, Aram tersenyum.

"Tubuhmu indah sekali..." Aram memuji Kyoko yang sedang melepaskan kimononya. Di balik kimono itu, ia memakai pakaian ketat khas ninja yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Baju itu tidak berwarna hitam, melainkan hijau. Perlu diketahui bahwa ninja memiliki baju khas sendiri yang disebut dengan shinobi shozoku. Shinobi shozoku memiliki tiga warna; baju warna hitam biasanya dipakai ketika melakukan misi pada malam hari dan bisa sebagai tanda "kematian yang nyata" bagi sang target. Warna putih digunakan ketika menjalankan misi di musim dingin agar mudah membaur dengan salju. Warna lainnya adalah hijau sebagai bentuk kamuflase agar mereka tidak terlihat dalam lingkungan hutan.

Dengan menggunakan ilmu peringan tubuh yang sama-sama tinggi, Aram dan Kyoko berlari-larian menjejak ranting-ranting pohon menyusuri hutan. Kyoko penasaran melihat Aram masih bisa mengikutinya. "Hem... apakah sekarang dia bisa menyaingiku?" Kyoko berpikir dalam hati seraya meningkatkan ilmu peringan tubuhnya sehingga ia melesat lebih dulu ke muka.

Aram paham apa yang sedang dipikirkan Kyoko. Tanpa diberitahu pun, ia meningkatkan ilmu Selaksa Rubah menjadi bayangannya. Tampaklah di sebuah hutan itu dua bayangan, hijau dan biru, berkelebatan seperti bayangan.

"Langit Biru!" sebuah suara keras menyentak dua orang yang sedang berlari.

Tanpa berpaling, Kyoko menjawab, "Naga Menggeliat."

"Sett," bayangan tadi menghilang. Rupanya itu merupakan kata sandi untuk membedakan kawan maupun lawan di tempat itu. Kyoko berpaling ke belakang, "Akgggrgg!" ia terpekik melihat pemuda yang ia pikir tertinggal itu berada persis satu langkah di belakangnya tanpa ia sadari.

"Ah, ternyata pemuda ini salah seorang pemuda yang sakti," keluhnya dalam hati.

"Tempat yang indah, manusia berlalu lalang, pohon bunga sakura menaungi setiap rumah. Meski desa ninja, tapi ternyata di dalamnya seperti desa pada umumnya," Aram bergumam.

Yang paling kaget adalah Kyoko. Ia kaget karena sepengetahuannya dari tempat berdiri menuju desa itu masih ada sekitar tiga mil lagi, namun pemuda itu dapat melihat seakan tempat itu berada di hadapannya.

Belum Kyoko berkomentar, Aram kembali bergumam, "Sepertinya di sana terdapat banyak tanaman obat-obatan juga racun. Hem... harum sekali tuak itu."

Kyoko mencoba mengendus-endus hidungnya, namun ia tak merasakan apa-apa. Kyoko mencoba memandang wajah Aram; diam-diam ia heran dengan mata Aram yang tidak lazim.

"Aram, bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Silakan..."

"Apa yang terjadi dengan matamu?" tanya Kyoko pelan.

"Mataku dicongkel dan dicangkokkan dengan mata rajawali oleh orang," aku Aram jujur.

Kyoko bergidik, ia tak berani bertanya apa-apa lagi. Membayangkan mata dicongkel dan diganti dengan mata hewan saja, ia sudah mual.

"Ayo jalan lagi," ajaknya lirih.

Dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya, mereka kembali melesat menuju desa yang dinamakan Desa Kouraningun. Di desa itu hiruk-pikuk dengan segala aktivitas manusia yang beragam, pepohonan menghijau permai, di mana-mana terlihat gairah hidup musim semi, bunga-bunga sakura berguguran di tanah. Dalam suasana yang demikian itulah dua orang pemuda-pemudi berjalan dengan santai beriringan.

Keduanya lalu segera beranjak menuju gang desa yang dikelilingi dengan pohon sakura. Wajah Aram tampak tenang dan damai menikmati suasana tenang itu. Dengan gayanya yang khas, ia mengekor di belakang Kyoko, hingga tibalah mereka di sebuah bangunan yang indah, di gerbangnya tertulis "Kazama".

Tampak Kyoko mengetuk gerbang itu dua kali. Tak lama kemudian munculah seraut wajah tua dan ramah membuka gerbang dan menyambut dengan hangat.

"Ah, kiranya Nona Amami yang berkunjung, silakan-silakan. Tuan Putri juga kebetulan ada, ia sedang berkongko-kongko bersama dengan teman-temannya," lelaki itu mempersilakan.

"Ayo masuk," ajak Kyoko pada Aram.

Aram tak menjawab, ia cukup tersenyum untuk menjawab segalanya. Cepat Kyoko palingkan wajah, hatinya berdebar tak keruan, wajahnya panas melihat senyuman itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment