Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 57

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 57

Mereka berjalan dalam diam. Mereka memasuki bangunan itu, sampai di ruang tamu, dan terus melangkah menuju dojo tempat berlatih bela diri. Di sana terdapat empat sosok muda-mudi yang berpasangan, juga dua sosok pemuda yang belum dikenal Aram.

Dari ciri-cirinya, mereka adalah penduduk pribumi.

Rupanya, kedatangan tiga orang, yakni Aram, Kyoko, dan lelaki tua itu, belum mereka sadari. Entah apa yang sebenarnya terjadi.

"Aku menghilang, datanglah tenang. Aku muncul, datanglah darah," ucap Aram cukup lantang.

Lelaki tua itu dan Kyoko berpaling. Mereka tidak paham dengan maksud ucapan tersebut, tetapi tidak dengan keempat sosok yang sedang asyik berkongko.

Mereka segera berpaling, lalu bangkit menghampiri dan menekuk lutut. "Ketua," ucap mereka serempak.

Kyoko, dua pemuda pribumi, dan lelaki tua itu terperanjat mendengar keempatnya memanggil "Ketua".

"Kalian bangunlah, jangan membuat aku malu," ujar Aram jenaka.

"Hahaha..." Keempatnya bangkit sambil tertawa dan dengan gembira saling berpelukan.

"Mari, mari, Ketua, kita duduk," Ryusuke mempersilakan.

"Pak Suki, silakan Bapak kembali ke tempat," titah Yumi.

"Baik, Tuan Putri... Ketua, perkenalkan ini adalah Tsume dan ini Koyasha," Ryusuke memperkenalkan dua pemuda yang sejak tadi berdiri di belakang Jelita Indria.

"Aram, Aram Widiawan," Aram memperkenalkan namanya.

Tsume adalah seorang pemuda tampan dengan rambut sepundak, kimononya berwarna hijau dengan katana di punggungnya. Di antara hidungnya terdapat bekas luka yang menambah kejantanannya.

Sedangkan Koyasha adalah pemuda yang cukup tampan namun menarik untuk dipandang. Kimononya berwarna putih dan di bagian dada kimono itu terbuka, memperlihatkan dada yang kokoh berotot.

"Hahahaha... hihihi..." Angkara dan Jelita Indria tertawa lepas. Sepertinya mereka tidak dapat menahan tawa itu.

Aram memerah. Rupanya ia paham dengan tawaan itu. Dengan cepat ia berkata kepada Ryusuke, "Ryu, cepat pinjamkan aku baju. Aku tak ingin ditertawakan orang hanya karena aku memakai baju gadis."

"Hahahaha," semuanya tertawa. Kini mereka paham apa yang ditertawakan dua rekan mereka. Suara tawa itu cukup keras hingga memicu orang-orang yang menghuni tempat itu.

"Ini, pakailah!" Ryusuke menyerahkan sebuah kimono berwarna biru langit, warna kesukaan Aram.

"Terima kasih." Aram membuka bajunya. Jeritan kaget dan ngeri bersahut-sahutan. Mengapa? Ternyata mereka terkejut melihat tubuh Aram yang lebih tepatnya seperti pohon nangka yang dicacah agar buahnya menjadi lebat.

Pada hakikatnya, tidak ada satu pun bagian tubuh Aram yang tidak memiliki luka. Luka itu hanya sebatas pundak dan siku; entah di bawahnya, sebab Aram memakai celana panjang.

"Ketua, apa yang terjadi denganmu? Akh, matamu juga tidak seperti dulu," tanya Angkara.

Setelah selesai memakai bajunya, Aram menjawab singkat sambil tersenyum, "Tidak apa-apa, hanya ada sedikit insiden."

"Tegar sekali sikapmu, Anak Muda. Kau memang patut dipanggil ksatria sejati. Anakku sering menceritakan tentang dirimu, sungguh tak mengecewakan," seorang lelaki paruh baya menyela. Lelaki itu berkepala pelontos, alis yang panjang tegak berdiri, dan jenggot panjang sedada.

"Terima kasih atas pujian, Tuan," Aram menghormat layaknya penduduk pribumi.

"Haha... Aku Akamatsu Kazama telah mendapatkan seseorang yang bisa diandalkan untuk membantu menyelesaikan peperangan ninja ini," lelaki paruh baya itu tertawa.

Aram mengerutkan kening. Ia tak menjawab. Penjelasan justru datang dari Yumi, "Ketua, sebenarnya..."

"Cukup, aku tahu. Aku mendengar apa yang kalian bincangkan tadi, meski tak mendengar seluruhnya, aku paham garis besarnya," Aram menukas.

"Eh, bukannya kita baru datang tadi? Mendengar satu kata pun tidak?" spontan Kyoko bertanya.

"Aku sudah mendengarkan perbincangan mereka sejak kita berada di hutan," singkat Aram berkata.

Kyoko membulatkan matanya lebar-lebar. "A... i... uu..." Kyoko tergagap.

"Hutan mana?" tanya Tsume.

"Hutan Gerbang Penentu," jawab Kyoko masih tergagap.

"Ha!" jeritan kaget kembali terdengar.

"Angkara, Ryusuke, kalian telah melakukan apa yang aku perintahkan?"

"Sudah, Ketua. Aku berguru pada Enshin Nagatsuki-sensei, meski ia seorang Rounin (samurai tanpa tuan yang biasanya suka mengacau)."

"Aku juga sudah, Akamatsu-sensei yang mengajariku," timpal Angkara.

"Bagus. Kita selesaikan urusan di sini, baru kita selesaikan urusan di Negeri Seribu Pulau (Nusantara)," kata Aram penuh semangat.

Tanpa pamit, ia segera bersila di tanah, tangannya disilangkan di dada. Wajahnya tenang tanpa emosi. Angkara yang sudah mengerti kebiasaan ketuanya segera berkata, "Baik, semuanya lekas kita ganti baju. Pertarungan segera tiba di depan mata."

"Pertarungan apa?" Koyasha bertanya bingung. Bukan hanya Koyasha, yang lainnya pun masih diliputi dengan sejuta tanya.

Tidak dengan Ryusuke, Jelita Indria, dan Yumi. Sebab, mereka sudah terbiasa dengan tingkah aneh ketuanya. Tanpa dikomando lagi, ketiganya segera melepas kimono dan berganti dengan *shinobi shozoku*.

"Ryu, apa yang terjadi?" Koyasha masih penasaran.

"Tampaknya tamu tak diundang akan datang, dan kita sebagai tuan rumah harus menjamunya," jawab Ryusuke misterius.

"Baiklah semuanya, segera ganti baju kalian. Lekas beritahu keluarga lain untuk menyambut tamu!" Akamatsu Kazama berteriak. Sepertinya ia paham maksud ucapan Ryusuke yang bernama lengkap Ryusuke Kazama itu.

"Hai!" Meski tak paham, mereka tak ingin membantah perintah Akamatsu Kazama. Segera mereka beranjak dari tempat duduknya; seperti bayangan, mereka menghilang dari tempat itu.

"Hmm... firasatku mengatakan mereka akan bergerak nanti malam," tanpa disadari oleh semuanya, Aram telah membuka mata, sadar dari semadinya, dan bergumam.

"Hahaha, sudah kuduga, kau adalah bantuan yang terbaik. Jika anak-anakku dan muridku Angkara si Setan Cilik memanggilmu Ketua, aku yakin kemampuanmu lebih hebat dari Setan Cilik."

"Setan Cilik?" Aram mengerutkan alisnya yang seperti sayap elang, menambah ketajaman mata rajawalinya.

Melihat sinar mata yang begitu tajam, bulu kuduk Akamatsu Kazama merinding. Namun, pengalamannya sangat luas; dengan berdeham, ia dapat menenangkan hatinya.

"Maksudku Angkara. Berkat taktiknya, kami bisa memukul mundur mereka beberapa kali tanpa mengerahkan banyak tenaga..."

"Oh, kenapa kau bodoh sekali, Angkara? Jika dipukul tanpa dihancurkan, sama saja dengan menempa besi menjadi pedang. Baiklah, sebelum menjadi pedang tajam, kita bereskan selagi masih tumpul," Aram melengos dan memarahi Angkara.

Angkara menyengir. "Hehehe."

"Kami memiliki kesulitan. Jika malam di hutan itu terlalu banyak serigala, jika dibawa kemari justru semakin banyak risiko," Angkara mencoba berkilah.

"Justru itu semakin bagus," Aram bersemangat.

Angkara mengerutkan alis, tangannya bergerak menghitung, mulutnya berkata, "Satu, dua, tiga... delapan puluh... seratus dua puluh..."

"Takkan ada di sana," Aram menyela.

"Heh, lalu..."

"Ini murni siasatku."

"Ooo."

"Baiklah, silakan semuanya merapat." Dengan membuat lingkaran, mereka segera merapat. Di lingkaran itu ada Akamatsu Kazama, Ryusuke, Jelita Indria, Angkara, Kyoko, Yumi, dan Aram. Tujuh orang.

"Aku akan memerintahkan serigala itu untuk membantu usaha kita," Aram memulai percakapan.

"Hmm, bagaimana caranya?" tanya Yumi.

"Begini," Aram mendekatkan tangan kanannya ke bagian mata kanan dan mencongkelnya.

"Akh! Ih! Ukh!" Kyoko dan Yumi menjerit hingga berpelukan, Jelita Indria memegang tangan Ryusuke kencang-kencang dan menutup matanya, Angkara memejamkan matanya ngeri, sementara Akamatsu Kazama hanya menghela napas berat.

Di tangan Aram terdapat sebuah benda bulat terkepal. Tangan kirinya meraba ke balik baju dan mengambil sebuah tabung transparan dari kaca. Ternyata di sana terdapat dua buah benda bulat seperti mata lainnya. Aram memasukkan mata kanannya ke dalam tabung itu, mengambil salah satu mata di dalamnya, lalu dengan cepat memasukkan mata tersebut ke dalam rongga mata kanannya yang kosong. Saat dibuka, ternyata mata itu adalah mata seekor serigala; bola matanya perak indah. Dari celah mata itu keluar cairan berwarna kuning akibat air dari dalam tabung.

"Aku sudah selesai, bukalah mata kalian." Aram menitah.

Keempatnya membuka mata. Mereka melihat mata Aram berbeda; satu mirip serigala dan satu mirip rajawali.

*Set...* Kyoko yang paling dekat dengan Aram menyapukan lengan kimononya untuk menyeka air yang membasahi wajahnya.

"Terima kasih." Kyoko mengangguk. Dengan ragu-ragu ia bertanya, "Sungguh aku merasa heran."

"Apa yang kau herankan?"

"Di mana kau menyimpan barang-barangmu? Perasaanku waktu aku menemukanmu, aku melihat kau tak membawa apa-apa." Ryusuke dan yang lain menajamkan telinga karena mereka pun ingin mengetahui jawabannya.

"Aku menggunakan salah satu ilmu yang bernama 'Sembunyi Tangan Merogoh Mutiara'. Dengan ilmu itu, aku bisa menyimpan benda apa pun dan bisa dipanggil sesuai kebutuhan. Baiklah semuanya, aku ingin mendengar awal permasalahannya sambil kita menunggu malam tiba."

"Ekhem," Akamatsu Kazama berdeham dan melanjutkan. "Sekitar setahun yang lalu, salah satu warga desa ini mendapatkan misi untuk membunuh salah satu keluarga di daerah Edo. Namun, ketika kami tiba di sana, rupanya seluruh desa tempat itu telah mati, bahkan ninja dari Desa Emerarudo beberapa di antaranya ikut menjadi korban. Setelah itu, warga dari desa kami datang pulang melapor, tapi tak lama kemudian beberapa ninja Emerarudo menyerang desa kami ini. Mereka bilang mereka telah kehilangan Pedang Pusaka Matahari perguruannya, dan di tempat itu ditemukan shuriken dari desa kami. Begitulah awal dari permusuhan ini. Kami mencoba tidak memperpanjang, namun mereka terus mendesak hingga kami pun merasa marah dan terjadilah peperangan, dan itu terjadi sampai sekarang..."

Akamatsu menerangkan, begitulah mereka terus bercakap-cakap hingga malam menjelang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment