Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 58

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 58

Siasat apalagi yang akan digunakan Aram untuk menghadapi ninja Emerarudo? "Aaaaauuuuuummmmm," lolongan serigala bersahut-sahutan menyambut serombongan sosok bayangan berwarna hitam.

"Selamat datang di gerbang kematian," sebuah suara sinis menggelegar. Suara itu menggaung-gaung, tidak jelas arahnya.

Pemimpin rombongan itu mengangkat tangan kanannya; sepertinya mereka terkejut dengan suara itu.

"Siapakah Anda?" Pemimpin itu berteriak dalam. Bisa diketahui bahwa itu hanyalah suara perut saja.

"Aku adalah wakil pencabut nyawamu, wahai Sang Ketiga," suara itu kembali menggaung.

Pemimpin itu terkejut dengan kemampuan pemilik suara tersebut. Meski ia sudah berusaha sekuat mungkin untuk menentukan arah suara, namun tetap sia-sia belaka. Lebih terkejut lagi ketika suara itu menyebutnya "Sang Ketiga". Bagi orang lain, mungkin panggilan itu hanyalah panggilan biasa, namun tidak bagi pemimpin itu. Mimik wajahnya berubah; meski seluruh wajahnya terselubung kain, matanya berkilat-kilat penuh emosi.

"Tunjukkan wajahmu, pengecut!" teriak pemimpin itu.

Namun, teriakannya tidak mendapat sambutan. Keadaan tetap hening seperti di kuburan, hanya suara binatang malam yang kerap terdengar.

"Wusss... Crak... crakkk..." Suara besi beradu dengan kayu terdengar di tengah malam yang pekat. Di tangan pemimpin itu masih terselip sebuah senjata dari besi berbentuk bintang, atau biasa dikenal dengan shuriken.

Dengan berteriak-teriak, pemimpin itu memanggil suara tadi, namun tak ada sambutan. Sambil menahan kemarahan, pemimpin itu mengomando kawan-kawannya untuk kembali berangkat. Mereka berkelebatan di antara gelapnya malam.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan dahsyat laksana guntur membelah angkasa. Sesosok bayangan manusia berwarna hitam dengan cepat meloncat menghadang di hadapan rombongan itu.

"Anda terlalu berani, Tuan, mengirimkan lima puluh ninja di sebelah utara, dua puluh di selatan, dua puluh di barat, dan terakhir rombongan kalian ini," tegur sesosok bayangan yang menghadang.

"Heh, ternyata kau Akamatsu Kazama. Senang bisa bertemu denganmu. Aku pikir kau hanya bisa melakukan siasat anak kecil saja, heh," ucap pemimpin itu mengejek.

"Hahaha, aku takut bila menggunakan cara jantan, kalian binasa terlalu dini. Bila menghadapi siasat anak kecil saja kalian sudah kabur terbirit-birit, apalagi jika dilakukan secara jantan." Pemimpin itu tertegun, wajahnya merah menahan malu.

Belum sempat pikiran kedua berkelebat dalam benaknya, serentetan cahaya tajam yang amat menyilaukan mata telah meluncur datang. Pemimpin ini kaget, buru-buru ia menghindar ke samping dan menghadangkan shuriken yang dipegangnya hingga terbit lelatu api. "Traaannkkk!"

Menyadari dirinya diserang tanpa permisi, ia naik pitam. Ia balas membentak keras, mencabut katana di punggungnya, dan menyabetkan pedangnya secara horizontal untuk membalas serangan itu.

Akamatsu Kazama, atau sosok yang baru saja memunculkan diri dalam kalangan itu, mendengus dingin. Ia memegang katananya dengan kedua tangan, pedangnya diputar menangkis pedang dari pemimpin yang datang menyerang, lalu membabat ke muka.

Cahaya pedang berkelebat menyilaukan mata. Pemimpin itu berkelit ke samping sambil bersuit nyaring, katananya ditaburkan melingkar-lingkar ke arah dada Akamatsu Kazama. Akamatsu menyurut mundur dua langkah, katananya masih tetap dilintangkan di dada.

"Pengecut engkau, Akamatsu..." maki si pemimpin rombongan.

"Haha, kau melupakan satu hal. Kami adalah ninja, seorang pembunuh bayaran. Hal apa pun kami lakukan bila itu memang dianggap perlu. Haha, aku melupakan sesuatu... kau adalah Sang Ketiga... bwahahaha," Akamatsu terbahak-bahak.

Menyadari bahwa lawan sudah mengetahui identitasnya, pemimpin itu mulai ketakutan jika kawan sepihaknya mengetahui. Dengan cepat ia berteriak, "Kalian tunggu apalagi? Lekas bantai dia!"

"Hai!" kawan-kawan di belakangnya mengiyakan dan segera mencabut senjata. Senjata itu berupa katana, naginata, panah, ada pula tessen, shobo, kyotetsu shogei, dan juga nekotade.

Akamatsu Kazama tersenyum sinis. Jika harus melawan sekian banyak shinobi sendirian, tentulah ia akan kalah. Oleh karena itu, segera ia bersuit nyaring tiga kali.

"Heh, kau memanggil bantuan rupanya? Serbu!" Sebelum pemimpin dan rombongannya mengeroyok Akamatsu Kazama, cahaya keperakan berkelebat menyambar.

Dalam keadaan seperti itu, terpaksa mereka menangkis sebab serangan itu bukan hanya ada satu, melainkan serempak. "Jrengg..." di hadapannya sepuluh sosok berwarna hitam berdiri di samping Akamatsu Kazama.

"Sekarang baru seimbang. Serang..." Tak pelak lagi kedua pihak kini mulai bentrok, dentingan senjata mulai terdengar di malam yang gelap ini.

"Akh..." si pemimpin, atau yang mulai saat ini kita panggil Sang Ketiga, mendengus. Rupanya pundaknya terkena sabetan lumayan dalam dari pedang Akamatsu Kazama.

Sang Ketiga merasakan gelagat buruk, ia segera menggerakkan pedang. Tetapi baru ia gerakkan pedang, Akamatsu Kazama sudah memiringkan tubuh dan ujung pedangnya dibabatkan pada lengan Sang Ketiga. Jika kena, tentu lengan Sang Ketiga akan buntung seketika. Sang Ketiga tak berani melanjutkan menyerang dan cepat-cepat menarik tangannya.

"Tring..." pedang Akamatsu Kazama yang membabat lengan berubah arah menjadi membabat katana Sang Ketiga dan terjadilah benturan senjata yang nyaring sekali.

Akamatsu Kazama diam-diam mengerahkan tenaga murni ke arah batang pedangnya. Saat ini Akamatsu Kazama tengah mengerahkan jurus andalannya yang diberi nama Kuji-in. Sebenarnya Kuji-in adalah kekuatan spiritual dan mental berdasarkan simbol-simbol yang terdapat di telapak tangan. Kuji-in merupakan hal yang paling penting bagi seorang ninja dalam penguasaan teknik (ninjutsu). Simbol tangan ini diambil dari praktik pada masa awal penyebaran agama Buddha. Kuji-in digunakan untuk membangun kepercayaan diri dan kekuatan seorang ninja. Kuji-in juga mampu meningkatkan kepekaan terhadap keadaan bahaya dan mendeteksi adanya kematian.

Kuji-in memiliki 81 simbol dan yang utama hanya ada sembilan. Kesembilan simbol itu kemudian oleh Akamatsu Kazama dimasukkan ke dalam jurus pedang andalannya, yaitu: Rin (memberi kekuatan tubuh), Hei (memberi kekuatan menyamarkan kehadiran seseorang), Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh), Sha (kemampuan menyembuhkan), Kai (memberi kontrol menyeluruh terhadap fungsi tubuh, memungkinkan untuk memperlambat detak jantung, menaikkan atau menurunkan suhu tubuh, dll.), Jin (meningkatkan kekuatan telepati), Retsu (memberi kekuatan telekinetik), Zai (meningkatkan keselarasan terhadap alam), dan Zen (memberi pencerahan pikiran dan pemahaman).

Saat ini Akamatsu Kazama sedang mengerahkan jurus yang diberi nama Rin (memberi kekuatan tubuh). Sepintas jurus ini seperti berbuat kebaikan dan sederhana, padahal sebenarnya jurus ini mengandung banyak sekali tipuan yang mematikan.

Akamatsu Kazama menyerang dengan membuka dadanya, seakan memberi kesempatan kepada Sang Ketiga untuk menusuk dadanya itu. Melihat sebuah kesempatan yang langka, Sang Ketiga segera menusukkan katananya ke arah dada. Dengan mengalirkan tenaga dalamnya ke arah ujung pedang, Sang Ketiga berteriak, "Topan Pelindas Bumi!" Sang Ketiga memutar katananya dan menodongkannya ke muka.

"Trankkk!" Arus tenaga dalam yang melanda ke Akamatsu Kazama seperti membentur benda keras yang membal, sehingga arus tenaga dalam tertolak dan menyebabkan Sang Ketiga terdorong mundur sampai tujuh langkah. Tetapi di luar dugaan, Akamatsu Kazama juga terpental delapan langkah ke belakang. Bukan hanya mundur, tapi Akamatsu Kazama terlihat sempoyongan.

Melihat itu, girang Sang Ketiga bukan kepalang. Tanpa mempedulikan pertahanan, Sang Ketiga segera menyerang dahsyat.

"Ayo, seranglah dengan katana tumpulmu itu! Tak usah sungkan!" Tubuh Akamatsu Kazama bergoyang-goyang maju menghampiri. Sepintas nada ucapan Akamatsu Kazama itu seperti ucapan orang yang sedang terluka.

Melihat Akamatsu Kazama menantang dengan suara berat, hati Sang Ketiga makin mantap. Ujung katana sudah ditujukan pada jalan darah maut di dada Akamatsu Kazama. Sepasang matanya berapi-api, memancarkan hawa kemenangan yang menyala.

"Mampus kau!" Sang Ketiga menjerit keras dan katana pun segera bergerak menyabet, memancarkan cahaya perak yang menyilaukan mata. Namun, di pertengahan jarak, katana itu terus menusuk jalan kematian dada Akamatsu Kazama. Pedang berkelebat laksana kilat cepatnya dan jarak keduanya amat dekat. Tak mungkin Akamatsu Kazama dapat menghindar.

Tetapi suatu peristiwa yang menakjubkan terjadi pada saat itu. Saat katana menusuk, tiba-tiba Akamatsu Kazama merunduk dan meletakkan pedangnya di punggung.

"Sreengggggg..." Tahu-tahu Akamatsu Kazama telah nyelonong di bawah katana milik Sang Ketiga. Kejut Sang Ketiga bukan kepalang. Ia ingin menyabetkan katananya ke bawah, namun katana milik Akamatsu Kazama menahannya.

"Crassssss!"

"Akkkkhhhrrgggg!" Sang Ketiga menjerit histeris. Tubuhnya terbagi menjadi dua. Akamatsu Kazama telah memenangkan pertempuran.

"Hemmm, hanya menghadapi kombinasi dua jurusku saja nyawamu telah terbang ke akhirat," ejek Akamatsu Kazama sambil mengusap katana yang berdarah di baju Sang Ketiga yang telah menjadi mayat.

Sebenarnya Akamatsu Kazama menggunakan jurus yang diberi nama Rin, tapi ketika ia nyelonong di bawah katana milik Sang Ketiga, ia menggunakan jurus yang bernama Toh (menyeimbangkan bagian padat dan cair pada tubuh). Memang gerakan jurus milik Akamatsu Kazama tidak nyambung, namun itulah kehebatan dan keunikannya.

Malam semakin kelam, jeritan kematian dan auman suara serigala terus bersahut-sahutan, menambah kengerian di malam tanpa bintang itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment