Chapter 59
Bagaimanakah pertarungan selanjutnya? Dapatkah Aram menyelesaikan masalah Desa Kouraningun dengan tuntas?
"Apa pendapatmu tentang kejadian malam ini, Tuan Akamatsu?" Sesosok bayangan hitam di atas pohon sedang duduk santai bertanya kepada sesosok bayangan hitam tinggi besar yang berdiri di sampingnya.
"Sungguh aku tak bisa membayangkannya jika Ketua Aram tidak membantu," jawab sosok tinggi besar yang dipanggil Tuan Akamatsu.
Ternyata, dua sosok di atas pohon itu adalah Akamatsu Kazama dan Aram Widiawan.
Tiba-tiba, "Sret!" Dua bola mata bersinar di kegelapan dengan dua warna: satu mata rajawali dan satu lagi mata serigala.
"Tuan terlalu memuji. Teknik Perang Sun Tzu yang Anda ajarkan tadi sore juga sangat hebat. Itu juga membantu untuk penentuan akhir saat ini. Jadi, bukan hanya aku, tapi kita," kata Aram.
Diam-diam Akamatsu Kazama merasa takluk dengan sikap pemuda belia yang berada di sampingnya ini.
"Bagaimana dengan daerah lain?" Akamatsu Kazama kembali bertanya.
"Daerah utara sudah dibereskan Angkara dan Jelita Indria, daerah selatan sudah dibereskan Yumi dan Ryusuke, sisanya oleh Koyasha dan Tsume. Selain itu, mereka dibantu oleh sepasukan serigala serta didampingi tetua desa."
"Lalu... mer..."
"Ssst... mereka datang," Aram mencegah obrolan berlanjut.
Benar saja, dari arah timur muncul serombongan sosok hitam yang berjalan ke arah mereka berdua. Mereka datang lalu segera berkumpul di tanah di depan tempat Aram dan Akamatsu Kazama sedang bertengger. Di antara mereka, ada yang mengumpulkan ranting dan membuat api unggun, yang lainnya duduk bergurau satu sama lain.
"Kabarnya Akamatsu Kazama memiliki kemampuan yang luar biasa sehingga Saito yang kita tugaskan untuk mengadu domba Emerarudo dengan Kouraningun—yang hanya merupakan anak dari Ninja Nara—harus menemui ajal," ucap seorang lelaki paruh baya dengan rambut sepundak. Wajahnya sudah penuh dengan kerutan menandakan ketuaannya.
"Bagaimana, apa sebaiknya kita langsung menyerang mereka? Aku yakin mereka tak akan menyangka akan kedatangan kita," ucap salah seorang dari rekannya yang berkepala plontos dengan kimono ketat berwarna hijau.
"Hem, kalau kita menyerang tanpa perhitungan dan dihancurkan oleh mereka, tak akan membawa keuntungan apa pun. Kita lihat dulu keadaannya."
"Hem, Akamatsu Kazama ya. Sampai pelindung hukum berpikir dua kali sebelum melawannya, aku penasaran ingin melawannya."
Di tempat lain, di sebelah barat kumpulan itu, dua orang di atas pohon terlihat bercakap-cakap.
"Ternyata perhitungan mereka lebih teliti dari perkiraanku. Jika menyerang sekarang, pasti banyak korban di antara kita," bisik seorang lelaki setengah baya dengan pakaian khas ninja, hanya saja bagian kepalanya sedang dibuka. Mereka tak lain adalah Akamatsu Kazama dan Aram.
"Jangan khawatir, kita akan menggunakan *Manten Kakai* (menipu langit, menyeberangi lautan), teknik pertama dari Taktik Sun Tzu," jawab Aram.
"Manten Kakai? Apakah itu cukup tepat? Bukankah *Manten Kakai* itu taktik yang membuat musuh terbiasa dengan penampilan palsu dan menyerang habis-habisan begitu lengah? Lalu siapa yang akan melakukannya?" ragu Akamatsu Kazama bertanya kembali.
"Kita lihat saja nanti. Lihat, mereka datang."
"Emch, Angkara, Ryusuke, Yumi, Jelita Indria, Tsume, Koyasha, Yukari, Hokuto, Nagatsuki... sembilan orang," hitung Akamatsu Kazama. Meski kesembilan sosok itu memakai pakaian terselubung, Akamatsu Kazama dapat membedakan mereka dari simbol di dada masing-masing juga perawakan mereka.
Simbol baju Angkara adalah kepala kijang dengan latar bunga sakura merah muda, Ryusuke bersimbolkan sakura berteteskan darah, Yumi bersimbol sakura polos, Jelita Indria bersimbol sakura kuning, Tsume dan Yukari bersimbol teratai putih dengan sebilah pedang bersilang—mereka adalah saudara kembar. Sedangkan Koyasha, Hokuto, dan Nagatsuki bersimbol sama, yaitu shuriken tiga mata, sebab mereka adalah saudara seperguruan.
"Heh, rupanya kehadiran kita sudah disambut. Pelindung Hukum Natsuki Todo, biarlah kami yang membereskan mereka," ucap seorang pemuda berambut sepunggung diikat kuda.
"Baiklah Takada, aku serahkan semuanya kepadamu," ucap seorang lelaki paruh baya dengan rambut sepundak, berkimono biru dongker dengan motif lautan.
"Siapa kalian? Beraninya masuk ke wilayah kami! Apakah kalian ingin bernasib sama dengan Sang Ketiga, heh?" Seorang pemimpin rombongan membentak. Dia adalah Angkara.
"Cis, berani kau bilang seperti itu!" Sreng! Salah seorang dari mereka mencabut pedang dan menyabetkannya ke arah Angkara. "Breet!" Pundak Angkara terkena sabetan.
"Ugh, kabur! Lekas beritahu tuan, lelaki barusan lebih jago dari Sang Ketiga," Angkara kabur terbirit-birit. Lelaki yang menyerangnya tertegun.
"Hahahaha, ternyata Akamatsu Kazama memiliki anak buah yang begitu pengecut!" Tawa mereka bergema di hutan itu.
"Ketua, Aram," bisik Akamatsu Kazama.
"Jangan khawatir, lekas kita pindah ke pos kedua." Wus! Keduanya melompat dan menghilang di kegelapan malam.
"Pelindung Hukum, mari kita serang mereka sekarang!" Dengan tertawa terbahak-bahak, rombongan yang terdiri dari dua puluh orang itu segera beranjak dan menyusuri hutan hingga tiba di hutan dengan dua belah batu yang mengapit.
"Siapa kalian? Lekas berhenti atau kalian kami panah!" bentak sesosok hitam di atas pohon.
"Cis, buang-buang waktu saja. Lekas bereskan!" ucap pemimpin rombongan yang bernama Natsuki Todo itu.
"Baik," "Wush!"
"Crep, crep, crep..."
"Argh! Argh! Argh! Argh!"
"Bluk, bluk..."
Suara benda tajam menancap di bagian tubuh lunak sebanyak delapan kali dan jeritan sebanyak delapan kali pula. Dari atas pohon terjatuh delapan mayat bersosok hitam. Rupanya salah satu dari rombongan itu melemparkan shuriken dengan kecepatan laksana kilat.
"Hahaha, ayo kita bantai desa ini. Sepertinya mereka terlarut dalam kebahagiaan hasil kemenangan mereka," ucap Natsuki Todo.
Dengan santainya, seolah semuanya akan baik-baik saja, rombongan itu masuk ke gerbang desa dengan candaan di mulut. Setelah mereka cukup jauh, seorang lelaki paruh baya dengan pakaian hitam segera mendekati mayat yang terjatuh di tanah.
"Jangan khawatir Tuan Akamatsu, mayat itu adalah mayat yang kita kumpulkan dari hasil pertarungan engkau dengan pasukan rombongan Sang Ketiga. Kalian keluarlah, kita segera berkumpul di pos ketiga untuk mengeksekusi mereka," seorang pemuda bermata serigala dan rajawali berkata dengan santainya.
"Ekh..." Akamatsu Kazama berpaling. Benar saja, di belakangnya terdapat delapan sosok hitam sedang menyilangkan katana di dada.
"Mari," Aram mewakili yang lain segera melesat menembus kegelapan. Dengan cepat semuanya mengekor di belakangnya.
"Cukup, berhenti! Selangkah lagi nyawamu melayang..." Delapan sosok hitam mencegat. Yang membentak itu adalah sosok bayangan hitam kekar dengan pundak dibalut; dia adalah Angkara.
"Hahaha, ternyata kau lagi, manusia tak tahu diri." Yang berbicara adalah pemuda yang tadi menyabet pundak Angkara.
"Serang!" Angkara memberi komando. Tampak kedelapan orang itu maju dengan hati-hati seolah ketakutan. Dengan seenaknya rombongan penyatron menangkis dengan santai, tapi mereka semua terkecoh sebab tiba-tiba, entah dari mana datangnya tenaga itu, kedelapan ninja dari Desa Kouraningun itu menyerang dengan dahsyat.
Natsuki Todo, pemimpin rombongan itu, terkejut. Dalam hatinya ia merasakan gelagat buruk dan segera berbalik untuk melarikan diri. Mendadak, "Jleg!" Di hadapannya berdiri seorang pemuda tampan dengan mata bersinar tajam. Mata itu adalah bola mata serigala dan rajawali.
"Senang berjumpa denganmu, Pelindung Hukum Nawa Awatara, Natsuki Todo!"
Natsuki Todo cukup sadar bahwasanya orang yang berada di hadapannya bukan orang biasa, terbukti dengan kedatangannya yang tanpa tanda. Oleh sebab itu, melihat datangnya pemuda bermata aneh itu, ia tak berani bertindak gegabah. Ujung kakinya segera menjejak tanah dan melayang mundur sejauh tiga kaki lebih.
Aram tertawa dingin, tubuhnya mengejar lebih ke depan sehingga keduanya masih dalam jarak yang sama dengan tadi. Belum lagi Natsuki Todo menginjak tanah dengan tegak, Aram sudah menubruk datang. Dalam kejutnya, Natsuki membentak keras, sebuah bacokan tangan kanan segera dilontarkan ke luar dengan posisi merunduk ke atas. Gulungan angin sabetan yang dahsyat dengan cepatnya menerjang ke dada Aram.
Aram mendengus dingin, tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu sudah lenyap tak berbekas.
"Blam!" Benturan nyaring menggelegar memecahkan keheningan. Sebuah batu sebesar kerbau hancur menjadi serbuk debu. Ternyata serangan dari Natsuki Todo tak dapat dihentikan kelajuannya sehingga menggempur batu di belakang Aram. Menyaksikan kejadian tersebut, Natsuki Todo merasa gelagat buruk. Dengan perasaan terkejut, dia segera membalikkan badan. Pada saat dia sudah membalikkan badan itu, dilihatnya Aram sedang tersenyum mengejek di belakangnya.
Natsuki Todo semakin penasaran. Sambil membentak, telapak tangan kanannya sekali lagi didorong ke muka.
"Blam!" "Trek!" "Bruk!"
Benturan keras menggelegar kembali terdengar. Kali ini korbannya adalah sebuah pohon sebesar pelukan orang dewasa, sementara orang yang ditujunya menghilang entah ke mana.