Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 60

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 60

Natsuki Todo mencoba mengedarkan pandangannya. Dilihatnya dua tombak di samping kanannya, pemuda yang ia hajar sedang memainkan rumput di bibirnya. Natsuki Todo mengerutkan kening, kemudian pergelangan tangan kanannya diputar dan...

"Cring!" dia telah meloloskan katana yang tersoren di punggungnya.

Melihat Natsuki Todo sudah meloloskan pedang, Aram berpaling ke langit, memandang bintang-bintang di dini hari dalam malam yang pekat ini.

Lalu berkata, "Baiklah, setelah merasakan ninjutsu-mu (teknik bela diri dengan tangan kosong) yang hebat meski tidak pernah mengenai tubuhku, aku ingin merasakan kenjutsu-mu (teknik menggunakan pedang)."

"Berisik kau, rasakan ini... Naga Liar Alam Barzah!" teriak Natsuki Todo sambil melompat dan menyabetkan pedangnya dengan dahsyat.

Dengan tenang, Aram mengalirkan tenaga dalam ke kaki kanan, lalu menjadikannya poros sekaligus penunjang tubuhnya yang melenting sehingga pedang itu nyosor satu inci di atas tubuhnya.

Bunyi pertarungan antara denting pedang, suara menggaung pedang, dan senjata lainnya menjadikan musik indah bak denting piano kala jemari menari merambat pelan di kesunyian malam. Jalan di Kota Kanglam hari itu cukup ramai dengan hiruk pikuk kehidupan; pedagang dan pembeli saling bersitegang menentukan harga.

Kota itu sangat ramai akan kehidupan dan keramahan, kota yang terkenal akan keindahan alamnya, pelajar-pelajar yang hebat, juga gadis-gadis yang cantik.

Di tengah jalan itu, lima orang pemuda dan pemudi menjadi sorotan orang banyak karena pakaian mereka bukanlah pakaian dari daerah situ.

Lelaki yang di tengah merupakan seorang pemuda dengan kimono biru langit. Wajahnya tampan dengan bola mata elang, bibirnya ranum kemerah-merahan dibalut dengan kulit seputih salju, rambutnya panjang sepunggung dengan ikatan ekor kuda, kepalanya diikat dengan kain berwarna cokelat, dan di belakangnya sebuah kujang kecil menonjol. Bila orang tidak mengenal, maka ia pasti akan mengira bahwa dia adalah pemuda yang lemah tak berdaya.

Di samping kirinya, seorang pemuda tampan berwajah kuning pucat. Rambutnya sepundak riab-riaban namun tak menutupi ketampanannya, rahangnya kokoh dengan badan kekar tegap. Ia memakai kimono hijau sambil menggandeng seorang gadis cantik berwajah kekanak-kanakan. Hidungnya bangir dengan mata sipit, ia memakai kimono berwarna merah muda dengan baju dalam merah.

Sementara itu, di samping kanannya, seorang pemuda tampan berwajah sipit dengan rahang kokoh juga tubuh kekar berotot asyik menggandeng sambil bercanda dengan gadis cantik bertubuh sintal dengan kimono merah.

Mereka adalah Aram Widiawan, Angkara, Yumi, Ryusuke, dan Jelita Indria.

Setelah tiba di negeri itu, mereka sedang berada di pegunungan bukit yang mereka tak tahu apa namanya. Setelah berjalan cukup lama, sampailah mereka di Kota Kanglam.

"Ketua..." Angkara berbisik.

"Panggil namaku, jangan memancing harimau lapar..." Aram menasihati.

"Baik... Ar... Aram..."

"Ada apa?"

"Aku lapar... hehe."

"Baiklah, kita cari kedai dulu untuk makan."

"Tapi..."

"Tapi apa?"

"Aku tidak bisa bahasa daerah sini..."

"Jangan risaukan itu, perlahan kau juga akan bisa..." hibur Aram sambil menatap sebuah kedai yang cukup besar. "Kalian ikutlah..." ajaknya kemudian sambil ia segera masuk ke dalam. Dilihatnya di kedai itu cukup ramai juga, tampaknya mereka adalah kaum golongan rimba hijau, terbukti dengan pedang yang mereka bawa.

Segera mereka masuk dan memilih tempat di pojok dekat jendela, akan tetapi tidak ada seorang pelayan pun yang meladeni. Sepertinya para pelayan sedang sibuk melayani yang lainnya. Tiba-tiba sudut mata Aram melihat seorang pelayan yang sedang menganggur, segera ia memanggil.

"Hai, kemari!"

"Ya, ya, segera datang!" sahut pelayan itu, lalu mendekat dan bertanya dengan tertawa, "Tuan-tuan ini hendak pesan apa?"

"Buatkan lima porsi burung dara goreng, lima porsi Pak-lay-cah, lima porsi Ang-sio-hi, seporsi ayam cah jamur, dan bawakan lima kati arak Li-ji-hong."

"Baik, baik, segera disediakan," sahut si pelayan dengan terbata-bata.

Kiranya restoran ini terhitung rumah makan yang cukup besar, sehingga menu yang dipesan dapat disediakan dengan baik. Meski cukup kaget dengan pesanan itu, tapi diam-diam ia juga merasa senang. Maklumlah, orang berusaha di kedai tentu tidak beralasan menolak tamu makan banyak, maka dicatatnya pula setiap pesanan itu.

Tak lama kemudian pesanan segera datang, dengan lahap mereka segera makan. Di tengah asyiknya makan, Yumi berkata dengan mulut penuh daging burung dara, "Ketua, kau tahu di mana letak Perguruan Thian Liong Pay?"

"Sruput... tidak, aku lupa menanyakannya..." jawab Aram.

"Berarti kita harus bertanya?" Jelita Indria menanyakan sesuatu yang lucu.

"Hahaha, tak usah... mereka sudah ada di perjalanan, kita tunggu saja di kota ini..." jawab Aram sambil menyeruput araknya.

"Heh, kapan? Padahal semenjak tadi aku melihat kau tak melakukan hal apa pun..." Jelita Indria penasaran.

Pertanyaan itu hanya dijawab dengan senyuman saja.

"Sepertinya bakal ada kejadian menarik..." Angkara melirik ke arah pintu masuk.

Di pintu masuk itu berdiri tiga orang berseragam hitam dengan gambar piramida berantai di dada. Tangan masing-masing membawa bungkusan panjang; jelas yang terbungkus itu adalah senjata. Orang yang paling depan berperawakan tinggi tegap, orang kedua di belakangnya berbadan pendek tangkas, orang ketiga bertubuh ramping dengan wajah tak lebih baik dari wajah manusia yang dikerok cangkang durian.

Dengan tajam mereka menatap serombongan orang yang berdiri di sudut ruangan. Sementara itu, rombongan itu sudah menyongsong maju, tapi setelah berhadapan dalam jarak beberapa tombak, mereka lantas berhenti dan saling tatap dengan penuh waspada.

Dengan setengah mengejek, orang yang berseragam hitam di tengah berkata, "Apakah kalian yang berani membunuh salah satu anak buah kami?"

"Betul!" jawab salah satu orang dalam rombongan yang sejak tadi berada di kedai. Orang itu memakai pakaian biru tua, berbadan sedikit gemuk, dan berkumis tebal, berusia sekitar lima puluh tahun. Ia menjawab dengan dingin; dalam dunia persilatan ia lebih dikenal dengan sebutan Si Kumis Beracun.

"Tahukah kalian siapakah kami ini?" si baju hitam bertanya lagi.

Kembali Si Kumis Beracun menjawab, "Tentu, kalian adalah bergundal dari Nawa Awatara, sang kumpulan duri dalam mata!"

Si baju hitam dan kawannya menjadi gusar, teriaknya, "Tahukah kau akibatnya bila melawan kami?"

"Memangnya kenapa jika kami melawan kalian?"

"Hem, kalian mencari penyakit sendiri, tak ada tempat lagi untuk kalian kecuali dunia barat."

"Hahaha... boleh saja kalian pentang gaya dengan mengandalkan pamor kalian di Tanah Seribu Pulau, tapi di sini kalian ini hanya kunang-kunang di hadapan rembulan."

Seketika air muka sang baju hitam berubah, tapi ia lantas mengejek, "Kumis Beracun, jangan salahkan jika kau kukirim ke neraka lapis delapan belas."

"Sudah tentu, sebab kaulah yang pertama kali akan ke sana," ujar si baju hitam.

Dia bicara dengan kalem, tidak terburu-buru dan juga tidak lamban, tapi nadanya seperti sengaja dibuat-buat. Dengan tak sabar Si Baju Hitam menggeram, teriaknya, "Mati kau!"

Berbareng dengan itu, kedua orang berseragam hitam lainnya juga lantas menubruk maju. Si pendek tangkas itu mendahului menubruk ke arah rombongan yang berada di meja yang berjumlah empat orang itu. Gerak tubuh orang ini sangat cekatan, gaya serangannya juga ganas. *Duk!* Salah seorang dari rombongan yang berusia cukup tua dengan jenggot sedagu menahan serangan. Di dalam persilatan, ia dikenal dengan nama Sembilan Langkah Pembawa Maut Beng San.

Sedangkan si perempuan baju hitam justru menubruk ke arah seorang gadis cantik berbaju langsat. Ilmu silat gadis yang terkenal dengan gelar Gadis Cantik dari Kanglam itu tergolong lumayan dan sudah dua tahun berkecimpung di dunia persilatan, tapi menghadapi serangan yang aneh dan cepat itu, seketika ia menjadi kelabakan dan tercecer.

Di sebelah sana, Si Kumis Beracun juga sudah bergebrak dengan si baju hitam yang tegap. Si Kumis Beracun terkenal dengan senjata rahasianya yang beracun, senjata itu terletak di antara kumis-kumis yang melintang di atas bibirnya sehingga serangan itu tidak dapat dipatahkan dan dipecahkan secara mudah. Selain itu, ilmu tangan kosongnya yang diberi nama Tujuh Pukulan Kumis Beracun juga terkenal akan racunnya yang ganas serta serangannya yang aneh.

Tapi si baju hitam yang tegap itu pun tidak kalah lihainya, sehingga mereka dapat bertarung dengan seimbang. Pertempuran ini boleh dikatakan cukup hebat; bangku-bangku sudah berterbangan. Tamu-tamu yang hanya pelajar siang-siang sudah membubarkan diri, hanya beberapa kaum persilatan saja yang menonton di tengah kalangan.

Wajah mereka terlihat tegang dan cemas. Pemilik kedai meringis, ia takut jika orang-orang itu tidak mengganti rugi atas kehancuran kedainya, namun mana berani ia menghentikan pertarungan itu. Pemilik kedai yang merupakan seorang lelaki paruh baya melihat masih ada sebuah bangku dengan mejanya yang utuh. Meja itu terlihat dikelilingi oleh lima orang pemuda-pemudi yang masih muda.

Pemuda dan pemudi itu tidaklah bergeming maupun terusik dengan pertarungan di sisinya, mereka terlihat asyik bercengkerama satu sama lain. Yang lebih hebatnya lagi, rambut mereka tidaklah berkibar-kibar seolah di sana ada benteng penghalang, padahal di sisi pertarungan lain, orang-orang berusaha untuk tidak ikut terbawa kencangnya angin yang bersileweran.

Di antara mereka bertiga itu, yang paling celaka adalah Sembilan Langkah Pembawa Maut Beng San; baru belasan jurus saja sudah keteteran hebat. Sebaliknya, si baju hitam yang pendek tangkas itu semakin bertempur semakin gagah perwira. Mendadak ia mengelak sambil menerjang maju, sinar hijau berkelebat, tahu-tahu goloknya sudah berada di leher Sembilan Langkah Pembawa Maut Beng San.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment