Chapter 61
Satu inci lagi golok itu maju, maka kepala Sembilan Langkah Pembawa Maut Beng San akan terbang meninggalkan tubuhnya. Namun, dari belakangnya ada seseorang yang menahan golok itu sehingga terdengar benturan nyaring.
"Trang..." Sungguh tidak kepalang kaget Sembilan Langkah Pembawa Maut Beng San, semangat tempurnya juga runtuh seketika. Untunglah temannya yang sejak tadi berdiam diri memperhatikan berhasil menolong jiwanya. Sedetik saja terlambat, maka tentu nyawanya akan amblas.
"Engkau tidak apa-apa, Sute?" sapa orang itu. Ternyata dia adalah orang yang paling tua di antara rombongan Beng San. Dia bernama Kim Liong dengan gelaran Naga Emas dari Hopak.
"Terima kasih, Suheng. Tanpa pertolonganmu, tentu jiwa ini akan melayang," jawab Beng San.
"Jangan lengah, lawan masih menghadang di depan mata."
"Baik, Suheng."
Pertempuran di dalam kedai terus berlangsung sengit. Tampak rombongan Beng San yang berempat segera akan menemui ajalnya di bawah serangan pedang milik anggota Nawa Awatara. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara tertawa panjang seseorang, sesosok bayangan tahu-tahu menyelinap ke tengah-tengah kalangan. Menyusul itu lantas terdengar, "Sarr... serr... serr... Klontrang... klontrang... klontrang..."
Ketiga batang senjata kawanan baju hitam mendadak mencelat semua ke udara dan jatuh di lantai berkerontangan. Keruan ketiga orang berbaju hitam terkejut dan serentak melompat mundur. Mereka hanya merasa pergelangan tangan tergetar dan tahu-tahu senjata terlepas dari cekalan; cara bagaimana pihak lawan turun tangan sama sekali tak diketahui.
Keterkejutan mereka bertambah ketika dilihatnya bahwa yang membuat mereka kalah hanyalah seorang gadis belia. Gadis itu cantik berwajah kekanak-kanakan, hidungnya bangir dengan mata sipit, ia memakai kimono berwarna merah muda dengan baju dalam merah. Dia tak lain adalah Yumi.
"Nona, mengapa engkau suka ikut campur urusan kami?" tanya lelaki baju hitam berwajah tegap.
"Aku tak paham bahasa kalian! Jadi sampai copot tulang rahang pun aku tak bakalan mengerti," Yumi menjawab dengan bahasa Jepang.
"Eng... eh, akh..." Lelaki itu tergagap karena mereka pun tak mengerti. "Kalian tahu itu bahasa apa?" bisik lelaki berbaju hitam yang tegap kepada temannya yang bertubuh pendek. Namun, lelaki yang bertubuh pendek itu juga menggeleng menandakan ia juga tak paham.
"Dan kau?" tanya lelaki baju hitam bertubuh tegap kepada teman perempuan yang berwajah buruk.
"Tidak... jikalau tak salah, itu adalah bahasa dari Negeri Matahari Terbit," jawab si perempuan.
"Sudahlah, Nona, aku tak paham dengan bahasamu."
"Sudahlah, aku tak paham dengan bahasamu, hitam. Kita bertarung saja," Yumi menjawab sambil memasang kuda-kuda.
Meski tak mengerti, jika dilihat dari gerak tubuh si gadis yang memasang kuda-kuda, ia mulai sedikit paham. Segera ia berkata, "Nona, mengapa kita harus bertarung? Padahal di antara kita tak ada dendam sama sekali. Mending kita senang-senang."
Tiba-tiba dari samping seseorang menjawab dengan dingin, "Justru kami memiliki dendam yang tak bisa dibendung lagi..."
Ketika mereka berpaling, dilihatnya seorang pemuda dengan kimono biru langit. Wajahnya tampan dengan bola mata elang, bibirnya ranum kemerah-merahan dibalut dengan kulit seputih salju, rambutnya panjang sepunggung dengan diikat ekor kuda, kepalanya diikat dengan kain berwarna cokelat, dan di belakangnya sebuah kujang kecil menonjol. Di belakang pemuda itu, pada dinding kedai yang terbuat dari batu cadas yang disusun, tertera sebuah tulisan: "AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG, AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH."
Membaca tulisan itu, pucatlah wajah ketiga kawanan baju hitam tersebut. Di antara mereka, siapakah yang tak mengenal tulisan itu? Tulisan yang membawa alamat buruk bagi keselamatan dirinya. Tanpa menghiraukan harga diri, mereka segera berserabutan melarikan diri. Namun, dua orang pemuda menghadang di depan pintu masuk.
"Jika sudah masuk, mengapa harus ada keluar?" Angkara berkata dengan menggunakan bahasa tanah Jawadwipa. Meski tak begitu paham, mereka sedikit banyak mengerti sebab markas pusat berada di negeri itu.
"Yumi, bereskan mereka..." Aram memerintah.
"Baik..." Yumi segera meletakkan kedua tangannya, disertai dengan kabut tipis tubuhnya menghilang dari pandangan.
Merasakan gelagat buruk, si baju hitam tegap segera memasang kuda-kuda dan meliarkan pandangan. Tiba-tiba, "Dessss! Ukghhh!" Seperti bayangan saja, tubuh Yumi muncul dari dalam tanah dan meninju rahang si lelaki pendek. Tidak berhenti begitu saja, Yumi segera menyapu kaki si perempuan buruk rupa hingga terjerembab.
Gusar hati si lelaki berbadan tegap, segera ia meloncat ke udara. Ia pikir jika musuh muncul dari dalam tanah, maka dirinya akan bebas dari serangan. Dengan memanfaatkan keadaan, ia akan menyerang si gadis dengan pukulan di udara. Sayang seribu sayang, Yumi bukanlah gadis yang mudah dijebak begitu saja. Empat buah senjata berbentuk bintang melesat dari tanah ke arah si lelaki berbadan tegap. Dengan sigap, si lelaki berbadan tegap menangkis dengan pedangnya, "Trang... trang, tring... jrubb!"
Meski si lelaki baju hitam mampu menangkis, tak urung sebuah shuriken tetap menancap di pahanya. Jelaslah kemampuan Yumi dalam melempar shuriken telah meningkat drastis dari sebelumnya. Diceritakan memang panjang, padahal kejadiannya begitu singkat.
Brukk! Si lelaki baju hitam terjatuh di lantai dan segera ditolong kawannya yang sudah bangkit. "Senjata ini..." desis si perempuan buruk rupa lirih.
"Cucu kura-kura, siapa yang berbuat keributan di sini?" Dari jendela, seorang kakek-kakek berjubah hijau berkata lantang sambil meneguk arak dari guci.
"Maafkan kami, Locianpwee. Kami hanya menyelesaikan sedikit urusan utang," Aram mewakili.
"Heh, bocah bau kencur, cucu kura-kura. Masakah engkau menagih utang di rumah makan, heh?"
"Begini, Locianpwee. Bila Locianpwee memberikan utang pada orang lain lalu Locianpwee hendak menagihnya, namun orang itu selalu melarikan diri, dan bila pada suatu hari Locianpwee bertemu dengan orangnya, apa yang akan dilakukan Locianpwee?"
"Tentu saja menagihnya, goblok!" bentak kakek itu.
"Nah, begitulah dengan kami saat ini," Aram tersenyum penuh kemenangan.
Si kakek tergagap, ia terjebak dengan permainan kata si anak muda. Namun, ia tak mau mengaku kalah, cepat ia berkata lagi, "Lihatlah, seluruh kedai ini berantakan. Bukankah itu malah merepotkan pihak ketiga?"
"Sekarang iya, tapi nanti tidak."
"Jangan berkata yang menyulitkanku, bocah!"
"Hehe, maksud Boanpwee sekarang memang pihak ketiga akan dirugikan. Tapi setelah ini pasti pemilik restoran akan ketiban untung."
"Untung kepalamu gondrong!" si kakek mencak-mencak.
"Iya, Locianpwee, rambut Boanpwee memang gondrong," si kakek makin keki. Ia segera meneguk araknya, "Glekkk..." Tapi ternyata isinya telah habis. Si kakek segera mengocok-kocok gucinya, namun tak ada suara. Mulut si kakek manyun ke belakang, sebab giginya tidak ada sehingga terlihat lucu di mata Aram.
Sambil menahan geli, Aram berkata, "Mari duduk di sana, Locianpwee. Di sana masih ada tiga kati arak... jikalau mau, kita beli lagi."
Seperti anak kecil saja kakek itu mengikuti di belakang Aram. Setelah sampai, Aram mempersilakan duduk dengan diiringi tatapan kagum oleh sekian banyak kaum persilatan. Di antara mereka, siapakah yang tak mengenal kakek itu? Dalam dunia persilatan, ia dikenal dengan sebutan Arak Seribu Kati; mengenai namanya, tak ada seorang pun yang mengetahuinya. Dia berprinsip arak adalah segalanya; segala urusan beres bila dengan arak, menang minum arak, senang atau sedih juga minum arak, begitu pula bila kalah tetap minum arak. Jadi kesimpulannya, dalam suasana apa pun, arak adalah segalanya.
"Arak yang bagus, hehe?" kakek itu memuji.
"Akh, rasanya tak lengkap bila tidak ada tarian. Jelita Yumi, menarilah dengan mereka," kata Aram sambil menunjuk kawanan baju hitam di tengah kedai.
"Sampai mereka mati?" Jelita Indria bertanya.
"Terserah kalian, boleh sampai mati atau sampai sekarat saja. Yang penting utang kita lunas."
"Tarian apa, bocah, kok sampai mati segala?" kakek itu bertanya.
"Tarian mencabut nyawa..."
"Menyeramkan sekali!" gumam kakek itu dengan mata memandang tajam ke arah arena sambil meneguk gucinya.
Aram mengedarkan pandangannya, dilihatnya di sebelah kiri pemilik kedai mengumpat di meja kasir dengan ketakutan. "Hey, kemarilah," perintahnya lembut.
Sang pemilik itu celingak-celinguk antara mendekati atau tidak, namun sepertinya ia tidak berani membantah. Dengan terseok-seok ia mendekat. "Ada yang hamba bantu, Kongcu?"
"Ambilkan arak terbaik sepuluh guci."
Pemilik kedai itu melongo. Rupanya Aram mengerti apa yang dipikirkan si pemilik kedai. "Jangan khawatir, aku akan mengganti rugi kerusakan kedaimu juga makanan dan minuman yang kubayar."
Dengan ragu, pemilik kedai itu segera lari ke belakang, namun hatinya sedikit lega juga mendengar janji Aram. Jelita Indria dan Yumi segera memandang ketiga kawanan baju hitam itu dengan mata dipicingkan. Angkara dan Ryusuke saling berteriak memberi semangat kepada kedua gadis itu.
"Habisi dalam dua gerak tarian saja, Yumi!"
"Ayo, Dria, semangat, tunjukkan kebolehanmu!"
Mendapat dukungan dari sang kekasih, Yumi segera memajukan kaki kanannya, tubuhnya memutar seiring dengan kaki kirinya, tangannya membuat lingkaran di depan tubuh sehingga lekuk tubuhnya menonjol. Gerakannya sungguh indah dan gesit. Tak ingin kalah, Jelita Indria juga segera melakukan hal yang sama dengan Yumi sehingga keduanya mirip seperti dua dewi yang sedang menari.
Sebenarnya itu adalah kembangan jurus dari "Dewa Dewi Langit Menari", jurus sang legenda persilatan tanah Jawa, Sepasang Dewa Dewi dari Jawadwipa. Seharusnya jurus itu dilakukan berpasangan, namun ternyata dilakukan sendiri juga bisa. Jurus-jurusnya adalah: Dewa dan Dewi Tersenyum, Dewa dan Dewi Menebar Kasih, Dewa Merayu Dewi Cemberut, Dewi Menari Dewa Bahagia, Dewa Murka Dewi Menangis, dan Dewa dan Dewi Mengamuk.
Wuuut, Wwess...!
Yumi dan Jelita Indria bergerak mendekat dan...