Chapter 62
Agaknya kawanan baju hitam itu terbawa suasana tarian yang indah. Tiba-tiba saja, dari balik baju Jelita Indria dan Yumi, muncul sebilah pedang pendek dan segera menyerang. Kawanan berbaju hitam itu terperanjat melihat serangan yang begitu mendadak.
Tebasan pedang Yumi kepada lelaki berbadan pendek dihindari dengan tubuh miring ke kiri, tetapi pedangnya segera disabetkan ke atas.
"Bretttt...!"
Pedang Yumi merobek pakaian si lelaki berbaju pendek. Meski tak menimbulkan luka apa pun, wajah lelaki itu telah berubah pucat pasi. Sementara itu, serangan Jelita Indria menusuk dada si perempuan buruk muka, namun di pertengahan jarak, Jelita Indria segera membelokkan pedangnya ke belakang kepada si lelaki baju hitam berbadan tegap.
Dengan disertai angin tajam, pedang Jelita Indria menyambar leher lelaki itu.
"Akhhh!" Dengan jeritan kaget, lelaki berbadan tegap itu berusaha mengelak, namun di lehernya tetap tercipta goresan merah.
Tak berhenti begitu saja, Jelita Indria melemparkan pedangnya ke belakang.
"Jrubbb!" "Akkhh!" Ternyata pedang itu menusuk lengan si perempuan buruk muka. Sekali dayung dua pulau terlampaui; benar-benar siasat bertarung yang luar biasa.
"Hiaaaahh...!!" Jelita Indria melemparkan sebuah tali halus ke arah pedangnya, dan tali itu melilit di gagang pedang. Dengan sekali sentakan, pedang itu kembali ke arah Jelita Indria.
Tiba-tiba, dari arah belakang Jelita Indria, terhembus angin tajam yang menggiriskan kulit. Tetapi Yumi menangkis serangan itu menggunakan pedang yang ia pegang.
"Traaak...!"
Serangan itu tertahan sehingga Jelita Indria dapat menerima pedangnya dengan baik, sekaligus membabatkannya ke belakang.
"Wuuut, crraass...!"
"Aaahkk...!" Orang yang membokong itu mendelik seketika, perutnya robek dan isinya mulai berhamburan.
Tak kalah cepat, Yumi menyabetkan pedangnya dari atas ke bawah.
"Wuuut...! Craaas...!"
Pedang itu membelah tubuh si pembokong yang tak lain adalah lelaki bertubuh pendek, dari ubun-ubun sampai ke selangkangannya. Tanpa ampun, lelaki itu tumbang tak bernyawa.
"Brrruuk...!"
Rupanya ketika si lelaki bertubuh pendek bertarung dengan Yumi, ia terdesak hingga mendekati Jelita Indria. Melihat kesempatan karena Jelita Indria tidak bersenjata lagi, ia nekat menyerang. Namun nahas, nyawanya melayang sebelum sempat menebaskan pedang ke tubuh Jelita Indria.
Kakek Arak Seribu Kati yang sejak tadi menonton pertarungan sadis itu bergumam, "Benar-benar sadis kedua perempuan ini. Jurus-jurusnya indah sekaligus mematikan, sebaiknya hentikan saja tarian ini."
"Apakah locianpwee merasa ngeri?"
Kakek Arak Seribu Kati terdiam. Ia mati kutu bila berhadapan dengan orang di sampingnya. Dengan menggerutu tak jelas, kakek itu kembali memperhatikan pertarungan di arena.
Aram tertawa ringan sambil meneguk tuaknya. Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang membuatnya tersenyum berseri.
"Dria, Yumi, lekaslah... rekan kita sudah datang..."
"Benarkah? Baiklah, waktu bermain sudah habis, mengasolah di alam baka," teriak Yumi sambil menyerang si perempuan buruk muka yang sedang terluka. Dengan menekuk silang kaki dan suatu putaran, Yumi menyabetkan pedangnya ke arah leher. "Rubah merobek mangsa!"
Si perempuan buruk muka merunduk, namun tiba-tiba Yumi melemparkan pedangnya ke atas, dan sebuah tendangan keras menghampiri mukanya.
"Desss!" "Akkkhh!" "Settt!" "Jrubbb... Brukk!"
Ternyata pedang yang dilemparkan itu ditangkap kembali oleh Yumi dan dengan telak ditusukkan ke dada perempuan tersebut. Maka berakhirlah nyawa perempuan buruk rupa itu. Yumi berpaling ke samping dan melihat Jelita Indria juga telah menyelesaikan pertarungannya. Setelah saling berpandangan, keduanya tersenyum lalu berlarian menuju kekasih hatinya yang disambut dengan pelukan dan ciuman mesra.
Ternyata ketika Yumi menyerbu si perempuan buruk muka, Jelita Indria juga secara berbarengan menyerang lelaki berbadan tegap yang telah terluka di bagian paha.
"Pedang Pemburu Mangsa!" Jelita Indria berteriak melengking sambil melemparkan pedangnya. Dengan menganggap enteng, si lelaki berbadan tegap menahan pedang itu dengan tangan yang merangkap di dada.
"Tekk!" Pedang itu memang dapat ditahan dengan menangkap batangnya, namun Jelita Indria melompat dan menendang gagang pedang itu sehingga menancap di tubuh lelaki tersebut. Lelaki itu pun mati bersamaan dengan temannya yang lain.
Melihat itu, Bengsan dan kawan-kawan terpengarah melihat kelihaian dua gadis tersebut. Selama mereka berkecimpung dalam dunia persilatan, baru kali ini mereka sadar bahwa di atas langit masih ada langit.
"A... Aram, apa yang hendak engkau lakukan?" tanya Angkara.
"Bermain-main..." jawab Aram enteng sambil mengangkat mayat lelaki berbadan tegap. Kemudian, ia melemparkan mayat itu ke arah tulisan yang telah ia buat. Seolah telah diperhitungkan, mayat itu tiba-tiba meledak, mengagetkan semua orang. Lebih hebatnya lagi, darah mayat itu menggurat mengikuti tulisan tersebut tanpa berceceran. Jika bukan orang yang memiliki tenaga dalam tinggi, mustahil bisa melakukan hal itu.
Tiba-tiba, "Kalian ini, datang-datang malah membuat keributan, benar-benar membuat orang keki.."
Sebuah suara yang akrab di telinga berkata di pintu kedai. Aram berpaling dan melihat tiga sosok orang yang tidak asing lagi: Thian Liong, Thian Hong Li, dan Amuk Samudra.
"Sepasang Pendekar Naga dan Hong! Pendekar Samudra Mengamuk!" berbagai seruan terkejut mengiringi kehadiran tiga sosok itu. Memang, sejak kembali ke Tiongkok dari Tanah Seribu Pulau, kedua bersaudara she Thian dan Amuk Samudra itu menggegerkan dunia persilatan.
"Hehehe... kau juga datang, Liong Ji, Hong Ji," sapa Kakek Arak Seribu Kati.
"Susiok..." Kedua bersaudara she Thian berseru kaget lalu memberi hormat.
"Hahaa... bangunlah kalian berdua. Hehe, kalian bertutur sapa dengan pemuda liar ini, apakah kalian saling mengenal?" Thian Hong berpaling kepada Thian Hong Li, membuat wajah adiknya memerah malu. Rupanya Kakek Arak Seribu Kati paham, ia tertawa terbahak-bahak menambah rasa malu Thian Hong Li.
"Sudah sana, kau pasti kangen dengannya!" goda kakek itu.
Thian Hong Li mengerti tanda itu dan segera berlari menuju Aram yang bersandar di tiang kedai. Mereka berpelukan haru melepas rindu. Mata Thian Hong Li yang dulunya sayu kini bercahaya.
"Kau kurus sekali, Hong Moay!" bisik Aram, membuat wanita itu menggeliat geli. Namun, saat Thian Hong Li menatap mata Aram, ia tertegun. "Akh, Engkoh... matamu...!"
Dengan heran dan ragu, Thian Hong Li menatap mata Aram yang tajam seperti rajawali. Cukup lama mereka bertatapan hingga pada suatu ketika Aram menunduk. Setetes air mata jatuh di pipinya, membuat suasana kedai itu diliputi kesedihan mendalam.
"Aku hanya mengalami sedikit insiden kecil," jawabnya. Thian Hong Li tidak bertanya lagi sebab ia paham apa yang terjadi melalui kontak mata dan pikiran. Ia melihat semua penderitaan Aram di masa lalu.
Thian Hong Li menubruk Aram dan menangis tersedu-sedu. Thian Liong yang kebingungan segera mendekat bersama Kakek Arak Seribu Kati.
"Aram..." panggil Thian Liong.
Mereka pun berpandangan cukup lama. Betapa kagetnya Thian Liong ketika terjadi kontak pikiran; ia melihat seakan mengalaminya sendiri saat Aram dicambuki, dicongkel matanya, dan disayat tubuhnya. Thian Liong tak sanggup lagi melihatnya dan segera melepaskan kontak pikiran itu. Ia muntah-muntah karena ngeri.
Kakek Arak Seribu Kati segera menolongnya, meski ia tak tahu apa yang terjadi, ia paham ada sesuatu yang tidak beres.
"Kau tidak apa-apa, Liong Ji?"
Thian Liong tak menjawab, ia hanya merangkul Aram bersama adiknya. "Sungguh berat penderitaanmu, Aram. Syukurlah kau..." Thian Liong tak sanggup berkata apa-apa lagi.
"Sudahlah Kak, Hong Moay, semuanya sudah terjadi. Lagipula aku sudah berada di sini bersama kalian! Meski kini, aku bukan manusia yang normal lagi," Aram menghibur.
Tampaknya Thian Liong dan Thian Hong Li mengerti, dengan berat hati mereka melepas pelukan itu.
"Syukurlah ilmu itu sudah kalian sempurnakan, aku turut berbahagia," Aram mengalihkan pembahasan. "Rasanya tidak enak bila kita berdiri terus, sebaiknya kita mengobrol sambil minum. Itu terasa membahagiakan."
"Terserah," jawab Thian Liong setengah melamun.