Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 63

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 63

Rupanya jiwanya masih belum juga kembali setelah melihat kengerian dalam kontak batin itu.

"Pelayan, ke sini," Aram memanggil pelayan yang diam mematung di meja kasir.

"Ya, Kongcu?" Aram merogoh kantong bajunya. Dari balik baju itu, ia mengambil empat batang emas dan dua berlian sebesar kepalan bayi. "Segini cukup?" Mata pelayan itu membelalak melihat batangan emas dan berlian tersebut. "Cu... cukup, Kongcu, malah berlebih," ucapnya gagap.

"Ya sudah, aku jamu semua tamu yang ada di sini untuk makan bersama. Sekaligus carikan aku lima setel pakaian. Untukku, carikan yang berwarna biru langit. Dan kau lihat empat orang yang berbaju aneh itu? Carikan juga pakaian untuk mereka, warnanya samakan saja dengan yang mereka pakai. Perlu kutambah uangnya?"

"Tidak usah, Kongcu. Segini juga masih cukup, malah masih ada sisa."

"Hehehe, lekas hidangkan makanan untuk mereka, juga arak terbaiknya ditambah," Aram segera berkata lantang. "Saudara-saudara sekalian, Cayhe bernama Aram Widiawan. Maafkan bila kami mengganggu Tayhiap sekalian. Sebagai permohonan maaf, kami akan menjamu Tayhiap sekalian untuk mencicipi makanan di kedai ini. Silakan... silakan!" Riuh rendah sahutan para kaum rimba hijau itu menyambut tawaran langka tersebut. Mereka disuguhi pertarungan yang mendebarkan, arak, dan makanan. Jarang-jarang ada pendekar yang bersifat seperti itu, meski ada, namun dapat dihitung dengan jari saja.

Akhirnya mereka menikmati jamuan itu hingga larut malam. Suara tawa gembira, candaan, dan suara malam menjadi satu di kedai itu. Dalam keadaan tersebut, pemilik kedai adalah orang yang paling diuntungkan, apalagi setelah beredar tulisan yang dicampuri darah anggota Nawa Awatara itu.

Munculnya sebuah perkumpulan Nawa Awatara di daerah Tiongkok menimbulkan tragedi berdarah di mana pun mereka mendirikan markas cabang. Hari itu, masyarakat awam dan kaum rimba hijau sedang berpesta bahagia, khususnya bagi mereka yang selalu ditindas. Mengapakah demikian? Ternyata dalam waktu satu malam telah terjadi hal yang menggemparkan sekaligus mengejutkan; peristiwa yang meminta korban jiwa para anggota Nawa Awatara yang dibantai habis seluruh anggotanya, bahkan markasnya telah rata dengan tanah.

Kematian mereka terjadi secara aneh dengan kondisi seragam; semuanya terpenggal kepalanya dan tak ada luka lain, seakan para anggota Nawa Awatara hanyalah patung yang bisa dengan mudah dipenggal. Padahal, sebenarnya kemampuan mereka setingkat dengan jago-jago kelas satu. Lalu, mengapakah bisa dengan mudahnya mereka mati terpenggal? Tak ada saksi mata dalam pembunuhan itu. Si pembunuh sama sekali tak meninggalkan ciri, hanya meninggalkan mayat yang bergelimpangan membentuk tulisan: "AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG, AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH."

Jika terjadi di satu tempat saja itu tidaklah aneh, lalu bagaimana bila kejadian itu terjadi sama di lima tempat yang saling berjauhan? Adapun tempat itu adalah Kanglam, Hopak, Ciat Kang, Siauw An, dan Lokyang. Dengan cepat berita itu tersebar ke mana-mana sehingga membuat gempar seluruh daerah Tiongkok. Anggota Kay-pang telah disebar demi mencari keberadaan sang pembunuh. Ciri-cirinya mereka ketahui dari keterangan pemilik kedai yang dulu dijadikan tempat pertarungan oleh Aram, apalagi tulisan pertamanya yang dibuat dengan disaksikan beberapa kaum persilatan sudah menjadi rahasia umum. Nama Sepasang Pendekar Naga dan Hong, Pendekar Samudera Mengamuk, bahkan Si Arak Seribu Kati juga menjadi bahan pembicaraan seluruh umat persilatan di tanah Tiongkok. Pasar, kedai, perguruan, danau, lautan, bahkan di ladang pun berita itu selalu menjadi buah bibir.

Sementara di tempat lain, di sebuah tebing yang menjulang tinggi mencakar langit, sembilan orang sedang duduk menatap awan yang berarak di sebuah bangunan kecil dari bambu.

"Kau memang liar dan gila-gilaan, anak muda," seorang kakek berbaju hijau juga berjubah hijau berkata kepada seorang pemuda tampan berbaju biru dengan jubah yang melambai-lambai.

"Ketua, aku tak melihat siapa pun di sini... ke manakah yang lain sehingga bangunan ini kosong begini?" Amuk Samudera menyela, membuat si kakek cemberut.

"Hemm..." Aram hanya menggumam saja, tak menjawab pertanyaan keduanya.

"Ada yang bisa aku bantu, Engkoh?" suara Thian Hong Li berbisik dalam batinnya.

"Dapatkah engkau mencari di mana Nenek dan yang lainnya sekarang?" Aram menjawab dalam batin, sehingga yang lain tidak dapat mendengar percakapan itu.

Thian Hong Li bersila, ia meletakkan telapak tangan kirinya di depan dada, sementara pergelangan tangan kanannya disimpan di atas tangan kirinya. Tiga jarinya—ibu jari, jari manis, dan kelingking—ditekuk, menyisakan jari tengah dan telunjuk yang diarahkan ke atas. Kedua matanya terpejam, mengumpulkan segenap konsentrasinya. Awal mula terlihat gelap, perlahan-lahan Thian Hong Li merasakan tubuhnya melayang-layang di sebuah ruang hampa. Thian Hong Li paham bahwa ia baru memulai pengembaraan sukmanya. Mulanya Thian Hong Li kebingungan harus memanggil siapa, setelah berpikir akhirnya ia memilih Nyi Permata Dewi atau Dewi Pemanah Asmara sebagai jembatan penghubungnya. Thian Hong Li memusatkan perhatian sekaligus mengingat wajah dan karakter Dewi Pemanah Asmara, perlahan-lahan ia mengumpulkannya dalam sebuah bentuk dan mengirimkan getaran batin untuk memanggil Dewi Pemanah Asmara ke alam yang ia ciptakan sendiri.

Di sebuah tempat lain, di sebuah pegunungan hijau yang dikelilingi awan yang menggumpal dan menari-nari, empat orang manusia berlainan jenis dan usia sedang melakukan suatu aktivitas yang membuat tanya dalam hati. Dua orang sedang duduk memperhatikan dan dua lainnya sedang bertarung dengan sengit. Yang menonton adalah seorang kakek tua dengan dandanan super aneh; bajunya terdiri dari dua warna, kanan terbuat dari kain sutra berwarna biru, sementara yang kiri terbuat dari karung goni berwarna cokelat. Celananya juga terdiri dari dua jenis, kiri pendek dan kanan panjang. Dia tak lain adalah Ki Asmaradanu. Yang satunya lagi adalah seorang lelaki seumuran dengan Ki Asmaradanu, ia memakai baju kuning gading dengan guci di tangannya, matanya sayu dengan kantong mata yang cukup tebal. Wajahnya pucat seperti terlalu sering mabuk. Dilihat dari ciri-cirinya, dia memanglah Si Pemabuk dari Selatan.

Sementara yang bertarung adalah seorang wanita paruh baya berambut terurai sepanjang punggung. Perempuan itu mengenakan jubah tanpa lengan warna merah. Dadanya ditutup dengan selembar kain warna hijau muda, namun masih tampak kencang dan menantang. Dilihat dari ciri-cirinya, jelaslah ia salah satu datuk ilmu silat yang dikenal dengan julukan "Dewi Pemanah Asmara" yang bernama asli Nyi Permata Dewi. Ia sedang bertarung dengan seorang gadis cantik berhidung mancung diapit matanya yang jeli dan sayu. Ia berbaju kain sutra berwarna kelabu dengan tubuh mungil namun berisi, teriakannya merdu melengking mendayu-dayu mengikat siapa pun yang mendengarnya, sebab itu adalah sebuah ilmu milik Nyi Permata Dewi yang dinamakan "Mengikat Pikiran Menjerat Jantung". Ia adalah Melati yang sedang dididik olah kanuragannya oleh tiga orang datuk dunia persilatan. Bisa dibayangkan jika olah kanuragannya sudah setingkat apa, apalagi dua guru sebelumnya yang memberikan dasar ilmu tinggi beserta jurus pamungkasnya menjadikan Melati seorang gadis cantik yang berilmu.

Tampak Melati memainkan jurus-jurus silat penuh gelora semangat di bawah siraman sinar mentari hangat dan angin sepoi-sepoi yang dilayani oleh Nyi Permata Dewi dengan tak kalah hebatnya. "Hiaaa!" pekikan lantang Melati menggelegar merobek langit mencakar udara seraya menusuk perut Nyi Permata Dewi dengan tangan kanannya. Meskipun hanya tangan kosong, ketajamannya tidaklah di bawah pedang mustika, terbukti dengan desisan angin yang tersayat oleh tangan kanan itu. Itu juga menandakan kalau tenaga dalam gadis ini sudah mencapai tingkat tinggi. Serangan itu ditangkis dengan tangan kosong pula oleh Nyi Permata Dewi.

"Trang! Trang! Blaaarrrr!"

Terdengar suara dentingan pedang yang beradu. Rupanya tangan kosong mereka yang sudah dialiri tenaga dalam itu menjadikannya seperti logam, sehingga ketika dua tangan itu beradu, terdengar dentingan pedang.

"Cukup, Anakku!" seru Nyi Permata Dewi yang ternyata mendapatkan suatu tanda getaran dalam batinnya. Ia segera bersila menenangkan hatinya. Si Pemabuk dari Selatan dan Ki Asmaradanu saling berpandangan, sedangkan Melati juga tak kalah herannya namun ia tak mengganggu. Segera ia bersemadi mengembalikan kekuatannya.

Setelah Nyi Permata Dewi bersemadi, segera saja ia terasa melayang di ruang hampa menembus kabut berwarna jingga hingga ia sampai di tempat yang serba lembayung. Di depannya, seorang gadis cantik duduk bersila sambil tersenyum kepadanya. Tentu saja Nyi Permata Dewi terkejut sekaligus kagum akan kemampuan gadis itu, gadis yang ia tahu sebagai kekasih cucunya.

"Nenek, maafkan Ananda hingga mengganggu Nenek," gadis yang ternyata adalah Thian Hong berbasa-basi setelah Nyi Permata Dewi duduk di hadapannya.

"Tidak apa-apa, Anakku. Ada apakah gerangan?" tanya Nyi Permata Dewi maklum.

"Engkoh Aram meminta Ananda untuk memanggil Nenek dan yang lain sekaligus mencari keberadaan Nenek untuk segera datang ke markas..."

"Apakah ia sudah pulang? Terima kasih Tuhan... Kau lindungi nyawanya," gumam Nyi Permata Dewi.

"Iya, Nek. Ia pulang, tapi..."

"Tapi... tapi apa?"

"Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan luka, juga matanya yang dulu telah hilang berganti dengan mata yang lain..."

"Luka?" Thian Hong Li tak sanggup lagi membendung air matanya. Dengan sedih, ia segera menceritakan apa yang sudah terjadi dengan Aram yang ia ketahui melalui kontak pikiran. Setelah mendengar penuturan Thian Hong Li, Nyi Permata Dewi menghela napas panjang juga tersenyum pedih, butiran air mata jatuh di pelipisnya. Kemudian ia diam sehingga keduanya membisu dan asyik dengan lamunan masing-masing.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment