Chapter 64
"Nek...!" "Akh ya..." Nyi Permata Dewi tersentak dari lamunannya.
"Ananda belum menguasai ilmu ini dengan sempurna sehingga ananda tidak dapat mempertahankannya lebih lama lagi." Tak usah dijelaskan secara rinci pun Nyi Permata Dewi paham dengan ucapan Thian Hong Li. Segera ia berkata, "Tidak apa-apa, Anakku. Nenek kagum dengan kemampuanmu ini. Sangat jarang ada seorang gadis belia seusiamu dapat melakukan perjalanan sukma."
Wajah Thian Hong Li memerah mendapat pujian itu. Untuk menutupi rasa malunya, ia segera berkata, "Nek, Engkoh Aram akan menjemput Nenek dengan sebuah lingkaran penembus dimensi. Bilamana Nenek melihat sebuah lingkaran berwarna toska, masuklah ke sana."
Perlahan-lahan tubuh Thian Hong Li lenyap dari pandangan mata; sepertinya gadis itu tidak dapat lagi mempertahankan ilmunya. Begitu pula dengan tubuh Nyi Permata Dewi yang mengabur dan segera kembali ke tubuh asalnya.
Nyi Permata Dewi membuka matanya. Benar saja, di sampingnya pada sebuah batu cadas terdapat lingkaran berwarna toska yang sedang dikelilingi oleh Si Pemabuk dari Selatan, Melati, dan Ki Asmaradanu.
"Kau tahu apa ini?" tanya Si Pemabuk dari Selatan kepada Nyi Permata Dewi.
Nyi Permata Dewi tersenyum dan segera berseloroh, "Murid tunggalmu sedang menunggu di balik sana, mari masuk." Nyi Permata Dewi mendahului yang lainnya. Meski ragu, tiada pilihan lain bagi mereka, akhirnya mereka segera masuk ke dalam sana.
"Nenek, Ayah Guru!" seru Aram sambil menghormat.
"Murid sialan, semakin hari semakin gila saja ilmumu itu..." gerutu Si Pemabuk dari Selatan kepada Aram yang sedang cengengesan.
"Cucuku, kau memanggil kami, namun mengapa kau melupakan yang satu?" tanya Nyi Permata Dewi.
"Habisnya, masa aku harus menghormat kepadanya? Bukankah itu terbalik, Nek?" Aram manyun seraya merentangkan tangannya. Mendapat kesempatan emas, Melati segera berlari ke pelukan Aram. Melihat tingkah Aram, semuanya tertawa menertawakan dirinya, namun Aram tidak memedulikannya. Malah, tangan kanannya dilingkarkan di pinggang ramping Thian Hong Li.
"Dasar serakah, satu saja belum kau nikahi, kau malah nyosor yang lainnya..." Ki Asmaradanu berkomentar.
"Hihi... tidak apa-apa kok, Ayah Mertua. Lagipula ananda tidak sanggup melayaninya bila hanya sendirian, bahkan mungkin dua orang juga kita tidak akan sanggup..." Celetuk Thian Hong Li membuat wajah Melati yang masih belum berpengalaman memerah.
"Hush... bicara apa kamu, Sayang. Tapi benar juga, ya... satu mana cukup..." timpal Aram, membuat suasana semakin meriah dengan canda dan tawa.
Pulau yang tak bernama di pesisir pantai selatan bergemuruh. Air laut menggapai-gapai karang yang tinggi menjulang. Langit masih biru dengan garis putih keabu-abuan. Kelapa melambai-lambai digoyang angin. Seorang pemuda tampan berbaju hijau transparan dan jubah panahan hijaunya mengikatkan sebuah pedang bermata delapan di punggung. Mata tajamnya mencorong laksana rajawali.
"Jika tak berani menyantroni kandang macan, tak mungkin aku bisa mendapatkan anaknya," gumamnya dalam hati sambil meloncat-loncat seperti tupai di atas pepohonan.
Seperti bayangan saja ia melesat menembusi pintu batu penembus menuju dunia luar. Anak buahnya sama sekali tak mengetahui kepergiannya itu sebab Aram melesat dengan cepat hingga tak membuat goyang api yang dilewatinya. Setelah di luar, segera ia mengubah dirinya dengan mengeluarkan segenap emosi nafsu liarnya. Aram merasakan tubuhnya panas menggelegak melewati segenap simpul sarafnya. Di atas kulit punggung dan bokongnya, ia merasakan seakan ada energi yang akan meledak keluar. Ia ingin menjerit, namun yang keluar hanya lengkingan seperti rajawali.
"Keeeeaaaakkkkk!" Suara itu menjerit merobek-robek gendang telinga siapapun yang mendengarnya. Rambut yang dulu hitam kini perlahan memutih, namun bukan putih seperti orang tua; putih itu berwarna keperakan yang melambai-lambai tertiup angin. Semilir angin malam begitu dingin meresap ke tulang. Dengan sekali sentakan, tubuhnya meloncat dari tebing itu.
"Werrrr!" Sayapnya yang sudah berkembang menghentak udara, membuat tubuhnya melayang. Setelah berputar-putar sebentar, ia melesat menuju arah barat daya menyusuri hutan belantara di atas awan-awan kelabu.
Di tempat lain, di sebuah pulau yang dikenal dengan nama Borneo, tepatnya di Desa Mujung Sungkur, seorang pemuda berusia sekitar dua puluh sembilan tahun duduk ditemani empat orang perempuan berbeda rupa. Wajahnya cakap dengan tahi lalat di atas alis sebelah kiri, hidungnya mancung, bibirnya tipis seperti perempuan. Rambutnya sebatas pundak, memakai baju merah darah, di dada kirinya terdapat rajahan piramida berantai dengan tulisan angka sembilan.
Keempat perempuan itu dalam kondisi telanjang; di tubuhnya hanya melekat sebuah selendang transparan di leher. Dihadapan mereka berjajar manusia-manusia dengan corak berbeda macam. Suara gelak tawa berpadu dengan musik yang merdu dan sedikit membakar gairah berdenting nyaring. Beberapa perempuan bernyanyi sambil menari dalam keadaan polos membuat hadirin semakin panas. Salah satu dari penari itu adalah seorang gadis belia berusia kira-kira sembilan belas tahun. Wajahnya cantik jelita bagaikan bidadari, tubuhnya berkulit kuning putih bersih bagaikan susu khas Tanah Jawa. Sepasang pipinya kemerahan seperti gadis yang sedang dicekoki tuak, menambah gairah siapapun yang melihatnya. Sepasang matanya jeli dan sayu. Bibirnya berbentuk indah, kecil penuh, berkulit halus tipis, berwarna segar kemerahan bagaikan buah yang sudah masak. Hidungnya kecil mancung menyempurnakan kecantikannya. Rambutnya sepunggung agak awut-awutan kurang teratur rapi, akan tetapi hal ini sekali-kali tidak mengurangi kecantikannya, bahkan mendatangkan gairah yang tak wajar bagi kalbu tiap laki-laki.
Bentuk tubuhnya menggiurkan, ramping dan penuh. Kedua gunung dengan puncak kemerah-merahan mencuat bergetar-getar mengikuti gerak tubuhnya. Bagian lembahnya bersih dan terawat rapi, bahkan terlihat sedikit mengkilap. Tubuhnya benar-benar proporsional untuk kalangan remaja seumuran gadis itu, mendatangkan pemandangan yang benar-benar luar biasa.
Tiga orang laki-laki tua mengikutinya menari di sampingnya dengan sekali-kali mencolek bagian tubuh gadis itu. Tampaknya, gadis itu pun tak keberatan dengan tingkah nakal ketiga laki-laki tua yang mencolek-colek tubuhnya; bahkan gadis itu mengerang menikmati sentuhan itu.
"Emhhh... akhhhh..." Suara yang keluar dari bibir indah ini amat merdu, bagaikan nyanyian burung di pagi hari, membuat malam yang begitu dingin menjadi hangat dalam kalbu. Mendengar suara itu, ketiga lelaki tua itu semakin bersemangat. Salah seorang lelaki tua itu memegang kedua pundak gadis penari itu dan menggoyangkan tubuhnya lalu berkata, "Indah sekali tubuhmu, Nona!" Orang tua mata keranjang ini merasa betapa pundak penari itu terasa halus, lunak, dan hangat. Juga dari rambut penari itu tercium olehnya keharuman yang membuat semangatnya melayang jauh ke langit ketujuh.
"Bagaimana menurutmu gadis yang kucekoki dengan pil Buluh Rindu Berahi itu, Tiga Setan Neraka?" kata seorang pemuda yang bermata liar dan licik. Pemuda ini adalah salah satu pelindung dari Ketua Nawa Awatara; jadi, meski masih muda, kemampuannya tidak dapat diremehkan. Dia adalah si Pangeran Keempat Pandara Gala.
Mendengar ucapan Pangeran Keempat Pandara Gala ini, para tamu yang duduk terdekat di tempat itu tertawa dan semua bibir tersenyum dengan mata mengerling penuh arti ke arah penari itu.
"Ha, ha, ha! Kau memang hebat, Pangeran Keempat! Bagaimana jikalau gadis ini kita jadikan kartu as malam ini!" kata salah satu dari Setan Neraka. Teriakan riuh rendah dari hadirin bergemuruh.
"Nah, bagaimana denganmu, Nona cantik..." yang satunya lagi berkata pada gadis penari itu. Sunyi senyap di ruangan itu. Mendadak musik berhenti serempak, juga para penari diam sebentar mengambil napas. Maka dari itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa semua orang memperhatikan jawaban ini.
Dengan gaya yang memikat hati, gadis penari itu menundukkan wajah kemalu-maluan, kemudian ia memperdengarkan suaranya yang merdu, "Baiklah, Tuan-tuanku yang terhormat, namun kali ini izinkanlah aku untuk menari menghibur kalian."
"Bagus, bagus! Benar-benar ide yang bagus!" Ketiga Setan Neraka berseru gembira sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu dan mengelusnya. "Baiklah, Nona, lekas menari. Aku tak sabar lagi untuk segera menikmati tarianmu yang indah!" Ucapan ini mendapat sambutan sebagai pernyataan setuju dari sebagian besar para tamu yang hadir di situ.
"Mau lekas menari atau mau yang itu?" gadis itu cekikikan lalu berdiri tegak dan memulai tariannya. Tarian itu begitu indah menggiurkan, entah tariannya atau mungkin juga gerakan tubuhnya yang menggiurkan itu. Tubuhnya bergerak dengan lemah gemulai bagaikan sebatang pohon yang tertiup angin. Sepuluh jari tangannya yang kecil dan halus itu seakan-akan sepuluh ekor ular yang hidup dan bergerak amat indahnya. Pinggangnya yang ramping bergerak melenggang-lenggok mengikuti irama musik. Kerling matanya benar-benar menghipnotis setiap hadirin, apalagi gadis itu dalam keadaan telanjang. Setelah menari beberapa lama, gadis itu lalu memperliar tariannya sehingga beberapa bagian penting dalam tubuhnya semakin sering terkuak. Makin terpesonalah semua hadirin menyaksikan tarian itu karena benar-benar amat indahnya.