Chapter 65
Pada saat semua orang bergembira karena melihat betapa indahnya tarian gadis itu, mendadak terdengar bentakan nyaring menggelegar yang mengagetkan setiap hadirin. Tahu-tahu, di tengah ruangan itu telah berdiri seorang pemuda dengan sikap gagah.
"Aku datang!" demikian pemuda itu membentak.
Sementara itu, para hadirin lainnya mundur ke belakang sebab mereka sudah mengenal kehebatan pemuda yang menyatroni tempat itu. Para pelindung dari Ketua Nawa Awatara yang tadi bersenang-senang mundur hingga mengelilingi ketuanya.
"Enyah kau!" pemuda yang tak lain adalah Aram itu membentak gemetar sebab ia mengenali gadis itu sebagai anak buahnya. Tanjung Putri, itulah nama gadis itu.
"Selamat datang di kediaman kami, Aram Widiawan. Aku pikir kau telah mati dalam penyerbuan itu. Ada apakah gerangan sehingga seorang pendekar sepertimu mengunjungi kediaman kami yang buruk ini?" sambut seorang pemuda berusia sekitar dua puluh sembilan tahun. Wajahnya cakap dengan tahi lalat di atas alis sebelah kiri, hidungnya mancung, bibirnya tipis seperti perempuan. Rambutnya sebatas pundak, memakai baju merah darah. Di dada kirinya terdapat rajahan piramida berantai dengan tulisan angka sembilan. Ia sedang duduk ditemani empat orang perempuan yang berbeda rupa.
Aram tersenyum pahit, senyuman yang begitu gemas dan sedih sebab dilihatnya Kenanga dan Nyi Mawar juga sedang main api dengan pemuda itu. "Aku hanya menagih nyawa anak buahku," begitu sinis dan singkat ucapan itu.
Ketua Perkumpulan Nawa Awatara alias Maharaja Sembilan Dewa itu manggut-manggut dan maju ke hadapan Aram hingga keduanya bertatapan tegang. Suasana yang tadi begitu gembira dalam hitungan detik berubah menjadi tegang. Tempat itu begitu sepi, seakan badai sedang mempersiapkan senjatanya dan akan meledak setiap saat.
"Ketua, biarlah kami yang memberinya pelajaran," seru salah seorang dari pengawalnya.
Tampaklah tiga orang pengawal yang tadi diam di belakang, dengan senjata terhunus dan wajah menampilkan sikap menghina, selangkah demi selangkah mendekati Aram. Aram mengejek dingin menyaksikan kedatangan ketiga pengawal itu, lalu ia menegur dengan nada dingin, "Kalian belum setimpal untuk bertarung melawanku."
"Bangsat, kubunuh dirimu!" bentakan gusar tiba-tiba menggelegar di angkasa.
Tiga pengawal itu membentak keras dan segera menerjang maju ke depan. Bayangan pedang memburu dengan kecepatan yang luar biasa. Ketiga batang senjata tajam itu menerjang ketiga bagian penting Aram. Pengawal pertama menyabetkan pedangnya ke arah leher, pengawal kedua ke arah lutut dengan arah berlawanan dari serangan pengawal pertama, sementara pengawal satunya lagi menyabetkan dari bawah ke atas. Serangan itu benar-benar keji dan mematikan.
Aram mengambil napas dalam. Tubuhnya sama sekali tidak berkutik dari tempat semula, hanya meliuk-liuk mengikuti arah serangan sehingga tak satu pun serangan mengenainya. Itulah yang dinamakan dengan jurus "Rubah Melengang-lenggok". Serangan yang dilancarkan ketiga pengawal itu benar-benar cepat dan sepenuh tenaga, akibatnya mereka tidak bisa menghentikan laju serangan dan terjadilah.
"Trang!" tiga buah senjata itu beradu sehingga pemiliknya merasakan tangannya bergetar.
Tiba-tiba, laksana kilat, Aram mengangkat telapak kanannya dan mengirim satu pukulan ke depan. Tiada desiran angin tajam yang menggidikkan hati, tiada deruan angin pukulan yang menderu-deru; udara tetap tenang dan sunyi. Tapi pada saat itulah di tengah angkasa berkumandang tiga kali jeritan melengking yang menyayat hati. Ketiga pengawal itu mencelat sejauh dua tombak dari tempat semula dan terkapar di dekat dinding ruangan itu dalam keadaan tak bernyawa lagi.
"Oooh...." hampir semua orang yang hadir dalam ruangan itu menjadi kaget. Mereka tak menyangka dalam satu gerakan tangan yang sederhana, pemuda itu dapat menumbangkan tiga pengawal Maharaja Sembilan Dewa, padahal mereka tahu sendiri kekuatan mereka seperti apa.
Aram sama sekali tidak memandang tiga sosok mayat yang terkapar dalam keadaan mengerikan itu. Dengan dingin ia berkata, "Jangan lagi mengorbankan anak buahmu, Maharaja."
Dengan wajah menyeringai bengis dan tertawa seram yang memekakkan telinga, selangkah demi selangkah Maharaja Sembilan Dewa masuk kembali ke gelanggang pertarungan. Tanpa sadar para jagoan Nawa Awatara semua mundur ke belakang. Sorot mata Maharaja Sembilan Dewa menatap wajah Aram tanpa berkedip. Kian lama jarak di antara mereka kian mendekat.
"Tok... tok... tok..." langkah kaki yang berat seakan-akan gada yang menghantam jantung setiap jago dalam ruangan itu.
"Kau memang pantas menjadi lawan utamaku, Aram. Namun belum cukup untuk dapat membunuhku."
"Ha ha ha, dapat atau tidak itu urusan belakangan, sebaiknya kita urus saja yang ada di hadapan kita." Sambil mengobrol selangkah demi selangkah, Maharaja Sembilan Dewa melanjutkan tindakannya mendekati Aram.
Jika seandainya Aram hanya bernyalikan tikus, mungkin ia bakal terkencing-kencing melarikan diri. Namun, Aram tetaplah Aram. Seperti anjing kepepet lompat ke tembok, kucing terdesak naik ke pohon, setelah tiba dan menantang bertarung, tak ada dalam kamusnya untuk mundur tanpa bertarung. Kalah menang sudah biasa, hakikatnya ia sudah siap menghadapi segala risikonya. Dalam keadaan terdesak, manusia akan menunjukkan segala potensinya, dan itulah yang dimanfaatkan Aram dengan membiarkan dirinya kepepet dengan datang sendirian, lalu memanfaatkan tenaga naluri alamiah yang bangkit sebagai senjata utama. Jika bukan Aram, siapakah yang akan bertindak sedemikian rupa gilanya?
Maharaja Sembilan Dewa memasang kuda-kuda, telapak yang semula lurus ke bawah perlahan-lahan diangkat ke atas, serunya ketus, "Sekarang bersiaplah, aku akan menyerang."
"Aku sudah siap sedari tadi."
"Hiaaa! Hiaaa!" bentakan keras berkumandang di ruangan itu. Di tengah bentakan keras, mereka saling menerjang ke muka secara berbarengan. Cahaya pedang dan bayangan pedang memancar ke empat penjuru. Kedua serangan itu ganas, cepat, dan luar biasa sekali; deruan angin pukulan menderu-deru dan nampak menyeramkan.
Di tengah ketegangan yang memuncak dan menyelimuti seluruh ruangan, Maharaja Sembilan Dewa segera mempergencar serangannya. Tubuh yang kekar menerjang ke muka dengan cepatnya, bagaikan setan gentayangan dia menyerang Aram. Serentetan dentingan pedang yang mendebarkan hati segera berkumandang dari ruangan tengah. Waktu itu, nafsu membunuh telah menyelimuti seluruh benak ketua dua perkumpulan itu. Sambil mendengus dingin, Maharaja Sembilan Dewa putar badan dan melancarkan serangan dahsyat.
Serentetan cahaya merah yang amat menyilaukan mata memancar ke tengah udara. Aram terkejut, segera ia melintangkan pedangnya. Suara teriakan kebahagiaan dari anggota Nawa Awatara bersahut-sahutan, "Hidup Maharaja Sembilan Dewa! Hidup Maharaja Sembilan Dewa!"
"Ketua Maharaja Sembilan Dewa, apakah dia harus kita bunuh?" salah seorang pengawalnya yang ternyata adalah permaisuri kedua geram sebab kekasihnya mati dibunuh pemuda itu.
"Hahaha, terlalu enak baginya bila ia harus mati dengan cepat. Lekas bawa dia ke Penjara Neraka, ikat tulang pundaknya dengan rantai!" perintah Maharaja Sembilan Dewa.
Permaisuri itu tak membantah, segera ia menyeret tubuh Aram ke sebuah ruangan lain di sisi ruangan itu. Kemudian, permaisuri itu menekan salah satu tombol dari batu sehingga lantainya terbuka. Setelah terbuka, permaisuri kedua membawanya ke sebuah ruangan yang lembap, bau busuk, dan bau amis. Setelah itu, ia segera disandarkan di sebuah dinding yang ada rantainya. Sebentar saja permaisuri kedua menyelesaikan tugasnya dan kembali ke ruangan atas.
Tak selang begitu lama, ketika Aram siuman di dalam penjara, ia merasa kepalanya sangat berat. Ia tidak tahu di mana dirinya berada saat itu dan sudah lewat berapa lamanya. Perlahan-lahan ia merasakan kesakitan pada punggung, paha, dan bokong. Ia ingin membalik tubuh supaya tempat yang kesakitan itu tidak tertindih di bawah, tapi mendadak pundaknya juga kesakitan luar biasa. Ia mendengar suara gemerincing benturan besi, dan waktu ia menunduk, ia lihat ada dua utas rantai menjulur turun dari pundaknya sendiri. Karuan ia kaget, namun bibirnya malah tersenyum manis seakan memenangkan sebuah pertempuran. Mengapakah demikian?
"Hehe, otot tulangmu telah dirusak orang, kepandaianmu telah punah semua, he-he, tapi kau malah tersenyum gembira, aneh, sungguh aneh!" tiba-tiba suara seorang berkata dengan dingin di pojok kamar penjara itu.
Waktu ia berpaling, ia lihat di ujung sana ada lima pasang mata menatapnya dengan sayu. Ia tidak terkejut, malah tersenyum lembut. "Apakah yang berhadapan dengan saya adalah Ketua Lima Perguruan Putih?" Aram bertanya.
Keempat orang itu wajahnya penuh berewok, hanya satu yang tidak—ternyata ia adalah seorang perempuan. Rambutnya panjang terurai sampai di atas pundak, bajunya compang-camping tak keruan hingga lebih mirip orang hutan. Ada juga persamaannya dengan dirinya, yaitu kaki-tangan orang itu pun diborgol, bahkan tulang pundaknya juga ditembusi dua utas rantai.
"Hm, benar. Siapakah kau, anak muda? Maafkan mata kami yang tak bisa melihat wajahmu lagi, semua ilmu kami sudah musnah?" keluh salah satu dari mereka.