Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 66

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 66

"Jangan khawatirkan itu. Lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini," ujar Aram.

"Haha... bagaimana caranya, sementara dirimu pun kondisinya tak jauh berbeda dengan kami?"

Aram tak menggubris. Tangan kanannya segera melepaskan borgol rantai di kedua pergelangan tangannya. Dengan sekali sentakan, rantai besi itu hancur berantakan. Kemudian, Aram segera mencabut kedua utas tali rantai di pundaknya dan berdiri.

Ternyata ketika bertarung, sewaktu ia melenting dan tangannya masuk ke dalam saku, ia mengambil dua butir pil. Pil itu ia telan tanpa diketahui oleh Maharaja Sembilan Dewa. Pil tersebut dapat menawarkan serangan racun dari Telapak Darah Merah dan meringankan detak jantung layaknya seorang yang keracunan, sehingga Maharaja Sembilan Dewa pun terkecoh.

Tubuh Aram bukanlah seperti orang normal. Ketika tubuhnya diseret, sebenarnya ia sudah siuman, namun ia mematikan segenap rasanya sehingga ia tidak merasakan apa-apa ketika jatuh bangun sewaktu diseret oleh Permaisuri Kedua. Ketika bagian pundaknya akan ditusuk dan dihancurkan, Aram mengubah bentuk tulangnya menjadi halus, jadi meski ditusuk, hanya luarnya saja yang terkena.

Lalu, mengapa ia bersusah payah melakukan itu? Ternyata ia memang bertujuan melepaskan tahanan, hanya saja cara yang ia pakai melebihi batas kewajaran. Membiarkan diri terjebak dan dijadikan sandera adalah hal yang sangat nekat, tetapi itulah Aram.

Aram segera melepaskan rantai dan ikatan lainnya di tubuh para ketua lima perguruan itu. "Tunggu di sini dan tenangkan pikiran kalian. Aku akan membawa dua orang lainnya," perintah Aram. Tanpa membantah, kelima orang itu segera melaksanakan perintahnya.

Aram segera berjalan ke sisi ruangan lain. Di sepanjang perjalanan, sisa-sisa daging dan tengkorak tampak berserakan. Namun, Aram sama sekali tak peduli. Dengan menajamkan pendengaran dan penciumannya, akhirnya ia menemukan titik yang ia cari. Ruangan itu cukup terang dengan penerangan obor. Dua sosok tubuh manusia berlainan jenis tampak sedang tergolek lemah di lantai yang dingin. Tanpa berkata apa-apa, Aram segera membuka ikatan tubuh mereka. Tak ada kata yang terucap dari dua sosok itu, sepertinya mereka berada di titik di bawah kesadaran. Tubuh mereka berlumuran darah yang sudah mengering, baju mereka compang-camping, dan tubuhnya tinggal pembungkus tulang.

Sekali angkat saja, Aram dapat menggendong kedua tubuh itu tanpa halangan yang berarti. Setelah menimbang, ia memilih untuk kembali ke ruangan tadi. Singkat cerita, akhirnya Aram kembali dengan sambutan gembira dari kelima ketua perguruan golongan putih.

"Siapakah yang berada di pundakmu, anak muda?" tanya salah satu dari mereka yang perempuan. Ia tak lain adalah Nyi Sawitri dari Perguruan Teratai Putih.

"Kijalak dan Nyi Renjani," sahut Aram singkat.

Segera ia meletakkan kedua tubuh itu di depan Ki Ardam yang membuat kelima orang itu terkejut. Di antara mereka, siapakah yang tidak mengenal dua sosok datuk persilatan itu? Mereka tak menyangka bahwa dua datuk itu pun ikut terjerumus ke dalam penjara neraka tersebut.

Lalu, Aram mulai berkonsentrasi. Terlihat ia bersujud ke bumi, setelah bangkit tangannya diangkat ke langit seperti menahan benda jatuh. Kedua tangannya ditarik ke samping membentuk lingkaran dan bertemu lagi di dada seperti saat menyembah. Dengan disertai teriakan nyaring, tangannya didorong ke muka.

"Wahai bumi, wahai langit, pinjamkanlah napas kalian padaku... Hiaaat!"

"Werrr...." Dari dinding kokoh penjara itu muncul sebuah lingkaran sihir berwarna toska. Kelima ketua perguruan putih lagi-lagi dibuat terkejut dengan ilmu yang dimiliki pemuda di sampingnya itu.

"Mari masuk," ujar Aram. Ia segera memapah kelima orang itu satu per satu agar bisa berdiri meski dengan sempoyongan, tak lupa ia juga memanggul tubuh Ki Jalak dan Nyi Renjani. Dengan beriringan, mereka masuk ke dalam lingkaran itu hingga kembali ke markas Bendera Awan Langit.

Setibanya di sana, mereka disambut oleh para anak buah yang rupanya sedang berkumpul panik mencari ketuanya yang hilang.

"Ah... ada kejadian apakah sehingga wajah kalian terlihat panik begitu?" ucap Aram memecah keheningan.

"Gerrr... Anak sial, kalau pergi pamit dulu! Jangan keluyuran tanpa ada seorang pun yang tahu, kau membuat kami jantungan saja. Kau pergi ke mana sih?" sebuah suara mengguntur memarahi dirinya. Dialah Si Pemabuk dari Selatan.

"Aku tidak ke mana-mana, hanya menengok markas Nawa Awatara sebentar, bersalaman dengan Maharaja Sembilan Dewa, main-main ke penjaranya, dan pulangnya membawa oleh-oleh. Nih oleh-olehnya!" Aram menunjukkan Nyi Renjani dan Ki Jalak beserta para ketua lima perguruan.

"Melati, Hong Moay, tolong siapkan dua buah pembaringan untuk dua orang ini, juga ruangan istirahat untuk tamuku, lima ketua perguruan golongan putih," timpal Aram sambil lalu melesat masuk ke dalam bangunan, membuat para anak buahnya menangis sekaligus tertawa melihat tingkahnya.

Nyi Permata Dewi, Si Pemabuk dari Selatan, dan beberapa sahabat dekatnya menghela napas panjang. Bukan sekali ini mereka melihat Aram bersikap seperti itu. Mereka paham dengan ucapan Aram; menengok berarti menyantroni, bersalaman berarti bertarung, bermain-main berarti dijebloskan, pulang berarti kabur, sedangkan membawa oleh-oleh berarti melepaskan tahanan.

"Kakang, siapakah kedua orang ini?" tanya Melati.

"Nyi Renjani dan Ki Jalak."

"Aakkhh!" Melati terpekik dan menutup wajahnya. Beberapa tetes air matanya bercucuran di pipi.

"Sudahlah, nanti malam mereka akan siuman. Tolong kau panggil Nenek kemari," perintah Aram.

"Heem." Melati berbalik meninggalkan Aram yang sedang sibuk mengurut tubuh Nyi Renjani. Butiran keringat tampak berjatuhan di keningnya. Bau tumbuhan obat menyeruak di sekeliling tempat itu. Tak lama kemudian, muncul Nyi Permata Dewi bersama Melati.

"Ah, kau sudah datang, Nek. Maukah Nenek menolongku?" kata Aram.

Nyi Permata Dewi melenggong, sepertinya ia syok dengan keadaan waktu itu. Meski ia sudah diberitahu Melati bahwa orang yang tadi dipanggul Aram adalah sahabatnya, ia masih sulit percaya. "Apa yang harus kulakukan?" tanya Nyi Permata Dewi gamang.

"Urut dada keduanya satu kali selama rentan waktu sejam dengan menggunakan tenaga dalam," kata Aram tenang sambil merangkul pinggang Melati dan beranjak meninggalkan tempat itu.

Ketika mereka melewati lorong, seseorang menatap keduanya dengan mata sedih dan cemburu, namun sepasang mata lain juga melihat sosok yang sedang cemburu itu. Siapakah mereka?

"Emm..." Aram menggumam. Sepertinya ia juga merasakan aura itu, namun ia tetap melangkah hingga sampai ke ruangan yang dituju.

"Selamat pagi semuanya," sapa Aram.

Di sana terdapat seorang lelaki paruh baya berusia enam puluh lima tahunan dengan baju serba kuning keemasan yang compang-camping, yang biasa dipanggil Bintang Endrayana, pewaris ketua generasi ke-124 Rajawali Emas. Kedua adalah seorang kakek berusia tujuh puluh lima tahunan dengan wajah ramah berbaju ungu yang sudah compang-camping, yakni Ki Ardam. Ketiga adalah seorang wanita setengah baya dengan baju kebaya kuning yang sudah bolong di sana-sini, yaitu Nyi Sawitri dari Perguruan Teratai Putih. Keempat adalah seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan berpenampilan simpel, hanya baju putih kusam dengan gambar kepala harimau ditembus dua golok yang menyilang, yaitu Ki Bedu. Terakhir adalah Ki Madya dari Perguruan Bintang Kemukus.

"Selamat pagi juga. Terima kasih engkau sudah menolong kami, Pendekar Seribu Diri," ucap Bintang Endrayana yang sudah mengenali pemuda itu.

"Tak usah sungkan, istirahatlah. Baringkan tubuh kalian supaya lekas mengembalikan tenaga dalam masing-masing," nasihat Aram sambil tersenyum.

Ia segera memeriksa mereka satu per satu. Ia bergumam dengan tenang di samping mereka.

"Ki Bedu, kau ganas dan berangasan. Berani namun ceroboh, bila kau marah maka tak peduli kawan maupun lawan kau babat habis, mirip sifat api." Merah wajah Ki Bedu si Golok Harimau Api.

Aram segera melanjutkan ucapannya, "Bintang Endrayana, kau tidak memiliki pegangan yang kuat, kadang ini kadang itu tergantung keadaan. Sifatmu terlalu angin-anginan, lebih identik ke sifat angin. Ki Ardam, tenang namun keras, membiarkan apa yang terjadi seperti air yang mengalir, lebih tepat ke air yang dalam. Nyi Sawitri, lembut namun tangkas, lebih tepat ke kapas. Dan Ki Madya, teguh dan mantap, kau pantas memiliki sifat tanah. Ya sudah, malam ini kalian harus belajar memahami kawan kalian, sebab aku akan membentuk barisan kalian berlima."

Aram berkata sambil meninggalkan mereka yang masih melongo, lalu menggandeng Melati ke sebuah ruangan pribadi miliknya. Ternyata di sana ada Thian Hong Li yang sedang menunggu kedatangan mereka berdua.

"Wah, mesranya..."

"Haha... ayo sayang, malam ini kita lepaskan kepenatan," ajak Aram.

"Ayuk," jawab Melati polos.

Thian Hong Li tertawa cekikikan sebab ia tahu itu adalah tanda bahwa mereka akan melakukan "sesuatu", berbeda dengan Melati yang tak tahu apa-apa.

"Kau tahu maksud ucapannya, Melati?" tanya Thian Hong Li.

"Tidak," jawab Melati heran.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment