Chapter 67
"Itu artinya kau bakal menangis malam ini..."
"Kok begitu?" Aram dan Thian Hong Li tertawa lucu, sedangkan Melati tampak kebingungan. Meski tak mengerti, daripada merasa tidak tenang, ia akhirnya memilih untuk ikut tertawa. Ketiganya kemudian masuk ke dalam ruangan itu dengan hati riang gembira.
Setibanya di dalam kamar, sambil terkikik kecil, Thian Hong Li berkata, "Lati, ayo lekas buka pakaianmu."
Kamar itu sangat besar dan bersih. Sebab Aram adalah ketua dalam perkumpulan ini, kamarnya pun menjadi yang paling besar dan indah.
"Tapi...." Melati mulai paham apa yang akan dan sedang terjadi.
"Haha... Bukankah kau sudah menyetujuinya sejak tadi di luar?" Thian Hong Li tertawa ringan.
Dengan perasaan serba salah, Melati hanya mengangguk lemah. Dengan gerakan ragu dan penuh kemalu-maluan, Melati perlahan-lahan melepaskan pakaian yang dikenakannya. Terlihat pundaknya yang putih mulus, leher yang jenjang, dan pakaian dalam berwarna merah menyala yang memperlihatkan belahan bukit yang membusung ketat di baliknya.
Melati berhenti sebentar, ia melirik ke arah Aram yang sedang memperhatikannya dengan senyuman lembut, penuh cinta, dan berahi. Kemudian, ia berpaling kepada Thian Hong Li. Ternyata tanpa merasa malu, Thian Hong Li juga mulai melepaskan pakaian luar dan pakaian dalamnya yang ketat. Segera tampak sepasang bukit yang montok dengan puncak kecil kemerahan. Tiba-tiba ia melepaskan rok panjang yang dipakainya hingga tampak paha yang mulus dan langsing. Sambil tersenyum tipis, Thian Hong Li memiringkan tubuhnya yang padat berisi menghadap Aram hingga terlihat jelas bagian inti seorang perempuan.
Semua bagian tubuhnya sangat menakjubkan. Setiap lekuk tubuhnya mampu membangkitkan gairah setiap laki-laki. Melati tertegun, tanpa ada pilihan lain, ia pun segera melepaskan baju dalamnya hingga sepasang bukitnya mencuat menantang. Wajahnya segar dan bibirnya merah delima merekah dengan sorot mata yang kemalu-maluan, menambah kecantikannya.
Tubuh Aram tergetar. Tanpa menunggu Melati melepaskan celananya, Aram sudah memeluknya dan melumat bibirnya dengan rakus. Thian Hong Li tersenyum, dengan lembut ia membimbing mereka untuk berbaring di pembaringan. Malam semakin larut, deruan napas yang memburu bersahut-sahutan. Suara jeritan tertahan terdengar melambangkan bahwa suatu dinding penghalang dalam cinta telah terbobol. Tak lama kemudian, terdengar rintihan pelan menjadi melodi dalam keheningan hingga mereka mencapai puncak jeritan; bukan jeritan ngeri atau kesakitan, melainkan jeritan ekspresi diri dalam cinta.
Terlihat tubuh Aram memeluk tubuh Melati yang melengkung indah ke belakang dengan erat. Leher jenjang Melati terpampang begitu saja hingga Aram tak tahan untuk mengecupnya dengan lembut. Tak berhenti sampai di situ, Aram segera bangkit dan menindih perempuan lainnya yang berbaring di samping, menunggu giliran sejak tadi. Begitulah mereka bertamasya ke puncak kesenangan dalam surga keindahan. Nyanyian merdu yang dikemas dalam jeritan begitu memabukkan siapa pun yang mendengarnya.
Tanpa mereka sadari, di balik pintu itu, seorang gadis cantik menangis pilu dengan cucuran air mata. Wajahnya sembab, tubuhnya sudah lunglai. Dengan lesu, gadis itu meninggalkan tempat yang membuat hatinya dirundung pilu. Cinta memang menyakitkan bila tak terbalas, lebih sakit lagi bila cinta itu tak kesampaian sebab sudah ada yang memiliki.
Fajar mulai mengintip dalam bayang-bayang kegelapan, bintang-bintang menyelimutkan dirinya di antara langit yang hitam. Seorang pemuda tampan bertelanjang dada dengan tubuh penuh luka berjalan santai menelusuri lorong-lorong dalam kesunyian. Langkah kakinya begitu ringan seperti kapas yang turun ke bumi. Ia terus berjalan hingga sampai di sebuah perpustakaan yang dipenuhi dengan rak-rak buku yang berjajar rapi.
Perpustakaan itu lumayan besar, dindingnya terbuat dari batu cadas yang berlumut hijau. Beberapa ukiran indah menghiasi tempat itu, sementara obor-obor berjajar di sekelilingnya menerangi ruangan. Batu-batu berbentuk balok berjajar rapi, sepertinya merupakan bangku tempat membaca. Perpustakaan itu dibagi menjadi beberapa ruangan yang di depannya sudah diberikan tanda berupa tulisan keterangan.
Ruangan paling kiri, yaitu ruangan pertama, bertuliskan "Kitab Ilmu Silat dan Perang". Sebelah kanan ruangan itu adalah ruangan nomor dua yang bertuliskan "Kitab Perbintangan dan Bumi". Ruangan nomor tiga bertuliskan "Kitab Obat dan Racun", ruangan nomor empat bertuliskan "Kitab Sastra", dan yang terakhir bertuliskan "Ruang Senjata".
Ia masuk ke ruangan sebelah kiri yang bertuliskan "Kitab Ilmu Silat" dan terus meneliti kitab-kitab yang sudah lapuk maupun yang masih baru. Aram terus meneliti hingga ia menemukan enam buah kitab yang diinginkannya.
Kitab pertama bernama "Kitab Api Neraka", kitab kedua bernama "Kitab Angin Topan", kitab ketiga bernama "Kitab Samudra Kematian", kitab keempat bernama "Kitab Kapas Surga", kitab kelima bernama "Kitab Tanah Inti Bumi", dan yang terakhir adalah kitab "Barisan Lima Elemen Semesta". Kelima kitab itu merupakan kitab yang sudah lama tak beredar dalam dunia persilatan, terbukti dari bahan kitab yang terbuat dari lembaran kulit kambing dan tulisan kuno. Sedangkan kitab "Barisan Lima Elemen Semesta" merupakan kitab ilmu silat tunggal yang tak pernah turun kepada pewaris lain dari lima Pendekar Semesta Raya karena tak ada ahli waris yang sanggup menguasainya.
Setelah itu, ia segera keluar dari ruangan tersebut kemudian masuk ke dalam ruang senjata. Di ruangan itu, beribu-ribu macam senjata berserakan; senjata rahasia, pedang, celurit, pisau, panah, kapak, cakram, golok, kaitan, juga senjata-senjata lainnya tampak menggantung dan tergeletak begitu saja. Namun, Aram tak melirik semua senjata itu. Ia hanya mengambil sebuah peti berukuran sedang yang menggambarkan elemen-elemen yang ada di bumi. Setelah dibuka, ternyata isinya adalah sarung tangan dari bahan yang sama. Di punggung telapak tangan itu tertera simbol-simbol alam, di antaranya lima elemen tadi, serta simbol lainnya seperti petir, kayu, besi, emas, dan sebagainya.
Ia mengambil lima pasang sarung tangan elemen tadi dan menutup kembali petinya. Setelah itu, ia segera beranjak meninggalkan perpustakaan menuju tempat ketua lima perguruan berada.
Setelah tiba, ia segera mengetuk pintu. Tak begitu lama, seraut wajah cantik yang sudah dimakan usia membukakan pintu. Wajahnya begitu bercahaya dan berseri-seri.
"Ah, Ketua—eh, maksud saya Tuan Pendekar, silakan masuk..." ucapnya ramah.
"Terima kasih, Nyi..." Aram menjawab sambil masuk ke dalam ruangan.
Di ruangan itu, terlihat empat orang lainnya sedang duduk bersila di atas pembaringan masing-masing; sepertinya mereka baru selesai bersemadi.
"Bagaimana keadaan kalian saat ini?" Aram berbasa-basi sambil duduk di kursi yang disediakan Nyi Sawitri.
"Kami merasakan lebih baik berkat Tuan Pendekar. Kami masih belum mempercayai bahwa tenaga dalam kami pulih meski hanya sebagian," ujar Ki Ardam mewakili yang lain.
"Baiklah, jika sudah merasa baik, saat ini kita sedang berada dalam perang. Sebaiknya kita bergegas, semakin cepat semakin baik. Mari kita ke sebuah tempat..." Aram berdiri dan meninggalkan mereka.
Kelima ketua perguruan melongo dengan sikap Aram, namun mereka tidak memasukkannya ke dalam hati. Segera mereka mengikuti Aram menyusuri lorong-lorong markas. Beberapa anggota Bendera Awan Langit tampak sibuk dengan aktivitasnya; ketika bertemu, mereka segera menyapa meski hanya sebagai basa-basi.
Aram dan kelima ketua perguruan kini sudah berada di luar ruangan. Langit biru kehitaman, matahari tampak kemalu-maluan memunculkan dirinya di balik bukit, daun-daun bergemerisik menyambut pagi dengan sapaan angin yang lembut. Di sebuah lapangan rumput dengan hiasan bebatuan, enam orang manusia berdiri berhadapan. Aram segera berkata:
"Ini adalah lima kitab ilmu silat berdasarkan elemen yang kusesuaikan dengan sifat masing-masing dari kalian. Dalam kitab ini berisi cara menghimpun tenaga dalam, menyembuhkan luka, pertahanan, maupun serangan. Aku harap kalian menguasainya dalam waktu singkat. Untuk sementara, kalian berlatihlah di sini menurut kitab yang kuberikan. Yang satunya lagi merupakan kitab barisan dari ilmu yang kalian pelajari. Semua kitab ini merupakan kitab yang sudah lama tak beredar dalam dunia persilatan, jadi jangan heran bila kalian tak mengetahuinya. Yang kedua ini adalah lima pasang sarung tangan elemen sebagai pembantu dari ilmu kalian. Bisa dikatakan ini merupakan senjata tangan kosong, sebab sarung tangan ini kuat terhadap senjata tajam dan racun. Ini, ambillah..."
Aram menyerahkan kitab dan sarung tangan itu ke tangan masing-masing, lalu menyerahkan kitab keenam kepada Ki Ardam.
"Entah apa yang harus aku ucapkan atas budimu ini, Anak Muda..." Ki Madya terenyuh, matanya berkaca-kaca haru.
"Tak usah dipikirkan. Belajarlah dengan giat maka kalian sudah membalas budiku..." Aram menjawab dengan tubuh yang mulai kabur.
"Anak..." Bintang Endrayana tak melanjutkan ucapannya sebab tubuh Aram sudah lenyap dari pandangan.
"Benar-benar bukan kemampuan yang bisa dianggap cetek," komentar Ki Bedu.
"Sudahlah, mari kita berlatih..." Nyi Sawitri mengingatkan. Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka segera membuka kitab masing-masing. Lembaran demi lembaran mereka baca, ekspresi kekaguman muncul dari wajah masing-masing. Hanya dengan membaca sekilas saja, mereka sudah dapat melihat kualitas dari ilmu tersebut.
Kembali ke Aram. Setelah melakukan apa yang diinginkannya, Aram segera kembali ke aula markas. Kedatangannya ternyata telah ditunggu oleh seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh delapan tahunan, berbaju hitam seperti orang yang sedang berduka cita. Ya, dia adalah Adipati Rajalela, sang Raja di tanah Sunda ini.