Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 68

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 68

Ia berduka cita atas kehancuran kerajaannya.

Adipati Rajalela tersenyum ramah, dengan perlahan ia maju ke depan Aram dan bersoja.

Aram tersipu. Dengan senyuman di bibir, ia membangunkan Adipati itu.

"Tak usah banyak adat, Yang Mulia," ucap Aram.

"Jangan memanggilku Yang Mulia, Ketua. Panggillah namaku saja," Adipati Rajalela menolak.

"Hem, baiklah. Adi, ada apakah gerangan?"

"Heh... Hamba ingin meminta tolong..."

"Meminta tolong?" Aram heran.

"Laraspati, anakku... ia..." Adipati Rajalela terdiam.

"Ia mengapa?"

"Akh... ia kabur dari kamarnya."

"Oh, apakah Adipati ingin saya mencarinya?"

"Bukan..."

"Loh, kok bukan?" Aram semakin bingung.

"Anakku mencintaimu... sepertinya ia sedang cemburu."

"Ohh..." Aram mulai paham arah pembicaraan ini.

"Tapi, meski saya bisa menghiburnya, tak mungkin saya meninggalkan kekasihku, kecuali..." timpal Aram.

"Kecuali apa?" Mata Adipati yang sudah tak bersemangat kembali bersinar.

"Kecuali bila Laraspati mau tinggal bersama kami bertiga dan kedua kekasihku mengizinkan." Adipati Rajalela terdiam. Membujuk anaknya untuk menerima hidup bersama Aram berempat masih mungkin, namun membujuk dua kekasih Aram untuk menerima anaknya adalah hal yang paling sulit.

"Baiklah, Adi. Mungkin saya akan berbicara dulu kepada mereka berdua, baru saya akan putuskan tindakan selanjutnya," putus Aram.

"Baiklah, Ketua. Terima kasih atas pengertianmu." Adipati Rajalela bersoja dan meninggalkan Aram yang termangu-mangu.

Akhirnya, ia putuskan untuk kembali ke ruangannya dan membatalkan niat untuk berdiskusi dengan mantan anggota Ksatria Satwa.

Tanpa memedulikan sekelilingnya, Aram berjalan dengan melamun. Orang-orang di sampingnya tak ada yang mengganggu sebab mereka tahu ketuanya kadang bersikap aneh bila hendak melakukan sesuatu. Namun, ada satu orang yang paham bahwa ada yang sedang terjadi dengan keadaan Aram.

Orang itu kemudian menyikut temannya yang juga sedang memperhatikan dan mengikutinya masuk ke dalam ruangan pribadi Aram. Mereka melihat Aram duduk di pembaringan dengan meletakkan dagunya di atas tangan tanpa menyadari bahwa ada yang mengikuti dan memperhatikannya.

"Ada apa, Engkoh?" Orang pertama dari mereka menegur.

Aram terperanjat kaget. Dilihatnya Thian Hong Li dan Melati menatapnya dengan pandangan heran dan khawatir.

"Ekh, akh... Anu..." Aram tergagap. Ternyata, orang secerdas dan segagah dirinya pun masih tergagap bila berhadapan dengan masalah cinta.

"Anu apa?" Melati bertanya sambil mengusap pundaknya lembut.

"Adipati memintaku untuk meminang anaknya..." Aram berkata ragu.

"Hihihi..." Melati dan Thian Hong Li terkekeh.

"Lihat, setan cilik mata keranjang ini sudah mendapat korban baru..." Thian Hong Li berkata kepada Melati, membuat Aram menunduk lesu.

"Oh, Kakang... pergilah temui dia. Kasihan dia menangis sendiri di sebelah barat pantai... kami rela menerimanya sebab kami sudah mengetahui bahwa putri itu sudah menyukaimu!" Melati menghibur.

Mata Aram bersinar. Ia merangkul Melati lalu menciuminya dengan rakus sampai Melati terengah-engah. Lalu, tanpa pamit, Aram juga merangkul Thian Hong Li dan menciuminya. Setelah puas, tubuhnya melesat ke jendela meninggalkan dua gadis yang sedang terengah-engah itu.

Setelah menerobos hutan, akhirnya sampailah Aram di sebuah pesisir pantai. Benar saja, di sana terdapat gadis yang sedang berselonjor sambil menangis. Kakinya yang putih mulus dipermainkan ombak, membuat suasana semakin romantis.

Suara gemericik air menjadi musik pengiring dalam suasana seperti itu. Gadis itu mendongakkan kepalanya, melihat langit biru yang menjadi atap dalam hidupnya. Matahari mulai bersinar sangat terang, cahaya keperakan menimpa air laut dengan tenang dan lembut, membuat wajah cantik itu tergambar jelas di dalamnya.

Mata Aram tak bisa lagi berbohong bahwa gadis yang bernama lengkap Rismi Laraspati itu benar-benar cantik, apalagi baju merahnya yang berumbai-rumbai menjadikannya lebih sempurna.

Tanpa permisi, Aram memeluknya dari belakang, membuat wajah gadis itu kaget dan ketakutan. Namun, ketika melihat wajah di balik bayangan air laut, ia merasakan bahwa langit ambruk dan bumi bergoncang. Hatinya luruh tak keruan; ketakutan dan kemarahan semula yang menghantuinya mulai menghilang, digantikan dengan rasa gembira yang meluap-luap.

Tangan Aram yang melingkar di pinggang gadis itu mulai naik dan merambat menelusuri lekuk tubuhnya. Gadis itu menggeliat; tak ada penolakan. Semuanya berjalan dengan mudah tanpa sedikit pun hambatan. Sepertinya gadis itu telah memasrahkan seluruh tubuhnya dengan berlandaskan cinta yang sudah merasuki akal sehatnya. Cinta memang gila; segala hal akan dilakukan demi sebuah kepuasan, meski cuma sesaat, begitu pula dengan Rismi Laraspati.

Satu per satu kain yang dikenakan gadis itu berjatuhan di pasir putih hingga gadis itu kini dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun. Sepasang mata Aram tidak lepas dari tubuh yang sangat menggiurkan itu. Terlebih terlihat jelas dalam keadaan telanjang bulat, Aram benar-benar terlena.

Sepertinya Rismi Laraspati merasa bangga dengan memperlihatkan tubuh telanjangnya yang sintal, indah, dan sensual. Sepasang bukit yang kenyal dan mungil bergoyang mengikuti gerak tubuhnya yang putih mulus dan tarikan napasnya yang mulai memburu. Jantungnya berdenyut lebih kencang daripada biasanya; cintanya benar-benar telah mendapatkan pelampiasan yang tepat hingga ia tak mampu untuk tidak tersenyum.

Dalam keadaan seperti ini, tidak ada seorang lelaki pun yang sanggup bertahan terhadap godaan di depan matanya kecuali seorang lelaki yang tak memiliki hasrat untuk bercinta. Aram benar-benar terlena. Bau harum segar seorang gadis muda terpancar, menerpa hidungnya, dan membuat gairahnya bangkit perlahan-lahan.

Aram mencium dan memagut bibir Rismi Laraspati yang merah terbuka bagaikan ombak mencium pasir dengan lembut, membuat Laraspati mendengus kecil. Dengan lembut, Aram membaringkan tubuh Laraspati di atas pasir putih bak permadani taman surga. Laraspati merasa bagaikan berada di langit ketujuh.

Ketika tubuhnya dibelai, remasan di tubuhnya seperti pijatan refleksi kala tubuhnya lelah. Tak ada kata cinta di antara mereka, hanya tatapan mata yang penuh kasih sayang dan bahasa tubuh yang mereka pancarkan dalam permainan indah itu. Permainan semakin memuncak ketika "pedang tumpul" telah keluar dari sarangnya, terbang mencari sasaran hingga darah meleleh. Jeritan kesakitan terdengar, namun itu tak menyurutkan semangat mereka. Mereka berpacu seperti kuda pacuan hingga mencapai puncak kemenangan.

"Serrr... Serr..."

"Akkkhhh..."

Dengan tubuh lunglai, Aram berbaring di samping Rismi Laraspati yang sedang tersenyum lemah penuh kepuasan. Daun kelapa melambai, angin laut pagi yang segar membelai wajah mereka yang kuyu. Dengan perlahan, Aram menyentuh dan membelai wajah sayu Rismi Laraspati.

Ia bertanya apakah ia menyesal dengan apa yang barusan mereka lakukan. "Rismi... Dindaku, apakah kau menyesal dengan apa yang sudah kita lakukan?"

Dengan perasaan malu dan bahagia, Rismi Laraspati memegang tangan Aram dengan erat tanpa sanggup berkata-kata.

Tiba-tiba...

"Hayoo... mau sampai kapan kalian akan berdiam diri?" Sebuah suara merdu menegur mereka.

Rismi Laraspati terkejut, segera ia menutupi tubuhnya, namun Aram masih tenang. "Ayo sapa kedua kakakmu, Dinda Rismi..." Aram berbisik di telinganya.

"Ekh... Akhhh..." Merah wajah Rismi Laraspati.

"Sudahlah, jangan menggodanya terus, biarkan ia berpakaian dulu," Melati mengajukan usul.

Tanpa berkata lagi, Rismi Laraspati segera mengenakan pakaiannya. Meski canggung, mereka mengobrol dengan riang gembira, lalu meninggalkan pesisir pantai yang menjadi saksi bisu keintiman sepasang manusia ini.

***

Matahari kini tepat berada di atas kepala, panas menyengat kulit seorang pemuda berkulit seputih salju yang sedang bertelanjang dada penuh dengan luka, seakan menantang sang matahari untuk membakar kulitnya itu. Dialah Aram Widiawan.

Di hadapannya, seorang kakek berbaju kuning gading dengan guci di tangannya duduk bersila. Matanya sayu dengan kantong mata yang cukup tebal. Wajahnya pucat, sepertinya ia terlalu keseringan mabuk. Dilihat dari ciri-cirinya, dia memang si Pemabuk dari Selatan.

Mereka bersila tenang, saling berhadapan dalam diam. Diam yang tak ada kata, diam yang tak bergerak, diam yang berhenti. Namun tiba-tiba pemuda itu bersenandung lirih.

"Begitulah kisahnya, kisah sang raja yang perkasa dan panglima yang saling berseteru. Sang raja yang mahasakti dan panglima yang mahacerdas, ribuan jurus mereka hambur-hamburkan. Sang raja yang perkasa hanya memainkan sembilan dari jumlah ragam jurus si panglima. Bila sang raja adalah gulanya, maka sang panglima adalah semutnya. Penasaran bukan kepalang hati sang panglima, mengapa jurusnya yang beragam tak mampu menumbangkan sang raja. Dalam keputusasaannya, sang panglima mengambil langkah penyelamatan diri di balik kematian. Siapa pun yang berada di atas angin pasti akan takabur, siapa yang berada di atas langit ia akan lupa diri bahwa masih ada langit. Aneh, sungguh aneh, tapi itulah manusia. Dasar kau panglima, panglima cerdas yang malang...."

Diam lagi. Tak ada suara. Nyanyian berhenti, menambah kerutan di dahi sang kakek. Sepertinya ia sedang mencerna ucapan itu. Semilir angin lembut membawa setiap patah kata yang ia ucapkan.

"Kau melupakan sang satu, sang mahaperkasa. Percuma kau menjadi seribu bila kau tak mampu menjadi satu. Satu adalah seribu, namun seribu bukanlah satu."

Diam lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment