Chapter 69
"Satu adalah seribu, seribu adalah satu. Semua berawal dari satu, maka kembalilah menjadi satu. Panas dan dingin akan menjadi mengerikan apabila telah menjadi satu. Satu adalah sumber, sumber adalah kekuatan, kekuatan adalah kosong, kosong adalah diam."
"Kitab Satu Bukan Dua atau Seribu, bagian dua: Penyatuan Hawa dan Bentuk." Si Pemabuk dari Selatan terpekik kaget.
"Apa itu Kitab Satu Bukan Dua atau Seribu, bagian dua: Penyatuan Hawa dan Bentuk?" Aram bertanya dengan heran.
"Kitab yang ditulis oleh Maharaja Deva Cakravala, seorang jenius ilmu silat beberapa ratus tahun yang lalu, merupakan kitab teraneh dalam sejarah manusia. Kitab itu dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menceritakan tentang sebuah pedang yang tak memiliki mata, yaitu lidah. Dan yang kedua, yaitu kitab yang kau baca barusan."
"Pedang lidah?"
"Ya, itulah senjata paling tajam di dunia. Satu kata dapat membunuh ribuan jiwa atau biasa dikenal sebagai 'kambing hitam'. Dari kitab itulah manusia di tanah Jawa mengenal istilah kambing hitam."
"Luar biasa. Saya yakin itu merupakan kumpulan dari segala ilmu siasat."
"Ya, setahuku Maharaja Deva Cakravala mencuplik ilmu itu dari sebuah kitab kulit kambing yang berasal dari gurun pasir di mana terdapat mata air mukjizat, juga buah yang lezat dinamakan kurma. Menurut kabar, lembaran kitab itu dinamakan oleh orang Muslim sebagai Al-Qur'an."
"Al-Qur'an! Meski saya tak mengetahui bentuknya, saya yakin itu merupakan kitab yang luar biasa." Aram mendesah.
"Aram,"
"Ya, Guru..."
"Satukanlah segala ilmu silat yang kau miliki agar engkau memiliki pegangan yang kuat dan tak kebingungan mencari jurus."
"Saya paham, Guru. Mumpung sempat, kita akan melakukannya sekarang. Apakah engkau bersedia?"
"Hahaha, tentu saja, Muridku. Aku gurumu, semakin engkau maju, maka akulah yang berbahagia."
"Terima kasih, Guru. Letakkanlah tanganmu di tanganku. Saya mohon."
Meski tak mengerti, Si Pemabuk dari Selatan menurut juga; ia meletakkan tangannya. Mereka bersemadi, mencapai apa yang disebut dengan badai di balik ketenangan. Wajah mereka semu merah dengan uap tipis di kepala. Si Pemabuk dari Selatan dan Aram merasakan tubuh mereka melayang ke sebuah ruang yang tak ada batasnya. Tubuh mereka terasa lebih ringan daripada bulu yang tertiup angin; perasaan mereka tenang seakan tak memiliki beban.
Aram tahu mereka sudah sampai di tengah perjalanan. Aram segera mengerahkan segenap imajinasinya untuk membentuk sebuah alam yang ada dalam pikirannya. Benar saja, perlahan-lahan ruangan putih tiada batas itu mulai membentuk dataran, gunung, bukit, pepohonan, dan lainnya. Takjub tak terkira perasaan Si Pemabuk dari Selatan menyaksikan pemandangan dari imajinasi yang dibuat oleh muridnya.
Bunga mawar dan melati bertebaran di sekeliling mereka, membuat perasaan semakin nyaman. Bukit cadas menjulang di angkasa. Aram tahu kini tiba saatnya ia melatih ilmunya lalu menggabungkannya menjadi satu.
"Guru, saya akan memulai, mohon petunjukmu."
Tanpa menunggu jawaban, Aram mulai mengosongkan pikirannya. Tubuhnya bergerak ke sana kemari seperti air yang mengalir. Jurusnya keluar begitu saja. Ia memulai dari jurus-jurus yang dimiliki lima perguruan, lalu ilmu lainnya seperti Ilmu Pedang Lintasan Satu Garis, Halilintar Perobek Bumi, Silat Rubah, Aura Kematian, dan jurus-jurus langka lainnya. Entah berapa waktu telah habis, entah berapa ratus macam ilmu yang dikeluarkannya. Aram semakin terlena dalam kesenangannya. Bumi menggelegak, langit bergemuruh. Si Pemabuk dari Selatan yang membentengi dirinya dengan pembenteng batin hampir tidak kuat menahan ledakan ilmu-ilmu yang rata-rata bukanlah ilmu kelas rendahan.
Ia bergidik bila membayangkan Aram melatih ilmunya di alam nyata; entah berapa jiwa yang akan melayang terkena amukan jurusnya itu. Kini ia tahu seperti apa kemampuan dari muridnya yang selalu tenang di balik senyuman lembutnya. Bila muridnya ini bertarung seimbang dengan Maharaja Sembilan Dewa, maka bisa dibayangkan kemampuan dari Maharaja Sembilan Dewa itu. Ia hidup sudah hampir seabad, namun ketika menyaksikan kemampuan muridnya, ia merasakan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa. Ia mulai mengerti apa yang dimaksud dengan di atas langit masih ada langit.
Amukan bumi dan langit dalam alam pikiran itu mulai mereda; sepertinya Aram sudah mencapai puncaknya. Di antara kepulan debu, Aram berdiri tegak mematung. Matanya tertutup rapat. Perlahan kaki kanannya berjinjit dan kepalan tangan kanan ditempelkan pada telapak tangan kiri, layaknya suatu penghormatan pembukaan. Kemudian, ia memutar balikkan tangan kanan yang telah dibuka jarinya dengan kecepatan bagaikan kilat. Ia melakukan gerakan putaran tangkisan pada tangan kiri lalu mengayunkan silang pada tangan kanan untuk menutup, dan tangan lainnya melakukan suatu tusukan tajam dengan ujung jarinya yang bersinar keperakan. Sepintas jurus itu memang terlihat sederhana, namun kecepatan dan gerak serangan itu lebih cepat dari kesiuran angin, membuktikan bahwa serangan itu lebih dahsyat dari yang terlihat.
Tiba-tiba, "Duaaaarrr..." sebuah batu sejauh lima tombak hasil ciptaan pikirannya hancur berantakan. Padahal waktu itu Aram sedang berdiri tegak tak melakukan apa pun. Ternyata sinar yang muncul dari jarinya itu sudah menghancurkan batu yang tepat ada di depannya, dan batu itu meledak setelah jeda beberapa saat. Bila dibayangkan serangan itu mengenai manusia, maka lawan yang terkena serangan itu tak akan sadar bahwa tubuhnya telah hancur.
Tak berhenti begitu saja, Aram menekuk silang kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan suatu pukulan yang sangat keras. "Blaaarrrr!" Kini yang menjadi korbannya adalah sebuah pohon sebesar dua pelukan orang dewasa. Tapi sepertinya itu masih belum cukup, terbukti dengan dilanjutkannya suatu gerakan tendangan pada kaki kanan serta dorongan tangan kanan yang telah diputar sedemikian rupa untuk menghimpun tenaga secara cepat. Gerakan kedua ini dahsyat luar biasa, sebab di sekeliling tempat itu pohon-pohon menjadi layu terkena hawa yang terpancar dari setiap gerakan Aram. Gerakannya dahsyat bagaikan seorang ksatria membabat angkara.
Aram yang sudah berada dalam posisi kuda-kuda segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat, seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati. Entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya masih mendorong angin, namun muncul dua tangan lagi yang mengayun simpan menyamping pada tangan kanan yang diayunkan ke dalam, dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan di depan dada. Perlahan kedua tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil menyelinapkan tubuh ke depan, tangan kiri melakukan suatu totokan cepat pada daerah yang lemah di tubuh lawan. Setelah itu, Aram segera berdiri tegak mematung.
"Wuuurrssshhhh... Blaarrr... Crekk... crekkk."
Gulungan angin tornado bergulung-gulung dari tempat di mana kedua telapak tangan Aram mendorong angin. Berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu. Diam namun bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki sumber—sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah di tangan tanpa memasuki *tiantan*. Sesuai dengan ajaran penyatuan dari *Kitab Satu Bukan Dua atau Seribu, bagian dua: Penyatuan Hawa dan Bentuk*.
Aram yang berdiri tegak mematung memajukan kaki kanan di samping kaki lainnya, sambil sedikit menekuk rendah pada kuda-kuda dengan kedua tangan yang menekuk. Lalu mengayunkan kaki kanan ke belakang sambil mengangsurkan kedua tangan ke depan untuk mengimbangi kaki kanannya yang terangkat tersebut. Dengan cepat ia mengayunkannya laksana kilat untuk berjongkok (jari-jari kakinya berjinjit) dengan kedua tangan diturunkan sedemikian rupa. Kelanjutannya adalah meloncat mengudara setinggi empat sampai lima tombak dengan kedua tangan terangkat tinggi-tinggi. Kemudian ia mengangkat kaki kanannya berupa tendangan ke atas, tangan kirinya diturunkan ke bawah.
"Wusssttt... Blaaarrrrrr..."
Tanah merekah terkena tendangan itu, membuktikan bahwa tendangan itu bukan hanya tendangan biasa saja; hawa kematian dan hawa magis bertebaran di sekeliling tempat itu. Matanya mencorong tajam luar biasa. Ia segera memasang kuda-kuda dan menarik kedua tangannya secara perlahan seakan menarik angin. Dengan suatu gerak putar pada pergelangan tangan, tangan kanan melakukan suatu tangkapan dan tangan lainnya melakukan suatu tebasan tajam dengan tenaga yang tersalur secara sempurna. Selarik sinar kilat bersamaan dengan suatu gema menggelegar laksana guntur keluar dari tangan yang menebas itu, menerobos semak belukar yang langsung terbakar dengan dahsyat.
"Jelegar... Kretek... kreteekkk."
Suara itu mengiringi Aram yang berdiri membuka kakinya dan menaikkan kedua tangannya dalam keadaan jari-jari menunjuk ke atas, lalu perlahan menurunkan kedua tangannya ke depan dada dengan jari-jari masih menghadap ke atas, mengepalkan jari-jari untuk diletakkan di sisi pinggang masing-masing, dan menurunkan ke bawah dengan jari-jari yang terbuka kembali. Setelahnya, ia segera duduk bersemadi. Selain untuk menenangkan pikiran dan mengembalikan kekuatannya, ia juga bermaksud untuk memberi nama pada jurus-jurus yang baru saja ia keluarkan. Uap tebal di atas kepalanya menandakan bahwa Aram sudah mencapai suatu taraf yang tinggi dalam tenaga dalamnya. Diam-diam, Si Sinting dari Selatan juga mengakui hal itu.
Aram bangkit dari semedi. Tanpa meminta pertimbangan gurunya yang menatap takjub, ia segera memainkan lima jurus yang baru saja diciptakannya itu.