Chapter 70
Jurus itu ia ciptakan dari Jurus Halilintar Perobek Bumi yang pada awalnya berasal dari Thiantok atau Gujarat. Ia menggabungkannya dengan Jurus Silat Rubah, yaitu jurus gabungan dari Negeri Malaya dan Tanah Jawa peninggalan guru pertamanya. Selain itu, terdapat elemen dari Tornado Arwah, Totokan Si Kelabang Biru, Ninjutsu, Genjutsu, Sihir Penyayat Sukma, dan Aura Kematian.
Bisa dibayangkan betapa hebatnya jurus tersebut. Beberapa kali ia mengulang, barulah ia berhasil menguasainya dengan lancar.
Jurus itu ia namakan Jurus Ksatria Langit yang terdiri atas: ksatria memberi sembah, ksatria menolak angin, ksatria menerima angin, ksatria langit turun bumi, dan ksatria membabat angkara.
Aram tidak langsung menggabungkan dengan jurus yang lain. Ia sadar bila semua ilmunya digabung menjadi satu, membutuhkan pemikiran yang jauh lebih dahsyat. Maka, ia memutuskan untuk menjadikannya dua atau tiga rangkaian jurus saja.
Dengan senyuman di bibir, didekatinya si Pemabuk dari Selatan lalu duduk di hadapannya.
"Guru..."
"Ya, ada apa, Muridku?"
"Emh, apakah Guru ingin tetap di sini menungguku atau kembali ke alam nyata?"
"Hahahaha... Kau pikir aku ini lelaki apa? Tentu saja aku akan setia menunggumu di sini..."
"Tapi, Guru..."
"Tak ada tapi-tapian. Aku tahu kau tak ingin aku menunggu kesepian, bukan? Jangan khawatir, selama ada tuak, hidupku akan tenteram..."
"Baiklah, jikalau itu sudah menjadi keputusan Guru."
Aram menyerah dan kembali ke tempat di mana ia tadi berlatih. Ia merenung, matanya terpejam; sepertinya ia sedang mengumpulkan segenap rasa dan ciptanya. Wajahnya yang putih mulai memerah, semakin memerah. Ketika matanya terbuka, sebersit kilatan tajam bersinar dari mata rajawalinya. Hawa panas dan dingin menyeruak tajam. Aram, yang sedang bersiap dengan kuda-kudanya, melaksanakan tendangan ringan ke bawah yang ditujukan kepada lutut lawan. Gerakan itu dikaburkan dengan serangan pada kedua tangan yang membuat lawan tidak menyangka adanya serangan bawah, seperti seseorang yang bertarung di langit namun tiba-tiba menyerang ke pusat bawah dengan merobek bumi.
Tak ada keistimewaan lain dalam serangan itu, tak jelas maksud Aram menggabungkan jurus yang hanya sedemikian rupa. Namun, ia terkenal akan kecerdasannya, bahkan si Pemabuk dari Selatan juga meyakini hal itu. Dan benar saja, secara tiba-tiba Aram menurunkan kaki kanan dan menggeser maju dengan cepat pada kaki lainnya untuk mengiringi dengan suatu tamparan serta bacokan menggunakan tangan lainnya.
"Jelegaarr!"
Bukan sesuatu yang ada di hadapannya yang menggelegar, namun sebuah kilat putih menyambar tajam setombak di depannya. Anehnya, kilat yang membelah langit itu tidak sama sekali menyentuh tanah. Bila di hadapannya terdapat lawan, barangkali lawan itu akan menghindari serangan tangan tanpa menyadari bahwa serangan sesungguhnya berasal dari alam. Akibatnya, lawan itu jelas akan mati gosong tersambar kilat tersebut.
Aram menendang ke samping, dilanjutkan dengan menurunkannya menggunakan perhitungan membalik ke arah kiri belakang, lalu berganti dengan mengangkat kaki kanan tinggi-tinggi. Kedua tangannya ditarik ke bagian tengah seakan menutup sayap. Gerakan membalik ini merupakan kepandaian khusus yang tidak lain adalah gabungan Jurus Kelelawar dan Jurus Rubah; satu elemen udara dan satu elemen darat. Dengan ciri khasnya yang aneh itu, serangan ini dapat membingungkan lawan. Sanggahan pada satu kaki harus dikuasai terlebih dahulu untuk memperoleh keteguhan dalam ekspresi gerakan-gerakan tersebut.
Lalu ia menurunkan kaki kiri dengan mantap, disusul dinaikannya kaki kanan, dan tangan kiri diayunkan mengarah ke samping kiri dengan jari-jari menunjuk ke kiri.
"Heaaa!"
Aram berteriak menggelegar. Si Pemabuk dari Selatan terperanjat, sebab telinga luar dan telinga batinnya seperti digedor jutaan gong. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, akhirnya suara itu dapat diredam meski tak sepenuhnya. Ia melihat Aram melangkahkan kaki kanan disertai ayunan tangan kiri ke belakang dan tangan lainnya ke arah depan. Gerakan itu benar-benar terpadu dan mantap.
Sebagai kelanjutan dari gerakan sikap terdahulu, pandangan Aram dialihkan ke arah kiri dengan tangan kiri yang telapaknya digerakkan ke samping bawah, sementara tangan kanan didekatkan ke depan pusar sambil menarik napas cukup panjang. Penarikan napas tersebut adalah cara pemantapan cadangan untuk suatu gerakan yang panjang serta menambah potensi serangan.
Dengan secepat kilat ia mengayunkan tubuhnya dengan menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan kaki kanan pada sasaran, lalu beralih ke putaran tubuh ke kanan dengan sanggahan dua tangan dan berganti kaki kiri yang melakukan sapuan. Tak berhenti begitu saja, ia melanjutkan dengan gerak maju pada kaki kanan sambil mengayunkan serangan memutar dari bawah ke atas pada tangan kanan, sementara tangan lainnya ditarik memutar ke atas.
Dijabarkan memang panjang, namun kenyataannya serangan itu cepat dan dahsyat. Serangan ini seperti bumi yang merekah, dapat merusak serta menjatuhkan lawan yang dihadapi, seperti seorang manusia yang sedang merobek-robek bumi dengan dahsyat.
Seperti diketahui, ia memiliki ilmu yang beragam hingga ratusan jurus. Maka dari itu, ia pun semakin mempergiat pembuatan jurusnya. Satu, dua, tiga, dan seterusnya ia gabungkan menjadi satu, hingga berhasil menjadi dua rangkaian jurus: Jurus Ksatria Langit yang terdiri dari lima jurus, dan Jurus Pukulan Perobek Bumi Pembelah Langit yang terdiri dari delapan jurus, yaitu: pangeran langit merobek bumi, raja langit membelah langit, bumi dan langit merindu, guntur menyalak pencakar langit, langit terbelah bumi merekah, bumi berhenti berputar, langit gelap bumi tak tahu arah, dan langit terobek bumi porak-poranda.
Dalam alam pikirannya, genap sudah satu purnama Aram menyatukan ilmunya. Selain dua jurus yang diciptakannya dahulu, ia juga telah menciptakan jurus pamungkas dari jurus-jurus yang dimilikinya yang ia beri nama "Jurus Tunggal Jagad". Jurus itu terdiri atas: "Pedang Tunggal Melintang Jagad", "Pukulan Tunggal Perobek Jagad", "Totokan Tunggal Paku Jagad", "Racun Pemusnah Jagad", "Obat Penghalau Murka Jagad", "Panca Menuju Tunggal", dan "Tunggal Menjadi Kosong".
Hari itu Aram berlatih di atas sebuah bukit yang menjulang tinggi bersama gurunya, si Pemabuk dari Selatan. Keduanya bertarung dengan serius, melatih jurus yang sama dengan cara bertarung. Kaki kanan Aram berjinjit dan kepalan tangan kanan ditempelkan pada telapak tangan kiri, seperti layaknya penghormatan pembukaan. Kemudian, ia memutarbalikkan tangan kanan yang telah dibuka jarinya dengan kecepatan bagaikan kilat. Ia melakukan gerakan putaran tangkisan pada tangan kiri, lalu mengayunkan silang pada tangan kanan untuk menutup, dan tangan lainnya melakukan tusukan tajam dengan ujung jari yang bersinar keperakan.
Tanpa diperingati pun, si Pemabuk dari Selatan sudah paham bahwasanya jurus tersebut bukanlah jurus yang bisa dianggap remeh. Ia tahu Aram sedang menggunakan Jurus Ksatria Memberi Sembah dari rangkaian Jurus Ksatria Langit. Segera ia pun memapak dengan jurus yang tak kalah lihai, Ksatria Membabat Angkara. Terlihat si Pemabuk dari Selatan menekuk silang kaki dengan putaran tangkisan atas oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan pukulan yang sangat keras.
"Blar!"
Dua buah tenaga sakti di udara beradu, dua tenaga dalam yang berlawanan: Panca Menjadi Tunggal yang dikeluarkan oleh Aram dan Tunggal Menjadi Kosong oleh si Pemabuk dari Selatan. Dua buah tenaga dalam yang digabungkan oleh Aram dari seluruh penjuru dunia—segala tenaga dalam yang mengandung unsur elemen seperti api, air, tanah, kayu, angin, dan logam—ia gabung menjadi satu dalam Jurus Panca Menjadi Tunggal. Sedangkan jurus yang mengandung unsur keras dan lunak, ia gabung menjadi satu dalam Jurus Tunggal Menjadi Kosong.
Jurus itu ia gabung berdasarkan pemahaman dari kitab "Satu Bukan Dua atau Seribu Bagian Dua Penyatuan Hawa dan Bentuk", yang berbunyi: panas dan dingin akan menjadi mengerikan apabila telah menjadi satu; satu adalah sumber, sumber adalah kekuatan, kekuatan adalah kosong, kosong adalah diam. Tenaga sakti itu benar-benar luar biasa. Hawa dingin dan panas bersatu dalam udara sekitar; hawa magis dalam sihir, hawa pembunuhan, hawa kemenangan, hawa kebahagiaan, dan hawa ketenangan bergulung-gulung. Seluruh tempat itu porak-poranda tak keruan.
Setelah debu dan alam mulai tenang, Aram dan gurunya berpandangan penuh arti. Secara bersamaan keduanya menganggukkan kepala. Satu per satu alam itu mulai musnah, kabur tertelan sebuah cahaya putih hingga semuanya menjadi ruangan serba putih yang tak keruan di mana ujungnya. Bukan hanya alam itu, rupanya tubuh mereka pun mulai menghilang semu kembali ke dalam badan masing-masing.