Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 71

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 71

Luhur gunung Mukakeun, rasa tunggara, Layung beureum narembongan. Kananga ge ngarangrangan, Panutan nu kungsi nyarengan. Ayeuna tinggal lamunan, Kiwari tinggal waasna, Ngupahan paitna rasa. Kabagjaan nu kungsi kasorang, Ayeuna tinggal tunggara. Cinta, cinta urang, Ayeuna tinggal lamunan. Duriat, duriat urang, Ayeuna ukur waasna. Bagja, bagja urang, Ayeuna tinggal impian. Deudeuh, deudeuh keur urang, Ayeuna tinggal kalangkang.

Sebuah lantunan sajak Sunda terdengar indah di keheningan malam yang tanpa bulan. Sajak tersebut dilantunkan oleh seorang gadis cantik bermata sipit dengan rambut dikuncir kuda. Wajahnya begitu ayu dan lembut saat terkena cahaya obor yang temaram. Di sampingnya terdapat kumpulan sahabat-sahabat Aram, antara lain mantan anggota Ksatria Satwa, Nyi Permata Dewi, Ki Asmaradanu, Ki Guntur, Rehan, Adipati Rajalela, serta Melati dan Rismi Laraspati.

Gurat-gurat cemas dan harapan tersampir di wajah mereka. Mereka duduk mengelilingi dua orang yang sedang bersemadi. Jika bersemadi hanya selama satu hari, mungkin mereka tidak akan secemas itu. Namun, Aram dan si Pemabuk dari Selatan sudah bersemadi selama tujuh hari tujuh malam tanpa henti. Wajah mereka merah seperti kepiting rebus, dan uap mengepul tinggi layaknya pembakaran lokomotif.

Wajah cemas mereka sedikit hilang saat mendengar lantunan indah dari Thian Hong Li. Diam-diam, Melati merasa malu ketika Thian Hong Li yang berasal dari negeri tetangga justru dapat menyanyikan sajak indah dari kesastraan Sunda itu.

"Akkkhhh...." Sebuah suara gadis menyentak semua orang. Rismi Laraspati menunjuk Aram yang sudah siuman. Matanya begitu mengkilat tajam, memberikan perasaan segan dan gentar bagi siapa pun yang melihatnya. Tak lama kemudian, si Pemabuk dari Selatan juga mulai siuman. "Uhukkk..." Si Pemabuk dari Selatan muntah darah lalu pingsan tergeletak. Tentu saja mereka kaget dan segera menghampirinya.

Belum sempat diurus, Aram juga menyusul pingsan, membuat semuanya merasa sibuk dan cemas. Dengan hati-hati dan penuh perasaan, mereka segera membopong keduanya masuk ke dalam ruangan, meninggalkan setumpuk api sisa pembakaran.

***

Hari itu, Aram sebagai ketua berdiri gagah dengan baju hijau transparan dan jubah panahan hijaunya. Semua anggota Perkumpulan Bendera Awan Langit duduk berbaris rapi, mempersiapkan diri untuk menghadapi Perkumpulan Nawa Awatara yang telah mengembangkan sayapnya.

Sebelum pertemuan anggota dimulai, Aram sudah memanggil anggota Ksatria Satwa untuk melakukan suatu tugas bersama Adipati Rajalela. Di sana, mereka berdiskusi dari siang sampai fajar menjelang, dilanjutkan dengan diskusi bersama ketua lima perguruan untuk melaksanakan tugas demi kesejahteraan umat persilatan tanah Jawa, atau lebih luasnya Nusantara.

"Adakah di antara kalian yang paham mengapa kalian aku kumpulkan?" seperti biasanya, Aram bertanya untuk meminta jawaban kepada setiap anggotanya. Semua hening dan diam.

"Adakah di antara kalian yang mengetahui bahwa anggota tingkat enam setara dengan kemampuan Angkara dan kawan-kawan?" Hening lagi. Tak ada kata yang keluar. Hakikatnya, dari dulu mereka paham akan hal itu. Maka dari itu, selain berlatih, mereka tidak berani keluar sebab mereka hanya sebanding dengan tingkat delapan dari sepuluh tingkat anggota Nawa Awatara.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Ketua?" Seseorang berambut pitak bertanya lemah.

"Kita akan pergi ke tempat terjun di balik gunung itu...." Aram menunjuk sebuah gunung di samping kirinya.

"Lalu apa yang akan kita lakukan di sana?" Ia bertanya lagi.

Setelah itu, ia diam. Ia sadar bahwa ia telah kelepasan bicara. Keringat dingin bercucuran di tengkuknya. Teman yang ada di sampingnya paham apa yang sedang ditakutkan temannya itu, namun mereka tercengang dengan ucapan ketua mereka menanggapi pertanyaan tersebut.

"Haha... benar-benar ucapan yang bagus dan tepat sekali pertanyaanmu, Saudaraku. Kita akan berlatih bersama di sana, membuang seluruh ilmu yang kalian miliki sekarang, sebab ilmu yang kalian miliki sekarang akan kita sebarkan di segenap penjuru."

Betapa gembiranya perasaan lelaki berambut pitak itu. Dulu ia merupakan anggota dari Perguruan Rajawali Emas, namun ia dikeluarkan akibat kesalahan yang sama dengan sekarang, yakni bertanya hal yang seharusnya tidak ditanyakan kepada sang ketua. Mengenai jawaban Aram yang malah memujinya, ia begitu terharu. Diam-diam semangat dan kesetiaannya terhadap Aram semakin berkobar membara. Namun, ia tidak mengerti jawaban ketuanya, sehingga ia memutuskan untuk bertanya kembali.

"Apa... apa maksud dengan menyebarkannya ke segenap penjuru, Ketua?" Teman-teman lainnya tercengang akan keberanian lelaki itu. Mereka pikir bertanya seperti itu terlihat begitu tabu dan aneh.

"Apa kau memiliki seorang murid didikan?" Aram bertanya menyimpang, membuat lelaki itu kaget dan heran. Namun, ia menjawab juga, "Mengenai itu... mana mungkin orang seperti saya dapat memilikinya, Ketua. Jangankan memiliki murid, memimpin orang saja saya belum pernah."

"Maka dari itu, aku akan mengabulkan hal yang kau belum pernah lakukan itu."

"Maksud Ketua, aku... aku akan memiliki murid dan pasukan sendiri?"

"Hahaha... tidak hanya kau, tapi semuanya."

"Maksud Ketua kami juga?" celetuk seorang wanita paruh baya berbaju hitam dengan antusias.

"Benar," Aram berkata tegas.

Sorakan gembira gegap gempita di sekeliling tempat itu. Dalam otak mereka terbayang sedang memimpin orang lain. Jika selama ini mereka selalu dipimpin, maka pada hari itu mereka sendiri yang akan memimpin. Senyuman lembut keluar dari bibir mereka.

"Dengarlah wahai sahabat-sahabatku sekalian, saudaraku yang selalu aku banggakan. Kita akan memulai bangkit dari tidur kita. Sudah hampir waktunya kita kembali berkeliaran di dunia yang indah ini. Berlatihlah dengan giat. Barang siapa yang telah mencapai tahap siap, maka aku akan memandatkannya untuk kembali bertugas. Kalian siap?"

"Yeeeaaaahhhhh!"

***

Satu hari kemudian, Aram bersama ketiga kekasihnya dan anggotanya berangkat ke sebuah air terjun di kaki gunung kecil yang telah ditentukan Aram. Sementara itu, gurunya dan kawan-kawan gurunya, termasuk Kakek Arak Seribu Kati yang telah...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment