Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 72

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 72

Aram yang mampu berbahasa daerah setempat meski belum lancar tetap berada di markas untuk melatih Ki Jalak dan Nyi Renjani guna mengembalikan tenaga dalam mereka. Di air terjun itu, selama hampir dua bulan, Aram melatih langsung anggota Bendera Awan Putih.

Semuanya mengalami kemajuan pesat, baik dalam tenaga dalam maupun penguasaan jurus tangan kosong Ksatria Langit yang baru saja Aram ciptakan. Tekanan air terjun yang besar dan berat sangat membantu latihan mereka. Anggota Bendera Awan Putih berlatih dengan membagi diri menjadi dua kelompok, sebab air terjun tersebut ada dua. Bila kelompok pertama berlatih tenaga dalam di bawah air terjun, kelompok lainnya mempelajari ilmu tangan kosong di dalam aliran sungai yang deras itu; begitu seterusnya secara bergantian. Terkadang mereka berlatih tangan kosong di air terjun dengan memukul aliran air yang jatuh ke bawah.

Aram tidak hanya melatih, tetapi juga memberi contoh dengan gerak tubuh dan tenaga batin. Terkadang, ketika malam tiba, ia menyerang anak buahnya dengan sihir untuk membuat mereka tidur. Awalnya hal itu terasa berat bagi mereka, namun lambat laun mereka dapat bertahan. Dengan demikian, selain tenaga fisik, batin mereka pun menjadi kuat bagai baja.

Aram tidak hanya sibuk melatih anggotanya, ia juga sering mengajari ketiga kekasihnya ilmu bela diri, terutama untuk Rismi Laraspati yang belum memiliki dasar. Aram bekerja keras mencari dan menggali rangkaian ilmu bela diri yang pas untuknya. Untunglah, sewaktu di dalam keraton, Rismi Laraspati mempelajari tarian, sehingga ia tidak kesulitan dalam mencerna ilmu yang diciptakan Aram berdasarkan serangkaian gerak tarian yang awalnya ia peragakan.

Sebagaimana diketahui, Aram adalah sosok pemuda yang memiliki kecerdasan luar biasa. Melihat tarian yang diperagakan Rismi Laraspati, dirinya terinspirasi dari setiap geraknya. "Tarian Bidadari Darah Biru", itulah nama dari jurus tersebut. Berbeda dengan jurus lainnya yang mengutamakan atau menekankan pada seni bela diri, jurus ini justru menonjolkan rasa seni keindahannya serta gerakan-gerakan yang pada prinsipnya untuk meningkatkan kemampuan dalam hal kegesitan, keluwesan, kelenturan, keanggunan, dan kelembutan. Namun, di dalamnya juga terselip gerakan yang dapat dimanfaatkan untuk pembelaan diri. Misalnya saja untuk sikap dan gerakan langkah, yang tidak saja meningkatkan kemampuan saat melakukan pembelaan maupun penyerangan, tetapi juga memberikan bantuan secara langsung pada pembentukan saraf dan urat dalam tubuh menuju kesempurnaannya.

Pada waktu luang, ia tidak lupa bercanda dengan ketiga kekasihnya, bergumul melepaskan kepenatan di dalam sebuah pondok kecil di atas pohon yang dibuatnya sendiri. Seperti hari itu, sewaktu ia bersemadi, telinganya yang tajam mendengar sesuatu. Ia membuka mata dan melihat sekeliling. Dilihatnya Thian Hong Li dan Melati sedang menggotong tubuh Rismi Laraspati yang sedang pingsan. Butiran keringat jatuh perlahan dari wajah mereka yang manis, merambat ke leher, dan menghilang di balik baju mereka bagian dada. Dada mereka yang padat tercetak jelas karena baju mereka basah, membuat Aram menghela napas panjang.

"Kenapa dia?" Thian Hong Li dan Melati menggelengkan kepala. "Kami menemukannya di atas bukit," jawab mereka berdua.

Aram bangkit meraih tubuh Rismi Laraspati, memeluknya erat, dan merapatkan dada perempuan itu ke dadanya. Aram merebahkan tubuh gadis itu yang terkulai lemas di atas tubuhnya dan mengerahkan tenaga dalam. Hawa panas merasuk ke tubuh gadis itu. Hari itu hening, tak ada suara, hanya terdengar gemuruh air terjun. Aram mencium mulut Rismi Laraspati dan meletakkannya di atas pembaringan. Ketika Aram hendak beranjak, sebuah pelukan lembut nan erat melingkar di pinggangnya.

"Aku kangen," bisik Thian Hong Li lirih.

Aram berpaling dan melihat Melati juga sedang gelisah; sepertinya ia pun sedang menahan sesuatu. Dengan lembut, Aram menariknya ke dalam pelukan dan merebahkan keduanya di atas pembaringan di sisi tubuh Rismi Laraspati yang tergeletak. Mereka bercumbu dengan menggebu. Tiga insan itu terbenam dalam panasnya nafsu.

Sang surya telah condong ke barat menandakan sore hari telah menjelang. Pada saat seperti itulah, seorang lelaki paruh baya sambil membopong buntalannya masuk ke dalam desa dengan langkah lebar. Rambutnya kusut dan kacau, jenggotnya panjang menutupi dada, ditambah pakaiannya yang sudah kumal dan penuh noda lumpur, menambah keanehan serta kedekilannya. Banyak penduduk desa yang melirik ke arahnya dengan sinar mata kasihan. Mereka memandang sepatunya yang kotor oleh lumpur, pakaiannya yang dekil, dan rambutnya yang kusut. Perasaan mereka pedih, namun mereka tak mampu membantu sebab kondisi mereka sendiri tidak jauh berbeda dengan lelaki paruh baya itu.

Sebaliknya, lelaki paruh baya yang tak lain adalah Adipati Rajalela sendiri sama sekali tidak menggubris tingkah laku orang lain. Ia meneruskan langkahnya tanpa menoleh ke kiri maupun ke kanan. Ketika tiba di pasar yang sepi pengunjung, Adipati Rajalela menghela napas panjang. Hatinya pedih melihat rakyatnya menjadi gelandangan. Di beberapa tempat terlihat lelaki sangar sedang menggoda perempuan. Para pedagang duduk termenung melihat dagangan mereka yang tak laku; barang-barang mereka sudah kumal terkena debu.

Di sudut pasar, seorang lelaki paruh baya sedang duduk mengemis. Wajahnya kotor dengan debu, tergeletak kaku, terbakar teriknya sang surya. Cucuran peluh membasahi tubuhnya yang rentan dan lemah. Dengan sehelai kain kumuh yang membalut tulang tubuhnya, ia merintih sendu menahan kejamnya kehidupan. Hidup yang dipenuhi cerita duka, di mana hakikatnya takkan ada yang peduli dia hidup ataupun mati. Takkan ada yang peduli nasib seorang lelaki tua yang begitu mengenaskan.

Terdengar lelaki itu bersenandung untuk menambah kepingan logam dalam mangkuknya, senandung yang menyedihkan dan menyayat siapa pun yang mendengarnya. "Dengarkanlah wahai para manusia, mengapa hatimu buta? Mengapa tak sedikit pun kau berpaling menatap sisi hidupku? Hidupku yang penuh luka dan goresan air mata..."

"Aai... tak kusangka desa yang dahulu ramai dengan canda dan tawa kini menjadi lautan kesedihan yang tak bertepi seperti ini," gumam Adipati Rajalela seorang diri. Jelas, para anggota Nawa Awatara telah membuatnya seperti itu.

Dalam pada itu, terdengar suara derap kaki kuda dari belakang, diikuti para penduduk yang menyingkir ke samping. Rombongan lelaki sangar yang memakai baju hitam bersulam piramida berantai berjalan dengan sombong; nyata sekali bahwa mereka adalah anggota Nawa Awatara yang ditakuti penduduk. Adipati Rajalela tahu gelagat, lekas ia ikut menyingkir ke samping. Dilihatnya rombongan itu terdiri dari sepuluh orang. Ketika tiba di pasar, mereka menyebar ke setiap pelosok untuk menagih yang mereka sebut sebagai upah "jasa keamanan". Benarkah itu upah jasa keamanan? Siapakah yang diamankan? Mereka sendiri.

Mereka menyuruh setiap pedagang untuk berdagang, padahal tak ada seorang pun pembeli karena tak ada lagi orang yang sanggup membeli. Semuanya menjadi gelandangan. Yang membeli adalah anggota mereka sendiri, membeli tanpa uang bayaran; itu lebih mirip merampok. Dunia sudah berubah, tak ada lagi kesejahteraan. Di mana-mana hanya ada tangisan untuk meringankan beban hidup. Namun, tidak ada tangisan yang meringankan beban; beban tetaplah beban.

Sekarang, ada yang melarang orang untuk menangis, bahkan tak segan mengambil nyawanya. Siapakah dia? Dialah anggota Nawa Awatara. Walaupun kau memiliki segunung harta, namun jika kau hambur-hamburkan tanpa berusaha menambahnya, maka suatu saat akan habis juga. Begitu pula dengan nasib seorang pedagang lelaki paruh baya, Juragan Abyudaya, seorang pedagang kaya dari Desa Jatiluhur yang dulu disegani, namun kini merintih menangis seperti anjing meminta makan.

"Praakkk... Akkhhh..." jeritan menyayat terdengar dari mulutnya. Ia ambruk tak bernyawa dengan kepala pecah berantakan. Ternyata, seorang anggota Nawa Awatara mengeprukan tangannya yang kuat dan dialiri tenaga dalam ke kepala Abyudaya. Sungguh kejam. Wajah sedih dari setiap pedagang tampak jelas di mimik mereka. Ingin melawan, namun apa daya, mereka paham tak lama lagi giliran mereka yang akan tiba, bagaikan ayam dalam kurungan yang menunggu waktu disembelih.

Adipati Rajalela nanar, setitik air mata jatuh di pipinya. Tak disangkanya semua bakal terjadi seperti ini. Ia ingin membantu, namun ia adalah orang yang cerdik; membantu dalam keadaan seperti ini hanya akan menambah keruh suasana. Maka dari itu, ia hanya diam menunggu saat yang tepat.

"Inilah ganjaran bagi siapa pun yang menantang dan menentang kami. Jadikan ini pelajaran untuk kalian!" lelaki itu berteriak garang. Setelah semua kawan-kawannya berkumpul, mereka segera meninggalkan pasar yang baru saja kehilangan nyawa penghuninya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment