Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 73

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 73

Mereka pergi dengan tatapan benci dan dendam kesumat di mata setiap penduduk. Hanya itu yang bisa mereka lakukan: sedikit hiburan untuk melampiaskan dendam dalam jiwa.

Semuanya hening. Selang beberapa saat, suasana kembali ke keadaan normal.

Adipati Rajalela mendekati pengemis yang tadi bersenandung dan ikut duduk di sisinya. Tanpa sepengetahuan orang lain, selembar kertas ia sodorkan ke dalam tangan pengemis itu. Pengemis itu tertegun dan menatap lekat wajah orang di sampingnya. Jika tidak diberitahu untuk tidak berteriak, maka pengemis itu pasti akan menjerit semampu yang ia bisa. Ternyata, pengemis itu dulunya adalah penasihat utama kerajaan yang bernama asli Raden Balin. Maka tak salah bila ia mengenal Adipati Rajalela. Sebelum terjadi hal yang diinginkan, Adipati Rajalela meninggalkan pengemis itu dengan langkah lebar namun begitu perlahan, seakan takut menginjak semut.

Pengemis itu segera membuka kertas tersebut. Isinya ternyata adalah sebuah rangkaian ilmu silat. Di atas kertas itu tertera, "Demi kesejahteraan kita, aku harap kau mempelajari ini." Adapun silat itu bernama "Tongkat Padi Arwah Seribu".

Bila ini adalah zaman biasa, barangkali dunia persilatan akan banjir darah memperebutkan ilmu silat tersebut. Sebenarnya, ilmu silat apakah itu? Tongkat Padi Arwah Seribu merupakan rangkaian ilmu dahsyat peninggalan dari raja pertama kerajaan di Tanah Jawadwipa. Ilmu tongkat itu terdiri dari sepuluh jurus dengan seratus perubahan serta seratus posisi penyerangan dan pertahanan. Ilmu itu tidak membutuhkan latihan semadi untuk mengumpulkan tenaga dalam, sebab begitu mempelajari ilmu tersebut, tenaga dalam akan tersedot dengan sendirinya seiring gerakan jurus yang dilakukan. Jadi, tidak heran bila ilmu ini menjadi rebutan setiap orang di dunia persilatan.

Tangan pengemis itu bergetar. Tanpa sengaja kertas itu terbalik posisinya. Mata pengemis itu terbelalak; rupanya tulisan itu terdiri dari dua sisi. Bila dibaca dengan posisi terbalik, tulisan itu berbunyi "Ajian Saepi Angin". Bermodalkan pengalaman pertama, pengemis itu—alias Raden Balin—segera membalik kertas itu lagi. Benar saja, di sana tertera "Ajian Saepi Geni" dan di sisi lain terdapat bacaan "Ajian Pancasona".

Pengemis itu manggut-manggut dan segera meninggalkan tempat tersebut, sementara Adipati Rajalela mendekati seorang wanita paruh baya yang memeluk anaknya sambil menangis tersedu-sedu. Ternyata, ia adalah istri dari Abyudaya.

"Permisi..." sapa Adipati Rajalela.

Wanita dan anak lelaki itu berpaling menatap wajah Adipati Rajalela. "Ada apakah, Tuan? Maafkan kami, tak dapat bersedekah. Lihatlah, baru saja suamiku meninggal seperti ini," jawab wanita itu pilu, mengira Adipati Rajalela mengemis kepadanya.

Adipati Rajalela tersenyum ramah. "Apakah kau ingin membalaskan dendam ayahmu, Nak?" tanya Adipati Rajalela kepada anak itu tanpa memikirkan tanggapan wanita tersebut.

"Tentu, Ki! Ingin sekali aku mengunyah dan menghisap darah mereka," mata anak itu berbinar-binar penuh dendam.

"Anakku," wanita itu menangis dan menenangkan anaknya yang dipenuhi kemarahan.

"Anak yang hebat, siapa namamu?"

"Bayuputra, Ki."

"Bayuputra, putra dewa angin... nama yang hebat," puji Adipati Rajalela. "Apakah kau mau bergabung denganku untuk membereskan dan menggulung mereka seperti angin topan menggulung debu, Anakku?"

"Mau, Ki."

"Sudahlah, Kisanak, jangan menjerumuskan anakku," sela wanita itu.

"Engkau tak berhak untuk melarang anakmu, Nisanak. Biarkan ia memilih jalannya sendiri. Apakah kau ingin seterusnya hidup seperti ini? Diperbudak dan dipermainkan setan-setan liar itu?" Wajah wanita itu menunduk, sedih dan pilu hatinya. Ia mengakui bahwa ucapan lelaki itu benar adanya. Ia juga adalah salah satu korbannya; jauh-jauh hari ia sudah ternoda di tangan mereka. Digilir adalah hal yang sudah biasa baginya, tapi ia benar-benar takut bila anaknya pergi meninggalkannya.

"Ibu, aku tak akan meninggalkanmu. Tapi aku tak mau berdiam diri saja menyaksikan Ibu dan semua orang ditekan dan dipermainkan begitu saja," ucap anak itu.

Rayuan. Yah, itulah kata yang tepat dilakukan oleh dua lelaki berbeda usia itu, hingga akhirnya wanita itu menyerah dengan merestui keinginan anaknya.

Seorang bocah berjalan di bawah teriknya matahari. Baju lusuh tanpa alas kaki, tubuh kotor, dan rambut yang carut-marut. Sesak dada ini melihatnya menadahkan tangan pada siapa saja yang lewat. Tak pelak air mata ini berlinang ketika melihatnya mendapatkan perlakuan buruk. Semakin sesak terasa untuk bernapas saat melihat bocah kecil itu menuju tempat pembuangan sampah, mengais sisa makanan yang tak sepatutnya dimakan lagi. Anak sekecil itu harus menantang kerasnya kehidupan dunia fana ini. Apakah ini yang dinamakan keadilan? Ya, kata itulah yang dirasakan dan dipertanyakan oleh seorang lelaki paruh baya berbaju kumal yang tak lain adalah Adipati Rajalela.

Anak kecil itu tak lain adalah Bayuputra. Seperti apa yang dikatakan oleh Adipati Rajalela kemarin mengenai tugasnya, yaitu "Bersikaplah seperti biasanya, jangan melakukan hal yang mencolok." Ya, saat ini ia sedang melakukan tugas dari gurunya: menyebarkan setiap helai kertas kepada setiap pedagang dan berusaha mengumpulkan anak muda sepertinya.

Setelah makan di tempat biasanya, Bayuputra segera beranjak mendekati salah seorang pedagang kain yang sedang melamun. Tangan kecilnya masuk ke dalam baju dan melemparkan sebuah kertas ke pangkuan pedagang itu. Tentu saja pedagang itu terkejut.

"Akh!"

"Ada apa?" bentak penjaga pasar yang tak lain anggota Nawa Awatara.

"Anak ini mengagetkanku," jawab pedagang itu ketakutan, menjawab hal yang tidak sebenarnya setelah mendapat kedipan mata dari Bayuputra.

"Awas, sekali lagi kau berteriak..." penjaga yang berkumis dan berjenggot lebat berbaju hitam bersulam piramida berantai itu memperingati sambil berbalik dan bercakap-cakap lagi dengan kawan-kawannya, tentu saja ditemani seorang gadis.

Pedagang yang berwajah bundar dan bertubuh kurus kering itu segera pura-pura memeriksa barangnya, padahal sebenarnya ia membaca surat kertas itu. Wajah pedagang itu berseri-seri. Mengapa? Sebab awal kebangkitan masa akan dimulai. Meski mereka tak mengetahui siapa pemimpin penggeraknya, sandi "AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG, AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH" bukanlah sandi yang asing. Sandi itu sudah akrab di telinga mereka, sandi yang berani menantang Organisasi Nawa Awatara.

Selain sandi di atas, juga terdapat tiga rangkaian ilmu silat mendampingi surat itu. Di atasnya terdapat goresan indah yang penuh seni. Adapun goresan pena itu adalah: "Aku kirimkan salam persatuan untuk keadilan di seluruh tanah Jawa. Jadilah orang cerdik dan bersabarlah hingga tanda kemenangan dibunyikan."

Adapun tiga rangkaian ilmu silat itu adalah Ajian Pancasona, Saepi Angin, dan Saepi Geni. Dengan cepat ia memasukkan surat itu ke balik bajunya. "Jadilah cerdik," itulah yang saat ini ia lakukan, sengaja menyembunyikan setiap perubahan yang terjadi untuk mengelabui setiap mata liar yang berkeliaran.

Mata yang berbinar itu berpaling, dilihatnya beberapa temannya melakukan hal yang sama dengannya. Tak ada yang berubah di pasar itu, hanya bibir dan raut wajah saja yang berubah menjadi sebuah garis tipis melengkung ke atas, memamerkan sederetan gigi yang beragam bentuknya. Sejak saat itulah, banyak ilmu yang dikuasai penduduk biasa selain dari para pendekar silat. Tiga ilmu hebat telah menyebar dalam kehidupan masyarakat.

Bayuputra terus berjalan hingga ia tiba di depan seorang lelaki paruh baya yang telah mengubah kehidupannya. Mimpi pun ia tak menyangka bahwa orang di depannya dulu adalah seorang raja.

"Kau sudah melakukan tugasmu, Bayu?"

"Sudah, Guru."

"Kau mau ikut bersama Guru menjelajahi desa lain atau tetap di sini mempelajari ilmu yang sudah Guru ajarkan?"

"Ikut," Bayuputra manja seraya memeluk lengan Adipati Rajalela. Dengan beriringan, keduanya menyusuri hutan. Tak ada yang memedulikan mereka; apakah yang harus dipedulikan untuk ukuran dua orang gembel yang lusuh dan dekil? Nawa Awatara sudah membentangkan sayapnya ke mana-mana hingga mereka merasa organisasi yang sudah sukses dan berhasil. Maka, itulah kesalahan pertama mereka. Yang kedua adalah tidak pernah memandang sebelah mata pun kepada kaum jembel dan rakyat biasa, sehingga mereka dapat memanfaatkan kesalahan-kesalahan kecil menjadi lorong-lorong yang dapat dijadikan jembatan.

"Angin semilir berhembus ke gunung."

"Gunung bergoyang, lahar menggelegak."

"Srettt! Jleeg!" Seorang pemuda menghadang di depan Adipati Rajalela.

"Selamat, Yang Mulia, Anda sudah menyelesaikan tugasmu."

"Terima kasih sanjunganmu, Angkara. Di mana Yumi?"

"Ia sedang masak hasil buruanku. Mari ke sana, kita makan dulu."

"Heem, begitu lebih baik."

Dengan mengapit tangan Bayuputra, Adipati Rajalela melesat bersama Angkara menyusuri hutan yang lebat. Seperminum teh kemudian, mereka sudah dapat mencium harumnya daging panggang yang lezat.

"Waaah... sepertinya enak," Adipati Rajalela berseloroh. Angkara tertawa, sedangkan Bayuputra menelan air liurnya; sudah lama ia tak dapat merasakan nikmatnya daging.

"Jleeeg!" Ketiganya mendarat di bumi disambut sebuah senyuman manis, senyuman yang lembut membuat siapa pun yang melihatnya terpaku, tak terkecuali Bayuputra. Seorang gadis berbaju merah muda dengan menyoren pedang asyik membalikkan masakan; ia adalah Yumi.

"Wah, kebetulan sekali, Yang Mulia, daging sudah matang!" Yumi tertawa lembut mengalun di dalam kesunyian hutan yang lebat.

"Hehe... kalian berhentilah memanggilku Yang Mulia. Saat ini aku bukan lagi seorang raja, tapi aku adalah seorang ksatria, ksatria yang akan meminta haknya dari tangan kotor yang mengaku sembilan dewa!"

"Semangat yang bagus... lalu apa yang harus kami panggil?"

"Adi, itulah nama yang aku banggakan, nama yang diberikan oleh ketua," jawab Adipati Rajalela.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment