Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 74

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 74

"Ekh, Yang Mulia?" Bayuputra terbelalak.

"Apakah Guru adalah Raja dari tanah ini?" timpalnya lagi.

"Itu dulu..., dulu sekali. Sudahlah, Bayu, lupakan hal itu," jawab Adipati Rajalela.

"Ah, aku melupakanmu, Adik. Siapakah namamu?" Angkara bertanya pada Bayuputra.

"Bayu, Kang. Bayuputra."

"Nama yang bagus... Ayo makan." Angkara menyodorkan paha kijang itu kepada Bayuputra yang diterima dengan senang hati dan tangan terbuka.

Bagai kesetanan, ia makan daging itu dengan kecepatan kilat. Sebentar saja paha kijang itu telah habis. Yumi tertawa, ia menyodorkan satu paha yang lain, yang juga disambar Bayuputra dengan gembira.

"Bagaimana dengan tugas kalian?" Adipati Rajalela bertanya, memecah kebisuan di antara mereka.

"Kami belum melaksanakannya. Kami hanya melakukan tugas kecil saja dahulu," Angkara menjawab.

"Jadi, kalian sekarang akan pergi ke Perguruan Golok Harimau?"

"Yah...."

"Aku harap kalian jangan melakukan hal yang di luar rencana. Bila keadaan darurat dan sedikit melenceng dari rencana, lekas kabarkan yang lain."

"Kami tahu... Oh ya, tolong kabarkan bahwa sekelompok orang bertopeng Rajawali dan Serigala telah membantai markas cabang mereka di Gunung Jamurdipa (sekarang Gunung Slamet)."

"Heh... Ternyata itu yang kalian bilang dengan tugas kecil?"

"Hahaha," Angkara tertawa sambil mengangkat buntalannya, "Kami duluan...."

Wuss! Dua sosok itu menghilang begitu saja. Tak heran, itu merupakan salah satu jurus peringan tubuh aliran ninja.

"Hebat!" tanpa sadar Bayuputra berteriak.

"Haha... Berlatihlah dengan giat, maka kau akan bisa melakukan hal demikian itu."

"Apakah Guru lebih hebat dari mereka?"

"Saat ini belum, sebab mereka adalah murid sekaligus sahabat ketua langsung."

"Ketua? Siapakah dia, Guru? Apakah dia hebat?"

"Ia imbang dengan Ketua Nawa Awatara!" jawab Adipati Rajalela jujur.

Mata Bayuputra membulat sebulat gundu. Ia kaget sekaligus heran. Melihat itu, semangat juangnya berkobar. Maka dari itu, suatu saat nanti ia yang akan menjadi Raja di tanah Jawadwipa menggantikan Adipati Rajalela, namun itu masih nanti, bukan sekarang.

Puncak Sapto Argo (Gunung Salak) merupakan sebuah gunung yang sangat tinggi, curam, serta berbahaya. Batu-batu cadas menghiasi seluruh puncak gunung di samping jurang yang tak terhingga dalamnya, sedang jalan yang menghubungi tempat itu pun hanya ada satu: jalan setapak. Sebaliknya, pada lereng gunung banyak terdapat sungai serta air terjun yang penuh dengan batu cadas tajam di samping pusaran air yang amat dahsyat. Perahu yang berani melayari tempat itu tak lebih hanya mencari mati saja.

Saat itu tengah malam, bulan purnama yang berada jauh di tengah awan menyinari seluruh jagat dengan terangnya. Suasana saat itu begitu sunyi serta tenang, hanya terlihat mengalirnya air sungai mengisi keheningan malam yang semakin kelam, tak ubahnya seperti irama surga membelah bumi.

Tiba-tiba, di tengah keheningan malam itu, dua sosok manusia menembus kegelapan. Siapakah mereka? Tak ada yang tahu sebab tubuh mereka memakai pakaian serba hitam. Satu sosok memakai topeng Serigala, sementara yang satunya lagi memakai topeng Rajawali. Dua sosok itu terus menerjang ke puncak hingga mereka menemukan sebuah padepokan silat. Mereka melihat pintu padepokan tertutup rapat, tembok yang tinggi dan kekar. Di sampingnya terdapat patung harimau dengan kepala ditembus golok menyilang. Di pintu itu tertulis sebuah peringatan, "Masuk Mati, Keluar Juga Mati".

Kedua sosok itu melompat setinggi lima tombak dan berdiri di atas tembok pintu padepokan. Jika tak memiliki ilmu peringan tubuh yang luar biasa, mustahil dapat melakukan itu. Ketika berada di atas tembok, tampak halaman padepokan itu begitu luas. Di dalam halaman itu juga terdapat banyak bangunan yang berderet-deret, paling sedikit ada ratusan petak. Meskipun halaman Padepokan Golok Harimau sangat luas, namun di dalamnya begitu sunyi akan kehidupan. Mata si topeng Serigala berkilat tajam. Ia melirik si topeng Rajawali dan melesat masuk ke dalam salah satu bangunan di situ.

Dalam pendopo salah sebuah ruangan, duduklah tujuh orang lelaki kekar dengan pakaian hitam bergambar harimau ditembus dua golok yang menyilang. Salah seorang di antara mereka ada yang memakai baju putih dengan gambar serupa. Mungkin dia adalah salah satu pemimpin pengganti Ki Bedu, hingga jumlah mereka ada delapan orang. Orang yang berbaju putih itu berusia kira-kira lima puluh tahunan. Tubuhnya sedikit gemuk, sinar matanya begitu tajam luar biasa, jelas merupakan seorang yang memiliki tenaga dalam hebat. Orang-orang yang ada di situ menunjukkan mimik serius, seakan-akan sedang berhadapan dengan musuh hebat. Sinar lilin di tempat itu begitu muram, apinya berdiri bergoyang dipermainkan angin. Berlainan dengan orang yang lainnya, meski sedikit tegang, namun lelaki berbaju putih itu sikapnya begitu tenang seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Ketua, apakah kita akan berdiam terus seperti ini?"

"Huh, sampai sekarang aku sudah ingin melakukan suatu tindakan, namun aku takut malah mengorbankan nyawa yang sia-sia. Nawa Awatara terlalu hebat untuk kita, apalagi sekarang kita sudah terputus dari dunia luar. Sungguh cerita yang sangat menyedihkan..."

"Huff... Ketua, bagaimana bila kita bergabung dengan empat perguruan lainnya? Aku yakin kita bisa mengalahkan mereka."

Ketua Perguruan Golok Harimau yang bernama asli Arjuna Arkana berpikir dahulu sebelum menjawab. "Nawa Awatara telah menculik ketua lima perguruan dan beberapa orang gagah dalam dunia persilatan, sehingga orang-orang persilatan tidak dapat membalaskan dendamnya. Sebelum kita yakin benar akan kemampuan kita untuk menindas Nawa Awatara, sebaiknya kita jangan bertindak secara gegabah."

Cadudasa, yang merupakan salah satu tetua dalam Perguruan Golok Harimau, mengeprukan tangannya dan berkata, "Selama hampir tiga tahun kita selalu dihina habis-habisan oleh Nawa Awatara keparat itu. Rasanya aku tidak sanggup lagi menahan kesabaran. Kalau kita tilik keadaan dunia persilatan yang kacau, orang-orang gagah dan ksatria telah menemui ajalnya, sebaliknya kawanan penjahat berkeliaran begitu saja. Wanita seperti sampah, lelaki seperti kerbau, sungguh hati merasa begitu miris. Keadilan dan kebenaran diinjak-injak. Apakah kali ini kita akan terus berdiam diri dan berpeluk tangan saja? Kita tak bisa bersabar lagi. Meski jiwa melayang, kita tetap harus menggempur perkumpulan keparat itu." Dengan emosi menyala-nyala, Cadudasa menjelaskan pendapatnya, dan kemudian ucapan itu diiringi cucuran air mata.

Semua orang yang ada di situ merasa terharu dan panas hatinya, semua mengepalkan tinju dan sudah ingin bertindak. Arjuna Arkana menghela napas panjang, tapi sebelum berkata, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Ketika semua mata memandang, ternyata berjumlah tiga orang. Tiga orang itu berdiri berbaris, sikapnya sangat jumawa. Semuanya mengenakan pakaian serba hitam bergambar piramida berantai, badan mereka semua kurus kering, wajahnya pucat kuning bagaikan sosok mayat hidup.

Orang yang berdiri di sebelah kanan, di jidatnya tergores luka yang cukup serius bekas senjata tajam. Orang itu membawa pedang sepanjang dua depa. Dia adalah orang yang dahulu dikenal sebagai Iblis Kuburan, nama aslinya adalah Baswara. Yang berdiri di tengah memiliki alis yang bercabang dengan mulut bersiung, ia membawa golok besar, dia lebih dikenal dengan Mayat Beralis Cagak, Hadasa. Yang berdiri di sebelah kiri, hidungnya melengkung seperti betet, matanya bersinar licik seperti tikus. Orang itu membawa trisula sebagai senjatanya, dia berjuluk Mayat Bersula Tiga yang bernama asli Gandewa. Mereka merupakan tiga utusan dari Nawa Awatara yang ditugaskan untuk menjaga agar Perguruan Golok Harimau tidak membentuk kekuatan yang dapat meruntuhkan Nawa Awatara.

Baswara menatap Ki Arjuna Arkana sejenak, lalu berkata dingin, "Hemm... Kalian manusia tak tahu diri, berapa kali aku memperingatkan kalian untuk tidak melakukan pertemuan seperti ini selagi kami bersenang-senang."

Sehabis berkata demikian, tiga orang itu masuk dengan langkah lebar ke dalam ruangan itu. Menyaksikan itu, Cadudasa merasa geram, bentaknya, "Bagus, kedatangan kalian tepat sekali... Aku memang sedang ingin membunuh kalian. Ingin sekali aku meminta pengajaran dengan ilmu kalian yang hebat!"

Cadudasa mencabut goloknya, lalu melancarkan tiga kali serangan kepada Baswara. Melihat itu, tak ada pilihan lain lagi bagi Arjuna Arkana, segera saja ia mencabut goloknya dan ikut menerjang yang lain. Melihat ketuanya sudah bergerak, enam orang lainnya juga serentak mencabut golok dan mengeroyok Mayat Bersula Tiga. Tak pelak lagi, pertarungan itu segera dimulai. Entah ilmu apa yang digunakan Baladewa sehingga serangan hebat dari Cadudasa dapat dielakkannya dengan mudah, dan membalaskan serangan dengan tak kalah hebatnya. Serangan itu begitu hebat dan keji.

"Traang!" senjata mereka beradu, tangan Cadudasa bergetar hebat. Sepertinya tenaga dalam yang ia miliki tak sebanding dengan kemampuan Baswara.

Ketiga utusan Nawa Awatara menghadapi serbuan Arjuna Arkana dan lainnya seperti seorang panglima menghadapi sekumpulan prajurit. Jeritan dan keluhan bergema, ternyata beberapa di antara mereka ada yang terkena serangan dari ketiga utusan itu. Sebentar saja, murid-murid utama Perguruan Golok Harimau terluka kurang lebih tiga orang. Lama-kelamaan Arjuna Arkana sadar bahwa kemampuan mereka bukan tandingan lawan, mereka semakin terdesak...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment