Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 75

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 75

Siapa pun yang terdesak pasti akan melawan. Seperti anjing yang menggigit karena ekornya terinjak atau banteng ketaton, Arjuna Arkanta menyerbu ketiga utusan itu dengan segenap tenaga. Setiap serangan yang ia lancarkan dipenuhi kemarahan hebat. Bisa dibayangkan betapa dahsyat serangan seorang ketua perguruan besar; serangannya begitu liar dan buas seperti harimau yang mengincar mangsa. Serangan itu terus mengincar bagian tubuh Hadasa, sehingga sehebat apa pun Hadasa, ia tetap terdesak menghadapi serangan yang mengalir deras itu.

"Akkkkhhhhh... Ukhhh... Brukkk!" Arjuna Arkanta kaget bukan main saat melihat murid-murid dan tetua Cadudasa ambruk terluka. Akibatnya, ia menjadi lengah ketika Hadasa menyelonongkan golok besarnya ke perut Arjuna Arkanta yang terbuka. "Bretttt!" Untung saja Arjuna Arkanta adalah petarung berpengalaman sehingga serangan itu dapat dielakkan dengan tergesa-gesa meski bajunya robek cukup lebar.

"Kalian memang sudah bosan hidup!" bentak Baswara dengan geram sambil menyabetkan pedangnya hendak membelah tubuh Cadudasa. "Srettttt!" Cadudasa memejamkan mata dengan pasrah, ia yakin kehidupannya akan berakhir. Namun, manusia bertindak dan Tuhan memiliki rencana lain. Pedang yang hendak membelah tubuh Cadudasa itu tiba-tiba terbentur senjata logam.

"Traaannnnkkkkk.... Klontrang!"

Baswara kaget bukan kepalang. Ia yakin seseorang yang memiliki kekuatan sangat hebat baru saja muncul. Cadudasa yang hampir menghadapi ajal juga tak kalah terkejut; ia heran namun merasa gembira.

Matanya terbuka, ia melihat dua sosok manusia berbaju hitam bertopeng Serigala dan Rajawali yang berlumuran darah tersinari cahaya obor.

"Hehehe..." Seseorang yang bertopeng Serigala tertawa dingin.

"Siapa kalian? Lancang sekali mengganggu tugas kami! Apa kalian tidak mengetahui siapa kami?" bentak Hadasa geram. Pertarungan antara dirinya dan Arjuna Arkanta terhenti setelah senjata Baswara terkena lemparan benda logam berbentuk bintang.

"Aku adalah Serigala Neraka, utusan yang akan menggerogoti kalian, makhluk-makhluk hina dari Nawa Awatara," jawab orang bertopeng Serigala dengan dingin.

Ketiga utusan dari Nawa Awatara tertegun. Baswara gusar dan membentak, "Kau sadar sedang berhadapan dengan siapa, keparat?"

"Ctekkk!" Manusia bertopeng Serigala menjentikkan jarinya. "Glutttuukkk!" Sebuah benda bulat dilemparkan oleh rekannya yang bertopeng Rajawali.

"Hihi... coba kalian buka oleh-oleh dari kami," ucapnya.

Meski tidak mengerti, si Mayat Bersula Tiga alias Gandewa membuka bungkusan itu. Perasaannya campur aduk saat melihat isinya; bukan barang, melainkan sebuah kepala berlumuran darah. Gandewa mengenali kepala itu sebagai kepala kepercayaan mereka yang juga bertugas di tempat itu, sekaligus sahabat mereka.

"Kau...." Gandewa menunjuk manusia bertopeng Serigala yang sedang menotok luka di tubuh Cadudasa.

"Bagaimana dengan oleh-oleh kami? Oh ya, semua teman kalian juga sudah aku antarkan ke gerbang kematian. Mengapa kalian tidak berterima kasih kepada kami? Mengantarkan mereka dengan membelah tubuh, memenggal kepala, dan meremukkan tulang bukanlah hal yang mudah," ucap manusia bertopeng Rajawali sambil terkikik, seolah membunuh adalah hal yang paling menyenangkan.

"Brengsekkk.... Hutang nyawa, bayar nyawa!" bentak Gandewa marah dan segera menerjang ke arah manusia bertopeng Rajawali.

Sambaran angin dari serangan Gandewa sangat hebat, cukup untuk melemparkan sebuah kursi di ruangan itu. Manusia bertopeng Rajawali memutarkan tubuh dan dengan gerakan tak terduga, ia membalas menyerang. Saat ia membalikkan tubuh, Gandewa maju lima langkah dan bertumbukan dengan serangan lawannya.

"Duaaarrrr!" Dua buah tenaga sakti beradu hingga membuat ruangan itu porak poranda. Benda dalam bungkusan yang tadi hanya diketahui Gandewa menggelinding keluar, membuat orang-orang di sana terperanjat karena kini mereka tahu alasan dua orang itu bertarung.

Manusia bertopeng Rajawali tidak terdorong mundur seperti Gandewa yang terjajar lima langkah ke belakang; hanya tanah yang diinjaknya amblas sedalam dua inci. Dalam ruangan itu terdapat tiga perasaan yang beradu: pihak Gandewa gusar bukan kepalang, pihak Arjuna Arkanta gembira tak terkira, sementara pihak manusia bertopeng tidak terlihat emosinya sama sekali.

"Adi Gandewa, kita bantai mereka tanpa ampun!" geram Baswara sambil menerjang ke arah manusia bertopeng Serigala.

"Hiaaatttt!" "Tranggg!" "Buk!" "Blaaarrrr!" "Hoeeekkk!"

Ternyata Baswara menyabetkan pedangnya secara horizontal di depan dada, namun dipapaki dengan mudah oleh manusia bertopeng Serigala. Ia melakukan tangkisan atas dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya melancarkan pukulan sangat keras. Namun, sepertinya itu belum cukup. Ia melanjutkan dengan tendangan pada kaki kanan serta dorongan tangan kanan yang telah diputar sedemikian rupa untuk menghimpun tenaga secara cepat.

Gerakan kedua ini dahsyat luar biasa. Debu-debu bertebaran seolah terkena badai. Orang-orang di sana terpaksa menutup mata dan mengerahkan energi pelindung tubuh dari kayu dan debu yang beterbangan akibat hawa yang terpancar dari setiap gerakan manusia bertopeng Serigala itu. Gerakan tersebut dahsyat karena merupakan jurus Ksatria Membabat Angkara.

Tubuh Baswara meledak berkeping-keping terkena jurus itu, darah bermuncratan ke mana-mana. Pertarungan berhenti. Hadasa dan Gandewa tertegun, baru kali ini mereka melihat jurus sedahsyat itu yang membuat kawan mereka hancur berkeping-keping. Tubuh Arjuna Arkanta dan yang lain bergetar; bahkan murid utamanya sampai terkencing-kencing karena kaget melihat serangan yang membuat seluruh ruangan hancur berantakan seperti terkena tornado. Atap ruangan itu bahkan jebol tanpa bekas.

Melihat gelagat yang kian tidak menguntungkan, Gandewa dan Hadasa berniat menggunakan jurus terakhir: Jurus Langkah Seribu. Namun, pikiran itu ditebak dengan mudah oleh manusia bertopeng Rajawali.

"Hihih... sudah terlambat kalian berniat melarikan diri. Nyawa kalian sudah tercatat di neraka. Sekarang giliranku untuk membawa kalian ke alam kelanggengan," ucap manusia bertopeng Rajawali dengan dingin.

Ia segera memasang kuda-kuda dan melancarkan tendangan ringan ke bawah yang ditujukan kepada lutut Gandewa. Gandewa tidak menyangka serangan itu karena dikaburkan dengan gerakan serangan pada kedua tangan.

"Krakkkk!" "Akhhrrgg!" Gandewa menjerit sebab lututnya remuk. Belum sempat ia berpikir, manusia bertopeng Rajawali menurunkan kaki kanan dan menggeser maju dengan cepat, diiringi tamparan serta bacokan tangan lainnya. Gandewa berusaha menangkis, namun serangan itu begitu lunak dan licin.

"Jelegaaarr....." Bukan serangan tangan yang menggelegar, melainkan kilat putih menyambar tajam tubuh Gandewa. Tanpa ampun, Gandewa mati dengan tubuh gosong tersambar kilat. Benar-benar serangan aneh; perpaduan jurus Bumi dan Langit Merindu dengan Guntur Menyalak Pencakar Langit.

Hadasa yang tertinggal sendirian bukannya takut, malah semakin geram. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, ia menghantam ke depan.

"Duaaaarrrrrr!" Serangan jarak jauh itu dipapaki langsung oleh manusia bertopeng Serigala tanpa kembangan jurus, hanya sebuah lontaran ke depan. Bau busuk dan panas bercampur dingin menyebar hingga dinding ruangan ambruk. Pertarungan itu luar biasa; tenaga sakti Tunggal Menjadi Kosong telah menunjukkan taringnya, sehingga membuat aliran tenaga Mayat Seribu Bangkai dapat ditolak mentah-mentah.

Manusia bertopeng Serigala mendengus dingin. Tubuhnya melesak sebatas lutut ke dalam tanah, sementara lawannya terbang menabrak dinding ruangan dan terus terlempar hampir sejauh lima belas tombak. Setelah mendarat, ia muntah darah segar dan tergeletak tewas.

Manusia bertopeng Serigala mengedarkan pandangan menggunakan ilmu khusus dari aliran ninja. Setelah memastikan situasi aman, ia membuka kedoknya. Seraut wajah tampan muncul; ternyata dia adalah Angkara. Secara bersamaan, manusia berkedok Rajawali juga membuka kedoknya, memperlihatkan wajah gadis cantik berwajah kekanak-kanakan dan bermata sipit. Dia tidak lain adalah Yumi.

Arjuna Arkanta terkejut melihat para penolongnya merupakan sepasang anak muda.

"Akh..... Kalian, Pendekar Kijang Berbaju Cokelat dan Gadis Cantik Bidadari Surya!" seru Cadudasa yang mengenali keduanya.

Angkara dan Yumi tersenyum. "Maafkan kami yang datang terlambat sehingga di antara kalian ada yang terluka," ucap Yumi berbasa-basi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment