Chapter 76
"Kalian terlalu sungkan. Bila tak ada kalian, kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kami. Sepatutnya kamilah yang berterima kasih. Tapi, mengapa kalian memakai topeng?" Arjuna Arkanta mewakili.
"Apakah Anda yang bernama Arjuna Arkanta?" sela Angkara.
Arjuna Arkanta mengangguk membenarkan.
"Syukurlah. Ketua kalian, Ki Bedu, memang sedang dalam perjalanan kemari. Dia memintaku untuk menyampaikan bahwa seluruh murid perguruan diungsikan ke ruangan khusus ketua di ruang rahasia sampai mendapatkan kesempatan yang pas untuk muncul."
"Ah, Ketua masih hidup?" teriak Arjuna Arkanta histeris.
Angkara meletakkan telunjuknya di bibir, lalu menunggu kata dari Yumi yang hendak bicara. "Menurutmu, bagaimana cara yang paling tepat untuk menghilangkan jejak?"
"Jangan risau, Ketua sudah mempersiapkan sebuah rencana untuk kita. Mohon engkau bebaskan murid yang berada di penjara sekarang!"
"Hai," jawab Yumi sambil menggunakan ilmu yang bernama Jinsut dan menghilang tak ketahuan rimbanya di hadapan setiap orang yang bahkan belum sempat berkedip.
"Bantu aku mengangkut mayat," kata Angkara. Ia meninggalkan ruangan. Tanpa kata, delapan orang itu segera mengikuti Angkara yang berjalan ke arah sebuah ruangan.
Pada awalnya, Arjuna Arkanta menolak muridnya yang sudah mati dibiarkan tergeletak bersama mayat-mayat Nawa Awatara. Namun, ia mau tak mau menurut ketika Angkara menjelaskan rencananya. Ternyata, Angkara bermaksud membuat skenario peperangan. Dengan mengatur mayat sedemikian rupa, terlihat seolah-olah telah terjadi pertarungan yang dahsyat. Dengan ilmunya, ia membuat beberapa bagian padepokan hancur. Beberapa mayat tampak terbakar, menggambarkan bahwa kedua pihak telah gugur bersamaan; tak ada saksi, tak ada jejak yang tertinggal. Makanan berserakan di lantai seolah-olah tempat itu sudah tak berpenghuni. Rencana yang cukup hebat dan menarik.
Sebenarnya, bagaimanakah caranya ia datang ke pendopo pertemuan dengan membawa kepala? Beginilah rincian jalan ceritanya.
Kedua manusia bertopeng Serigala dan Rajawali—atau kita panggil dengan sebutan Angkara dan Yumi—melesat menuju salah satu ruangan. Di sana mereka menemukan beberapa anggota Nawa Awatara sedang berpesta pora meminum tuak; wajah mereka sudah sendu karena mabuk. Tak lupa, ada beberapa wanita yang sudah berumur dan gadis yang sebelumnya merupakan murid dari Golok Harimau.
"Cih," Yumi atau si topeng Rajawali mendengus.
"Dinda, pergilah ke ruangan lain di tempat ini dan bantai mereka."
"Baik, Kanda." Yumi melesat bagai bayangan menggunakan ilmu peringan tubuhnya. Angkara atau si topeng Serigala memasukkan tangannya ke balik baju. Dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melemparkan senjata berbentuk bintang atau biasa disebut shuriken.
"Wusss! Wusss! Jrub! Jrub! Jrub!"
"Akhhh!" Jeritan menyayat bersahut-sahutan. Kurang lebih delapan dari sepuluh orang itu mati dengan tubuh tertembus shuriken. Jeritan ketakutan pun pecah dari para wanita.
Dua orang lainnya yang sepertinya merupakan pemimpin membentak, "Siapa kau?"
Angkara diam saja. Ia memperhatikan wajah orang itu; ternyata wajahnya sangat buruk, bibirnya sumbing, hidungnya grumpung, dan rambutnya kusut masai.
"Hahaha, tampangmu mirip sekali dengan lubang pantatku," Angkara tergelak mengejek. Saat tertawa, ia merasakan sambaran dahsyat dari belakangnya. Dengan cekatan, ia merunduk untuk menghindari serangan itu.
Sebagai kelanjutannya, Angkara mengalihkan pandangan ke arah kiri, tangan kirinya digerakkan ke samping bawah, sementara tangan kanannya diletakkan di depan pusar sambil menarik napas cukup panjang. Penarikan napas tersebut adalah cara pemantapan cadangan untuk gerakan yang panjang serta menambah potensi serangan. Dengan secepat kilat, ia mengayunkan tubuhnya dengan menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan kaki kanan pada sasaran. Ia mengalihkan posisi dalam putaran tubuh ke kanan dengan sanggahan dua tangan, lalu berganti kaki kiri yang melakukan sapuan.
"Buk!"
"Akrrggg!"
Tubuh lelaki itu tumbang dengan perut jebol terkena sapuan kaki. Darah memancar bagai pancuran dan usus terburai keluar. Jeritan ngeri dari lelaki itu serta jeritan para wanita dan gadis yang melihat kematian sadis tersebut menggema. Tubuh Angkara berlumuran darah lawan, namun ia tak peduli. Matanya beralih kepada satu orang lagi.
"Ikkkhhh!" Lelaki itu merasa mual dan ketakutan yang hebat; mental dan nyalinya jebol melihat pembunuhan sadis itu. Ia hendak melarikan diri, namun saat membalikkan tubuh, ia merasakan ubun-ubun sampai pangkal pahanya dingin.
"Brukk!" Ia tumbang dengan tubuh terbelah menjadi dua bagian. Darah mengucur semakin hebat. Para wanita dan gadis yang menyaksikan terkejut, sebab mereka hanya melihat Angkara mengeluarkan pedangnya satu inci dari sarung lalu menyarungkannya kembali. Tak pernah terlintas dalam pikiran mereka melihat jurus pedang sedahsyat itu. Tak lain dan tak bukan, itu adalah jurus "Pedang Tunggal Melintang Jagad" dari jurus Tunggal Jagad, jurus yang diberikan Aram kepadanya.
Bagaimana dengan Yumi? Setelah menghilang dengan kemampuan khasnya, ia dapat masuk ke ruangan mana pun. Ia tak menemukan apa pun di sana hingga tiba di salah satu bangunan terakhir. Dengan ketajaman telinganya, ia mendengar rintihan, tangisan, dan deru napas yang memburu.
Dengan menggunakan jurus andalannya, Yumi masuk ke ruangan itu—ruangan terkunci yang terbuat dari besi. Namun, semua itu tak berguna di hadapan Yumi. Ia mendengus ringan, tanpa basa-basi mencabut pedangnya dan menusuk lelaki yang sedang asyik menindih perempuan di sana. Darah muncrat, namun Yumi tak peduli. Lelaki itu menjerit mengerikan, sedangkan perempuan itu menjerit ketakutan. Tak ada yang memedulikan jeritan itu sebab mereka menyangka itu adalah jeritan wajar orang yang mencapai kepuasan. Yumi segera menggunakan jurus andalannya untuk membantai yang lain; di ruangan itu ia membunuh hampir lima puluh orang. Yumi adalah seorang ninja; membunuh adalah pekerjaan sehari-hari. Menyusup tak ketahuan dan pergi tanpa meninggalkan jejak adalah ciri khasnya.
Dalam perjalanan menuju tempat tadi berpisah, Yumi menemukan sebuah ruangan penyiksaan dengan mayat bertumpuk. Di sana terdapat sepuluh anggota Nawa Awatara. Dengan langkah lebar, Yumi menemui mereka.
"Tep... tep..." suara langkah kakinya bergema.
"Siapa kau?" bentak salah seorang dari mereka yang terkejut melihat manusia berpakaian hitam dengan topeng Rajawali.
Yumi terus melangkah tanpa kata.
"Sreng... bret... glutuk!"
Kepala anggota Nawa Awatara itu menggelinding jatuh. Sebuah pedang panjang yang terselip di punggung Yumi telah meminta korban. Tidak salah, itu adalah salah satu jurus samurai yang dipelajari Yumi saat kembali ke desanya. Cepat dan ganas, itulah keistimewaan jurus itu. Murid dari Perguruan Golok Harimau bersorak atas kematian lelaki itu, yang menyebabkan kawan lainnya berpaling dan datang ke tempat itu.
Tak ada sinar ketakutan dari mata Yumi, hanya hawa pembunuhan yang memancar ke sekeliling. Bau anyir darah menambah keseraman di tempat itu.
Manusia bertopeng Rajawali itu menarik kaki kirinya ke belakang dan memasang kuda-kuda.
"Kau... kau membunuh teman kami!" bentak salah satu dari mereka yang memiliki jenggot sedagu.
Hasilnya, bentakan itu tak mendapat respons sama sekali.
"Nyawa bayar nyawa! Serahkan kepalamu!" teriak seorang perempuan menor berbaju hitam berantai dengan rambut digulung bengis sambil mencabut kipas dan menyerang.
Belum sempat kipas itu mengenai tubuh Yumi, kilatan putih tajam menembus perut wanita itu.
"Brukk!" Tubuh wanita itu terpotong dua di bagian pinggang. Kejadian itu membuat delapan orang lainnya marah dan geram. Berbarengan, mereka mencabut pedang dan menerjang.
"Shiatt!"
"Brett... brett!"
"Akrrhgggg!"
Jeritan menyayat bersahut-sahutan. Dalam seperminuman teh saja, semua anggota Nawa Awatara itu dibunuh oleh Yumi. Pakaian hitam Yumi tampak berlumuran darah hingga sebagian berubah warna menjadi merah. Tanpa menghiraukan murid Perguruan Golok Harimau yang berteriak meminta kebebasan, Yumi melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.
Setibanya di tempat tadi, tampak Angkara sedang membawa bungkusan.
"Kakang, apakah itu?" tanyanya.
"Oleh-oleh untuk yang di sana," Angkara menunjuk salah satu ruangan yang paling besar.
"Tampaknya di sana terjadi pertempuran?" tanya Yumi.
Angkara mengangguk. Dengan bergandengan tangan, keduanya melesat ke tempat itu. Kejadian selanjutnya seperti yang sudah kita bicarakan sebelumnya.
Selang dua hari kemudian, Ki Bedu tiba di padepokan itu. Ia disambut dengan sukacita; semangat yang padam kembali berkobar, sang lilin berubah menjadi obor.
"Bagaimana perjalananmu, Ki?" Yumi menyapa.
"Berkat arahan Ketua Aram, aku dapat melewati semuanya dengan lancar. Tak ada gangguan."
"Syukurlah kalau begitu! Ketua, kami sudah menyelesaikan tugas kami, maka dari itu kami mohon pamit undur diri." Yumi mengakhiri percakapan dan menghilang terbawa angin.
Ki Bedu berpaling, dilihatnya Angkara juga telah menghilang dari pandangan. Datang bagai angin, menghilang bagai kabut.