Chapter 77
Itulah salah satu ciri khas yang paling terkenal dari setiap anggota Bendera Awan Langit. Liar tak terkendali, cerdik bagai rubah, licin bagai belut, serta pandai menempatkan diri seperti tikus yang dapat masuk ke mana pun meski hanya melalui lubang sekecil lubang jarum. Asal moncongnya bisa masuk, badan yang begitu besar pun dapat masuk ke dalamnya. Bagi mereka, alam adalah sahabat, penduduk adalah telinga, dan angin adalah penyampai berita.
Awan berarak beriringan di langit yang kelabu. Matahari yang indah tertutup awan kelabu dan kelam. Langit terbatuk-batuk, merintih dengan air mata yang bercucuran deras. Dua orang pemuda tampak sedang tertawa di tengah guyuran air hujan; wajah mereka basah kuyup, namun mereka seolah tidak peduli. Mereka terus tertawa dan berlari seakan sedang berlomba.
Gunung Indrakila (Ciremai) adalah gunung yang terkenal akan keindahannya dengan sungai berkelok-kelok, jurang menganga, dan pepohonan yang tumbuh rindang. Di atas puncak gunung itulah terdapat sebuah padepokan yang terkenal di seluruh dunia sebagai Padepokan Rajawali Emas. Padepokan ini tersohor karena kemegahan dan kemewahannya. Di gerbang padepokan, terdapat dua patung rajawali yang sedang merentangkan sayap berwarna keemasan. Masuk ke dalam, terdapat sebuah aula pertemuan luas dengan rumput yang terpangkas rapi bak taman surgawi. Jika kalian pernah melihat singgasana dari emas, maka begitulah keadaan kursi singgasana tempat ketua duduk. Singgasana itu begitu rapi dan sarat akan keindahan dengan ukiran halus bergambar rajawali yang sedang mencari mangsa, tampak simetris dan rapi. Melirik ke kiri, Anda akan disuguhi sebuah bangunan indah dari batu yang tersusun megah.
Namun, semua keindahan itu terhapuskan oleh dua kelompok orang yang sedang bertarung di lapangan latihan. Pertarungan itu melibatkan sekelompok orang berbaju hitam melawan kelompok berbaju emas. Darah merah mengucur dari tubuh orang-orang yang tergeletak di atas tanah; korban berjatuhan. Entah sampai kapan pertarungan itu akan berhenti, cahaya senjata dan dentingnya berdering di antara derasnya hujan. Kecepatan sambaran golok dan pedang seakan sedang berlomba dengan kilat yang saling menyambar.
Di antara pertarungan itu, ada beberapa kubu yang terlihat menonjol, di antaranya pertarungan seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan dengan jenggot tipis di dagu. Rambutnya kusut masai diterpa air hujan, sementara keringat bercampur darah menetes dari pundaknya. Bajunya yang berwarna emas dan sabuk hijau tampak melekat di tubuhnya. Lawannya adalah seorang kakek bungkuk dengan tombak di tangan. Wajah kakek itu tidak jelas karena tertutup rambutnya yang sebahu. Pakaiannya hitam bergambar piramida berantai; jelas ia merupakan utusan dari Nawa Awatara yang bernama Abinhaya, atau lebih dikenal dengan julukan Si Kakek Bungkuk dari Gunung Sang Hyang (Dieng).
"Keparat Danenra, menyerahlah sebelum kesabaranku habis dan kami bantai habis kalian!" ancam Abinhaya.
"Cih... aku sudah bosan kau hina terus-terusan. Lebih baik mati berkalang tanah daripada harus menuruti perintahmu," jawab lelaki berbaju emas yang tak lain adalah Ketua Sementara Perguruan Rajawali Emas, Danenra.
Si Kakek Bungkuk dari Gunung Sang Hyang memandang wajah Ki Danenra dan berkata sinis, "Danenra, tahukah engkau bagaimana caranya aku akan membunuhmu?"
Ki Danenra mengertakkan gigi karena ia sudah merasa bulat dengan keputusannya. "Paling juga kau kuliti, tapi itu semua tak akan terjadi sebab aku yang akan membunuhmu duluan!" serunya.
Si Kakek Bungkuk dari Gunung Sang Hyang menggenggam tombaknya dengan kencang, kemudian berseru, "Soal itu harus dilihat kenyataannya!" Mata si kakek melotot, tampaknya ia sedang marah sekali. Kemudian ia menimpali, "Jika begitu, bersiaplah menghadapi malaikat kematian!"
Serempak dengan kata-kata itu, tangannya yang menggenggam tombak menebar dan menjadi puluhan bayangan, segera menerkam Ki Danenra. Walaupun tahu bahwa dirinya bukan lawan si kakek bungkuk, dalam keadaan seperti saat itu, tiada pilihan lain bagi Danenra kecuali harus melawan. Dia membabatkan pedangnya dengan sepenuh tenaga. Ujung pedang berhamburan bagai hujan paruh rajawali yang mencurah deras ke arah jalan darah mematikan di tubuh lawannya, sekaligus menangkis serangan tombak yang mencecarnya habis. Jurus permainan pedang itu benar-benar mengejutkan; serangannya yang disertai angin sambaran seperti sayap rajawali terdengar begitu menggiriskan.
"Trank! Ahhh!"
Kedua senjata beradu di udara. Tiba-tiba Danenra merasakan tangannya yang memegang pedang tergetar. Bukan saja seluruh gerakan pedangnya terhalang, ia juga terpaksa mundur tiga langkah dan menjerit kaget. Sementara itu, di sampingnya, seorang tetua dari Perguruan Rajawali Emas yang biasa dipanggil Rajawali dari Gunung Indrakila juga terdorong mundur. Ia sedang bertarung dengan sosok manusia aneh berbaju hitam bergambar piramida yang compang-camping. Wajahnya kusut masai dengan jenggot dan kumis menutupi seluruh wajahnya. Dahulu dia merupakan salah satu gembong dari Kalangan Hitam yang bergelar Si Kera Gila. Tak ada yang mengetahui siapa nama asli orang aneh itu.
Si Kera Gila tertawa dingin sambil mengayunkan tangannya. "Awas, jaga nyawamu!" Seiring dengan kata-katanya, tangannya segera mendorong ke muka. Rajawali dari Gunung Indrakila mengerahkan tenaga dalam dan menyambutnya.
"Bum!"
Terdengar letupan keras disusul dengan batu dan debu yang beterbangan ke empat penjuru. Air hujan menyibak dan air yang tergenang muncrat ke mana-mana. Rajawali dari Gunung Indrakila terhuyung-huyung mundur sampai tiga langkah, darahnya kontan bergolak keras. Si Kera Gila masih tetap tegak di tempatnya, hanya kakinya makin melesak ke dalam tanah.
"Ha ha ha, bagus... awas serangan keduaku!"
Rajawali dari Gunung Indrakila menyahut, "Huh, masih belum seberapa!" Saat itu pikirannya sudah tak dapat mundur dari tekadnya: mati atau hidup. Ia menyadari bahwa kepandaiannya belum mampu untuk menghadapi Si Kera Gila. Sebuah gelombang macam tsunami segera melanda dirinya, dan ia menghimpun dua belas bagian tenaga dalamnya untuk menyambut. Kembali terdengar ledakan yang lebih keras dari pukulan pertama. Rajawali dari Gunung Indrakila terhuyung sampai sembilan langkah ke belakang dan hampir rubuh. Dengan sekuat tenaga, dia menelan darah yang hendak muntah. Tetapi Si Kera Gila pun tersurut ke belakang sampai tiga langkah; tubuhnya berguncang-guncang dua kali.
Rajawali dari Gunung Indrakila tahu bahwa dirinya telah menderita luka dalam, tetapi ia berusaha keras untuk menahan diri. Si Kera Gila memandang lawannya sekian lama, kemudian tertawa keras, panjang sekali. Serentak ia menggerakkan kedua tangannya, tetapi tak terdengar suara apa pun. Rajawali dari Gunung Indrakila tak berani memandang rendah karena ia tahu lawan sedang mengeluarkan jurus pamungkasnya yang paling terkenal akan kedahsyatan dan keanehannya, yaitu "Pukulan Bayangan Kera Gila".
Adu tenaga sakti itu menimbulkan ledakan yang amat dahsyat. Bagaikan dihantam dengan berpuluh-puluh godam, Rajawali dari Gunung Indrakila tertatih-tatih ke belakang. Pandang matanya gelap, kepala berbinar-binar, dan tulang belulangnya serasa lepas dari sendi persambungan. Kakinya seperti patah berantakan.
"Hoeekk... hoekk!" Ia muntah darah.
"Wah, wah, benar-benar pertarungan yang asyik, benar begitu Luyu?" Sebuah suara yang halus namun jelas terdengar di telinga setiap orang yang ada di sana, mengomentari pertarungan hidup mati itu.
"Tentu, tentu... tapi tetap saja terlihat begitu monoton," jawab yang satunya lagi.
Gara-gara suara itu, semua orang menghentikan pertarungan dan melirik asal suara. Tampak di atas dinding setinggi lima tombak, dua orang pemuda sedang ongkang-ongkang kaki. Pemuda pertama berwajah tampan, berpakaian kuning dengan rompi terbuka. Tubuhnya berkulit bersih, lengannya kekar, dan kakinya kokoh. Rambutnya panjang sebatas pundak dengan ikat kepala kain putih. Ia tidak lain adalah Huru-hara.
Pemuda kedua berwajah biasa, berkesan lugu dan bodoh, namun juga terlihat tengil serta sok berani. Rambutnya panjang tipis diikat kain cokelat muda. Pemuda itu memakai pakaian serba hitam. Dia tidak lain adalah Luyu Manggala. Setelah berlari menyusuri hutan dan mendaki gunung, sampailah mereka di tempat itu. Melihat pihak Rajawali Emas semakin terdesak, Huru-hara memecah suasana.
"Hupp! Jlegg!"
Huru-hara turun ke lapangan dan berkata, "Hei, beginilah jika bersilat, bukan main dorong nggak jelas kayak tadi." Huru-hara pun memasang kuda-kuda. Wajah Si Kera Gila memerah mendapat sindiran. Huru-hara segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat, mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati.