Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 78

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 78

Entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya itu masih mendorong angin, namun entah dari mana datangnya, Aram memiliki dua tangan lagi yang mengayun menyamping pada tangan kanan yang diayunkan ke dalam dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan di depan dada. Perlahan, kedua tangan yang mendorong angin telah hilang, sambil menyelinapkan tubuh ke depan, tangan kiri melakukan suatu totokan yang cepat pada angin.

Lalu ia tegak mematung sambil cengengesan. Semua orang terpana, namun tak ada yang mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

"Hebat, hebat!" teriak Luyu Manggala dengan tampak ketololan, dan ia segera ikut memainkan jurus itu.

Semuanya tak ada yang paham dengan apa yang dilakukan keduanya hingga pada suatu ketika, "Wuurrrshhhh... Blaarrr... Crekk... crekk!" Gulungan angin tornado bergulung-gulung dari tempat di mana kedua telapak tangan Luyu dan Huru-hara mendorong angin. Berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus itu.

Diam namun bergerak, gerakannya kosong seperti tak berisi, namun memiliki sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah di tangan tanpa memasuki tiantan. Jurus itu dinamakan Ksatria Menolak Angin. Kebetulan atau apa namanya, Luyu dan Huru-hara mengarahkan telapak tangan mereka pada sekumpulan anggota Nawa Awatara. Maka tak pelak lagi, tubuh anggota Nawa Awatara itu berterbangan terhempas angin yang kuat bagaikan tornado.

"Akrrgghhh!" jeritan menyayat bersahut-sahutan mengiringi angin yang bercampur air hujan itu. "Blaarrr... brak!" Tubuh-tubuh itu ada yang hancur, ada yang patah, ada pula yang terhempas menabrak dinding batu yang keras atau terlempar ke dalam jurang.

"Hahah, plok-plok, hebat-hebat!" Seperti anak kecil saja Huru-hara dan Luyu Manggala bertepuk tangan. Tawa mereka berkumandang di pegunungan itu.

Di tempat itu kini berdiri empat orang lagi. Tampaknya mereka merupakan pentolan dari utusan Nawa Awatara. Mereka tak lain adalah Si Kera Gila, Si Kakek Bungkuk dari Gunung Sang Hyang, serta dua lelaki berkumis lebat berusia sekitar empat puluh lima tahun yang mengenakan pakaian rapi berwarna hijau dengan kerah leher tegak. Wajah mereka begitu sama, penampilan pun sama. Dalam dunia persilatan, mereka terkenal dengan nama Kembar tapi Beda. Yang tertua bernama Sengkalang dan adiknya bernama Sengkaling.

"Si Jagad Bulak-Balik dan Si Kerbau Dicocok Hidung," dengus Si Kakek Bungkuk dari Gunung Sang Hyang yang rupanya sudah mengenali mereka berdua.

"Eh, Bungkuk, mengapa tak sekalian kau bersujud saja di depanku?" ejek Huru-hara jenaka, yang membuat para murid Rajawali Emas tersenyum geli.

Merah padam wajah Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang. Sebelum ia bicara, ia didahului oleh Luyu Manggala yang tertawa dan berkata, "Eh, Hara... lihat kakek ini, kaya piaraanku..." Luyu Manggala menuding Si Kera Gila.

Segila-gilanya Kera Gila, mendapat ejekan itu ia geram juga. Menurutnya, dihina bocah ketololan seperti itu sama saja kehilangan harga dirinya. Ia menggeram ringan.

"Eh, Kakek, aku juga bisa marah kaya Kakek," ucap Luyu Manggala jenaka, tapi hanya sesaat. Secara tiba-tiba, wajah Luyu menjadi menyeramkan. Hawa membunuh mencekam di sekeliling tempat itu. Luyu Manggala menyeringai kejam. Kejadian itu terus berlangsung kira-kira seperminum teh lamanya, sampai tiba-tiba mulut Si Kera Gila mengeluarkan busa bercampur darah, dan terus semakin banyak. Tak begitu lama, ia ambruk ke bumi tanpa nyawa lagi.

"Yey, dia mati... Hara, dia mati aku pelototin, gerrr!" Luyu Manggala membuat wajahnya seseram mungkin dengan dipaksakan, yang malah membuat Huru-hara semakin terbahak-bahak. Sebenarnya itu adalah jurus Aura Kematian yang telah digubah Aram khusus untuk menambal wajah ketololan Luyu Manggala. Luyu Manggala menamakan sendiri jurus itu dengan nama "Muka Setan". Namanya sangat sederhana seperti pemiliknya, namun kegunaannya tidaklah sesederhana namanya.

"Nah, Luyu, kau mau memilih yang mau bersujud kepadaku ini, ataukah dua keledai yang mirip itu?"

"Ah, aku mau yang bersujud itu saja, habisnya dua orang itu menyeramkan, sih... hehe."

"Memangnya yang ini tidak seram?"

"Masa sih seram? Orang mau cium tanah ketakutan begitu saja seram... malah terlihat lucu." Begitulah keduanya malah saling bercanda tanpa menghiraukan orang yang dijadikan objek ejekan mereka.

Murid Perguruan Rajawali Emas sekuat mungkin menahan mulut mereka untuk tidak tertawa mendengar ocehan dua orang yang datang membantu mereka itu. Sungguh, baru mereka percaya mengenai kabar dunia persilatan akan kekonyolan dua ksatria yang diberi gelar Si Jagad Bulak-Balik dan Si Kerbau Dicocok Hidung—sebuah gelar yang lebih tepat disebut poyokan (hinaan).

"Kalian..." Tak sanggup lagi menahan kesabaran, Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang menerjang. Seperti orang yang tersandung, tampak Luyu Manggala dan Huru-hara terjatuh, namun serangan dahsyat Si Bungkuk dapat dielakkan dengan manis.

"Lihat, gara-gara kau aku jatuh!" bentak Huru-hara pada Luyu Manggala.

"Apa kau tak melihat aku juga jatuh gara-gara ulahmu!" elak Luyu Manggala. Ternyata dalam keadaan seperti itu pun mereka berdua masih terlihat main-main.

Merasa dipermainkan, Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang semakin geram. Dia mengamuk seperti banteng ketaton. "Wurrrsss!" Lidah api menyerang Luyu Manggala. Itulah Ajian Saepi Geni. Luyu Manggala berteriak sedih, "Seharusnya kita membawa kijang... lihatlah si pencium tanah ini mengeluarkan api dari tubuhnya, aku merasa lapar... ingin sekali aku memanggang kijang!"

"Haha... salahmu sendiri. Sudah aku katakan tadi sebelum kemari untuk berburu, namun kau malah memarahiku karena mana mungkin membakar kijang dalam keadaan hujan seperti ini," jawab Huru-hara di sela-sela sambaran serangan dua lawannya.

"Aku memang bodoh... bodohhh!" Luyu Manggala menyesal dan menangkap tangan Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang dengan sigap. Dengan kecepatan kilat, ia meraih kepala lawan dan tiga kali diadukan dengan kepalanya sendiri.

"Bwahahahah!" Para murid Rajawali Emas tak sanggup lagi menahan rasa geli yang menggelitik sanubari. Mereka tertawa terpingkal-pingkal, bahkan ada yang sampai membungkuk-bungkuk melihat pertarungan yang begitu lucu dan aneh.

"Huru-hara, Luyu, berhentilah main-main. Kalau sudah lapar, aku akan siapkan makanan untuk kalian," sebuah suara lain menggelegar di antara ributnya pertarungan dan lebatnya hujan. Ternyata, di tempat tadi Huru-hara dan Luyu berdiri, tampak seorang lelaki paruh baya berusia enam puluh lima tahunan dengan baju serba kuning keemasan yang sudah compang-camping. Ia adalah Bintang Endrayana, pewaris ketua generasi ke-124 Rajawali Emas.

"Ketua... Ketua!" teriakan kaget dari para murid Perguruan Rajawali Emas bersahut-sahutan. Mereka kaget, bingung, sekaligus berbahagia.

"Baiklah, Ki Bintang... kami akan pijiti mereka," jawab Huru-hara seraya menekuk silang kaki dengan suatu putaran tangkisan atas yang dilakukan oleh tangan kiri, sementara tangan kanannya melakukan pukulan yang sangat keras. "Blaaarrrr!" Dua buah tenaga sakti beradu di udara, tapi sepertinya itu masih belum cukup. Terbukti Huru-hara melanjutkannya dengan gerakan tendangan pada kaki kanan serta dorongan tangan kanan yang telah diputar sedemikian rupa untuk menghimpun tenaga secara cepat.

Bukkk... Oekkkk... Oekkk! Hanya setengah jurus dari Ksatria Membabat Angkara saja, Si Kembar tapi Beda kehilangan nyawanya. Namun, Huru-hara juga terpental dua langkah ke belakang karena ledakan tenaga saktinya sendiri.

Sementara itu, Luyu Manggala juga mulai mempergencar serangannya. Ia jongkok setengah badan untuk mengimbangi tinggi Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang. Si Bungkuk terkejut setengah mati, terutama ketika kepala mereka beradu dan Luyu Manggala berputar bagaikan gasing.

"Dreetttt! Akkrrgghhhhh!" Kepala Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang ikut berputar, darah memercik ke mana-mana, daging berhamburan. Angin dan air hujan bertebaran. Lumpur dan tanah tersibak. Kecepatan putar itu begitu dahsyat hingga tubuh Luyu Manggala dan Si Bungkuk tidak terlihat lagi.

Sretttt... Jleggg... Secara mendadak putaran itu berhenti. Tubuh Luyu Manggala berdiri dengan tenangnya, sedangkan tubuh Si Bungkuk dari Gunung Sang Hyang telah menghilang, menyisakan darah yang bertebaran. Itulah jurus yang dinamakan Bumi Berhenti Berputar.

"Aduh, pusing..." Luyu Manggala sempoyongan dan terlentang di atas hamparan lumpur. Huru-hara tertawa dan segera mengangkut tubuh itu. Ki Bintang Endrayana segera mempersilakan keduanya untuk memasuki salah satu ruangan tempat istirahat.

Rintik hujan semakin menghilang, geluduk sudah reda, menyisakan bau anyir darah. Jalanan yang becek semakin licin akibat pertarungan. Di dalam sebuah ruangan, dua orang sedang asyik mengobrol. "Kau lapar?" Luyu Manggala bertanya.

"Tentu... tentu saja aku lapar," jawab Huru-hara tersenyum.

"Kalau begitu, mari sini?" sebuah suara mengagetkan mereka. Di pintu masuk, ternyata Bintang Endrayana sudah berdiri di sana.

"Hehe," keduanya cengengesan. Sebenarnya, apakah yang sedang direncanakan oleh Aram? Mari kita tengok beberapa hari ke belakang. Pada waktu itu, ketika ia selesai menyatukan seluruh ilmunya, Aram memerintahkan kepada Ksatria Satwa beserta Adipati Rajalela untuk memasuki ruangannya. Setelah semuanya berkumpul, Aram segera membuka rapatnya.

"Kalian siap berkelana lagi?"

Ksatria Satwa tertegun, diam-diam semangat mereka berkobar bagaikan api yang membara. Dengan serempak mereka menjawab, "Yehaa!"

Mendapat sambutan yang begitu luar biasa, Aram tersenyum bangga. "Kalian sudah paham apa yang harus kalian lakukan?"

"Tidak," Adipati Rajalela menjawab tegas. Angkara nyengir sebab ia tahu Adipati belum mengerti jalan pikiran ketuanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment