Chapter 79
"Angkara, apa bunyi Siasat Rubah nomor tiga?"
"Pangkas pohon dari rantingnya agar tidak jatuh menimpa banyak korban."
"Siasat Rubah nomor lima?"
"Pohon jatuh tanpa suara lebih mematikan daripada pohon yang mengeluarkan suara bergemuruh."
"Siasat Rubah nomor enam?"
"Memukul di barat, menusuk dari timur, menikam dari selatan, membunuh dari utara."
"Siasat Rubah nomor tujuh?"
"Beri senjata kepada semut agar mengikis gula."
"Siasat nomor dua puluh lima?"
"Kaburkan kabar angin, tutup telinga musuh."
"Nah, sekarang kalian mengerti apa yang harus dilakukan?"
Angkara dan yang lain mengangguk paham, kecuali Adipati Rajalela Aram yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Angkara, bisa kau jelaskan kepada Ki Adi di lain kesempatan," ujar Aram.
"Tentu, aku berikan siasat nomor tujuh dan dua puluh lima saja, sebab itu yang paling mudah," jawab Angkara.
"Dan yang lain?"
"Kita selesaikan bersama-sama."
"Baiklah, aku sudah mengumpulkan segenap ilmu silatku menjadi satu, maka dari itu segera kita lakukan rutinitas sebelumnya."
Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, segera Ksatria Satwa membuat lingkaran dan berpegangan tangan.
"Yang Mulia, mari," ajak Amuk Samudera kepada Adipati Rajalela yang kebingungan.
Seperti biasanya, Aram selalu menggunakan ilmu yang disebut Memindahkan Pikiran dan Hawa untuk mengajari murid pilihan sekaligus sahabatnya itu. Ilmu Memindahkan Pikiran dan Hawa sebenarnya merupakan ilmu sesat dari golongan hitam, tapi Aram melatihnya dengan cara yang berbeda sehingga efek negatif dari ilmu itu hilang meski kegunaannya berkurang. Ilmu itu sebenarnya melatih kekuatan emosi lingkungan sekitar dengan memengaruhi otak masing-masing melalui sugesti; jika sedikit saja salah, hal itu bisa memengaruhi mental orang yang melakukannya.
Begitulah, malam itu juga Ksatria Satwa mulai berkelana dan diikuti ketua lima perguruan pada hari berikutnya. Di sebuah kaki gunung kecil di sebuah pulau yang dulu tak berpenghuni, yang sekarang diberi nama Pulau Anglep yang berarti elok, indah, dan molek, tampak sebuah panorama keindahan membentang di sepanjang pesisir pantai serta hutannya. Pulau itu memang pantas dinamakan demikian sebab sangat kaya akan cakrawalanya.
Di bawah air terjun yang indah itu, empat orang pemuda-pemudi berdiri tegap di antara karang yang mencuat di permukaan air. Mereka terdiri dari seorang pemuda dan tiga pemudi, yakni Aram, Thian Hong Li, Melati, dan Rismi Laraspati. Hari itu Aram mengikat rambutnya dengan kuncir kuda menggunakan kain biru; di atas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau. Ternyata, ia menyimpan kujangnya di sanggulan rambutnya. Di lehernya tersampir kain cokelat yang menambah ketampanan wajahnya, dan pakaiannya berwarna biru langit serasi dengan jubahnya.
Sementara itu, ketiga kekasihnya mengenakan pakaian berwarna biru laut sebatas dada yang menunjukkan lekuk tubuh mereka yang elok. Pinggang mereka tampak ramping karena mengenakan celana ketat berwarna senada. Pakaian itu dirangkap dengan jubah berwarna biru langit yang tidak dikancingkan bagian depannya. Jubah sutra tersebut menampakkan kesan mewah, sementara leher mereka yang jenjang dibelit selendang tipis berwarna putih.
"Kita berangkat sekarang!" Aram memecah kebisuan.
"Mari, Kakang," jawab mereka serentak.
"Pegang tanganku!" perintah Aram kepada Melati dan Thian Hong Li yang berada tepat di sisi kanan dan kirinya. Tanpa diperintah lagi, mereka menurut. Kaki Aram menjejak kuat pada batu dan meloncat ke atas. Ketika mencapai ketinggian lima tombak, tiba-tiba di kepalanya muncul lingkaran sihir. Itulah ilmu Penerobos Dimensi yang telah mencapai kesempurnaan. Tubuh Aram beserta ketiga gadis itu tertelan habis oleh lingkaran tersebut dan menghilang dari pandangan.
***
Desa Arkunorogo merupakan sebuah desa yang padat penduduk. Kedai-kedai mewah berjejer dan penginapan tersedia di berbagai tempat. Panoramanya indah karena terletak di dataran tinggi, dengan hamparan sawah tanpa padi serta aliran sungai yang berkelok-kelok bak gadis yang sedang menari.
Dalam pada itu, empat sosok manusia berjalan santai menuju desa tersebut. Mereka adalah Aram dan ketiga kekasihnya. Mereka berjalan dengan lagak seorang pangeran dan para permaisurinya, mata mereka memandang dengan angkuh. Sejauh mata memandang, tampak para gelandangan dengan tubuh kurus kering kerontang dan wajah sendu berlumuran debu. Sementara itu, para anggota Nawa Awatara memandang kedatangan rombongan itu dengan aneh sekaligus bahagia, sebab mereka melihat tiga gadis secantik bidadari di samping pemuda angkuh tersebut. Mata mereka melotot, dan liur bercucuran di sudut bibir.
Rismi Laraspati mendengus hina karena merasa dilecehkan. Tangannya yang putih mulus mulai memegang ujung selendang putihnya.
"Jangan hiraukan mereka!" Aram mengingatkan.
"Baiklah, Kakang. Ingin sekali kucolok mata mereka itu," gerutu Rismi Laraspati sambil menurunkan tangannya.
Aram diam saja, sementara dua gadis lainnya tersenyum. Senyum itu dianggap lain oleh para lelaki di sekitar sana. Sekitar dua puluh orang berjejer, dan mereka semakin menjadi-jadi dengan kata-kata kotor dan suara suit-suitan.
"Cantik, mari bergabung bersama kami. Aku jamin kalian akan merasakan nikmatnya dunia!"
"Hahaha, benar, Nona. Lihatlah, adik kami sudah berdiri menantikan belaian tangan halus kalian!"
Aram tidak sedikit pun memandang mereka; ia terus berjalan dengan angkuh.
"Jumawa sekali kau, bocah. Apa kau tak tahu siapakah kami ini?" Seorang lelaki berbaju hitam bergambar piramida mencegat. Wajah lelaki itu penuh dengan berewok.
Aram menghentikan langkah dan menatap lelaki itu dengan pandangan hina. "Kau sama sekali belum pantas menghadang tuanmu. Cuih!" Aram meludahi wajah lelaki itu.
Lelaki itu terkejut sekaligus marah. Namun, sebelum ia bertindak, ia merasakan air liur itu terasa panas menyengat wajahnya. Lelaki berewok itu semakin terkejut ketika air liur itu menetes pada brewoknya. Tiba-tiba, lelaki itu jatuh berdebam ke tanah dan kejang-kejang.
"Arghhh... grokk... grokk..." lelaki itu mengerang seperti orang yang sedang disembelih. Wajahnya mengepul seperti terbakar. Tak lama kemudian, ia berhenti kejang; wajahnya berubah mengerikan, dagingnya menghilang hingga menyisakan tulang belulang. Tangan yang memegang wajahnya pun bernasib sama.
Ketiga kekasih Aram menutup mata dengan ngeri, sementara kawan lelaki itu terkejut setengah mati. Tubuh mereka gemetar menahan murka.
"Kau membunuh kawan kami!" salah seorang pemuda menunjuk Aram. Belum sempat ia melanjutkan perkataannya, tubuh pemuda itu ambruk ke tanah dengan mulut menganga dan mengeluarkan buih putih. Ia sempat kejang sesaat sebelum akhirnya diam tak bernyawa.
Kawan-kawannya yang lain terkejut. "Racun... racun..." pekik mereka sambil berbalik hendak kabur. Namun, nasib mereka tidak semulus angan. Semua anggota Nawa Awatara yang ada di sana tiba-tiba ambruk tak bernyawa dengan mulut berbuih.
"Kakang, jurus apakah itu?" Rupanya sedari tadi Thian Hong Li memperhatikan gerakan tangan Aram, sehingga ia tidak heran dengan kematian orang-orang di sekelilingnya.
"Racun Pemusnah Jagad."
"Nama yang sedikit membuat bulu kuduk merinding," komentar Rismi Laraspati sambil memonyongkan bibir mungilnya.
"Sudahlah, ayo masuk," tegas Aram. Ia melangkah lebar menuju kedai terbesar di tempat itu. Aram kini menjadi pusat perhatian setiap mata yang memandang.
"Silakan masuk, Tuan, Nyonya," sapa seorang lelaki berpipi kurus dengan senyuman getir, antara takut dan gembira.
Aram tidak memandang lelaki itu; ia terus melangkah menuju meja yang kosong, lalu berkata kepada pelayan itu, "Siapkan makanan paling enak di tempat ini!"
"Ba... baik, Tuan," ucap lelaki itu ragu-ragu.
"Kurang ajar!" *Brak!* Aram memukulkan tangannya ke meja, lalu kembali memasukkan tangannya ke balik pakaian birunya.
Pelayan itu terbelalak. Ternyata, di tempat Aram memukulkan tangannya, tergeletak sebuah berlian sebesar kepalan jari. Pelayan itu melongo menatap berlian tersebut; pikirannya berkecamuk antara gembira, takut, kaget, dan heran. Pelayan itu berkaca-kaca, sebab sudah beberapa tahun ini ia tidak lagi melihat uang sepeser pun. Sejak kerusuhan akibat Nawa Awatara, ia tidak lagi mendapatkan keuntungan. Setiap hari ia berdagang, namun pelanggan hanyalah anggota Nawa Awatara yang datang tanpa membayar. Ia sadar, bila ia memilih menutup kedai, kematianlah yang menunggunya seperti teman-teman seprofesinya yang lain.
"Kau menunggu aku mati kelaparan di sini, hah?" Aram membentak, menyadarkan pelayan itu.
Pelayan itu terperanjat dan segera berbalik menuju dapur.
"Tunggu!" sebuah suara merdu menegurnya. Itu adalah Melati Adanya.
Pelayan itu tertegun dan bertanya, "Ada yang bisa saya bantu lagi, Nyonya?"
"Ambilah," ucap Melati sambil menunjuk gundukan berlian di atas meja.