Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 80

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 80

Pelayan itu dengan gemetar mengambil berlian tersebut. Keringat dingin mengucur di keningnya. Ia mengepalkan berlian itu seakan takut benda tersebut hanyalah khayalan. Kemudian, pelayan itu segera pergi menuju dapur untuk menyiapkan makanan.

"Sikapmu lucu sekali, Kakang... hihihi," Rismi Laraspati memecah kebisuan di antara mereka.

"Eng..." Aram tersenyum lembut menjawab komentar itu.

"Apa rencana kita selanjutnya, Engkoh?" Thian Hong Li bertanya dengan kening yang berkerut dalam.

"Membagi-bagi gula, lalu bertamu ke rumah sahabat kita."

"Maksudnya?" tanya Melati dan Rismi Laraspati serempak.

"Kita lihat saja nanti," ucap Thian Hong Li penuh kemenangan.

"Lihat, makanan sudah siap!" Aram mengalihkan pembicaraan.

Benar saja, dari pintu masuk dapur, dua orang pelayan masuk ke dalam ruangan dengan dua baki di tangan.

"Silakan, Tuan, Nyonya." Pelayan itu menyajikan makanan di meja. Hidangan itu terdiri dari bakakak ayam berlumuran kecap, ikan bakar lengkap dengan sambalnya, dan beberapa makanan lain. Selain itu, terdapat dua guci arak kelapa yang disajikan belakangan sebagai minumannya.

Tanpa banyak cakap, Aram, Thian Hong Li, Melati, dan Rismi Laraspati segera menyantap makanan itu dengan lahap. Sebentar saja makanan tersisa setengahnya. Lalu, mereka minum tuak sambil bercanda tawa.

Puas minum tuak, Aram segera mengajak para kekasihnya yang sudah memerah karena mabuk untuk melanjutkan rencananya.

"Ayo kita bagi-bagi gula."

"Bagi-bagi gula... engh... jangan, nanti dikerumuni semut, hihi." Rupanya Melati sudah mabuk berat hingga ucapannya sedikit melantur.

"Teh, kau sudah mabuk, ya?" komentar Rismi Laraspati. Seperti yang diketahui, Rismi Laraspati pada awalnya merupakan seorang putri kerajaan, jadi tidaklah mengherankan apabila ia terbiasa minum tuak, sebab pada waktu itu, minum tuak merupakan tradisi yang lumrah di dalam keraton.

Dengan memapah tubuh Melati yang sempoyongan, Rismi Laraspati dan Thian Hong Li berjalan mengikuti Aram yang berada di depan.

Pelayan di kedai itu tersenyum penuh kebahagiaan. Setibanya di luar, Aram segera menggerakkan tangannya memanggil seorang pengemis yang kebetulan berada di depan kedai.

Pengemis itu segera mendekati Aram sebab ia melihat kejadian saat Aram membunuh kawanan Nawa Awatara yang menjadi musuh mereka.

"Ada apakah, Tuan Pendekar?" tanya pengemis itu sebab ia melihat sebuah belati di gulungan rambut Aram.

"Kumpulkan semua warga yang ada di desa ini, kecuali kelompok setan-setan gentayangan itu."

"Baik, Tuan Pendekar!" Segera saja pengemis itu berlari menemui teman-temannya, kemudian mereka mulai menyebar ke setiap penjuru desa.

Aram menghempaskan tubuhnya di lantai yang berdebu, membuat Thian Hong Li dan Rismi Laraspati berpandangan. Segera mereka pun ikut duduk di emperan kedai itu.

"Emch... wah, dunia berputar, hihi." Mulut Melati terus saja meracau tidak jelas, membuat Aram menggelengkan kepala dan segera menotok urat di dekat ubun-ubun Melati.

"Bruk!" Tubuh Melati pingsan di pangkuan Rismi Laraspati.

"Kakang!" Rismi Laraspati terpekik kaget.

"Jangan khawatir, ia hanya tidur," Aram menenangkan Rismi Laraspati.

Sementara itu, dari tujuh penjuru tampak para pengemis mulai berdatangan dan berkumpul di depan kedai. Mereka datang dengan sembunyi-sembunyi, sepertinya ketakutan bila diketahui oleh kawanan Nawa Awatara.

Tidak lama kemudian, para warga yang dikumpulkan sudah berkumpul. Salah satu dari mereka yang tadi diperintahkan segera mendatangi Aram. Ternyata, lelaki itu memiliki wajah yang cukup ramah, tubuhnya kering kerontang, sementara jenggot dan kumisnya menjuntai tak terurus.

"Maafkan saya, Tuan. Seluruh warga desa ini sudah berkumpul."

"Suruh semuanya duduk!" perintah Aram lagi.

"Baik, Tuan." Lelaki itu membalikkan tubuhnya dan berteriak kepada para warga yang pada saat itu sedang bergerombol seperti tawon. "Para hadirin sekalian, Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian, silakan duduk untuk mendengarkan sedikit petuah dari Tuan ini."

"Was-wes-wos." Suara para warga berdengung di kerumunan itu. Meski sedikit menggerutu, semuanya menurut juga.

"Sudah, Tuan!" laki-laki itu berkata lagi.

Aram segera menyahut sambil berdiri lalu melangkah ke muka.

"Terima kasih. Hadirin sekalian, mohon tenang!" Aram mengerahkan kekuatan batinnya membuat para penduduk itu menurut karena merasakan aura wibawa yang terpancar dari tubuh pemuda yang berbicara di hadapan mereka. Bulu kuduk mereka berdiri meremang.

"Aku harap kalian dengarkan ucapanku dengan saksama demi kelangsungan hidup kalian." Suara itu tidak keluar dari mulut dan tidak didengar dengan telinga, melainkan dengan batin. Semua warga saling berpandangan sebab mereka dapat mendengar suara itu di telinga batin mereka, bukan telinga luar.

"Pertama, mohon bantu kami untuk mengelabui para kawanan yang mengaku bernama Nawa Awatara. Kedua, mohon bantuan kalian untuk membantu kami mengepung markas cabang di desa ini, sekalian kabarkan kepada warga lain bahwa aku sedang menuju markas pusat Nawa Awatara. Ketiga, tolong kalian buat kabar angin bahwa aku akan menantang Ketua Nawa Awatara di markasnya sendiri, dan sekarang sedang dalam perjalanan," ucap Aram.

Para warga di sana terdiam. "Benar-benar takabur pemuda ini," kata mereka dalam hati.

"Bila di antara kalian ada yang menanyakan siapakah aku, cukup kalian katakan bahwa aku adalah pemilik sandi 'Aku menghilang, datanglah tenang; aku muncul, datanglah darah'."

Para hadirin di sana terdiam. Di wajah mereka muncul raut terkejut. Di antara mereka, siapakah yang tak mengenal sandi itu? Sandi yang telah membuat keonaran di mana-mana.

"Dan yang terakhir, silakan kalian maju satu per satu kemari." Aram menutup komunikasi batinnya dan memasukkan tangannya ke dalam jubah. "Silakan kau yang pertama." Aram menunjuk lelaki yang tadi mewakili yang lainnya.

Tak ada pilihan, lelaki itu segera mendekati Aram dan berdiri di hadapannya. "Ambil." Aram memberikan sebuah berlian sebesar kepalan tangan bayi kepada lelaki itu.

Mata lelaki itu terbelalak lebar. Seumur hidupnya, baik sebelum maupun sesudah terjadi kekacauan, ia belum pernah melihat berlian sebesar itu. Tanpa diperintahkan apa-apa, lelaki itu bersujud di kaki Aram. Namun, sebuah tenaga yang mahadahsyat menahan tubuhnya sehingga lelaki itu tak dapat melanjutkan niatnya.

"Tuan," mata laki-laki itu tercekat, namun ucapannya tersela oleh Aram.

"Lekas ambil dan jalankan hidupmu seperti biasanya. Lihat, masih banyak yang menunggu giliran."

Tak ada pilihan lagi, lelaki itu segera mengambil berlian tersebut. Ia tunjukkan berlian itu pada warga lainnya sambil berlalu. Betapa terkejut dan bahagianya para warga menyadari bahwa itulah maksud dari perintah mendekati pemuda yang baru mereka kenal itu.

Kegiatan itu terus berjalan hingga matahari bertengger di ufuk barat dan lembayung oranye kemerahan mulai menggaris.

"Siapakah namamu, anak muda, sehingga kami dapat mendoakan keberkahan hidupmu?" seorang kakek berjenggot putih berkata kepada Aram.

"Maafkan saya, Kek, mengenai itu saya belum bisa mengatakannya, tapi orang-orang memanggil saya Pendekar Seribu Diri," ucap Aram lembut dan penuh hormat.

Kakek itu tercengang dan manggut-manggut. "Kau memang pantas mendapat gelar itu, anak muda. Pertama ku melihatmu, kau begitu angkuh dan sombong. Sebelum berbicara, sikapmu begitu tenang dan santai. Ketika kau berbicara mengenai hal yang penting, ucapanmu begitu tegas dan berwibawa. Dan terakhir, ketika berbicara denganku, ucapanmu begitu sopan dan lembut. Kagum... kagum."

"Terima kasih, Kek." Aram tersenyum ramah menambah ketampanan wajahnya. Diam-diam, seorang anak perempuan yang melihat senyuman itu tergetar hatinya.

"Kami mohon pamit, Kek. Hong Moay, Dinda Lati, Dinda Rismi, ayo berangkat." Rupanya Aram sudah mengetahui bahwa Melati sudah sadar dari pingsannya, padahal semenjak tadi ia tak melihat ke belakang.

"Ke mana, Engkoh?" ucap Thian Hong Li manja.

"Kita bertamu sebentar sekadar mereguk darah saja di rumah sahabat kita, hehe." Aram tertawa seram sambil berangkat menuju arah barat daya.

"Ayuh." Ketiga kekasihnya pun segera ikut sambil bergelayutan di kedua tangannya.

Kakek yang tadi bercakap-cakap pun diam mematung. Ia bergumam, "Pendekar Seribu Diri... Gelar yang hebat dan tepat."

Senja mulai merayap mendekati malam. Matahari semakin condong ke ufuk barat, sinarnya yang lembut kemerahan membias indah menanti datangnya rembulan. Seorang pemuda berambut kuncir kuda diikat oleh kain berwarna biru, di atas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau. Di lehernya tersampir sebuah kain berwarna cokelat, menambah ketampanan wajahnya.

Pakaiannya berwarna biru langit, serasi dengan jubahnya. Sementara di sampingnya terdapat tiga gadis cantik mengenakan pakaian yang sama, yakni berwarna biru laut sebatas dada. Pinggang mereka tampak ramping karena mengenakan celana ketat berwarna biru laut pula. Pakaian mereka dirangkap jubah berwarna biru langit yang tidak dikancingkan bagian depannya. Jubah itu terbuat dari bahan sutra, menampakkan kemewahan. Leher mereka yang jenjang dibelitkan selendang tipis berwarna putih.

Mereka berjalan dengan canda dan tawa, menyusuri jalan setapak dalam himpitan pohon jati yang berjejer rapi.

"Kakang... ternyata itulah yang dinamakan membagi-bagi gula kepada semut, hihi," Melati tertawa ringan.

"Emch, lalu berkunjung ini temanya apa?" celetuk Rismi Laraspati.

"Seteguk darah menyegarkan tenggorokan," Thian Hong Li ikut berpartisipasi.

"Bagaimana jikalau 'Mereguk kenyamanan insan dalam setetes hujan darah'?" Aram mengajukan usulnya.

"Bagus... bagus... bagus," jawab ketiganya beriringan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment