Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 81

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 81

Tiba-tiba Thian Hong Li berpekik, "Eh, lihat itu, tandu bukan?" Benar saja, dari sana terlihat sebuah tandu hitam bergambar piramida berantai dipanggul oleh empat orang pria.

"Siapa itu?" tiba-tiba seseorang membentak dari dalam tandu. Suara itu meski galak, namun tidak dapat menutupi keindahannya.

"Emh... rupanya mereka hendak bepergian, Kakang," kata Melati.

"Kami hanya ingin bertamu saja, hanya hendak mereguk setitik darah dari kalian," kata Rismi Laraspati polos.

Aram menepuk jidatnya, sementara Thian Hong Li dan Melati tersenyum geli. Mereka tahu bahwa Rismi Laraspati terlalu polos dan lugu untuk ukuran seorang pendekar wanita.

"Brengsek! Blaaarr!" Perempuan dalam tandu itu marah sekali. Jelas ia merasa terhina dengan ucapan Rismi Laraspati barusan. Ia bukan orang bodoh; jelas sekali maksud kedatangan keempat tamunya adalah untuk membunuh mereka.

Jlegg. Perempuan itu mendarat ringan. Ternyata ia merupakan seorang perempuan cantik namun menor, berjubah putih dengan sulaman benang emas membentuk pola hiasan piramida berantai pada jubahnya. Perempuan berjubah warna putih itu melapisi bagian dalamnya dengan kain berwarna hitam. Ia berambut panjang sepinggang, sementara untuk menutupi bagian bawahnya, ia mengenakan kain penutup pinggul dari bahan sutra hitam. Kain sutra hitam itu hanya melilit di antara kedua pahanya dan mempunyai tali pengikat di pinggul kanan-kiri. Perempuan cantik bermata jeli dan berbibir sensual berwarna merah terkena polesan gincu itu, yang memiliki kulit putih mulus dan tubuh sintal, tak lain adalah Lestari, Ketua Cabang Nawa Awatara di desa itu.

"Siapa barusan yang berkata lancang, heh?"

"Anu... e-eng, saya!" Rismi Laraspati tergagap dan melirik Aram yang tersenyum geli.

"Ini ganjaran untukmu. Wuss!" Perempuan yang bernama Lestari itu menyerang Rismi Laraspati yang pada waktu itu sedang salah tingkah. Jika seandainya serangan itu dilakukan beberapa bulan ke belakang, niscaya dengan telak serangan itu akan menggampar pipinya. Namun sekarang, Rismi bukanlah Rismi Laraspati yang dulu. Dengan meliuk dan melakukan beberapa gerak kaki saja, serangan itu dapat ia elakkan dengan mudah. Itulah gerakan Tarian Bidadari Darah Biru yang pertama, yang bernama Jurus Bidadari Kahyangan Tersipu Malu.

Lestari, sang Ketua Cabang Nawa Awatara, penasaran karena serangannya yang dilakukan secepat kilat itu dielakkan. Segera ia kembali menyerang. Namun, Rismi Laraspati juga enggan bila tubuhnya diserang dengan serangan yang bersinar biru dari Lestari; segera ia pun menggunakan selendangnya dan balas menyerang.

"Hiaat! Hepp! Ctarr... Brak!"

Ketika selendang dan tangan beradu, terjadilah bunyi letupan menggeletar. Namun, serangan Rismi Laraspati terlalu lunak sehingga selendangnya terpental menghajar tandu yang waktu itu dipanggul oleh pengawal Ketua Cabang Nawa Awatara. Maka tak ampun lagi, tandu itu hancur berantakan.

Kali ini kemarahan Lestari tak dapat dibendung lagi. Dengan ganas ia menyerang Rismi Laraspati. Jelaslah Rismi Laraspati kelimpungan menghadapi serangan yang bertubi-tubi itu. Akhirnya, Melati segera menawarkan diri untuk membantu.

"Kakang, Rismi terlalu cetek pengalaman bertarungnya. Maka izinkanlah aku untuk membantunya dan Kakang membereskan yang tersisa."

"Baiklah, hati-hati, Lati." Aram menganggukkan kepalanya kepada Thian Hong Li dan dibalas dengan anggukan pula.

Dengan kecepatan bagai kilat, keduanya menyerbu ke arah empat pengawal yang tersisa. Mendapat kejutan yang tak terduga itu, keempat pengawal tersebut segera mencabut pedang. Bila Ketua Nawa Awatara saja dulu berimbang dengan Aram, maka jelaslah keempat pengawal itu bukanlah tandingannya. Dengan gerakan laksana kilat, Aram menyambar ranting yang dilewatinya dan melemparkannya ke bagian jalan darah kematian di dua pengawal itu. Sementara Thian Hong Li lebih memilih memukulkan tangan kosongnya yang mengeluarkan sinar perak kepada dua pengawal yang tersisa.

"Bruuukkk!" Saking cepatnya serangan keduanya, keempat pengawal itu segera roboh berdebum berbarengan menjadi satu suara. Keduanya tak menghiraukan keempat mayat itu; mereka terus berlari menuju puncak tempat tandu itu keluar.

"Engkoh, bagaimana bila kita menggunakan senjata kecil yang menjadi kenangan untuk kita berdua?"

"Eng... boleh saja. Hanya apakah engkau sanggup mengendalikannya tanpa ada kejadian seperti dulu?"

"Aku bukan yang dulu lagi, Engkoh." Thian Hong Li tersenyum manis.

Keduanya terus berlari hingga sampai di pintu gerbang tebal yang terbuat dari kayu jati. Bagian dalam halaman itu tidak terlihat karena tertutup oleh pagar kayu yang berjejer. Aram segera mencabut kujang kecil bergagang ukiran harimaunya, sementara Thian Hong Li mencabut keris bergagang ular. Dengan serempak, keduanya melemparkan senjata itu ke pendopo halaman diikuti dengan melesatnya tubuh mereka.

"Goaaarrrrrrrr! Gerrrmmmmm!"

Raungan bak monster bergemuruh memekakkan telinga. Para anggota Nawa Awatara kaget dan segera serabutan keluar. Betapa mengkiriknya hati mereka ketika melihat sesosok ular besar bersayap dengan empat kaki; di Negeri Langit, sosok itu lebih dikenal dengan nama naga. Naga itu tidaklah berkulit, melainkan berbentuk hawa keemasan dengan tanduk tunggal mirip sebilah keris. Satunya lagi berupa seekor harimau bertaring putih menyala. Tubuh harimau itu besar melebihi harimau biasanya, kira-kira sebesar kerbau. Cakarnya panjang dan tajam. Harimau itu juga tidak berbentuk harimau sesungguhnya, melainkan berbentuk hawa kuning keperakan.

"Apa itu! Makhluk apa itu! Heh, mati kita!" Berbagai macam teriakan keluar dari mulut mereka; argumen dan pendapat silih berganti.

Aram yang mendengar itu tersenyum sadis. Rupanya kehadiran Aram dan Thian Hong Li tersamarkan akibat dua binatang mengerikan penjelmaan dari Keris Perasaan dan Kujang Kekuatan Sejati.

"Goaaarr! Germmmm!" Dua binatang itu segera menyerang kawanan anggota Nawa Awatara yang pada waktu itu sedang berkerumun. Para anggota Nawa Awatara itu sangat terperanjat. Dalam terkejut bercampur ngeri, buru-buru mereka memasang langkah seribu.

Kemunculan dua makhluk sakti itu membuat suasana dalam halaman markas cabang jadi kalut. Dalam terkejut dan paniknya, masing-masing melompat dan kabur terbirit-birit dari situ. Apa mau dikata, ternyata ada beberapa orang pemuda yang masih tertinggal. Tampaknya rasa takut dan ngeri yang berlebihan membuat badan mereka gemetar keras dan tak bisa menggerakkan tubuh, apalagi ketika harimau penjelmaan Kujang Kekuatan Sejati mendekati mereka. Makin panik mereka, maka makin kaku tubuh mereka. Pada saat itulah si harimau menerkam. Dengan sekali terkaman dan cakaran, diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati, kira-kira lima orang dari mereka bergelimpangan menjadi mayat dibarengi dengan hujan darah.

Rekan-rekan lainnya jadi amat gusar melihat peristiwa tragis itu. Karena gusar, mereka akhirnya dapat menggerakkan tubuh yang kaku. Sambil membentak serentak, mereka melepaskan pukulan dahsyat ke tubuh harimau penjelmaan Kujang Kekuatan Sejati. Sayang, tubuh harimau itu sangat kuat bagaikan baja. Bukan saja serangan itu gagal melukainya, malah sebaliknya, justru serangan itu berbalik dan menghantam tubuh mereka sendiri.

"Hupppp.... Gremmmmm!"

Rupanya Aram tak sabar dan segera ingin menyelesaikan pertarungan, maka ia pun meloncat untuk menaiki harimau penjelmaan Kujang Kekuatan Sejati. Bagaikan seorang panglima perang saja, Aram menunggangi harimau tersebut sambil memukulkan serangan tangan kosongnya. Sementara itu, Thian Hong Li pun ikut meloncat ke punggung naga penjelmaan Keris Perasaan.

Merasa gembira, naga itu berpekik nyaring. Tiba-tiba saja naga itu membalikkan badan sambil menyerang kawanan Nawa Awatara yang lain. Dengan ekornya yang kuat, ular naga penjelmaan Keris Perasaan menyapu dahsyat bangunan-bangunan itu hingga hancur berantakan. Para anggota Nawa Awatara yang berada di halaman dan bangunan serentak mencabut senjatanya karena sudah pasrah dengan keadaan. Rupanya seluruh tempat itu sudah dikepung oleh para warga yang sudah dibekali dengan senjata panah. Meski panah itu terbuat dari bambu dan talinya dari rotan, untuk menghadapi ratusan panah jelas hal yang mustahil bagi mereka.

Tanpa komando lagi, anggota Nawa Awatara menyerang dua makhluk yang ditunggangi oleh pemuda-pemudi itu. Serangan yang dilancarkan serentak nampaknya cukup membuat harimau penjelmaan Kujang Kekuatan Sejati dan ular naga penjelmaan Keris Perasaan kerepotan. Tapi, tenaga mereka yang tanpa komando itu mana mungkin bisa memenangkan kekuatan dua ekor makhluk setengah gaib itu? Tidak sampai seperminum teh kemudian, tinggal delapan orang yang selamat dari hisapan makhluk tersebut.

Sambil menjerit ketakutan, kedelapan orang anggota Nawa Awatara yang terdiri dari enam laki-laki dan dua perempuan itu serentak melarikan diri. Lagi-lagi naga penjelmaan Keris Perasaan membentangkan mulutnya sambil menghisap, alhasil seorang perempuan terhisap ke perut makhluk itu. Di pihak lain, Aram dan tunggangannya membiarkan saja ketujuh orang itu melarikan diri ke arah pintu gerbang.

"Wung! Creeepp! Argghhhh!"

"Wah... kami kelewatan pesta nih..." Suara merdu bak burung nuri berkicau mengomentari. Ternyata dia adalah Melati. Di sampingnya juga terdapat seorang perempuan yang mendekap perutnya karena ngeri dan mual. Dikarenakan pengalamannya yang cetek, Rismi Laraspati merasa mual, berbeda halnya dengan Melati yang pernah melihat pembantaian manusia di Lembah Kematian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment