Chapter 82
Mengapa Melati dan Rismi Laraspati berada di sana? Bagaimana dengan nasib ketua cabang Nawa Awatara? Saat Aram dan Thian Hong Li menyerbu markas cabang Nawa Awatara, Rismi Laraspati sedang terdesak. Bukan karena kemampuan Rismi Laraspati yang cetek, melainkan pengalamanlah yang membuatnya kalah.
Dengan cekatan, Melati yang pada waktu itu sudah meminta izin kepada Aram, segera merapal jurus untuk memanggil barang yang diinginkannya.
"Sring!" Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba di tangan Melati telah tergenggam sebatang pedang panjang tanpa sarung.
Dengan sedikit memutar pedangnya, Melati segera melemparkannya dengan jurus "Kelelawar Sakti Menembus Kegelapan". Itulah salah satu jurus dari kedua gurunya sewaktu ia masih berada di Lembah Dewa-Dewi.
Mendapat serangan mendadak seperti itu, tentu saja Lestari, sang ketua cabang Nawa Awatara, merasa kaget. Dengan cepat ia menarik kembali serangannya kepada Rismi Laraspati.
"Cring!" Pedang itu kembali kepada pemiliknya.
"Curang!" pekik Lestari marah.
Melati tidak menghiraukan ucapan Lestari dan segera berkata kepada Rismi Laraspati, "Rismi, bermainlah seperti biasanya, jangan gugup. Anggaplah bahwa kita sedang berlatih."
"Maaf!" Rismi Laraspati merunduk.
"Jangan menunduk!"
"Trang!" Melati menangkis kuku dari Lestari.
"Baik!" Rupanya Rismi Laraspati sudah bisa mengendalikan dirinya. Dengan mengatur langkah kakinya, ia segera menyerang dengan selendang putihnya.
"Buk!" "Ukh!" Dengan telak serangan itu mengenai perut Lestari. Betapa geram hati Lestari karena diserang secara bergilir begitu. Maka, Lestari menyerang dengan pukulan tenaga dalam dari kedua tangannya. Jelas sekali bahwa Melati dan Rismi Laraspati tidak mau menjadi korban serangan itu. Segera mereka berjumpalitan ke belakang.
Kini, keduanya sama-sama memasang kuda-kuda. Tangan Melati siap dengan pedang yang melintang di depan wajahnya, sedangkan Rismi Laraspati siap dengan selendangnya. Lestari segera mengambil sikap menyamping. Kedua kakinya merenggang rendah dengan kedua tangan diangkat setinggi pundak. Matanya tertuju tajam pada masing-masing perempuan yang bersebelahan itu.
Tiba-tiba kedua perempuan itu sama-sama memutar tubuh satu putaran dan senjata mereka dihentakkan ke depan dengan keras. Dari pedang Melati melesat sinar biru, sedangkan selendang Rismi Laraspati tidak mengeluarkan sinar apa pun, hanya menyabet ke depan.
"Wuss! Wush! Dub! Blaarrsshh!" Serangan itu ditahan oleh Lestari dengan menggunakan tenaga dalam dari kedua tangannya. Tetapi, agaknya kekuatan serangan Melati dan Rismi Laraspati lebih besar sehingga tubuh ramping Lestari terjengkang ke belakang sejauh dua tombak. "Brukk!" Tubuh Lestari menabrak pohon hingga tumbang. Napasnya menjadi sesak dan matanya sempat mendelik. Namun, ia buru-buru mengeraskan semua uratnya dan melesat cepat dengan kedua kakinya. Kini ia kembali berdiri dengan wajah memerah.
"Goaarr! Geerrmmm!" Tiba-tiba suara auman dan geraman terdengar memekakkan telinga.
"Gila! Apa yang terjadi di markas? Sial, dua orang teman mereka tidak ada di sini, pasti mereka yang bikin ulah!" gumam Lestari.
Melati dan Rismi Laraspati hanya tersenyum sinis.
"Kak Melati, kali ini izinkan aku mencari pengalaman!"
"Baiklah, hati-hati." Melati melangkah mundur beberapa tindak, membiarkan Rismi Laraspati mengasah kemampuannya. Namun, ia tidak melepaskan pengawasan. Pedangnya ia genggam erat, khawatir apabila terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Mengapa diam saja? Apa kau takut jika harus menghadapiku sendirian?" tantang Rismi Laraspati.
"Cih!" Lestari melangkah maju dengan bersiap mengirimkan cakarnya yang runcing dan kemerahan karena racun. Namun, sebelum tangan itu sempat bergerak melancarkan serangan, Rismi Laraspati berkelebat dengan cepat bagaikan setan di siang bolong.
"Wusss! Srett!" Kain selendang menjerat pergelangan tangan Lestari. Lestari mengerahkan tenaganya untuk menarik lepas selendang tersebut, namun apa daya, selendang itu melilit tangannya seperti jepitan raksasa.
"Hebat juga permainan selendangnya. Jika tak kugunakan tangan lainnya dan tidak dapat memengaruhi emosinya, mungkin aku takkan dapat mengalahkannya, apalagi masih ada satu lagi temannya," pikir Lestari.
Tangan kiri Lestari berubah menjadi merah, jari-jarinya meregang membentuk cakar. Dengan cepat ia hendak merobek selendang itu. Geram hati Rismi Laraspati melihatnya. Ia menarik selendangnya ke belakang dan melecutkannya dengan kaki menghentak ke tanah satu kali.
"Wusss! Duaarr!" Ujung selendang memercikkan api. Suara menggelegar tersentak keluar dari kibasan angin selendang. Namun, sepertinya Lestari sudah menduga hal itu, maka ia sudah menghindari serangan tersebut. Ia bahkan membalas dengan melemparkan tusuk konde ke arah Rismi Laraspati. Tak kalah gesit, Rismi Laraspati memutar selendangnya seperti kitiran, membuat perisai berwarna putih.
"Cusss!" Suara logam meleleh terdengar mendesis. Rupanya selendang yang digunakan Rismi Laraspati sudah dialiri dengan tenaga dalam yang memiliki unsur api. Jadi, ketika tusuk konde itu mengenai selendangnya, tusuk konde itu meleleh. Bisa dibayangkan bila yang mengenai selendang itu adalah tangan manusia.
"Busyet, ternyata meski gerakannya hanya tarian, serangannya tidak kalah ganas dengan serangan cakar mayatku!" gumam Lestari yang kaget dengan kenyataan di depan matanya.
"Awas! Dewi Sinta Merayu Rama!" pekik Rismi Laraspati membuka serangan.
Kali ini Lestari tidak meremehkan setiap serangan Rismi Laraspati. Ia segera membuka jurus andalannya, "Cakar Mayat". Kesepuluh jarinya terpentang seperti cakar. Serangan Rismi Laraspati dan Lestari sangat bertolak belakang; bila gerakan Lestari ganas dan berbau amis, maka sebaliknya, Rismi Laraspati ringan, lincah, lemah gemulai, dan lembut. Serangannya juga menyiarkan bau harum khas gadis.
Mereka bertarung dengan ketat selama ratusan jurus. Memasuki jurus ke seratus delapan puluh, Rismi Laraspati sudah tak sabar lagi dan menyabetkan selendangnya dengan dahsyat. "Wuss!" Selendang berputar di udara dan mengurung tubuh Lestari yang sedang menyilang tangan di muka.
"Breeettss! Buk! Akh! Jrepppp! Argghh!" Ketika Lestari menangkis selendang, Rismi Laraspati merunduk dan memukulkan lututnya tepat di perut Lestari. Tak pelak, tubuh Lestari membungkuk menahan sakit. Kebetulan saat itu Lestari membungkuk membelakangi Melati. Dengan sekali sentakan ringan pada gagang pedangnya, melesatlah pedang itu menembus punggung sampai ke depan perut Lestari. Mata Lestari mendelik besar, dari mulutnya menyembur darah segar. Dengan jeritan menyayat, tubuhnya ambruk mencium bumi.
Rismi Laraspati menutup matanya ngeri.
"Ada apa, Rismi?" tanya Melati.
"Ah, tidak, tidak apa-apa kok!"
"Kau takut?"
"Engghh."
"Jangan lemah, Rismi. Ini bukan apa-apa. Kekasih kita seribu kali lebih kejam dari aku!"
"Aku tahu... tapi ia juga adalah lelaki paling lembut yang pernah aku kenal."
"Aku mengerti. Ayo kita susul mereka."
Keduanya pun segera bergerak cepat menyusul ke mana Aram pergi. Setelah tiba di gerbang, mereka segera meloncat dan berdiri di atas gerbang markas cabang Nawa Awatara. Setelah menengok ke dalam, mereka disuguhi tontonan yang mengenaskan: bangunan porak-poranda, mayat bergelimpangan, dan darah menggenang. Mereka melihat Aram menunggangi harimau sambil menatap ke arah rombongan yang sedang melarikan diri. Selain itu, mereka melihat Thian Hong Li menunggangi seekor ular raksasa yang aneh bentuknya, sedang membantai anggota Nawa Awatara tanpa sedikit pun emosi di matanya.
Melati segera mencabut pedangnya dan melemparkannya menggunakan jurus "Kelelawar Mencari Mangsa". Dengan telak, pedang itu menembus tubuh salah satu dari mereka.
"Kalian mau ke mana?" tanya Aram dengan senyuman mengejek.
Keenam orang yang tersisa saling berpandangan, wajah mereka sudah pasrah dengan kematian.
"Lihat keenam orang itu, mereka seperti tikus dalam keranda!" teriak salah seorang penduduk yang sudah mendekati arena pertarungan.
"Cincang mereka!"
"Habisi!"
"Bakar tubuhnya!" berbagai teriakan penuh kepuasan muncul dari para penduduk yang ikut menimbrung.
"Gooaaaaaarrrrrrrr! Gerrrrrmmmhhhhh!" Dua geraman dahsyat mengguncang tempat itu. Para penduduk yang berteriak-teriak tadi sirna seketika, pucat pasi melihat dua makhluk yang mengaum itu. Seumur hidup, baru kali itu mereka melihat makhluk segarang dan seaneh itu. Tiba-tiba kedua makhluk itu diselimuti kabut tebal. Dari kabut yang menipis, berjalanlah dua orang berbeda jenis; Aram dan Thian Hong Li.
"Silakan kalian puaskan diri kalian sendiri, silakan kalian apakan keenam makhluk itu!" teriak Aram sambil meloncat tinggi dan mendarat di samping Rismi Laraspati. Thian Hong Li pun tak kalah gesit, ia meloncat dan mendarat di samping Melati.
"Mari pergi."
Keempatnya menghilang di antara lebatnya hutan rimba dan gelapnya malam, meninggalkan massa yang mengamuk dan melampiaskan dendam kepada keenam orang yang dianggap sebagai biang keladi kericuhan di negeri itu.
Malam sudah berlalu. Obor-obor di markas cabang Nawa Awatara yang sudah tinggal puing semakin berkobar, apalagi ketika bekas bangunan itu diamuk oleh ganasnya si jago merah. Rupanya, para warga enggan jika anggota Nawa Awatara kembali menunjukkan taring di desa mereka.