Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 83

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 83

Alunan musik dari dedaunan terdengar merdu ditiup seorang pemuda yang kala itu sedang berkuda bersama ketiga gadis di kaki Gunung Kendyaga (Galunggung). Alunan merdu itu terbawa embusan angin pagi, terus menyusup ke dalam lembah, dan terpantul di dinding tebing, membawa keindahan tersendiri bagi siapa pun yang mendengarnya.

Suara merdu itu menembus jauh sampai ke telinga dua orang pemuda berbaju kelabu di atas tebing jalan setapak itu. Merasa penasaran, dua pemuda tersebut segera meloncat menghadang keempat penunggang kuda itu.

"Hieeee!" Karena kaget, keempat kuda itu segera mengangkat kedua kaki depannya. Jika tidak dikendalikan oleh seorang ahli, tidak mustahil penunggang kuda itu bakal terlempar jauh oleh tunggangannya sendiri.

"Amuk, Murka, apa yang kalian lakukan?" Pemuda yang tak lain adalah Aram itu berteriak jengkel.

"Ekh, ah... Ketua... maafkan kami, hehe," Amuk Samudera mewakili yang lain meminta maaf sambil cengengesan malu.

"Yasudahlah, hendak ke manakah kalian? Bagaimana dengan tugas kalian?"

"Beres, Ketua."

"Baiklah, engh..." Aram berpaling kepada Thian Hong Li, lalu Melati, dan terakhir Rismi Laraspati. Dilihatnya wajah Rismi Laraspati sudah keruh kemerahan, sepertinya ia tidak kuat lagi mengendalikan kudanya.

"Rismi, naiklah bersamaku," pinta Aram.

"Engh... ekh, apa?" Rismi Laraspati tersentak dari lamunannya.

"Naiklah bersama Kakang Aram," bisik Melati yang kebetulan berada di sampingnya.

"Ayo," pinta Aram kembali.

Dengan kikuk, Rismi Laraspati turun dari kudanya dan melompat ke kuda yang ditumpangi Aram.

"Kalian berdua, naiklah ke kuda itu, dan ceritakan mengenai tugas kalian sambil melanjutkan perjalanan," titah Aram.

"Baik," sahut mereka serempak lalu meloncat ke punggung kuda.

Amuk Samudera menghela napas sebentar dan mulai bercerita. "Begini, Ketua. Ketika kami selesai membagi daerah bersama Ketua Angkara dan yang lain, kami berangkat menuju Padepokan Pedang Bumi."

Padepokan Pedang Bumi terletak di Gunung Kendyaga (Galunggung), di antara bentangan jurang yang curam. Bila Perguruan Golok Harimau dan Rajawali Emas memiliki padepokan yang tetap, maka Perguruan Pedang Bumi selalu tinggal bersama dengan alam, selaras dengan alam. Kenyataan itu ternyata membuahkan hasil; anggota Nawa Awatara susah sekali menjerat murid-murid dari perguruan Pedang Bumi. Alhasil, mereka hanya dapat menyegel gunung itu tanpa dapat mengekang, apalagi menahan anggotanya.

Jurang Agni merupakan suatu jurang curam yang di bawahnya terdapat sungai lahar dari Gunung Kendyaga. Bau belerang menyengat hidung, membuat siapa pun merasa sedang berhadapan dengan pusat kawah.

Amuk Samudera dan Murka Semesta tampak berjalan menyusuri hutan dengan mulut penuh daging. "Murka, kau tahu letak persis keberadaan murid perguruan Pedang Bumi itu?" tanya Amuk Samudera setelah menghabiskan daging yang dikunyahnya.

"Emch, tahu persis sih tidak, aku hanya tahu gambarannya saja. Itu juga menurut Ki Ardam yang menuturkannya secara garis besar," jawab Murka Semesta tenang.

"Gambaran? Emch, lalu apakah kau sudah menemukan gambaran itu?"

"Sudah." Amuk Samudera menghentikan langkah. "Lalu kita harus ke mana sekarang?"

"Sekarang aku tak tahu!"

"Tadi kau bilang sudah menemukan gambaran itu!"

"Ya, mengenai itu tadi sudah terlewat. Sewaktu kita memanggang ayam hutan, seharusnya kita menuju arah selatan."

"Mengapa kau tak mengatakannya sedari tadi, hah!"

"Kau tak bertanya."

"Grrrr... hah, jadi perjalanan dua mil ke arah tenggara ini menurutmu percuma?"

"Aku pikir kau tahu jalannya, jalan yang lebih dekat, maka aku diam saja!"

"Plakk!" Amuk Samudera menepuk jidatnya sendiri. "Jadi sekarang kita harus berputar balik?"

"Jika kau tak mengetahui jalannya, aku rasa itu pilihan yang tepat," jawab Murka Semesta sambil membalikkan badan dan melesat terbang menggunakan ilmu peringan tubuh, selaksa rubah menjadi bayangan.

Tak ada pilihan, Amuk Samudera segera mengikuti Murka Semesta dan berjalan beriringan. Setelah sekian lama, akhirnya sampai juga mereka ke tempat tadi memanggang ayam hutan.

"Emch, sekarang ke mana?" tanya Amuk Samudera.

"Ke sana," Murka Semesta menunjuk sebuah sungai yang cukup besar dan batu menjulang tinggi.

"Plakk!" Sekali lagi Amuk Samudera menepuk jidatnya sendiri. "Bukankah tadi kita berada di sana?" tunjuk Amuk Samudera ke arah sungai yang berada di arah tenggara.

"Aku rasa ya."

"Grrr... sialan! Harusnya kita berjalan dua mil menuju batu itu tanpa harus kembali ke mari!" maki Amuk Samudera jengkel.

Tiba-tiba... "Aakh, rupanya kalian masih berada di sini!" sapa seorang lelaki yang tak lain adalah Ki Ardam.

"Ki, orang ini benar-benar membuatku karatan... kita selama ini terus berputar-putar saja di sini," Amuk Samudera melampiaskan kesalnya kepada Ki Ardam.

"Hahaha... kalau begitu mari aku tunjukkan jalannya." Ki Ardam tertawa sambil melesat menuju arah selatan. Tanpa kata, Murka Samudera mengikutinya, meninggalkan Amuk Samudera yang mencak-mencak tak keruan. Jengkel sekali perasaan Amuk Samudera, dengan menggerutu ia mengikuti keduanya.

Ketiganya berlari beriringan. Dalam perjalanan, mereka juga melihat beberapa orang berpakaian hitam yang tak lain anggota Nawa Awatara tampak berdiri atau berjaga. Murka Semesta memetik ranting kering dan melemparkannya ke jalan kematian mereka, maka tak pelak lagi tanpa ketahuan, nyawa mereka berjatuhan. Begitulah, mereka berlari sambil membunuh. Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Begitu pula dengan kematian anggota Nawa Awatara; meski mereka mati tanpa suara, akhirnya ketahuan juga.

"Teng... teng!" Sebuah suara lonceng di pegunungan itu berbunyi tanda bahaya.

"Lihat, gara-gara ulahmu tanda itu dibunyikan," tuduh Amuk Samudera.

"Engh... aku tahu, aku sengaja melakukan itu," jawab Murka Semesta tenang.

"Mengapa?"

"Supaya aku tak kelimpungan mencari mereka. Bila sudah tanda itu dibunyikan, aku yakin mereka berkumpul di satu tempat dan aku bakal membunuh mereka serempak." Sederhana sekali pikiran Murka Semesta, namun dalam keadaan itu benar-benar pikiran yang jitu. Sebuah taktik atau siasat sebenarnya bukan teorinya yang hebat, melainkan cara menempatkan dan memilih suatu keadaan yang tepatlah yang akan menjadi senjata paling ampuh di dunia ini.

"Engh... kau jenius, Murka..." pekik Ki Ardam antusias.

Amuk Samudera menghela napas panjang. "Ini gila," pikirnya dalam hati. "Ke mana kita, Ki?" tanyanya.

"Tempat yang dibuat markas darurat... kita sampai," kata Ki Ardam.

Amuk Samudera dan Murka Semesta memandangi tempat itu; hanya hamparan batu saja yang ada di hadapan mata. Sementara di depannya, sebuah batu besar sebesar kubangan kerbau. Ki Ardam memutarkan batu itu ke kiri dua kali dan ke kanan dua kali.

*Drett... drett... brussshhhhh!*

"Akh!" pekik Amuk Samudera dan Murka Semesta kaget. Ketiganya jatuh tertelan bumi.

*Bukkk!*

"Ukh!" Amuk Samudera jatuh dengan tulang ekor membentur batu cadas, sementara Murka Semesta yang memperhatikan cara jatuh Ki Ardam tampak baik-baik saja.

"Kau tak apa?" tanya Murka Semesta prihatin dengan keadaan sahabatnya itu.

"Apa kau lihat keadaanku baik-baik saja?"

"Emch, kepalamu dan anggota tubuhmu tidak ada yang berubah, aku yakin kau baik saja..."

"Jadi maksudmu aku harus patah kaki dan tangan baru bisa dibilang tidak baik-baik saja?"

"Tidak juga, nyawamu melayang juga bisa dibilang ada apa-apa."

"Grrrrrrrr!"

"Siapa kalian!" bentak seorang pemuda berbaju hijau polos, sepertinya ia merupakan seorang yang ahli dalam penyamaran di hutan.

"Dewa Daun, ini aku," jawab Ki Ardam.

"Ketua..." Pemuda yang dipanggil Dewa Daun terperangah, segera ia berlutut.

"Bangunlah, kita harus menuju ruang penyangga."

Singkat cerita, akhirnya Ki Ardam, Dewa Daun, Amuk Samudera, dan Murka Semesta tiba di ruang penyangga, juga diikuti sekitar seratus orang murid Perguruan Pedang Bumi.

"Nah, itulah... jika kita bisa menggeser batu itu, maka kita bisa membunuh mereka tanpa harus membunuh mereka satu persatu."

*Heaaaa!* Amuk Samudera mendorong batu itu, namun batu itu tidak bergeser juga.

"Jelaslah, dulu batu itu dibuat oleh pendahulu kami sebanyak seribu orang!" tutur Ki Ardam.

"Kita coba! Heaaaa!" Murka Semesta berkata sambil mengerahkan tenaga dalamnya yang bernama Panca Menjadi Tunggal.

"Hehe..." Amuk Samudera tidak mau ketinggalan, ia kerahkan pula ilmu tenaga dalamnya yang bernama Tunggal Menjadi Kosong.

*Dreeetttt... dreeetttt...* Perlahan batu itu mulai bergeser.

Ki Ardam dan para muridnya tertegun. Ki Ardam memantapkan hatinya, segera ia memasang sarung tangan elemennya dan mengerahkan tenaga dalamnya dari kitab Samudera Kematian. Hawa panas, dingin, perih, nyaman, dan sebagainya berseliweran akibat tenaga dalam itu. Dewa Daun tak sanggup lagi berada di dekat sana, segera ia berlari ke belakang, murid Perguruan Pedang Bumi lainnya segera mengikuti.

*Drett... drett... bruss... Argggghh!*

Suara batu bergerak kemudian jatuh ke dalam lautan kawah di gunung itu. Sementara itu, di atas tempat itu, para anggota Nawa Awatara sedang mengadakan rapat mengenai pembunuhan di bawah bukit tadi. Tiba-tiba tanah di sekeliling mereka bergetar, dan tak ampun lagi mereka ambruk serta tertelan ke dalam tanah. Berbagai jeritan kaget bersahutan; perempuan, laki-laki, tua, muda menjerit. Mereka jatuh ke dalam ganasnya kawah panas.

Ki Ardam tersenyum puas.

"Ternyata ini rencana kalian!" kata Amuk Samudera jengkel.

"Nah, begitulah kejadiannya, Ketua. Dalam tugasku kali ini malah jadi bulan-bulanan mereka berdua, aku benar-benar bisa mati karena jengkel," Amuk Samudera bercerita dengan jenaka, membuat Aram dan yang lainnya tertawa geli.

"Akhirnya Ki Ardam hidup berbahagia dengan para muridnya. Tamat," tambah Murka Semesta.

"Hihi... sepertinya Kang Murka pintar mendongeng, ceritakan dongeng buat aku dong, Kang!" Rismi Laraspati berkata polos.

"Baiklah, Tuan Putri."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment