Chapter 84
Pada zaman dahulu kala, di dunia ini belum ada tumbuhan, hewan, sungai, manusia, maupun hal yang bisa diceritakan.
"Tamat," ucap Murka Semesta seakan itu merupakan hal yang sepele.
"Hahahaha..." gelak tawa bersahut-sahutan di sekeliling mereka tanpa beban, seolah-olah sedang bertamasya. Gema suaranya begitu empuk di telinga siapa pun. Pagi baru saja menyingsing. Matahari masih enggan menampakkan dirinya, hanya rona merah jingga yang membias dari balik gunung sebelah timur. Namun, di pagi yang masih tertutup kabut itu, terlihat rombongan enam orang berkuda berpacu cepat meninggalkan debu yang mengepul di udara.
Dilihat dari ciri-cirinya, enam orang berkuda itu dapat dikenali. Mereka adalah Aram dan kawan-kawan. Tampak mereka memacu kudanya secara beriringan. Gunung Kendyaga sudah jauh di belakang, dan kini mereka sedang berada di Hutan Kastubamani. Dinamakan Kastubamani sebab di sana memang sering ditemukan permata-permata yang terkubur. Tak heran, sebab tempat itu merupakan bekas reruntuhan Kerajaan Raharja, kerajaan yang paling mewah pada masanya.
Dalam kesunyian itu, terdengar kicauan burung perkutut mengusik kebisuan mereka.
"Ketua, mengapa kita harus berputar ke sana kemari bila memang tujuan kita adalah Pulau Borneo?" Amuk Samudera bertanya dengan lirih dan heran.
"Hem, kau ini benar-benar tidak tahu ataukah memang pura-pura tidak tahu?" Murka Semesta mendengus, mewakili Aram.
"Memangnya kau tahu mengapa kita terus berputar?"
"Dasar otak bebal! Kita sedang menunggu kedatangan teman kita yang lain untuk berangkat ke pulau setan itu. Dengan berputar-putar, kita dapat menunggu kedatangan mereka sekaligus..."
"Sekaligus!?"
"Para anggota Nawa Awatara lebih pintar daripada kau! Jika memang kau ingin tahu, carilah jawaban sendiri."
"Emch, apa sih susahnya mengatakan," rutuk Amuk Samudera.
"Katakan sih mudah, tapi menjaga ucapan dari telinga kucing sangatlah sulit. Bukankah begitu Cempaka, Kasturika?" ucap Murka Semesta lirih, entah ditujukan kepada siapa.
"Hihihi... benar sekali."
Dari atas pohon melesatlah dua bayangan bertubuh langsing dengan indahnya. Gadis pertama memakai pakaian dalam berwarna merah muda, dibalut jubah panjang berwarna merah ati yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya hingga sebatas lutut. Gadis itu tidak mengenakan celana pangsi layaknya seorang pendekar wanita, dan di balik jubah ketatnya, ia tidak terlihat mengenakan apa-apa. Rambutnya tergerai lurus sepunggung, menambah kecantikannya. Sementara itu, gadis satunya lagi adalah seorang gadis cantik berpakaian dalam hitam berjubah sama dengan gadis pertama, namun ia memakai celana panjang layaknya laki-laki. Gadis pertama ternyata adalah Cempaka, dan gadis kedua adalah Kasturika, si Dewi Damai Buana.
"Rupanya kau sudah tahu bahwa aku dan Cempaka sedari tadi mengikuti kalian, hihi," Kasturika tertawa ringan.
"Bagaimana dengan tugasmu, Teh?" Thian Hong Li, yang sudah kerasan memanggil dengan panggilan bahasa Sunda itu, bertanya sambil meloncat ke punggung kuda yang ditumpangi Melati. Rupanya Cempaka dan Kasturika paham dengan sikap Thian Hong Li; buru-buru mereka menunggangi kuda bekas tunggangan Thian Hong Li.
"Sudah beres. Kami tidak membantu apa-apa dalam rumah tangga Perguruan Teratai Putih sebab mereka sudah bertindak duluan dengan menenggelamkan padepokan mereka. Jadi, kami beralih membantu anggota kita untuk masuk ke dalam tubuh Nawa Awatara."
"Oh, begitu... Lalu, apakah bangunan Perguruan Teratai Putih sudah tinggal kenangan?" Melati bertanya polos.
"Hihi, tidak. Bangunan mereka baik-baik saja sebab di dalam padepokan mereka sudah dipasangi dengan perkakas rahasia. Kau tahu, pusat Padepokan Teratai Putih sebenarnya ada di dasar Danau Kali Lotus!"
"Wah, hebat juga jikalau begitu, lain kali aku jadi ingin berkunjung ke sana!" cerocos Rismi Laraspati.
"Ada pesan dari Si Pengabar Langit?" Aram bertanya spontan. Wajah tampannya menatap lekat-lekat Cempaka.
"Mengapa Ketua bertanya padaku!" Meski berkata seperti itu, dalam hatinya ia merasa kagum dengan sikap ketuanya. Ia heran dari manakah sumbernya hingga Aram dapat mengetahui bahwa Si Pengabar Langit akan mengirimkan kabar melalui dirinya.
"Aku yakin dalam hatimu kau sudah mengerti alasanku sepenuhnya," Aram berkata sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya ke depan.
Cempaka memasukkan tangannya ke balik baju dalam di belahan dadanya, lalu mengeluarkan sehelai kain putih dan menyerahkannya kepada Aram. Aram segera tenggelam dalam surat itu, sebab surat tersebut terdiri dari kata yang tersusun oleh sandi. Aram tersenyum puas, segera ia kerahkan tenaga dalam Panca Menjadi Tunggal yang memiliki hawa panas. Bau benda terbakar menyeruak ke hidung; sekejap saja kain itu telah berubah menjadi serpihan abu yang berterbangan.
"Kakang, apa isinya?" Rismi Laraspati berbisik.
"Kau akan tahu nanti," jawab Aram sambil mengepruk kudanya. Sebentar saja hutan itu terlewati, maka terbentanglah sebuah sabana yang syarat akan keindahan.
"Sepertinya kedatangan kita disambut dengan meriah...!" gumam Cempaka.
"Emhhhhh... tidak, penyambut kita semua sudah menjadi mayat," tanggap Aram.
"Siapa yang melakukannya?"
"Sepertinya keenam orang itu dapat menjelaskan!" jawab Aram sambil menatap lurus ke depan. Dari arah depan itu memang berjalan enam sosok manusia dengan lenggang-kangkung menenteng pedang.
"Angkara, Yumi, Huru Hara, Luyu, Ryusuke, Jelita..."
"Hormat, Ketua!" serempak keenam orang itu membungkukkan badan.
"Bangunlah, bagaimana tugas kalian?"
Pertama yang menuturkan adalah Angkara dan Yumi, kemudian Huru Hara dan Luyu Manggala, dan terakhir adalah Ryusuke serta Jelita Indria.
***
Padepokan Bintang Kemukus berada di Gunung Sungging (sekarang Sumbing), tepat berada di puncaknya. Gunung Sungging merupakan gunung yang kaya akan keindahannya. Pada waktu itu langit tampak mendung, sepertinya akan turun hujan. Dalam cuaca seperti itu, ternyata ada sebuah pertarungan yang cukup seru; denting pedangnya bergema, dipantulkan dinding-dinding jurang dan cadas.
Lucunya, pertarungan itu juga ditonton oleh dua orang muda-mudi berpakaian hijau. Warna hijau mereka ternyata membantu menyembunyikan diri tanpa disadari oleh lawan.
"Apa kita akan turun tangan sekarang?" tanya gadis berbaju hijau, dan lelaki di sampingnya pun menjawab.
"Ki Madya bilang kita jangan sembarangan mencampuri urusan rumah tangga mereka. Sebaiknya kita bantu bila keadaan murid Perguruan Bintang Kemukus sedang kritis saja."
"Baiklah jikalau begitu." Begitulah mereka terus bercakap-cakap dengan kesiagaan yang cukup serius. Mereka tak lain adalah Ryusuke dan Jelita Indria.
Sementara itu, dalam pertarungan tampak Ki Madya sedang kelimpungan melawan seorang anggota Nawa Awatara yang bersenjatakan gada.
"Ki Madya, tak kusangka kau bisa lolos dari jeratan kami, bahkan memiliki ilmu baru yang kau kuasai. Namun, jangan harap dapat mengalahkanku."
"Pancawali, jangan takabur kau! Ketahuilah bahwa ilmu dari Kitab Tanah Inti Bumi ini belum menunjukkan kemampuannya. Dan jangan harap dapat melihatnya lagi, sebab di purnama ini juga kalian, para setan kelayaban Nawa Awatara, akan musnah akibat perbuatan kalian sendiri."
"Serahkan jiwamu!"
Tanpa banyak cakap, gadanya terangkat dan membacok dari depan. Sejak angkat nama di kancah rimba hijau, Pancawali mengandalkan tenaganya yang besar. Gadanya yang besar dan kuat, ditambah kekuatan latihan tenaga pergelangan tangannya selama puluhan tahun, membuat jurus serangan gadanya begitu menggiriskan telinga. Jurusnya yang disebut Gada Pelumat Polo benar-benar dahsyat; angin berkesiuran laksana tawon pindah sarang.
Ki Madya tersenyum mengejek. Tangannya yang sudah memakai sarung tangan elemen diangkat dan sedikit digentak, maka terdengarlah suara "bukkkk" yang tidak begitu keras. Bacokan Gada Pancawali yang membawa tenaga laksaan kati itu dengan mudah dipecahkan. Hati Pancawali merasa takjub sekaligus tercengang; ia heran sekali mengapa tangan Ki Madya begitu keras. Serunya sambil tertawa keras, "Tak heran kau berani mengagulkan diri, tenaga dalammu cukup kuat juga! Awas, serangan kedua!"
Seiring dengan bentakannya, gada besar di tangannya sudah membabat pergi datang bolak-balik, bayangan gadanya berkesiuran tajam, setiap jurus pasti mengarah ke tempat-tempat penting mematikan di seluruh tubuh Ki Madya. Meski bentuk tubuh Ki Madya terkurung rapat di dalam kesiuran gada besar Pancawali, sikapnya masih tenang. Dengan menyambut, menyampok, dan menindih serangan itu menggunakan telapak tangannya, dengan tanpa gentar ia dapat memunahkan setiap rangsakan dari Pancawali.
Dalam pada itu, pertempuran di tengah gelanggang sudah mencapai puncak yang tidak terkendalikan lagi. Semakin bertempur, Pancawali semakin bernafsu merangsak dan menggempur dengan berbagai tipu jurus yang ganas dan licik; setiap jurusnya mengandung perubahan yang lihai dan sulit diselami, semua menjurus ke tempat mematikan di tubuh lawannya. Mendapat serangan seperti itu, akibatnya ia menjadi gugup. Dengan kelimpungan ia mainkan jurus-jurus dari Perguruan Bintang Kemukus dan aliran tenaga dalam Inti Bumi.
Setelah sekian jurus dikeluarkan, karuan Pancawali dibuat panas hatinya; cepat ia naikkan tempo serangannya. Seratus jurus dilampaui. Samar-samar sudah kelihatan Ki Madya mulai payah, sebaliknya Pancawali juga tidak meraih keuntungan; nafasnya tampak memburu.
"Blaarrrrr! Klontraannnngg!"
"Hoek..! Hoek...!"
Keduanya tergetar mundur. Gada besar milik Pancawali melesat jauh terkena ledakan tenaga dalam itu. Keduanya pun tampak terhuyung-huyung dan muntah darah. Bersamaan itu pula, di sekeliling mereka tampak mayat kedua belah pihak sudah bertumpuk. Keadaan Perguruan Bintang Kemukus sudah berada di ujung tanduk.