Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 85

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 85

Saat itulah, tiba-tiba serentetan senjata logam berbentuk bintang berseliweran di udara. "Crass... crass... crekkk! Akghhhhh!" Sekejap saja, anggota Nawa Awatara tampak bergelimpangan hingga menyisakan dua orang: seorang yang bertarung dengan Ki Madya dan seorang kakek berjenggot merah.

Kakek itu memiliki wajah tirus dan mata sipit. Dalam dunia persilatan, ia dikenal sebagai Orang Tua Berjanggut Merah.

"Siapa itu!" geramnya marah. Suaranya serak dan terdengar menyentak sadis.

Murid Perguruan Bintang Kemukus tampak tergeletak pingsan, dari telinga mereka keluar darah. Sementara itu, Yumi dan Ryusuke tampak sama sekali tidak terpengaruh.

"Hei, Jenggot Merah, jangan marah-marah terus. Kau sudah tua, bila kau marah-marah terus, kau bisa modar nanti!" Jelita Indria tertawa ringan.

Jleggg! Di hadapan Orang Tua Berjenggot Merah, muncul seorang gadis cantik berwajah manis yang sedang tersenyum. Pakaiannya serba hijau.

"Akh... ugghh!" Kakek itu tergagap melihat wajah secantik itu.

Di lain pihak, Ryusuke tampak berdiri di samping Ki Madya sambil meletakkan tangannya di pundak. Sekejap saja luka yang dialami Ki Madya segera sembuh; rupanya Ryusuke menyalurkan tenaga dalam seiring pegangannya.

"Kau tak apa-apa, Ki?" sapa Ryusuke.

Ki Madya mengangguk pelan. "Maaf, Ki, aku tidak kuat menahan diri saat melihat murid-murid bergelimpangan begitu saja." Ki Madya memalingkan wajahnya; betapa pilunya melihat beberapa muridnya terkapar dan sebagian sedang ditolong oleh murid utama yang memiliki kemampuan lebih.

"Silakan Aki menolong mereka, biar saya yang menyelesaikan urusan di sini." Ryusuke berkata sambil mencabut pedang panjang di punggungnya. Rupanya sarangka dan gagang pedang itu serasi dengan bajunya, sehingga keberadaan pedang itu tersamarkan.

"Sringg! Siapa kau, anak muda! Apakah kau tahu siapa yang sedang berhadapan denganmu? Si Tua Bangka Madya saja belum dapat membunuhku, apalagi dirimu yang hanya seorang bocah bau kencur!"

"Haha... kita lihat saja nanti, Kisanak. Barangkali nyawamulah yang duluan melayang!" Tampak Pancawali memasang kuda-kuda, lengannya sampai sebatas siku berubah menjadi hitam legam, bau anyir merebak ke mana-mana.

"Ajian Inti Bisa!" ucap Ryusuke tanpa sadar. Ia pernah melihat cara menguasai ilmu hitam itu di kumpulan ilmu dalam perpustakaan markas Bendera Awan Langit.

"Hebat kau, anak muda. Sekali lihat saja kau dapat mengetahui ilmuku ini!"

"Laknat! Kau keji sekali, Kisanak, sampai membunuh bayi dalam kandungan!" pekik Ryusuke. Seiring dengan bentakannya, tubuhnya condong ke depan dan mulai membabatkan pedang; pedang melawan pukulan.

"Craaassshhh... Bukkk! Hoekkk... ughhh!"

Hebat sekali, dalam sekali gebrakan saja mereka sudah beradu kekerasan. Dengan kecepatan laksana kilat, Ryusuke menggunakan tipu Matahari Terbit Malam Gelap. Serangannya sekilas terlihat sederhana, tapi begitu bergerak, serangannya cepat bagaikan kilat. Tangan kiri yang kosong ia sabetkan menuju mata Pancawali. Rupanya Pancawali terkecoh dan segera menahan serangan itu. Merasa tipunya berhasil, Ryusuke menyabetkan pedangnya dengan cepat, tetapi itu semua harus dibayar mahal. Sebuah tinju dengan telak menghajar ulu hatinya. Keadaan Pancawali pun tidak menguntungkan; dari dada kiri sampai pundaknya terasa perih bukan main. Darah mengucur deras dari sana.

"Ganas juga racunnya!" pikir Ryusuke sambil menelan pil penawar racun.

"Serangannya terlalu cepat, sedikit meleng saja jiwaku melayang. Aku salah karena terlalu menganggapnya remeh, namun kurasa racun ini cukup untuk membunuhnya!" batin Pancawali sambil mendekap erat dadanya.

"Awas, serangan kedua!" Ryusuke berteriak mengguntur sambil memutar pedangnya dengan dahsyat. Itulah jurus Matahari Berotasi. Pancawali mengerahkan tenaga sampai dua belas bagian. Warna hitam di pergelangan tangannya semakin kentara. Dalam hitungan detik, keduanya kembali bergumul seru.

Di tempat lain, tampak Jelita Indria dan Orang Tua Berjenggot Merah sudah terlibat pertarungan. Serangan Jelita Indria sangat lemah dan gemulai, namun pedangnya selalu menyambar ganas. Sedangkan Orang Tua Berjenggot Merah menangkis dan membalas menyerang menggunakan trisulanya. "Trang... trang!" Dentingan dua logam beradu terdengar nyaring, tapi bisa dilihat bahwa Jelita Indria memenangkan pertarungan itu. Rupanya Orang Tua Berjenggot Merah sangat tergiur dan tergoda dengan setiap gerakan gemulai dan tubuh indah Jelita Indria, sehingga setiap jurusnya tidak keluar dengan maksimal.

Dan... jrusss... Brukkk! Nyawa Orang Tua Berjenggot Merah melayang meninggalkan raganya. Ketika Jelita Indria menggunakan jurusnya, Tarian Merak Putih, dadanya yang membusung indah berhadapan tepat dengan wajah Orang Tua Berjenggot Merah. Sementara kedua tangannya teracung ke atas dalam posisi badan melengkung, pahanya yang indah sempat terlihat ketika Jelita Indria mencongkel pedangnya yang terlempar ke atas. Bau harum khas wanita tercium jelas di hidung Orang Tua Berjenggot Merah sehingga gairahnya memuncak. Dalam keterlenaan itu, Orang Tua Berjenggot Merah tak sadar bahwa pedang yang tercongkel itu dikendalikan menggunakan kakinya hingga menembus tubuh tuanya. Tanpa kata, Orang Tua Berjenggot Merah pun tertidur untuk selamanya.

Setelah mencapai jurus yang ke-enam puluh delapan, tampak bahwa Ryusuke sudah mencapai puncaknya. Tangan kirinya yang kosong bergeliat di antara celah kosong hingga akhirnya dapat mengenai jalan darah tidur di tubuh Pancawali. Pancawali terkejut, namun ia tak dapat berbuat apa-apa. Tubuh kekarnya jatuh menggelosor, dan ketika belum mencapai tanah, kepalanya telah lepas terkena sabetan pedang panjang Ryusuke.

*****

"Begitulah, Ketua!" Ryusuke dan Jelita Indria mengakhiri kisahnya. Semua orang di situ tersenyum lega. Akhirnya Aram berkata memecah keheningan, "Lalu, ada kejadian apa lagi? Tampaknya kalian menyimpan ganjalan."

"Eng, sebenarnya kami telah membunuh lima manusia ular pencabut nyawa, padahal seharusnya Ketua yang harus melakukan itu."

"Di mana kalian menemukan mereka?"

"Kami bertemu di jalan, ternyata mereka sudah bergabung dengan Nawa Awatara. Kami sudah mendengar dari Si Pengabar Langit kalau..."

"Syukurlah jikalau begitu! Tak usah kau risaukan mengenai urusan itu, Saudaraku. Aku ucapkan terima kasih. Ada yang ingin kalian tanyakan lagi?"

"Ada! Bagaimana dengan datuk-datuk persilatan juga anggota kita yang sedang berada di markas?" tanya Angkara lirih.

"Semuanya sudah bergerak! Pada waktu itu, aku duduk melamun di dekat air terjun sebab merasakan firasat yang tak enak. Kuperintahkan salah satu anggota yang bernama Sangkoro untuk mengumpulkan semua anggota..."

"Tik... tik... tik!" Suara air yang jatuh dari ketinggian mengiringi bagaikan musik yang berdentang seperti irama lagu.

"Ketua!" sapa seorang pemuda berpakaian hitam dengan rambut gondrong sebatas bahu.

"Ya, ada apa Sangkoro?"

"Semuanya sudah berkumpul!"

"Baik, antarkan aku ke sana!" Keduanya pun segera pergi ke sebuah tempat lapang di dekat batu cadas berwarna hitam, selaras dengan keadaan langit di sana yang sedang biru-birunya. Keadaan di sana tampak ramai dengan obrolan kecil antaranggota, namun ketika Aram datang, semuanya berubah menjadi hening. Sima atau wibawa ketuanya memang sudah mereka kenal sejak pertama kali bergabung.

"Bagaimana keadaan kalian saat ini, Saudara-saudariku?"

"Yehaaaa!" teriak mereka serempak.

"Ada beberapa hal mengapa kita saat ini berkumpul. Apakah kalian sudah siap menjadi seorang pembunuh angkara murka?"

"Siaaappp! Heaaaaa! Hidup Kesejahteraan... hidup Bendera Awan Langit!" jawab mereka serempak.

"Bagus. Mulai besok, kalian aku tugaskan berpesta darah. Silakan kalian membunuh ataupun menyusup di antara mereka. Aku beri kebebasan untuk kalian, terserah kalian mau melakukan apa pun, tapi satu hal: jangan lupakan tujuan utama kita. Tepat pada saat purnama menunjukkan jati dirinya, maka saat itulah kita bergerak. Ada yang ditanyakan lagi?"

Semuanya tampak diam. Wajah mereka dipenuhi dengan senyuman aneh. Saat ini mereka adalah macan yang terkekang. Bisa dibayangkan jika mereka sudah bebas nanti, entah akan berapa tetes darah yang akan tertumpah.

"Silakan kalian berbenah dan menyiapkan diri. Besok pagi aku enggan melihat satu pun di antara kalian berada di sini. Paham?"

"Heaaaaa! Hidup Kesejahteraan... hidup Bendera Awan Langit!"

"Bagus, jikalau begitu aku akan pergi sebentar!" Ucapan tinggal ucapan, sementara jiwa dan raganya entah berada di mana sekarang. Suara itu menggaung penuh gelora, sepertinya aura kematian yang dikuasainya sudah mencapai kesempurnaan, sehingga meski orangnya sudah tak ada, namun auranya masih menyergap setiap orang yang ada di sana. Mereka tidak protes karena mereka dikumpulkan dan ketuanya hanya mengucap beberapa patah kata saja; mereka tahu itulah gaya memimpinnya, singkat, padat, dan jelas.

Jauh dari tempat itu, Aram sedang berlari dengan cepatnya menuju sebuah pondokan di pulau yang bernama Anglep.

"BLAARRRR!" Pintu pondok itu jebol.

"Nek!" Aram berlari dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya gontai seketika ketika melihat sesosok perempuan paruh baya terbaring pucat di sebuah pembaringan, dikelilingi oleh beberapa wajah yang tak asing di matanya: Si Pemabuk Dari Selatan, Ki Asmaradanu alias Si Sinting Dari Timur, Ki Jalak alias Pendekar Burung Jalak, dan Nyi Renjani alias Bidadari Penakluk Naga.

"Nek! Tidak... jangan tinggalkan aku!" Mulutnya mengeluarkan jeritan lantas menubruk tubuh kaku Nyi Permata Dewi alias Dewi Pemanah Asmara. Aram memandang sekian lamanya wajah pucat Nyi Permata Dewi. Hatinya pilu sekali, air matanya mengalir bercucuran.

Ki Asmaradanu menepuk pundak anak angkatnya itu, "Nak, sabarlah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment