Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 86

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 86

"Segala sesuatu pasti ada hikmahnya."

"Ayah," Aram menyandarkan tubuhnya, "bagaimana kejadiannya?"

"Hemmm," Ki Asmaradanu menghela napas sebentar. "Nenekmu mempelajari ilmu yang disebut dengan Asmara Jaya Sukma. Meski hebat, ilmu itu selalu membangkitkan hawa kewanitaannya akan kehangatan. Merasa tak tahan, nenekmu berusaha untuk menghilangkan ilmunya itu, padahal ilmu itu sudah menjadi darah dan dagingnya. Ayah tak tahu kejadian selanjutnya sebab Ayah dan guru serta yang lainnya sedang adu tanding di lapangan. Ketika Ayah kemari, nenekmu sudah menggeletak tak bernyawa. Nah, itulah pesan terakhir nenekmu!"

Ki Asmaradanu menunjuk lantai. Di lantai itulah tergores sebuah tulisan: "Hapus Angkara Murka, Bebaskan Keadilan."

"Baik... baik, Nek! Itu pasti," gumam Aram. Lalu ia berkata dengan suara mengambang, "Lalu apa yang akan dilakukan sekarang oleh Ayah? Ananda mohon pamit, Ananda hendak pergi ke dunia ramai lagi."

"Begitu pula dengan kami, Anakku."

"Mari, Ayah, kita kuburkan jenazah Nenek!"

Aram segera memusatkan tenaga dalamnya ke lengan. Tubuhnya berjongkok sementara tangannya memegang lantai seakan hendak merobeknya. "Heaaaaaaa!" pekiknya dahsyat. Tanah bergetar luar biasa; tanah itu secara aneh menyibak mengikuti teriakan dan tarikannya, meninggalkan bekas berlubang selebar empat tombak persegi.

"Luar biasa!" gumam Ki Jalak dan Nyi Renjani berbarengan.

Kemudian dengan sangat hati-hati, Aram membopong tubuh Nyi Melati dan memindahkannya ke dalam lubang yang dibuatnya tadi. Ia menimbuni lubang itu hingga menjadi sebuah makam, selanjutnya mencongkel kembali lantai yang berisi tulisan pesan terakhir Nyi Permata Dewi yang kebetulan berada dalam batu cadas untuk dijadikan batu nisan. Setelah selesai, Aram berlutut di hadapan makam itu, ia tampak berkemik-kemik sepertinya sedang berdoa.

"Kek, aku tunggu Kakek pada saat purnama bersinar dengan indahnya!"

***

"Begitulah," Aram menunduk sedih setelah menuturkan ceritanya. "Jadi, Nyi Permata Dewi sudah duluan meninggalkan kita!" Angkara dan yang lain juga tertunduk sedih.

"Sudahlah, bila kita terlarut dalam kesedihan maka kita akan terlambat. Besok malam adalah harinya, sebaiknya kita bergegas. Lagipula semua sudah berkumpul, saatnya kita menggempur Angkara Murka."

"Heaaaaa! Hidup kesejahteraan... hidup Bendera Awan Langit."

Desa Jatiwangi yang biasanya selalu ramai dengan kesibukan dan canda tawa, kini tampak sunyi. Para pedagang tampak berseliweran dengan wajah murung. Sementara pedagang lain yang tinggal pun sudah berkemas hendak pulang. Jalan-jalan terlihat lengang dan sunyi. Kalaupun ada yang lewat, hanya satu atau dua orang saja, itu pun terlihat tergesa-gesa. Intinya, para penduduk telah meninggalkan tempat itu. Mengapa? Tak ada yang tahu.

Menjelang senja, jendela dan pintu rumah tertutup rapat-rapat. Suasana desa itu tidak begitu jauh dengan sebuah pekuburan: sunyi dan mencekam. Rasanya seperti desa mati! Kecuali sebuah rumah yang paling mewah di tempat itu, di mana tampak lelaki dan perempuan berseragam hitam menjaga tempat itu.

Kesunyian yang mencekam itu tiba-tiba saja dipecahkan oleh derap serombongan kuda. Suaranya seolah bergema ke seluruh penjuru desa. Rombongan yang berjumlah kurang lebih empat belas orang itu rata-rata berwajah tampan dan cantik. Mereka dipimpin oleh seorang pemuda berkuncir kuda yang diikat oleh kain berwarna biru; di atas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau. Di lehernya tersampir kain berwarna coklat, pakaiannya berwarna biru langit serasi dengan jubahnya. Dia adalah Aram.

"Kita sudah sampai, kawan-kawan," Aram menghentikan laju kudanya.

"Apa yang akan kita lakukan di sini?" Murka Semesta bertanya keheranan.

"Jagal."

"Heh, maksud Anda, Ketua?"

"Kau tahu pesan apa yang terkandung dalam surat yang diberikan oleh Si Pengabar Langit?"

"Tidak, Ketua. Memang apa?"

"Sang Raja dari segala raja mempersiapkan segala sesuatunya, namun sang penghasut tidak pernah membiarkan itu. Dihancurkannya tiang-tiang penyangga itu. Sang Raja memang pintar, namun si penghasut lebih pintar. Sang Raja akhirnya memberikan tahu akan sebuah rahasia; rahasia tentang benih yang tertanam dalam sembilan rahim. Sembilan rahim itu diselundupkan di sebuah desa, desa yang dipenuhi pohon jati yang menebarkan harum..."

"Apakah kita tega membunuh benih yang sedang dikandung?" Angkara bertanya ragu.

"Itulah yang sedang aku pikirkan."

"Ketua!" seorang gadis memakai pakaian dalam berwarna merah muda dibalut jubah panjang berwarna merah hati berkata dengan tatapan tajam.

"Ya, Cempaka, ada apakah?"

"Biar aku yang melakukannya."

"Tapi..."

"Jangan khawatir, Ketua. Aku sudah berpengalaman dalam hal ini, dosaku sudah bertumpuk begitu banyaknya. Terlanjur, meski aku sudah sedikit sadar, namun tak apalah demi kesejahteraan umat manusia."

"Dosa? Dosa apakah?"

"Dulu, aku pernah mengandung sebanyak delapan kali, dan aku sudah membunuh mereka semuanya dalam kandungan," Cempaka menangis tersedu-sedu.

"Hi..."

"Apa?"

"Heh?"

"Hiyy!"

Berbagai macam ekspresi terkejut terlontar dari sekeliling Cempaka, namun hanya Aram yang tidak berkata apa-apa. Dengan sigap ia meloncat dan memegang kedua pundak Cempaka, lalu menatap wajahnya yang berkaca-kaca.

"Baik, jika itu memang keputusanmu, namun satu hal yang harus kau ingat: kau harus bertahan hidup, perjuangan kita belum selesai. Kembalilah secara utuh!" Tatapan mata Aram yang seperti rajawali itu sangat tajam, namun begitu menenangkan. Tak sadar Cempaka mengangguk ringan.

"Baik, semuanya, mari kita bergerak."

++

"Berhenti! Siapa kau, Kisanak?" terdengar bentakan melengking. Nampaknya dia adalah pemimpin penjaga di tempat itu.

"Namaku ini Murka Semesta, dan siapa pula Kisanak?"

Merasa dipermainkan, penjaga itu menyerang Murka Semesta yang dalam pada itu sebagai pengalih perhatian, sementara yang lain masuk melewati jalan yang lain. Tapi Murka Semesta pun nampak sigap. Dia membentur kedua orang yang menahannya hingga terdengar benturan cukup keras, "Blaaar!" Bersamaan dengan itu, penjaga yang menyerangnya terlempar.

Merasa marah, pengawal yang lain berteriak, "Ada penyusup!"

Ternyata teriakan tadi menyadarkan semua penjaga dan semua orang di dalam rumah itu bahwa ada yang tidak beres di luar. Karena itu, mereka pun segera berhamburan keluar. Bukannya takut, Murka Semesta malah tertawa terbahak-bahak dan berteriak nyaring, "Nyonya Maharaja Sembilan Dewa, mengapa hanya berdiam diri saja di kandang? Ayo keluar kita bersenang-senang! Aku yakin akan memberikan benih yang lebih hebat dari si setan keparat itu!"

Teriakan Murka Semesta membuat semua orang yang ada di sana membesi karena menahan gusar.

"Tuan, siapakah kamu sebenarnya?" tanya si pengawal yang merupakan orang setengah baya.

"Siapa aku bukan soal. Yang penting adalah, di mana nyonya-nyonya yang menggiurkan itu?" Murka Semesta ngotot dengan tujuan kedatangannya.

"Sadarkah engkau siapa orang yang kau caci?"

"Tentu saja aku sadar se-sadar-sadarnya. Apa kau pikir aku orang gila?"

"Jadi apa tujuanmu kemari sebenarnya?"

"Serahkan kesembilan nyonya itu, maka aku akan berlalu dengan mereka."

Sementara perdebatan di halaman rumah berlangsung terus, di sebelah kanan dan kiri berkelabat cepat menghindari para penjaga gedung. Selain para penjaga berwajah garang dan buas, di beberapa kamar yang dilalui, mereka mendengar bisik-bisik dan desahan perempuan yang sedang bermain cinta.

"Bagus, kita bagi empat kelompok. Angkara, kau pimpin yang di samping kanan. Ryusuke, kau pimpin yang di samping kiri. Cempaka dan kau Kasturika, lekas cari kesembilan benih itu. Sementara aku dan ketiga gadis ini akan mengacaukan dari belakang."

"Siap!" sahut mereka serempak.

Sret! Semuanya pergi dari tempat itu, kecuali Cempaka dan Kasturika. Dengan hati-hati keduanya berjalan mengikuti lorong-lorong yang lengang diiringi musik berahi. Diam-diam Kasturika dan Cempaka ikut terbakar gairahnya juga. Tetapi karena maksudnya memang mencari kesembilan benih calon malapetaka, maka mereka abaikan kamar-kamar yang mengeluarkan desahan menggairahkan itu. Tanpa suara mereka terus melanjutkan usahanya untuk menemukan ruangan di mana kesembilan benih itu berada.

"HAHAHA... Selemah inikah penjagaan dari Nawa Awatara?" sebuah suara dingin terdengar dari samping kiri rumah.

Belum lama suara dingin dan angker tadi berlalu, tiba-tiba melayang empat orang berambut awut-awutan. Begitu tiba di depan Ryusuke, seorang di antara keempat orang itu membentak sambil mendorongkan sepasang tangannya ke depan: "Sungguh lancang kau!" bentaknya.

Dari sepasang tangannya menderu angin pukulan mengarah ke Ryusuke. Ryusuke mengertakkan gigi, dengan berani ia menjajal orang itu dengan membiarkan tubuhnya diterjang angin pukulan tersebut. Alhasil, Ryusuke terjajar empat langkah ke belakang, namun dengan mantap dan penuh tenaga ia segera menerjang mencecar lawan. Tapi lawan malah menyerangnya dengan ugal-ugalan dan tidak teratur, membuat Ryusuke kelimpungan.

Dengan geraman rendah, Ryusuke menyodok ulu hati lawan sampai sempoyongan. Tanpa dikomando lagi, keempatnya segera maju mengeroyok Ryusuke. Bukan khawatir, malah Ryusuke bertarung semakin bertele-tele. Dengan seenaknya, Ryusuke melayani keempat orang itu sambil membagi-bagikan pukulannya. Teman-temannya, yaitu Yumi Jelita dan Amuk Samudera, juga sedang asyik membakar rumah itu sambil sesekali melawan dan membunuh anggota Nawa Awatara yang mengganggunya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment