Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 87

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 87

Sementara di samping kanan, Angkara, Luyu Manggala, dan Huru Hara tampak asyik membantai musuh, membuat keadaan rumah itu menjadi kacau. Api yang disulut oleh Aram dan ketiga gadisnya dari bagian belakang rumah pun sudah membumbung tinggi. Sementara itu, Cempaka dan Kasturika telah menemukan keberadaan lawan di kamar paling indah dan mewah, yang pintunya terbuat dari besi dengan ukiran abstrak yang rumit.

Keduanya berpandangan, lalu, "Brak!" pintu itu jebol.

Terlihatlah wajah-wajah terkejut dari kesembilan wanita yang ada di sana. Wanita pertama yang berada di sisi paling kanan berambut pendek sepundak dengan poni di dahi. Ia mengenakan baju berwarna biru tanpa lengan dengan belahan dada lebar, menampakkan sebagian kulitnya yang kuning langsat. Bagian bawahnya adalah kain yang dibentuk seperti celana panjang longgar dengan belahan di samping kanan. Perutnya yang membusung besar menunjukkan bahwa ia sedang hamil. Perempuan ini bernama Dewani.

Yang kedua memiliki rambut panjang dan mengenakan jubah rapat berlengan longgar berwarna hijau dengan motif bunga kuning, serta celana panjang longgar berwarna merah darah. Ia adalah gadis cantik berhidung mancung dengan bibir mungil. Matanya indah dan jeli, dengan perut yang sedikit membusung. Perempuan ini bernama Cindaga.

Yang ketiga berpakaian serba kuning gading. Bajunya tanpa lengan, namun bagian depannya rapat hingga batas perut yang membusung besar. Belahan dadanya sedikit lebar, menampakkan kulit yang putih, mulus, dan berkilau karena keringat. Ia memiliki rambut panjang yang sebagian digulung ke atas, sementara sisanya berjuntai hingga melewati pundak. Wajahnya cantik dengan hidung bangir dan bibir yang segar. Perempuan ini bernama Cayadewi.

Yang keempat berwajah cantik dengan hidung mancung dan bibir sedikit tebal yang serasi dengan matanya yang sayu. Ia mengenakan gaun ketat berwarna merah jambu berpotongan terusan yang semakin memperlihatkan perutnya yang membusung besar, dengan belahan panjang dari bawah hingga pertengahan paha. Rambutnya disanggul rapi, ditambah jubah berwarna ungu muda yang dihiasi bulu-bulu lembut pada tepiannya. Dialah Caturasmi.

Yang kelima berpakaian ketat warna merah dengan rambut sebahu. Wajahnya cantik dengan hidung kecil dan mancung, tubuhnya sekal dan berdada kencang. Bulu matanya yang lentik menambah keayuannya, dan tampak perutnya sedikit membusung. Carola itulah namanya.

Yang keenam memiliki wajah cantik dengan bibir agak lebar namun menggiurkan. Perempuan berusia sekitar dua puluh delapan tahun ini tampak matang. Tubuhnya yang mengenakan jubah merah jambu sedikit membuncit. Matanya agak besar dengan bulu mata lentik, penampilannya seronok dengan jubah tak berkancing dan penutup dada tipis warna hijau muda. Kulitnya putih mulus tanpa cacat. Ia bernama Candani.

Yang ketujuh berwajah cantik dengan rambut terurai sepanjang punggung. Ia mengenakan jubah tanpa lengan warna biru yang menutupi perutnya yang membusung. Dadanya ditutup selembar kain sutra biru muda, senada dengan kain penutup pinggulnya. Perempuan berusia sekitar dua puluh enam tahun ini bernama Asta Dewi.

Yang kedelapan berwajah cantik dengan jubah hitam, rambut panjang terurai, dan mengenakan mahkota hiasan bunga. Hidungnya mancung dan bibirnya menggemaskan. Tubuhnya sekal dan padat, dadanya ditutup pinjung kain berwarna gading, sementara sebagian belahan dadanya menyembul naik. Usianya sekitar dua puluhan dengan tubuh yang sedang matang-matangnya meski sedikit membuncit. Kain penutup pinggulnya berwarna gading, serasi dengan namanya, Ani Gading.

Yang kesembilan memiliki wajah mungil dengan rambut dikepang kuda. Perempuan kecil ini mengenakan baju tanpa lengan warna hijau serta celana berwarna senada, dengan ikat pinggang dari kain beludru merah. Ia tampak seperti yang termuda di antara saudarinya, namun perutnya tetap membusung meski usianya baru belasan tahun. Perempuan ini bernama Asti.

"Siapa kalian?" Dewani membentak garang.

"Oh, jadi ini wajah-wajah sembilan nyonya dari calon pembawa petaka itu?" ucap Cempaka tanpa menghiraukan ucapan Dewani.

"Apa maksud kalian datang kemari?" Ani Gading menyambar pedangnya dan menatap tajam kedua tamu tak diundang itu.

"Cantik-cantik juga. Pantas si keparat itu memilih kalian sebagai calon ibu," sela Kasturika, lagi-lagi mengabaikan pertanyaan lawan.

"Kalian sungguh hina!" Asti melompat menerjang Cempaka yang berada di dekatnya. Selarik sinar putih menyerang Cempaka.

Cempaka tertawa dingin. Dengan sigap, ia membentangkan telapak tangan menahan serangan tersebut. "Blaarr!" Meski tanpa mengeluarkan sinar, tenaga angin dari serangan Cempaka jauh lebih hebat. Asti terhuyung ke belakang, darah segar muncrat dari mulut mungilnya.

"Kau terlalu naif. Apa kau tak kasihan dengan anakmu itu?" Kasturika bicara lembut kepada Asti yang tampak meringkuk di bawah pembaringan menahan sakit di perutnya.

Rupanya, secara diam-diam Cempaka telah melakukan sentakan tangan kiri ke muka sementara tangan kanannya menahan serangan Asti, menggunakan jurus "Tapak Tanpa Bayangan" yang ia pelajari sendiri di perpustakaan. Dalam sekejap, Cempaka telah memperoleh keuntungan besar, apalagi kondisi Asti sedang hamil.

"Kalian keji sekali!" teriak para saudarinya serempak sembari bersiap dengan senjata masing-masing.

"Hiaaah!" Kedelapan orang itu menyerang Cempaka dan Kasturika dengan barisan aneh yang tampak tidak sempurna karena kekurangan Asti. Namun, barisan itu tetap tak bisa dianggap remeh.

Melihat itu, Cempaka langsung meluruk, melabrak Ani Gading sebagai target pertama. Tenaga dalamnya dikerahkan hingga puncak. Cempaka mengeluarkan jurus pamungkas gubahannya sendiri yang ia beri nama "Kupu-Kupu Terbang di Angkasa Raya".

Melihat gelagat buruk, delapan nyonya dari kelompok "Sembilan Bidadari Iblis" itu segera mengubah formasi untuk mengurung Cempaka dan Kasturika. Namun, Kasturika justru menyongsongkan tubuhnya untuk dihajar. Tindakan ini membuat semua orang terperangah, bahkan Asta Dewi mengurungkan serangannya dan mundur.

"Hiaaa!" Candani menyabetkan pedangnya ke arah kepala Kasturika. Gesekan pedang dengan udara menghasilkan kilatan bunga api. Sayangnya, lawannya bukan orang sembarangan. Dengan satu geseran kecil, Kasturika berhasil menyelamatkan diri.

Melihat serangan saudarinya gagal, Carola langsung mencecar Kasturika dengan gempuran beruntun. Empat sabetan yang membentuk putaran ke bawah dapat dihindari Kasturika, namun pada sabetan kelima, ia tak bisa mengelak lagi. "Sret!"

"Trang!" Untungnya, Cempaka menahan serangan itu dengan pisau kecil di tangannya.

Saat Cempaka menahan serangan Carola, mendadak Caturasmi memanfaatkan keadaan dan meluncurkan jari kirinya ke punggung Cempaka. "Bes!"

Kalau saja tenaga dalam Cempaka tidak dialirkan ke seluruh tubuhnya, niscaya tubuhnya akan bolong terkena serangan tersebut. Meski begitu, Cempaka tetap terluka dan tulang punggungnya terasa kesemutan.

"Hiiiaaa!" Merasa marah, Cempaka menjerit keras hingga bangunan rumah yang sedang terbakar itu bergetar. Kedelapan wanita itu terhuyung-huyung, terutama Asti yang terkapar, hingga darah mulai merembes dari balik celana hijaunya.

Melihat kondisi saudari kecilnya, kedelapan wanita itu marah bukan kepalang. Cayadewi dan Cindaga segera melancarkan serangan ke arah Cempaka dan Kasturika. "Crash!" Pundak Kasturika terkena sabetan, namun tidak parah.

"Tak ada ampun untuk kalian!" geram Cempaka sambil merangkapkan tangan di depan dada, mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Sekilas tangannya terlihat transparan.

"Tepp!" Tangan Cempaka memegang pundak Dewani dan lengan Carola. Meski terkejut dan heran karena lawan tidak memukul padahal ada kesempatan, keheranan mereka tak berlangsung lama. Keduanya tiba-tiba merasa perut mereka seperti diremas oleh tangan raksasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment