Chapter 88
Tanpa sekerdip mata, Dewani dan Carola ambruk ke lantai sambil memegangi perut mereka. Tak berhenti begitu saja, "Aaa... Aaakh!" Keduanya menjerit-jerit menemani Asti yang sudah pingsan tak kuasa menahan sakit.
Dari pakaian bawah mereka tampak darah merembes keluar. Dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya, Cempaka berubah menjadi bayangan dan menggunakan ilmunya yang bernama Ajian Ajur Mumur Jabang, yaitu suatu ilmu untuk menghancurkan janin dalam tubuh manusia tanpa membunuh sang ibu yang mengandung.
"Tep... tep... tep... tep... tep... tep!" Bagai bayangan, tubuh Cempaka berkelebatan menepuk tubuh beberapa orang yang tersisa, sementara Kasturika diam saja menutup mata.
"Brukk... brukk... brukk!" Mereka berjatuhan mengerang sakit. Ngeri tak terkira di hati Kasturika, sementara Cempaka segera berkelebat keluar; itu tandanya sisa urusan diserahkan kepadanya. Kasturika menjemput pedang panjang di lantai. Ia pandangi sembilan nyonya itu yang tergeletak pingsan bergenang darah. Hiruk-pikuk di luar tak ia hiraukan. Cempaka mengangkat pedangnya dan jrusss! Setelah selesai, Kasturika memandang kesembilan mayat tanpa kepala itu. Ia hendak melangkah keluar, namun tak jadi. Ia pukulkan tinjunya ke lantai sehingga membentuk kubangan besar. Satu per satu mayat beserta kepala yang terpisah itu dimasukkan ke dalam lubang, lalu diurugnya dan ia berlari keluar. Sepanjang perjalanannya, Kasturika melihat berbagai macam pemandangan yang membuat mata mengkirik; mayat laki-laki dan perempuan bergelimpangan. Ada yang hangus, ada yang mati terkena pukulan ataupun senjata tajam.
Dilihatnya Aram dan rombongan sedang menatap hasil karya mereka dengan sedih. "Kau selesai, Kasturika?" Aram menyapa dan dijawab anggukan kepala.
"Mari kita lanjutkan perjalanan," ajak Aram.
Langit gelap, asap mengepul. Mayat bertumpuk mengiringi kepergian mereka. Luka di pundak Kasturika sudah diobati, begitu pula dengan luka Cempaka. Ternyata diam-diam Cempaka sudah terkena pukulan tenaga dalam yang mengguncang isi dadanya. Oleh sebab itulah ia segera mempersingkat pertarungan dan kabur setelahnya. Di malam yang benderang itu, angin bertiup cukup kencang. Bulan yang bulat bersinar dengan indahnya, udara begitu dingin membekukan tulang. Namun, keadaan alam yang nampak bersahabat itu tidak sebanding dengan keadaan di bawahnya. Tampak beberapa sosok berhadapan di sebuah halaman, sementara di sekelilingnya juga tampak beberapa manusia berpakaian hitam.
Rupanya rombongan Ki Asmaradanu dan yang lain tiba lebih dulu di sana. Sementara yang berada di hadapannya adalah seorang kakek-kakek bermata cekung, dengan tulang pipi dan tulang rahang saling bertonjolan. Jubah ungunya tak dikancingkan. Di lehernya menggantung kepala tengkorak sebesar kepala bayi yang menambah keseramannya, juga besi yang melintang di lehernya lengkap dengan seutas rantai yang membelit sebagian tubuhnya. Dialah Ki Sapta yang dikenal sebagai Iblis Pembunuh Raga.
Di sampingnya juga ada seorang kakek aneh. Kakek itu berwajah kurus kering kerontang bagaikan jerangkong; tubuhnya lebih mirip kerangka daripada seorang manusia. Di ujung jari-jarinya mencuat kuku-kuku runcing warna kehitam-hitaman. Dilihat dari ciri-ciri kukunya, dialah Ki Seta atau Iblis Pemakan Jantung. Di sampingnya juga ada dua orang tokoh tua berusia sekitar delapan puluh tahun, berambut panjang awut-awutan warna putih rata. Ia memiliki kumis dan jenggot putih uban. Mengenakan jubah cokelat, berkalung tasbih putih dari pohon oak sepanjang perut. Mereka lah yang biasa dipanggil Sepasang Tasbih Iblis. Selain itu, juga terdapat seorang lelaki bermata sipit, hidungnya mancung, berpakaian pelajar khas daerah Tiongkok. Dialah Si Pelajar Iblis.
"Terlalu besar... terlalu besar nyali kalian semua! Terutama kalian Ki Jalak, Nyi Renjani. Rupanya kalian berdua belum puas mendapatkan nikmatnya ranjam," Ki Seta geleng-geleng kepala dengan suara serak.
"Justru kami kemari hendak membalas perlakuan kemarin," Nyi Renjani mencibir sinis.
"Tak kusangka si pemakan jantung ini mau diperintah kunyuk." Si Sinting dari Timur bergumam sambil menatap wajah kuyu Si Pemabuk dari Selatan. Meski sekilas, ucapan itu rupanya cukup mengena di telinga Ki Seta alias Iblis Pemakan Jantung. Wajahnya merah mendengar sindiran itu.
"Glek... glek... Mereka takut mati, makanya mereka mau saja jadi anjing penjaga!" Si Pemabuk dari Selatan menimpali sambil menenggak tuaknya.
"Sudahlah Seta, jangan hiraukan mereka. Lebih baik kita musnahkan raga mereka biar kita tenang!" Ki Sapta menenangkan Ki Seta.
"Huppp... Brettt... Blaarrrrrrrr!" Mulut bicara menenangkan Ki Seta, sementara tubuhnya melesat bagai kilat menyerang Ki Asmaradanu yang pada waktu itu sedang tidak bersiap-siap. Tangan Ki Sapta berubah menjadi merah saga, bau cendana tampak menyeruak seiring dengan pukulannya. Ki Asmaradanu terkejut, belum sempat ia memasang kuda-kuda, serangan Ki Sapta sudah berada di depan matanya. Tapi entah mengapa Ki Sapta malah membatalkan serangannya, bahkan sampai berjumpalitan bersalto dua hingga tiga kali.
"Hehehe... Jangan lengah Sinting, kau kan tahu betapa liciknya mereka!" Ternyata entah bagaimana caranya Si Pemabuk dari Selatan sudah berada di bawah Ki Asmaradanu sambil menenggak tuaknya.
"Setelah tak berjumpa sekian lama, kemampuanmu semakin boleh saja, Setan Tuak!" Ki Sapta memuji kagum.
"Apa kau takut?" Si Pemabuk dari Selatan mencibir.
"Brettt!" Kelimanya pun segera meloncat menerjang. Tanpa rasa gentar, Ki Jalak, Ki Asmaradanu, Si Pemabuk dari Selatan, Kakek Arak Seribu Kati, dan Nyi Renjani menyambut serangan itu, sehingga terjadilah sebuah pertarungan yang seru dan dahsyat.
Kakek Arak Seribu Kati tersenyum ketika menghadapi Si Pelajar Iblis, segera ia berkata dalam bahasa daerahnya, "Kabur ke liang apa pun air selalu mencapainya, setelah lama kucari-cari akhirnya kita berjumpa lagi orang She Liong!"
"Setan Arak, sepertinya kau mendapat kawan di mari, ya. Kita memang sudah lama tidak berjumpa!" jawab Pelajar Iblis. Seraya mencabut kipasnya, Pelajar Iblis yang bernama asli Liong Siau Tan itu memasang kuda-kudanya. Pelajar Iblis mengayunkan langkah sambil memutar kipas di atas kepala, tenaganya dikerahkan delapan bagian pada kipasnya itu. "Merogoh Maut dalam Angin," teriak Pelajar Iblis lantang. Sementara itu, Kakek Arak Seribu Kati juga sedang mengerahkan jurusnya yang bernama "Guci Penuh, Arak Meluber".
"Trankkkk..." Benturan seperti logam beradu berdentang. Rupanya kipas Pelajar Iblis terbuat dari baja lembek, begitu pula dengan guci milik Arak Seribu Kati. Keduanya berpandangan tajam. Kakek Arak Seribu Kati membuka serangan dengan memajukan tangan kiri sementara tangan kanan ditekuk dekat tangan kanan sambil memegang guci. Sekilas jurus itu memang tidak ada keistimewaan sekali, namun begitu Pelajar Iblis menyongsong guci itu dengan tangannya, sementara tangan kirinya nyelonong menusuk mata. Sringg! Crakkkk... Arak keras dalam guci itu melesat bagai jarum menyerang tubuh Pelajar Iblis. Pelajar Iblis terkejut, namun pengalamannya bicara; seketika ia membatalkan serangan sambil memutar tubuhnya bagai gasing. Melihat buruannya menghindarkan diri, Kakek Arak Seribu Kati jelas tak ingin membiarkan lawannya itu menempati tempat yang menguntungkan.
Dengan diikuti desiran angin yang amat tajam, dia melancarkan satu serangan dahsyat ke arah Pelajar Iblis. Pelajar Iblis pun bukan seorang manusia sembarangan. Walaupun dia merasa geram akan serangan lanjutan Kakek Arak Seribu Kati ini, tetapi tubuhnya dengan cepat menambah daya putar. Kipas di tangan kanannya segera dibabatkan menangkis serangan Kakek Arak Seribu Kati. Sekali lagi guci dan kipas bentrok di udara menjadi satu, menimbulkan percikan bunga api. Kakek Arak Seribu Kati kembali membentak gusar; gucinya dalam sekejap saja sudah melancarkan sepuluh kali serangan ke arah Pelajar Iblis. Air muka Pelajar Iblis berubah hebat, kedahsyatan dari tenaga yang terpantul keluar dari guci itu amat hebat, jauh di luar dugaannya. Bilamana bukannya dia bisa cepat-cepat menyalurkan seluruh tenaga murninya ke kipas, ada kemungkinan kipasnya pada saat ini sudah terlepas dari tangannya. Wajahnya pun berubah hebat, dengan gusar ia membentak garang, disusul dengan kipas di tangan disabetkan sambil balas menyerang ke arah leher.
Kakek Arak Seribu Kati mendengus dingin, dengan sedikit merunduk, serangan itu tak mencapai sasarannya. WUNG...! Guci Arak Seribu Kati hendak mengkampleng kepala Pelajar Iblis. Dengan jurus "Kipas Dewa Menembus Ombak", Pelajar Iblis menangkis datangnya serangan dari Kakek Arak Seribu Kati itu. Kakek Arak Seribu Kati memanglah seorang petarung yang handal. Di tengah suara suitan yang amat nyaring, tubuhnya meloncat ke udara sedang gucinya dengan cepat dilemparkan ke arah Pelajar Iblis. Saat itu, guci Kakek Arak Seribu Kati sudah sampai dada Pelajar Iblis; baginya cuma ada dua jalan saja, menghindar atau mengadu kekerasan dengan guci itu. Dalam hati Pelajar Iblis benar-benar merasa amat gusar. Tanpa menghiraukan serangan itu, ia balas menyerang Kakek Arak Seribu Kati dengan melemparkan kipasnya pula.
Kakek Arak Seribu Kati yang sedang merasa bahwa kemenangan semakin dekat, mendadak merasa adanya segulung angin tajam dekat perutnya. Dalam hati ia jadi amat kaget, untuk menghindar tak sempat lagi, membuat dia merasa serba salah.
"Crass... Bukkkk!" Hoekkk!
Guci yang terlanjur dilemparkan Kakek Arak Seribu Kati dengan telak menghantam dada Pelajar Iblis. Tanpa sempat berteriak lagi, tubuh Pelajar Iblis ambruk bersamaan dengan muntahan darahnya. Kakek Arak Seribu Kati juga tidak meraih keuntungan; perutnya hampir saja ambrol terkena serangan kipas itu, untung saja ia cukup sigap sehingga hanya merobek kulit perutnya saja.