Chapter 89
Sementara itu, Ki Asmaradanu bergabung dengan Si Pemabuk dari Selatan melawan Ki Sapta dan Ki Seta yang saat itu membentuk barisan yang aneh.
"Serang mereka!" seru Iblis Pemakan Jantung dan Iblis Pemusnah Raga yang mulai menyerang Ki Asmaradanu dan Si Pemabuk dari Selatan dari dua sisi.
Si Pemabuk dari Selatan dan Si Sinting dari Utara berkelit, kemudian keduanya membalas serangan secara serentak. Si Pemabuk dari Selatan menyerang dengan ilmu Mabuk Tiada Akhir. Dengan gesit, ia menggeloyor ke kiri, menjadikan kaki kiri sebagai poros untuk memutar tubuh, lalu berada di belakang lawan dan memukulnya dengan telapak kiri. "Plaaakk!" Iblis Pemakan Jantung terhuyung mundur.
Pertarungan semakin sengit. Mula-mula Iblis Pemakan Jantung kebingungan menghadapi serangan Si Pemabuk dari Selatan. Di saat itulah Iblis Pemusnah Raga berseru keras, mengajak rekannya untuk bergabung.
"Dua Iblis Memegang Rantai!" Seketika, tangan keduanya menempel menjadi satu, sementara tangan lainnya berputar dengan dahsyat. Kecepatan putaran itu membuat Si Pemabuk dari Selatan dan Ki Asmaradanu merasakan angin tajam menerpa mereka. Ki Asmaradanu, yang bergelar Si Sinting dari Utara, dulunya adalah orang berbakat dari alam karena ia merupakan pewaris Pangeran Langit dan Bumi. Kecerdasannya sangat dahsyat, namun di usia matang, ia mendapat malapetaka yang mengganggu jiwanya akibat kejadian yang menimpa sahabat terdekatnya. Peristiwa itu membuatnya sering melamun dan melalaikan tugasnya.
Sang Pembimbing ke-190 merasa marah sekali. Dengan emosi yang menggebu, ia mengutuk Ki Asmaradanu.
"Dengarlah wahai Sang Pewaris, jadilah kamu gila segila pikiranmu itu, dan suatu saat nanti akan lahir seorang pewaris keturunanmu yang lebih gila darimu, sebagaimana kidung yang telah diwariskan sejak dahulu: 'Jika langit dan bumi enggan bersatu, petir biru menyalak sembilan kali menyambar sebuah tempat di bumi, di sanalah akan muncul pewaris Sang Langit dan Bumi'. Maka, jika saat anak terkutuk itu lahir guntur menyalak sepuluh kali, ia akan membawa bencana bagi siapa pun yang memusuhinya, dan apabila bumi bergetar, anak itu akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia. Ingat itu baik-baik!"
Sebelum dikutuk, Ki Asmaradanu telah menciptakan ilmu silat dahsyat yang belum pernah ia keluarkan seumur hidupnya, yakni "Titisan Arwah Bumi" dengan ajian pendamping bernama Ajian Wasudha.
Melihat lawan menyerang dengan dahsyat, ia memutuskan menggunakan ilmu tersebut. Ia berkelit maju sekaligus menangkis serangan lawan.
"Blaaam!" Terdengar benturan menggelegar. Iblis Pemusnah Raga dan Iblis Pemakan Jantung tergetar mundur, sementara Ki Asmaradanu tetap berdiri di tempat. Keduanya terkejut, begitu pula Si Pemabuk dari Selatan yang segera berseru, "Gila! Sinting, jurus apakah itu?"
"Kau menghina atau memuji? Entahlah, aku lupa. Emm, kalau tak salah Titisan Arwah Bumi," jawab Ki Asmaradanu.
"Jurus yang hebat!" puji Si Pemabuk dari Selatan tulus.
Iblis Pemusnah Raga dan Iblis Pemakan Jantung kembali menyerang. Kali ini, Si Pemabuk dari Selatan menangkis dengan Jurus Mabuk Tiada Akhir yang dilandasi Tenaga Panca Menjadi Tunggal.
"Blaaam!" Si Pemabuk dari Selatan terhuyung ke belakang, sedangkan kedua iblis itu terpental beberapa depa tanpa terluka.
"Kalian memang hebat," ujar Iblis Pemusnah Raga, lalu berseru, "Dua Capit Iblis!" Kedua iblis itu berbaris berdampingan, tangan luar mereka membentuk capit, sementara tangan lainnya saling menempel menyerupai capit kepiting.
Melihat itu, air muka Ki Asmaradanu berubah. Ia bergumam, "Hati-hati, mereka menggabungkan tenaga dalam."
"Ya, kau pikir aku bodoh?" gerutu Si Pemabuk dari Selatan.
Ki Asmaradanu segera merapal Ajian Wasudha hingga puncaknya. Tubuhnya amblas sebatas mata kaki ke dalam bumi, dan tanah di sekelilingnya bergetar membentuk lingkaran. Tanah itu kemudian melayang dua jengkal dari permukaan. Baju dan rambut Ki Asmaradanu berkibar kencang. Sementara itu, Si Pemabuk dari Selatan mengerahkan Ajian Warayang yang menekankan kekuatan angin; kepalan tangannya dikelilingi pusaran angin sebatas siku.
Saat kedua iblis membentak dan menyerang, Si Pemabuk dari Selatan melompat ke belakang, sedangkan Ki Asmaradanu mengangkat tangannya. Tanah sebesar bongkahan kerbau melayang dengan kecepatan kilat, menghadang pukulan lawan.
"Daaar! Blaaam! Duarrr!" Ledakan dahsyat menggoncang bumi. Para anggota Nawa Awatara yang berada di sana berlarian, bahkan pertarungan lain ikut terhenti.
Iblis Pemusnah Raga dan Iblis Pemakan Jantung terdorong mundur, terjatuh bergulingan dengan mulut mengeluarkan darah. Ki Asmaradanu terpental lima hingga enam depa, sudut bibirnya mengeluarkan garis merah. Si Pemabuk dari Selatan terpental hampir sepuluh depa, namun ia tidak terluka karena melepaskan tenaga dalamnya sambil melompat mengikuti arah dorongan.
"Kau tak apa?" seru Si Pemabuk dari Selatan sambil mendekati Ki Asmaradanu. Wajah Ki Asmaradanu tampak pucat, ia hanya menggelengkan kepala.
Sementara itu, Ki Jalak dan Nyi Renjani sedang bertarung sengit melawan Sepasang Tasbih Iblis. Salah satu iblis yang bertubuh pendek melompat ke muka, mendorongkan kedua kepalan tangannya ke arah dada Nyi Renjani dengan jurus "Pandita Menghembuskan Napas". Angin pukulan itu membuat pakaian Nyi Renjani berkibar. Menyadari kehebatan lawan, Nyi Renjani melompat ke samping dan bermaksud melancarkan tusukan pedang. Namun, serangan lawan memiliki tipu muslihat; serangan itu membalik dengan kecepatan luar biasa.
Ki Jalak mengeluarkan siulan nyaring dan melompat setinggi dua tombak. Dari atas, ia menyambar kepala Ki Darmo yang sedang menyerang Nyi Renjani. Ki Darmo geram dan membatalkan serangan, merendahkan kuda-kudanya, lalu memukul ke depan dengan tangan kiri.
"Bukkk!" Punggung Ki Jalak terpukul telak. Tubuhnya bergetar, namun ia berhasil melindungi diri dengan tenaga dalam sebelum pukulan itu menghancurkannya. Ia segera jungkir balik dan menyalurkan tenaga ke bagian yang terkena hantaman. Ki Darmo kagum melihat lawannya masih bisa berdiri tegak.
"Keparat ini memiliki kepandaian tinggi," batin Ki Darmo. Ia lalu berkata kepada saudara kembarnya, "Adik, cepat kita buat barisan dan lekas bunuh mereka!"
"Bicara memang mudah, tapi untuk apa bila kenyataannya hanya mimpi belaka!" cibir Nyi Renjani.