Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 90

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 90

Sepasang Tasbih Iblis tidak menghiraukan ucapan itu. Setelah keduanya mencapai kesepakatan jurus, mereka langsung menyerang. Mereka mengerahkan seluruh kepandaiannya, sehingga yang terlihat hanya bayangan jubah cokelat yang berkelebat kian kemari.

Demikian hebatnya serbuan Sepasang Tasbih Iblis hingga Nyi Renjani dan Ki Jalak merasa seolah-olah musuh mereka berubah menjadi puluhan. Tubuh mereka disambar angin serangan dari berbagai penjuru, dan sesaat kemudian, satu pukulan menyerempet bahu Ki Jalak hingga ia meringis kesakitan.

Nyi Renjani yang melihat lawan menggunakan jurus hebat segera merapal Ajian Selaksa Dewa Pedang Mengamuk. Detik itu pula, tubuh Nyi Renjani merunduk dan memutar pedangnya dengan ganas hingga membuat batang pedangnya lenyap dari pandangan; yang tampak kini hanya bayangan putih keperakan menyambar kian kemari.

Ki Jalak pun enggan dijadikan bulan-bulanan. Segera ia berjongkok menghindari putaran dahsyat pedang Nyi Renjani dan merapal Ajian Karatala. Telapak tangannya yang kemerahan berubah menjadi putih keperakan. Dengan sekali sentakan, Ki Jalak menghantam tanah hingga bumi berguncang. Kejadian itu bersamaan dengan ledakan dahsyat dari pasangan Ki Asmaradanu dan Iblis Pemakan Jantung. Seketika itu juga pertarungan berhenti sejenak, lalu mereka kembali saling melibat.

Setelah menggempur lima belas jurus imbang, Sepasang Tasbih Iblis mulai gelisah. Jubah cokelat mereka telah basah oleh keringat. Tiba-tiba, buk! Ki Jalak yang masih merapal Ajian Karatala menyodokkan telapaknya ke dada Ki Darma. Ki Darma mengeluh sambil memegangi dadanya yang terasa panas terbakar. Belum hilang rasa sakitnya, ia harus menerima sabetan dahsyat berwarna putih keperakan. Namun, kilatan keperakan itu berhenti di tengah jalan dan membalik untuk membabat sinar hitam yang menyambar.

"Trang!" Dentum dua logam beradu bersamaan dengan percikan api.

Ketika Nyi Renjani melihat kesempatan, ia hendak menyusuli serangannya dengan kibasan pedang, namun ia harus membatalkannya karena sebuah kilatan hitam menyerang dirinya. Nyi Renjani melompat mundur. Dipandangnya lawan yang memegang tasbih kayu ek pemancar sinar hitam tersebut.

"Serangan bagus!" sindir Nyi Renjani sambil menempatkan pedang di depan wajah, sementara tangan kirinya membentuk cakaran—pembukaan Jurus Pedang Pembunuh Naga. Wajah Sepasang Tasbih Iblis memerah. Tanpa banyak bicara, Ki Darmo menitahkan Ki Darma untuk menggunakan senjata andalan mereka. Mereka segera menyerbu dengan menyabetkan tasbih. Sinar hitam yang keluar dari tasbih menderu dengan lengkungan aneh, disertai hawa dingin dan panas yang menggidikkan.

Nyi Renjani dan Ki Jalak cepat berkelit menghindarkan serangan. Namun, tiba-tiba dengan kecepatan luar biasa, senjata itu membalik silang dan kembali menebar sinar hitam. Demikian terjadi berulang kali. Kalau saja Ki Jalak dan Nyi Renjani tidak memiliki kegesitan yang ditunjang ilmu meringankan tubuh yang tinggi, niscaya mereka sudah beberapa kali terkena hantaman tasbih mustika itu.

Nyi Renjani tidak begitu gugup, sebab semasa mudanya ia pernah bertarung dengan ular raksasa berusia ribuan tahun. Dengan pengalaman itulah ia mudah berkelit bahkan balik menyerang. Sementara itu, Ki Jalak memiliki ilmu meringankan tubuh yang dominan, sehingga ia memiliki kegesitan luar biasa. Serangan gabungan Sepasang Tasbih Iblis datang bertubi-tubi dengan hawa panas dan dingin yang mempersempit ruang gerak.

Sepasang Tasbih Iblis tertawa saat melihat posisi lawan melemah, lalu mereka menerjang. Tasbih di tangan kanan Ki Darma menebar sinar hitam berhawa panas dari kiri, sementara Ki Darmo menebar dari kanan, seolah hendak menggunting tubuh Ki Jalak dan Nyi Renjani. Ki Jalak tertawa gembira melihat jebakannya berhasil. Ia segera membuka serangan lagi; telapak tangan perak ber-Ajian Karatala menghadap ke depan dengan jari-jari membentuk cakar. Sambil mengerahkan tenaga dalam, Ki Jalak hendak merenggut tasbih di tangan kedua orang itu.

Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara menderu. Cahaya putih keperakan berkelebat, menyeruak di antara cakaran telapak tangan dan ujung tasbih. Seketika itu juga kedua tasbih tersebut putus hancur berhamburan dengan suara bergemerincing. Sepasang Tasbih Iblis berseru kaget dan melompat mundur, namun terlambat. Cakaran Ki Jalak membeset perut keduanya.

"Crass! Argh! Bruk!" Keduanya mendelik tak percaya. Dari perut mereka keluar darah segar beserta usus yang terburai hingga akhirnya mereka ambruk tak bernyawa.

Ki Jalak dan Nyi Renjani berpandangan, lalu mengedarkan pandangan. Dilihatnya Kakek Arak Seribu Kati juga sedang mengangkat gucinya dari Si Pelajar Iblis yang sudah ambruk dengan kepala retak. Darah segar dari mulut Kakek Arak Seribu Kati masih mengucur, sepertinya ia mengalami luka dalam.

Di sisi lain, Ki Asmaradanu dan Si Pemabuk dari Selatan sedang mencapai puncak ilmu mereka. Tubuh Ki Asmaradanu terangkat, rambutnya berdiri bagai landak. Tangannya mengepal erat, kemudian ia menengadah dan berteriak kencang, "Heaaa!" Suara itu melengking dahsyat hingga tanah bergetar dan membentuk tiang runcing yang melayang di sekitarnya.

Iblis Pemusnah Raga dan Iblis Pemakan Jantung tercekat, namun mereka segera merapal ajian masing-masing: Ajian Matiraga dan Ajian Palarjantung. Si Pemabuk dari Selatan pun mengerahkan Ajian Mendhemkepayang; matanya terbalik menjadi putih dan tubuhnya gontai, sementara gucinya ia tenggak dengan tuak yang berlumuran.

"Hiaaa!"

Blar!

Debu mengepul tinggi, rumput di halaman hancur berantakan, tanah berbongkah, dan beberapa bangunan ambrol. Anggota Nawa Awatara lainnya terhempas angin bentrokan itu. Tubuh Iblis Pemusnah Raga dan Iblis Pemakan Jantung terlempar dan jatuh tak bernyawa dengan tanah keras menancap di tubuh mereka.

Berbeda halnya dengan Ki Asmaradanu dan Si Pemabuk dari Selatan. Meski terlempar sejauh dua puluh tombak dan terluka parah, mereka tidak tewas. Jiwa keduanya terselamatkan oleh Kakek Arak Seribu Kati dan Ki Jalak yang menangkap tubuh mereka.

Mendadak, terdengar suara tepuk tangan. Ki Jalak dan yang lain berpaling. Ternyata seorang pemuda berusia sekitar dua puluh sembilan tahun berdiri di sana. Wajahnya cakap dengan tahi lalat di atas alis kiri, hidung mancung, dan bibir tipis. Rambutnya sebatas pundak dengan baju merah darah. Di dada kirinya terdapat rajah piramida berantai dengan tulisan angka sembilan. Dengan tenang ia berjalan diiringi empat pengawal laki-laki dan empat pengawal perempuan.

"Hebat, sungguh hebat. Kalian datang menghancurkan istanaku dan membunuh anggotaku! Sungguh besar nyali kalian," ucapnya.

Wajah Ki Jalak dan Nyi Renjani berubah bengis. "Maharaja Sembilan Dewa!"

"Hahaha, hebat juga si Rubah Aram Widiawan sehingga mampu meloloskan kalian sekaligus mengembalikan tenaga yang telah musnah."

"Kau benar-benar laknat, Danabrata! Ayahmu sendiri, Adi Bramanta, kau bunuh begitu saja!" sela Si Pemabuk dari Selatan dengan pilu dan geram.

"Uwak Bramawisata, sudah sekian lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan Uwak?" sapa Maharaja Sembilan Dewa.

Para hadirin terkejut. Dari percakapan itu, mereka akhirnya tahu bahwa Si Pemabuk dari Selatan bernama asli Bramawisata dan memiliki adik bernama Bramanta, ayah dari Danabrata, sang Maharaja Sembilan Dewa.

"Buruk sekali sejak kau mencemarkan nama keluarga! Sungguh mengenaskan nasib adikku yang mengawini putri keturunan iblis dan harus melahirkan anak iblis yang paling keji di dunia ini!" keluh Ki Bramawisata.

"Uwak!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment