Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 91

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 91

"Sekali lagi kau bilang mendiang ibu putri iblis, maka aku takkan sungkan untuk membunuhmu juga!" wajah Maharaja Sembilan Dewa mengeruh.

"Hahaha.... Justru akulah yang akan melumatkan dulu ragamu sebagai penebusan nyawa setiap insan yang kau bunuh itu, Danabrata! Sekalian menunaikan tugas ayahmu yang tak kesampaian," ucap Ki Brahmawisata dengan garang.

"Danabrata, terima ini! Ini adalah pukulan penyesalan ayahmu! Hiaaa......" Si Pemabuk dari Selatan meloncat menerjang Maharaja Sembilan Dewa.

"Pukulan Dewa Aditya! Kalian mundurlah, ini urusan keluarga," ucap Maharaja Sembilan Dewa kepada pengawalnya yang sudah siap menahan Si Pemabuk dari Selatan.

Lalu ia menimpali, "Baik jika itu keinginanmu, Uwak! Tak ada pilihan, akan aku sambut Pukulan Dewa Aditya-mu itu dengan Telapak Dewa Chandra!"

"Blaaarrr!" Pukulan dan telapak beradu di udara. Maharaja Sembilan Dewa tergetar, sementara Si Pemabuk dari Selatan terjajar mundur. Namun, semua itu tak menyurutkan semangatnya yang membara; ia kembali menyerang Maharaja Sembilan Dewa.

Bagaimana kronologis riwayat Maharaja Sembilan Dewa dan Si Pemabuk dari Selatan itu? Kita buka lembaran yang telah terlewat. Dalam dunia persilatan, terkenallah dua saudara yang telah mengarungi dunia. Mereka adalah putra dari sang penjelajah jagat, Brahmacari. Kedua anak itu bernama Brahmawisata dan Brahmanta. Mereka hidup dalam lingkungan yang unik; sejak kecil, mereka tidak memiliki tempat tinggal tetap. Kegiatan sehari-hari mereka adalah belajar sastra, silat, dan berjalan. Berjalan bukan sekadar berjalan, melainkan menjelajahi setiap pelosok negeri.

Menginjak usia dewasa, sang ayah berpulang untuk selamanya. Mulailah mereka berpisah dan menentukan jalan hidup masing-masing. Tahun demi tahun berlalu, hingga akhirnya Tuhan mempertemukan kembali kedua saudara itu. Brahmanta, adik dari Brahmawisata, telah menikah, berbeda dengan Brahmawisata yang lebih suka menyendiri. Istri Brahmanta adalah wanita cantik, molek, dan mahir dalam hal silat maupun sastra, sebanding dengan Brahmanta yang merupakan pemuda tampan. Kehidupan mereka berlangsung sederhana dan bahagia, apalagi ketika mereka dikaruniai seorang anak. Kebetulan, saat anak itu lahir, Brahmawisata berkunjung. Pasangan itu menyambut gembira dan meminta Brahmawisata memberikan nama untuk anaknya. Akhirnya, terpilihlah nama Danabrata yang berarti "Dewa Kekayaan".

Pada malam harinya, Brahmawisata meminta Brahmanta menemuinya di gunung belakang rumah. Meski tak mengerti, Brahmanta menuruti kemauan kakaknya. Setelah mendaki gunung, dilihatnya sang kakak sedang bersila dengan tenang di atas rumput bukit.

"Kakang Brahmawisata!" sapa Brahmanta lembut.

Brahmawisata berpaling dan memberi isyarat agar adiknya duduk di hadapannya.

"Ada apa, Kakang?" tanya Brahmanta spontan.

"Adik, ada sesuatu yang ingin Kakang bicarakan mengenai anakmu itu."

"Oh, apakah Kakang hendak mengambilnya sebagai murid?"

"Bukan," Brahmawisata menggeleng.

"Lalu ada apa?"

Bukan mendapat jawaban, Brahmawisata justru tampak melamun. Brahmanta kebingungan, namun ia paham ada sesuatu yang serius dan tidak mengenakkan akan terjadi. "Kakang, katakanlah... apapun yang akan terjadi aku tidak akan membencimu. Apakah Kakang sedang ada masalah?"

"Bukan, Adi Brahmanta. Sudah aku katakan ini mengenai anakmu, berarti itu menyangkut dirimu sendiri."

"Aku tak mengerti, Kakang. Oh ya, satu lagi... mengapa Kakang bisa datang tepat saat anakku lahir?"

"Ah, Adikku, sebenarnya aku kemari karena mendapatkan mimpi aneh. Aku dijumpai oleh seorang kakek bernama Avatara Batara Yuda! Dalam mimpi itu, aku diberitahukan bahwa anakmu suatu saat nanti akan mencemarkan keluarga, bahkan menjadi musuh dunia persilatan. Wahai Adikku, dia juga memberitahukan bahwa istrimu adalah putri seorang pendendam—biang keladi ketentraman dunia persilatan pada masa Pangeran Empat Dewa!"

"Apa!" Brahmanta tersentak kaget, namun Brahmawisata menenangkannya.

"Adikku, jangan dimasukkan ke dalam hati. Mungkin itu bunga tidur belaka. Didiklah anakmu itu dengan kebaikan! Bila benar istrimu putri orang itu, maka selama ia bersikap baik, maafkanlah dan terimalah apa adanya!"

"Terima kasih, Kakang!" Brahmanta memeluk Brahmawisata.

"Namun, aku merasa khawatir, Adik. Siang malam aku kemari menemuimu sebab mimpi itu selalu datang tiap malam, baik saat aku bersemadi maupun tidur. Bukankah ini aneh?"

Brahmanta tertegun; ia melihat kantung mata kakaknya membengkak, mungkin karena tidak bisa tidur akibat kekhawatiran yang mendalam.

"Memang aneh, Kakang!"

"Lupakanlah, Adik. Lekaslah kembali pada anak-istrimu!"

Meski ragu, Brahmanta menurut. Setelah pembicaraan itu, sikap Brahmanta sempat murung. Namun, seiring beranjak dewasa, sifat Danabrata sangat lembut sehingga Brahmanta melupakan pembicaraan tersebut dan justru mengajarkan segenap ilmu kepandaiannya.

Hingga pada suatu malam, langit begitu kelam. Sinar bulan tertutupi awan kelabu dan angin berhembus dingin membekukan tulang. Namun, tidak bagi dua sosok yang sedang berlatih di puncak bukit di samping pondok milik Brahmanta. Tak jauh dari mereka, sepasang mata tampak mengintip dengan geram. Yang sedang berlatih adalah Danabrata dan istri Brahmanta yang bernama Darani. Mereka sedang melatih ilmu silat sesat yang ganas, keji, dan tak berperikemanusiaan. Brahmanta benar-benar geram melihatnya, ucapan kakaknya kembali mengiang di telinga.

Tak lama kemudian, kedua ibu dan anak itu berhenti. Darani berkata, "Anakku, kau hebat sekali! Ilmu Sembilan Dewa Iblis hampir penuh kau kuasai. Kau ingat tugas yang kau emban?"

"Tentu, Ibu. Dendam seribu karat dari buyut kita sampai sekarang. Aku harus menjadi penguasa dunia persilatan dan membantai segenap orang yang telah membuat kita harus bersembunyi!" jawab Danabrata seram.

Brahmanta merinding; tak disangka istrinya telah meracuni anaknya sedemikian rupa.

"Ibu, mengapa aku harus bersikap baik kepada Ayah? Apakah Ibu mencintainya?"

Brahmanta segera memasang telinga.

"Hihi... dasar. Kau tahu, Anakku... dengan bersikap baik pada ayahmu, kau akan mendapatkan segenap ilmunya. Ibu sama sekali tidak mencintai ayahmu; Ibu hanyalah menginginkan benihnya untuk melanjutkan dendam kesumat kita. Ayahmu adalah lelaki dambaan setiap wanita, bukankah itu akan menurun kepadamu? Ibu lebih suka melakukan itu denganmu!" Darani berkata genit.

Brahmanta gemetar. Sebelum ia beranjak, terdengar rintihan wanita yang menandakan perbuatan tidak senonoh, terlebih dilakukan dengan anaknya sendiri. Keesokan harinya, Brahmanta mengamuk hingga terjadi perkelahian sengit. Darani terluka parah dan meninggal dunia. Melihat itu, Danabrata menusuk Brahmanta hingga terluka parah. Namun, Brahmanta berhasil melarikan diri untuk menemui Brahmawisata dan menceritakan segalanya. Sejak itulah jiwa Brahmawisata terguncang dahsyat; untuk melupakan kata-kata adiknya, ia berlari ke dalam minuman hingga dikenal sebagai Si Pemabuk dari Selatan.

Belasan jurus telah berlangsung, hingga pada satu kesempatan, "Jaga serangan!" seru Si Pemabuk dari Selatan sambil menenggak tuak dari guci tanah liatnya. Kemudian, dengan gerakan mulut yang aneh, ia menyemburkan tuak itu.

"Wusss!"

"Sembur Dewa!" ucap Maharaja Sembilan Dewa sambil mengelak. Tuak itu melesat cepat dan mengenai tembok bangunan di belakangnya, meninggalkan bekas lubang yang mendesis.

Pertarungan semakin seru. Si Pemabuk dari Selatan merangsek maju saat Maharaja Sembilan Dewa sedang melayang di udara. Dengan kecepatan penuh, Si Pemabuk dari Selatan kembali meneguk tuaknya dan menyemburkannya. Maharaja Sembilan Dewa menjadi murka. Dengan amarah meledak-ledak, ia menyerang Si Pemabuk dari Selatan dengan jurus yang saking cepatnya tak bisa dijabarkan. Dari jarak sepuluh tombak, dalam sekejap mata, Maharaja Sembilan Dewa telah berada sejengkal di depan lawannya.

Si Pemabuk dari Selatan tidak diam saja; guci tuaknya bergerak cepat menangkis tinju yang hanya berjarak satu inci dari hidungnya.

"Bukkk!"

Tinju itu mengenai pelipis Si Pemabuk dari Selatan, sementara gucinya mengepruk tangan Maharaja Sembilan Dewa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment