Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 92

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 92

Si Pemabuk dari Selatan terhuyung-huyung, namun ia tidak mengalami cedera sebab wajahnya sudah ia lindungi dengan tenaga dalam, sementara Maharaja Sembilan Dewa memusatkan tenaga dalamnya di kepalan sehingga beberapa bagian tangannya tidak terlindung tenaga dalam. Melihat itu, Si Pemabuk dari Selatan semakin bersemangat. Serangan dengan guci tuaknya kian gencar.

Namun, Maharaja Sembilan Dewa bukanlah lawan yang empuk. Dengan sigap, ia mengembangkan jurus Sembilan Dewa Iblisnya, menyerang leher Si Pemabuk dari Selatan. Dengan cepat, Si Pemabuk dari Selatan yang diserang melenting dengan tubuh bersalto untuk mengelakkan serangan itu hingga luput. Namun, belum juga kakinya sempat menginjak tanah, kembali Maharaja Sembilan Dewa menyusulkan sebuah serangan. Si Pemabuk dari Selatan segera hendak melakukan gerakan menghindar, namun tendangan Maharaja Sembilan Dewa lebih cepat dari gerakannya.

Bug!

"Ugh...!" Tubuh Si Pemabuk dari Selatan terhuyung ke belakang dengan mata melotot, berusaha menahan rasa sakit akibat tendangan di lambungnya. Tangannya mendekap bagian tubuh yang terasa sakit hingga tubuhnya membungkuk. Pada saat itu, Maharaja yang sudah gelap mata menghujamkan sebuah pukulan Sembilan Dewa Iblis dengan ajian Chandra Geni.

Melihat itu, anggota Nawa Awatara, Ki Jalak dan kawan-kawannya yang pada waktu itu menonton pertarungan merasa tercekat. Semua mematung, tapi tidak dengan Ki Jalak. Dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, ia mengerahkan Ajian Karatala hingga puncaknya dan menyambut pukulan Maharaja Sembilan Dewa. "Aaa...!" Pendekar Burung Jalak alias Ki Jalak itu memekik dengan mata melotot. Tangannya mendekap wajahnya yang terasa panas. "Bruk!" Tubuh Ki Jalak jatuh berdebam di halaman itu dalam keadaan hangus.

Si Pemabuk dari Selatan terlongong haru atas pengorbanan Ki Jalak, matanya bercucuran. "Adi, maafkan kakangmu yang tak bisa melakukan harapanmu." Si Pemabuk dari Selatan tampak berkemik-kemik dan menempelkan kedua tangannya hendak memberikan sembah. Pucat wajah Maharaja Sembilan Dewa, ia jejakan kakinya hendak melarikan diri sambil berpekik, "Dewa Berkorban Jiwa Tenang."

Terlambat sedikit. Tubuh Si Pemabuk dari Selatan yang pada waktu itu memberikan sembah tiba-tiba menggelembung seperti balon dan meledak.

Blaar!

Ledakan hawa murni berbarengan dengan muncratan daging dan darah berhamburan ke mana-mana. "Guru...!" pekik seseorang menggelegar mengalahkan suara ledakan itu, membuat semua orang harus mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi telinganya; bahkan yang menggeletak pingsan atau mati juga ada. Siapakah yang terpekik itu? Tampaklah seorang pemuda tampan, pakaiannya berwarna biru langit serasi dengan jubahnya. Rambutnya dikuncir kuda diikat oleh kain berwarna biru, di atas ikatannya menyembul sebuah gagang berukiran harimau. Di lehernya tersampir sebuah kain berwarna cokelat menambah ketampanan wajahnya.

Sementara di sampingnya juga berdiri ketiga gadis cantik mengenakan pakaian yang sama, yakni berwarna biru laut sebatas dada, menunjukkan dada mereka yang sekal. Badan mereka terlihat elok dalam busana ketat seperti itu. Pinggang mereka tampak ramping karena mengenakan celana ketat warna biru laut pula. Pakaian mereka itu dirangkap jubah warna biru langit yang tak terkancingkan bagian depannya. Jubah itu terbuat dari bahan sutra menampakkan sikap mewah mereka, leher mereka yang jenjang dibelitkan selendang tipis berwarna putih.

Kemudian menyusul pula beberapa pemuda-pemudi yang lain.

"Guru!" Aram mengeluh dan segera melompat di samping mayat Ki Jalak. Mata Aram nanar, namun ketenangannya demikian mengagumkan; bahkan Maharaja Sembilan Dewa juga mengakui hal tersebut.

"Selamat datang kembali, Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan si Rubah Cilik," seru Maharaja Sembilan Dewa sambil mengangkat tangan kanannya. Serempak, anggota Nawa Awatara yang semenjak tadi berdiam diri mencabut senjatanya. Aram mengerutkan dahinya, sepertinya ia merasakan gelagat yang tidak beres, namun seperti biasa, wajahnya tetap tenang seperti air dalam.

"Hentikanlah angkara murkamu ini, Maharaja Sembilan Dewa!" Aram berkata tegas.

"Hentikan? Hahaha... Haruskah aku menghentikan angkaraku yang sedang mencapai puncaknya ini? Heh!" Maharaja Sembilan Dewa terbahak-bahak seolah itu adalah ucapan yang sangat lucu. "Hem, apakah buyutmu itu belum cukup untuk dijadikan sebagai pelajaran? Apakah murid buyutku, Avatara Batara Yuda, Pangeran Empat Dewa, belum kau perhitungkan?"

Maharaja Sembilan Dewa membeku; kini ia baru mengetahui bahwa Pangeran Empat Dewa merupakan murid dari Avatara Batara Yuda, yang juga merupakan buyut dari orang yang selalu menjadi duri dalam setiap tindakannya.

"Benarkah ucapanmu itu?" tanya Maharaja Sembilan Dewa menegaskan.

"Haruskah aku menakutimu? Jikalau pada masa itu murid buyutku itu tidak tergoda rayuan wanita, barangkali sekarang kau tak akan ada di dunia ini. Weleh-weleh," Aram tersenyum mengejek.

"Kalian semua harus mati!" teriak Maharaja Sembilan Dewa murka.

"Gampang sekali jika kau ingin kami mati, tapi kau harus menebusnya dengan seluruh anggotamu termasuk kau ketuanya, hahaha!" Aram tergelak-gelak mengucurkan air mata, mungkin saking sedihnya akan kematian orang-orang terdekatnya sampai terbawa kepada tawanya.

"Kau terlalu menghina, Aram!" Aram tersenyum saja sambil mengangkat tangannya. Serempak saja ketiga kekasihnya juga Ksatria Satwa, Ki Asmaradanu, Nyi Renjani, dan Kakek Arak Seribu Kati mendekati Aram. Setelah dekat, tampak Ki Asmaradanu berbisik-bisik di telinga Aram. Untuk sekejap wajah Aram berubah tegang, namun akhirnya kembali seperti semula.

"Kalian... pemuda-pemudi yang pada waktu itu memakai pakaian serba cokelat! Bukankah kalian sudah mati?" teriak Maharaja Sembilan Dewa membuat anak buahnya yang lain menjadi keder.

"Haha... Kau memang pintar, Maharaja Sembilan Dewa, tapi kau masih kalah siasat denganku. Ketahuilah bahwa aku sudah mengetahui perkumpulan ini sejak dahulu, maka jauh-jauh hari aku sudah menyusun siasat, termasuk memasukkan beberapa anggotaku ke dalam perkumpulanmu. Aku juga tahu bahwa Perkumpulan Panji Telapak Perak adalah kelinci percobaanmu. Namun, keinginan sering sekali tak sesuai dengan harapan hingga aku harus menggunakan siasat kedua sebab kau melibatkan juga kerajaan. Lebih dari tiga tahun aku mengumpulkan tenaga penghancur, sementara kau sibuk dengan mainan yang kupersembahkan untukmu. Kau tetaplah sama, Maharaja Sembilan Dewa, kau adalah manusia biasa. Hanya bila ibumu juga kau setubuhi, ayahmu kau bunuh. Aku belum mampu melakukan apa yang kau lakukan itu, haha!"

Untuk kali ini, Maharaja Sembilan Dewa tidak mampu lagi memendam kemarahannya, bagaikan singa lapar ia menggeram dahsyat. "Grrr!"

"Hahaha... Mengapa kalian malah memilih ketua yang suka membunuhi anak buahnya seperti itu?" Aram mengejek, memanasi anggota Nawa Awatara yang pada waktu itu sedang mati-matian menahan tenaga dalam yang menyerang gendang telinga mereka. Sementara rombongan Aram pada waktu itu tenang-tenang saja. Mengapa begitu?

Setelah semua anggota berkumpul, akhirnya Aram dan kawan-kawan berangkat menuju markas Nawa Awatara. Di perjalanan, Aram bertemu dengan berbagai macam lapisan masyarakat, baik itu dari kalangan persilatan yang menyembunyikan diri maupun masyarakat biasa yang telah diberikan ilmu oleh Adipati Rajalela demi memenuhi siasat penghancuran Nawa Awatara. Mereka berdiskusi, hingga pada suatu hari Aram memutuskan untuk segera menyeberangi lautan demi ke Pulau Borneo tersebut. Sebelum berangkat, Aram memberikan titah agar semua orang yang akan terlibat menutup gendang telinganya dengan tanah liat. Untuk berkomunikasi, Aram mengajarkan beberapa isyarat dan teknik membaca gerakan bibir.

Pada saat sore hari, akhirnya Aram tiba di Desa Talaga Angkeran, desa terdekat dari Desa Mujung Sungkur. Seperti biasa, dengan memencarkan diri, Aram dan kawan-kawan menghabisi anggota Nawa Awatara yang berkeliaran; itulah sebabnya mereka datang terlambat dalam pertarungan para datuk itu. Begitulah sebabnya mengapa rombongan Aram baik-baik saja meski teriakan itu mengandung tenaga penghancur yang dahsyat.

Maharaja Sembilan Dewa berteriak dengan lantangnya, "Jangan salahkan bila aku akan membantai kalian. Pasukan pemanah...!" Namun, perintah itu tak ada respons, hening seperti tiada terjadi apa-apa.

"Pasukan pemanah... Pasukan Bumi! Pasukan Bisa! Pasukan Gadis Iblis!" Hening, semua tiada respons. Maharaja Sembilan Dewa benar-benar kaget; ia benar-benar tak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi, padahal semua hal itu telah dipersiapkan dengan matang. Karena persiapan itu jugalah ia datang terlambat ke tempat itu, menyebabkan beberapa datuk yang menjadi andalannya mati.

Tok... tok... suara langkah kaki orang berjalan dalam lorong. Tak lama kemudian keluarlah seorang pemuda berwajah pucat berseragam Nawa Awatara, di tangannya terjinjing sebuah pedang panjang berlumuran darah.

"Ragid! Ke manakah saja kau, mana anak buahmu, mengapa kau tak menuruti perintahku!" teriak Maharaja Sembilan Dewa marah.

"Maafkan aku, Maharaja Sembilan Dewa. Sejak dahulu aku selalu mengelabuimu, namaku Eka Purnama, Komandan Golongan Bendera dari Bendera Awan Langit Eka Purnama," teriak pemuda itu sambil melepaskan topengnya. Wajahnya tidak terlalu tampan, namun kini terlihat lebih baik daripada tadi.

"Kau...!" Maharaja Sembilan Dewa tercekik; ia benar-benar tak menyangka bahwa perkumpulannya dapat dimasuki lawan. Ia baru saja meragukan ucapan Aram, namun kali ini ia harus mempercayainya jua.

Belum ia memberikan hukuman kepada Eka Purnama, salah satu pengawal pribadinya juga meninggalkannya sambil mendekati rombongan Aram. "Rival, terima kasih kau sudah melaksanakan tugasmu dengan baik," Aram berkata antusias. Saking kagetnya, Maharaja Sembilan Dewa berdiri menjublak.

"Brus!" Dari dalam tanah keluar seorang pemuda berwajah oval berpakaian anggota Nawa Awatara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment