Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 93

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 93

Pemuda itu segera berbalik dan memberi hormat kepada Aram, lalu berkata, "Ketua, hamba sudah selesai."

"Bagus, Ikbal, silakan menuju tempatmu."

"Hamba juga sudah menyelesaikan tugas hamba, Ketua," seorang pemuda lainnya, yang tak lain adalah Jagat, tersenyum di ambang pintu. Di sampingnya juga berdiri Pratama.

"Hihi, lihatlah wajah Maharaja Sembilan Dewa, begitu lucu," sebuah suara merdu melantun. Ternyata suara itu berasal dari wanita berpakaian seronok berwarna merah.

"Mawar," desis pengawal pribadi lain Maharaja Sembilan Dewa.

"Benar, aku Mawar Duta Langit Bendera Awan Langit," timpal Nyi Mawar.

"Engh... sampai kapan kau berdiam di sana, Kenanga!"

"Akh, sampai Maharaja Sembilan Dewa membuka bajunya, hihi..." jawab seorang gadis cantik berpakaian oranye. Bajunya sudah berlumuran darah; sepertinya ia baru saja membantai manusia.

"Maaf aku terlambat, namun aku juga sudah menyelesaikan tugasku!" seseorang berkata di atas genting. Wajahnya tidak begitu jelas sebab terhalang oleh gelapnya fajar, namun dengan cahaya obor masih bisa dilihat bahwa pemuda itu sedang membawa buntalan besar.

"Kau mau pindah ke mana, Sagara!" ejek seseorang di balik pohon. Selang sesaat, akhirnya sosok itu menampakkan diri; ternyata dia adalah seorang pemuda berambut pitak dengan baju Nawa Awataranya.

"Buana Dewa, kau mau racun tikus?"

"Hahaha... silakan kau makan sendiri," jawab seseorang yang dekat pohon itu.

"Ketua, menyenangkan sekali... ternyata kekayaan mereka lebih dari yang kita duga sebelumnya." Di belakang rombongan Aram tampak seorang pemuda kering kerontang sedang cengengesan.

"Terima kasih atas kerjamu, Dewa Ares." Aram tersenyum bahagia. Maharaja Sembilan Dewa tertegun; sepertinya ia sedang syok melihat anak buah kesayangannya malah memihak lawan. Kini ia sadar bahwa sebenarnya kegemilangan yang ia peroleh hanyalah sebuah alat untuk menghancurkan dirinya. Sungguh ia merasa menyesal; sejak masa kegemilangannya itu, ia tidak pernah melatih ilmunya ataupun mengurusi organisasinya. Yang ia lakukan hanyalah bersenang-senang. Ia tidak sadar bahwa lawan berubah menjadi cacing pita dan tikus yang menggerogoti dirinya; bahkan wanita yang paling ia gemari untuk diajak tidur adalah seorang musuh.

Sementara anggota lainnya menjadi *down*, semangatnya turun secara mendadak. Kematian menunggu mereka.

"Akh, ke manakah Tanjung Putri?" tanya Aram keheranan. Suara itu jernih namun menggaung.

Sepuluh orang yang tadi menunjukkan wajah aslinya menunduk sedih. "Beliau telah meninggal, Ketua. Beliau mati dalam perjuangan kita. Beliau mati karena ingin menunjukkan bahwa semua anggota Nawa Awatara tidak ada yang memiliki wajah dua," Eka Purnama menjelaskan sambil berkaca-kaca.

"Semoga Tuhan menerima dia di sisi-Nya," ucap Aram menunduk.

Maharaja Sembilan Dewa mendengus dingin, segera ia menyela, "Aku akui, kau memang lawanku yang paling mengerikan, Aram," aku Maharaja Sembilan Dewa jujur.

"Terima kasih atas pujianmu, Maharaja Sembilan Dewa, tapi kau tetap akan mati di ujung tanganku."

"Satu hal yang perlu kau ingat, aku masih memiliki dua kartu as untuk menghancurkanmu. Penasihatku, keluarlah!"

"Tuk! Tuk!" Suara langkah kaki bergema, maka keluarlah seorang lelaki paruh baya berbaju putih. Wajahnya sangar, matanya hitam mencorong.

"Maharaja Sembilan Dewa," ucap lelaki itu menyapa.

Maharaja Sembilan Dewa mengerutkan alis, "Apa maksudmu memanggilku Maharaja Sembilan Dewa, Darupada?"

"Hahahaha...!" Lelaki itu tertawa latah, lalu menimpali, "Kau terlalu bodoh, Maharaja Sembilan Dewa. Aku Si Pengabar Langit merasa kasihan untukmu." Lelaki itu segera memegang rambutnya lalu ditarik, maka munculah seraut wajah berparas cakap. Di atas alis kanannya ada tanda codet menggaris sampai atas alis kiri seperti bekas benda tajam. Memang itulah ciri khas Si Pengabar Langit.

Maharaja Sembilan Dewa menghela napas panjang; sudah jatuh tertimpa tangga. Hatinya benar-benar goyah. "Apakah kartu as-mu yang kedua, Maharaja Sembilan Dewa?" Rombongan Aram tertawa terbahak-bahak.

"Kau tahu, berapa jiwa anggota Nawa Awatara ini dan apa yang terjadi bila aku mati?"

"Anggota yang mana? Anggota yang berkeliaran atau anakmu yang dikandung sembilan istri?" Aram tertawa latah.

Mata Maharaja Sembilan Dewa melotot. Diam-diam ia merasakan gelagat buruk, gelagat yang tidak menguntungkannya. Namun ia diam saja, diam menanti. Padahal dalam relung hatinya ia menyesal mengapa orang kepercayaannya harus tahu bahwa ia telah membuahi istrinya untuk menjaga bila terjadi sesuatu.

"Hihi... maaf, Maharaja, kesembilan istrimu sedang beristirahat di alam baka," Cempaka tertawa dingin.

Ucapan itu laksana guntur di siang bolong bagi Maharaja Sembilan Dewa. Ingin ia bertindak, namun musuh sedang berada dalam posisi terbaiknya; adalah hal yang mustahil bagi dirinya untuk menekan lawan.

"Kalian keji sekali, membunuhi orang yang sedang hamil!"

"Maaf, kesembilan istrimu itu terlalu naif hingga mereka keguguran dahulu sebelum mati," Kasturika tersenyum dingin.

Mendadak... Wussss! Jleggg!

Seorang pemuda berbaju warna toska, berkuncir ekor kuda dengan ikat kepala biru laut dan bermata sipit, wajahnya tampan serta hidungnya mancung. Menilik wajahnya, sepertinya ia bukan penduduk pribumi. Dia tak lain adalah Thian Liong.

"Ketua, seluruh armada sudah bergerak. Sepertinya hari ini adalah hari terakhir bagi Nawa Awatara." Wajah tampan Thian Liong tersirat semburat matahari yang mulai menampakkan wujudnya. Dengan sinar itu, rupanya membuat wajah itu begitu seram.

Ke manakah saja Thian Liong selama ini dan apa yang dimaksud dengan armada? Beberapa purnama ke belakang, entah ada apa, Aram segera menitah Thian Liong untuk menghadap ke ruangannya. Kini keduanya duduk berhadapan.

"Kak, kau mau membantuku?" Aram membuka suara.

"Membantu apa, Aram?"

"Menyadarkan segenap kerajaan, kerajaan yang ada di tanah Seribu Pulau."

"Maksudnya?"

"Aku ingin Kak Liong pergi ke seluruh kerajaan di Seribu Pulau ini untuk menghancurkan anggota Nawa Awatara dalam waktu yang serempak."

"Em... boleh, tapi apakah kau tak salah memilih orang?"

"TIDAK! Aku tahu, selain engkau dan Hong Moay tak bakalan ada yang sanggup!" Thian Liong tersenyum. Ia paham arti kata "sanggup" itu; ia tahu maksudnya adalah mampu pergi ke suatu tempat dalam waktu sekejap.

"Baiklah, aku sanggupi itu! Sekarang pun aku akan pergi."

"Kak...!" Raib sudah raga Thian Liong. Aram tersenyum penuh makna atas ulahnya itu. Thian Liong yang pada waktu itu sedang bicara rupanya sedang mengerahkan ilmunya, "Perjalanan Sejati", sehingga ketika selesai bicara tubuhnya sudah melesat meninggalkan tempat itu.

Dengan ketekunan dan perjuangan penuh, Thian Liong pergi ke berbagai kerajaan besar di seluruh Nusantara. Ia membujuk, merayu, dan lainnya untuk mencapai kesepakatan itu. Setelah semuanya selesai, tak terasa itu sudah berjalan beberapa bulan hingga dalam perjalanannya ia mendengar bahwa Aram sedang menuju markas Nawa Awatara di Borneo.

Baru saja Thian Liong selesai berkata, mendadak...

"Begitu pula dengan pasukan semut!" seseorang berkata lantang di belakang Thian Liong. Dia merupakan seorang lelaki paruh baya berusia empat puluh delapan tahunan, berbaju hitam seperti orang yang berduka cita. Ya, dia adalah Adipati Rajalela, sang raja di tanah Sunda ini.

"Ayahanda!" Rismi Laraspati berseru lantang.

"Kau... dan... kau... bukankah aku sudah menusuk tubuh kalian!" salah satu pengawal Maharaja Sembilan Dewa tergagap gemetar.

"Haha... maaf, aku sudah mengatur semuanya! Aku Rehan, pendamping Ketua, menghaturkan hormat kepada Maharaja Sembilan Dewa." Di belakang Rehan tampak Ki Guntur, Ki Makmur, Nyai Asri, Siwa, Samudra, Brahma, Raja, dan Tangan Kilat Ki Kodir juga berjalan santai. Tangan mereka berlumuran darah seakan mereka sudah menjagal orang.

Bagaimana kisahnya hingga Rehan dapat menyelamatkan nyawa Adipati Rajalela bersama keluarga?

Malam ini bulan tidak bercahaya penuh, hanya sebuah garis melengkung saja menghiasi malam ini. Langit cerah tanpa sedikit pun awan menggantung. Bintang-bintang gemerlapan menambah keindahan angkasa raya. Namun, sepertinya keindahan malam ini tidak dinikmati oleh sekeluarga kerajaan. Hanya binatang-binatang malam saja yang mereguk keindahan malam.

Di dalam keraton itu, tepatnya di kamar raja, nampaklah lima orang sosok manusia sedang bersitegang. Sepertinya mereka sedang menghadapi masalah yang gawat.

"Rehan, Brajangpati, apa maksud ucapan kalian itu?" seorang lelaki paruh baya berpakaian mewah khas seorang raja berkata.

"Maafkan hamba, Yang Mulia, tapi saat ini waktu sudah semakin mepet. Tak ada waktu lagi untuk menjelaskan. Hamba mohon agar Yang Mulia, Permaisuri, dan Tuan Putri meninggalkan keraton ini."

"Setapak pun aku tak akan meninggalkan kamarku bila kalian tidak menjelaskan alasan kalian mengajakku pergi."

"Yang Mulia..." belum sempat Rehan menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba dari luar terdengar jeritan ngeri.

"Sekarang Yang Mulia mengerti mengapa aku mengajak Yang Mulia pergi!" Rehan mulai tak sabar.

"Ayahanda!"

"Suamiku!" Istri dan anak Adipati Rajalela merengek.

"Baiklah, kita pergi sekarang! Ayo kita masuk ke dalam jalan rahasia." Akhirnya, Adipati Rajalela membuka tutup ranjangnya, segera saja semuanya masuk ke dalam ruangan itu, kecuali Rehan.

"Lekas masuk, Rehan!" Adipati Rajalela mengajak.

"Pergilah dahulu, hamba masih ada urusan. Kita berjumpa di bukit belakang."

"Hati-hati, anakku," Brajangpati menasihati sambil mengajak Adipati Rajalela segera melarikan diri.

Rehan tersenyum. Dengan kecepatan penuh ia keluar dari ruangan. Dilihatnya salah seorang yang berperawakan sama dengan Adipati Rajalela, segera ia menotok prajurit itu dari jarak jauh. Dengan sigap, ia melemparkan tubuh orang itu ke dalam kamar, sementara Rehan berlari menyusuri keraton itu. Segera ia gunakan ilmu sirep sehingga orang yang ada di ruangan itu tertidur. Rehan segera memilih dua dayang yang berperawakan sama dengan Tuan Putri dan permaisurinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment