Chapter 94
Lalu, ia kembali ke kamar Raja. Tanpa permisi, Rehan mencari pakaian ketiganya. Meski dengan sedikit malu, Rehan mengganti pakaian ketiga orang itu. Dengan kepandaiannya dalam menyamar, segera ia mengubah ketiga orang itu menjadi sosok yang sama persis dengan Adipati Rajalela, istrinya, dan Rismi Laraspati. Sebelum ketahuan, ia segera keluar dari kamar itu.
Maharaja Sembilan Dewa benar-benar telah mencapai puncaknya. Dengan kemarahan yang meluap, ia segera memberi komando, "Serang mereka! Bunuh!"
"Hiiaa! Heaa!"
Trang, tring, trung, jrep, argh! Dalam keremangan pagi itu, terjadilah pertarungan dahsyat. Anggota Nawa Awatara mengamuk laksana ribuan tawon; dari berbagai penjuru mereka meloncat tanpa menghiraukan nyawa. Ksatria Satwa tak ketinggalan, mereka ikut menerjang menghadapi pengawal pribadi Maharaja Sembilan Dewa. Para petinggi Bendera Awan Langit pun ikut berpesta darah.
Para komandan bendera tak mau ketinggalan, apalagi ketiga kekasih Aram yang sedari tadi berdiam diri. Bahkan, Thian Hong Li tak sungkan segera menggunakan Keris Perasannya. "Goaaarrrr!"
Pagi itu benar-benar luar biasa. Entah berapa jiwa yang telah melayang dan berapa liter darah yang tumpah. Bagaikan dua kubu prajurit yang sedang berperang, mereka saling berteriak dan menyemangati. Dentuman dua tenaga sakti beradu, namun tampaknya pertarungan dua kubu itu enggan dihentikan.
"Bunuh yang melawan!" perintah Aram kepada rombongannya yang telah terlibat pertarungan.
Serangan rombongan Aram kian meningkat. Puluhan anggota Nawa Awatara yang berada dekat dengan mereka berguguran dalam sekejap. Namun, anggota Nawa Awatara terlalu banyak. Jika ada di antara mereka yang terbunuh, yang lain menjadi semakin marah dan meningkatkan serbuan. Puluhan pukulan, sabetan, dan cakaran diluncurkan, membuat puluhan anggota Nawa Awatara menjerit lalu tumbang kehilangan nyawa.
Pasukan Nawa Awatara merasa gentar saat melihat dari sekeliling benteng markas mereka, puluhan bahkan ratusan manusia menyerbu.
"Bunuh mereka, jangan biarkan mereka mengalahkan kita!" seru Maharaja Sembilan Dewa menyemangati. Mendapat semangat dari ketua mereka, anggota Nawa Awatara kembali menyerbu. Anggota dari kedua belah pihak terus berguguran. Rombongan Aram semakin mendesak, namun jumlah anggota Nawa Awatara sangat banyak dan tak terhitung.
"Terpaksa!" seru Aram sambil melompat menerjang hendak menghadapi Maharaja Sembilan Dewa. Siapapun yang menghalangi dirinya bisa dipastikan bakal mati.
"Apa kau mempunyai nyali untuk melawanku!" seru Aram kepada Maharaja Sembilan Dewa sambil terus sibuk membunuh orang di sekelilingnya.
Maharaja Sembilan Dewa memandang pertempuran di sekelilingnya. Sudah begitu banyak anggotanya yang tewas menggenaskan. Hatinya mulai ragu, apakah mungkin kemenangan akan berpihak pada dirinya? Ia berpaling dan memandang musuh utamanya. Ia melihat dengan mudahnya pasukannya dihabisi begitu saja.
"Mereka belum sepadan melawannya. Pasukanku tidak siap bertempur, apalagi tanpa ada persiapan sama sekali," bisik hati kecilnya.
"Menyingkirlah kalian dari sana, kalian tak sebanding melawannya!" pekik Maharaja Sembilan Dewa.
Kini Aram dan Maharaja Sembilan Dewa berpandangan. Keduanya sudah siap untuk bertempur menentukan siapakah yang berhak melihat hari esok. Sementara itu, ratusan rombongan Aram yang baru datang berteriak keras dan mempergencar serangan demi menguasai medan perang itu. Hati mereka bergelora untuk mengembalikan kesejahteraan yang direbut.
Anggota Nawa Awatara mulai kehilangan harapan. Mereka sudah kehabisan tenaga dan itu berarti mereka bakal kehilangan nyawa. Sehingga, dapat dikatakan mustahil bagi mereka untuk merebut kemenangan; jangankan menang, untuk menyelamatkan nyawa pun mereka tidak mampu.
Mendadak...
"Heeaaa! Heaaaa!" Suara mengerikan terdengar nyaring. Beberapa orang menghentikan pertarungan sebab tidak kuat menahan ledakan suara itu. Mereka berpaling ke arah suara tersebut dengan takjub, melihat dua kekuatan luar biasa sedang beradu. Mereka adalah Aram dan Maharaja Sembilan Dewa.
"Sepertinya persiapanmu kurang matang, Maharaja Sembilan Dewa!" Aram mengejek sambil tertawa sinis.
"Ya, aku telah melakukan hal yang sama dengan pendahuluku, tergelapkan oleh kejayaan," jujur Maharaja Sembilan Dewa.
"Aku suka akan kejujuranmu," Aram mangut-mangut.
"Terima kasih atas pujianmu itu, tapi maaf... aku akan mengambil nyawamu!" Halus sekali ucapan Maharaja Sembilan Dewa, namun Aram sudah merasakan energi negatif lawannya. Hawa pembunuhan menyeruak ke mana-mana.
"Haha... Tapi, mungkin saja aku yang akan melakukan itu!" Aram segera mengerahkan tenaga dalamnya. Hawa kematian kini saling beradu, menyebabkan orang di sekelilingnya segera menyingkir.
Maharaja Sembilan Dewa memasang kuda-kuda, lalu membentak keras. Tubuhnya yang kekar menerjang ke muka dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, sementara telapak tangan kirinya dibabat ke arah dada Aram yang saat itu juga sudah bersiap.
Serangan yang dilancarkan Maharaja Sembilan Dewa ini betul-betul hebat kekuatannya. Berbarengan dengan ayunan tangan itu, gelombang angin dingin yang mahadahsyat disertai angin tajam meluncur ke depan. Kekuatannya betul-betul mengerikan.
Aram tak rela tubuhnya dihajar lawan begitu saja. Tubuh bagian atasnya segera menubruk ke depan dengan kecepatan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya. Ia memiringkan badan ke samping menghindari serangan, lalu memutar pergelangan tangan untuk membalas. Namun pada saat bersamaan, tangan kanan lawannya menyodok ke tubuhnya. Aram sama sekali tak gugup; buru-buru dia menghimpun kembali tenaga dalam, lalu tubuhnya melambung ke udara dan melayang ke samping kiri.
Maharaja Sembilan Dewa mendengus dingin, tentu saja ia tidak memberi kesempatan lawannya menghindar. Gagal dengan serangan pertama, tubuh yang sedang menerjang itu tidak berhenti. Sambil berputar, tangan kirinya dengan tenaga pukulan kuat diayunkan ke depan, menyusul tangan kanan melepaskan serangan lain. Angin yang tersibak sangat dahsyat, serangan lurus segera diubah menjadi sapuan dari samping. Daya kekuatannya menjadi berlipat ganda daripada serangan pertama.
"Serangan yang hebat," puji Aram yang saat itu menyilangkan kedua telapak tangan di depan dada. Telapak tangan kanannya yang semula disilangkan, mendadak dibalik kemudian mendorong ke muka dengan gerakan cepat bagaikan kilat.
"Sreeet..." Segulung desingan angin tajam memekikkan telinga, meluncur ke depan dengan dahsyatnya.
"Duaaararrrrshh!" Dua tenaga sakti pukulan kosong beradu di udara. Aram terdorong mundur satu tindak, begitu pula dengan Maharaja Sembilan Dewa.
Sementara itu di tempat lain, Angkara yang sedari tadi melawan salah seorang pengawal Maharaja Sembilan Dewa segera mencabut pedang. Pengawal itu pun tidak lemah, ia segera mencabut pedang dan membuka jurus. Ketika pedang itu digetarkan, muncul ratusan bayangan pedang.
Bayangan itu cukup membuat Angkara tidak bisa bergerak maju tanpa tertebas. "Pedang Seribu Bayangan," seru pengawal itu. Ratusan pedang mengepung Angkara dengan rapat. Angkara yang menggunakan jurus kenjutsu yang ia pelajari semasa di negeri perantauan masih dapat menjaga tubuhnya dari sayatan.
Lama-kelamaan, Angkara sadar jika terus begitu, keadaannya akan terpojok. Segera ia merapal Ajian Telan Bumi. Dengan mengalirkan ajian itu ke batang pedang, ia menancapkannya ke dalam tanah. Tanpa ampun, tanah itu merekah dan menelan pengawal tersebut, juga beberapa pasukan Bendera Awan Langit dan Nawa Awatara yang sedang bertarung di dekat area itu. Mereka yang kurang cepat bergerak dipastikan tewas karena terjatuh ke dalam tanah. Setelah lawannya masuk, Angkara mengembalikan tanah itu ke posisi semula.
"Ayo kawan-kawan, kita perjuangkan keadilan, hapus angkara murka!" teriak Angkara memerintahkan pasukan Bendera Awan Langit.
Pertempuran besar di markas Nawa Awatara terus berlanjut. Mayat dari kedua belah pihak terus berjatuhan. Hari sudah terang, hawa panas matahari seakan tidak mereka hiraukan. Yang mereka pedulikan hanyalah membunuh atau dibunuh.
Pertarungan antara Melati dengan seorang perempuan berwajah menor berbaju kedodoran berwarna jingga juga tampak begitu sengit.
"Apa segitu saja kemampuanmu, heh?" ejek perempuan itu. Ia merupakan ketua cabang Nawa Awatara yang sedang berkunjung ke markas pusat. Mawar Berduri, itulah julukannya.
Melati tersenyum dan menjawab, "Hahaha... Tentu saja tidak." Belum selesai ia berkata, pedang panjang dan besar sudah dibabat ke arah dada lawan. Mawar Berduri tidak berkelit maupun menghindar, tangan kanannya yang disaluri tenaga dalam mencengkeram pedang tersebut. Melati terkejut lawannya berani mencengkeram pedangnya. Meski pedang itu hasil rampasan, Melati terlihat tidak nyaman. Atas didikan guru-gurunya di Lembah Dewa-Dewi, tiga datuk dunia persilatan, juga Aram, sudah tentu kepandaiannya ini luar biasa dahsyat.