Chapter 95
Baru saja ujung pedang mendekati tangan Mawar Berduri, Melati sudah menggetarkan senjata itu dengan tenaga dalamnya. Desiran tajam menerjang leher Mawar Berduri. Perempuan itu benar-benar terkejut; tangannya ditarik, sementara tubuhnya berkelit selangkah ke samping. Agaknya Melati tidak rela jika lawannya melarikan diri.
"Coba hadapi yang ini!" serunya keras.
Pedangnya diputar sedemikian rupa. Dari balik putaran pedang tadi, secara tiba-tiba melesat keluar serentetan cahaya keperakan yang langsung mengancam empat buah jalan darah sekaligus. Mawar Berduri merasa urusan ini semakin berada di luar dugaan, sehingga sekali lagi ia mundur ke belakang. Baru saja ia berhasil berkelit dari sambaran cahaya keperakan tersebut dan siap turun tangan lagi, tiba-tiba...
"Mati!" bentak Melati mantap diiringi senyum ejekan.
Pedang yang tadi diputar kini berubah menjadi bayangan yang entah berapa jumlahnya. Dengan diiringi desiran tajam, pedang itu mengarah ke tiga titik kematian manusia yang paling fatal. Perempuan berbaju kedodoran alias Mawar Berduri merasa sangat terperanjat; ia tidak sempat lagi untuk berkelit. Diiringi bentakan keras, lima jari dikepalkan, sementara jari tangan lainnya dipentangkan lebar-lebar.
Melati yang sudah melihat jurus itu digunakan kembali untuk menghadapi serangannya tentu sudah merasa siap. Ia menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam batang pedang, memutarnya di pergelangan tangan, dan tiba-tiba gagang pedang itu disentil.
"Srettt... Kelelawar menguntit nyawa!" teriak Melati lantang.
"Jrusss... Arggghhh!" Mawar Berduri menjerit tertahan. Tubuhnya mundur tiga langkah ke belakang, lalu ambruk tanpa nyawa lagi. Melati menarik napas panjang, kemudian ikut bergabung dengan yang lain untuk membunuhi musuh yang tersisa.
Sementara itu, Thian Hong Li merupakan satu-satunya orang yang tidak menggunakan senjata atau tangan kosong. Ia memporak-porandakan anggota Nawa Awatara sambil duduk di seekor ular besar berupa hawa keemasan.
"Gerrrrr!" Kepala ular itu digerakkan sedemikian rupa menerjang orang-orang yang ada di sampingnya, ekornya juga menyabet ke sana kemari, meremukkan tubuh siapapun yang terkena kibasannya. Pedang, golok, dan senjata lainnya selalu menghujam ke tubuh ular itu, namun tak ubahnya tanduk yang diadu dengan telur; senjata-senjata tersebut tidak ada artinya dibandingkan dengan pertahanan ular itu.
"Cah ayu, turunlah kemari. Akan kutunjukkan kau sebuah liang kematian yang layak untukmu. Aku, Si Durjana dari Pantai Selatan, ingin sekali merasakan nikmatnya belaian halusmu itu."
"Baiklah!" sahut Thian Hong Li genit. Suaranya berhenti, tinju Melati sudah seinci di pipi Si Durjana dari Pantai Selatan.
"Bukk... Arggghhh!"
"Hihi... Bagaimana, enak?" tanya Thian Hong Li cekikikan. Tubuhnya memang turun dan berhadapan dengan Si Durjana dari Pantai Selatan, namun Ular Naga penjelmaan dari keris perasaan tidak menghilang. Ular naga itu masih terus membantai anggota Nawa Awatara yang tiada habisnya.
Membagi kekuatan dan perhatian menjadi dua adalah hal yang sangat tidak lumrah; kemampuan itu hanya dapat dilakukan oleh beberapa orang yang sudah mencapai taraf tinggi. Berkat kitab pemberian Ki Cakravala, gurunya, Thian Hong Li dapat melakukan hal itu dengan mudah.
"Perempuan sundal! Hebat juga kau!" bentak Si Durjana dari Pantai Selatan garang.
Dimaki seperti itu, wajah cantik Thian Hong Li berubah membesi. Tangannya terkepal kencang, matanya menatap lekat ke wajah lawannya. Diperhatikan seperti itu, Si Durjana dari Pantai Selatan merasa kikuk; entah bagaimana, tatapan lawan itu begitu melekat dalam benaknya.
"Makan ini!"
Bagai kitiran, tubuh Thian Hong Li berputar kencang dan dahsyat. Gulungan angin topan berputar-putar, awan yang tadi sudah kelabu memuntahkan isinya. "Jelegaarrrrrr!"
Melihat itu, Si Durjana dari Pantai Selatan yang merupakan salah satu pelaksana hukuman Nawa Awatara merasa terkejut sekaligus ngeri. Tak disangkanya gadis lawannya itu merupakan seorang pesilat tangguh; usianya yang masih muda rupanya tidak menjadi penghalang. Segera ia merapal ajian Wurukung, tangannya berubah menjadi hijau tua. Namun, sebelum ia merapal secara sempurna, sebuah gulungan angin kelabu menyergapnya. Gulungan angin itu bergulung-gulung seperti rambut yang dikepang, namun ujungnya meruncing sangat tajam.
"Wiiirrrrrrsssss! Srak... srak... brett! Arggghhh! Blaarrrr!"
Tubuh Si Durjana dari Pantai Selatan meledak berkeping-keping. Thian Hong Li tersenyum bangga; hanya dalam satu jurus permainan dan satu jurus inti, ia dapat membunuh seorang pelaksana hukuman. Ia segera meloncat ke atas punggung ular naganya yang sedang mengamuk dahsyat. Ksatria Satwa yang lain serta para petinggi Bendera Awan Langit juga tidak kalah sengit pertarungannya, bahkan Si Pengabar Langit bajunya telah basah kuyup oleh darah.
Matahari telah pergi ke barat, bahkan sudah menghilang dari pandangan, meninggalkan kegelapan yang menyapa bumi. Entah sebab apa, awan kini tampak bergumpal-gumpal kelabu, menutupi sang putri malam. Denting pedang, teriakan semangat, jeritan kematian, keluhan, dan beradunya dua buah tenaga sakti seakan menjadi irama musik baru yang menemani malam itu. Tak terasa pertarungan sudah berlangsung selama satu hari satu malam, dan beranjak ke malam kedua.
Aram yang bertarung dengan Maharaja Sembilan Dewa tampak sudah tak berbaju lagi, begitu pula dengan lawannya. Dari sudut bibir mereka tampak darah kering menggurat, dan dari pelupuk mata mereka tampak rasa lelah yang menggelayut. Semakin letih tubuh mereka, pertarungan justru semakin sengit. Jarak empat puluh tombak di sekeliling mereka tampak tak ada seorang pun yang masih berdiri dengan nyawa. Bukan hanya manusia, rumput, bangunan, dan tanah pun telah hancur berkeping-keping, menjadikan tempat itu sebuah kubangan besar.
"Heh... heh! Apa segitu saja kemampuanmu, Aram?" Maharaja Sembilan Dewa mencibir, mulutnya menyeringai menahan letih.
"Haha... tentu saja tidak. Mengapa, kau sudah letih?" ejek Aram sambil terus tertawa dingin.
"Jika kau punya kemampuan, lekas tunjukkan padaku!" Maharaja Sembilan Dewa berteriak sambil melompat menerjang menggunakan jurus andalannya, Jurus Sembilan Dewa Iblis.
Aram tersenyum manis, semanis ucapannya yang masih merasa sungkan terhadap Maharaja Sembilan Dewa. "Baik, kuberikan kau sebuah penghormatan."
Berbareng dengan itu, kaki kanannya berjinjit dan kepalan tangan kanan ditempelkan pada telapak tangan kiri layaknya penghormatan pembukaan. Kemudian, ia memutarbalikkan tangan kanan yang telah dibuka jari-jarinya. Dengan kecepatan bagaikan kilat, ia melakukan gerakan putaran tangkisan pada tangan kiri untuk menangkis serangan aneh dari Maharaja Sembilan Dewa. Lalu, ia mengayunkan silang tangan kanan untuk menutup, dan tangan lainnya melakukan tusukan tajam dengan ujung jari yang bersinar keperakan.
"Creppp!"
Tak mau ambil risiko, Maharaja Sembilan Dewa menghindari serangan itu dan kembali menggebrak dengan tangan yang berubah kemerah-merahan. "Blaaarrrrr!"
Bangunan di belakangnya hancur berantakan. Padahal waktu itu, Aram dan Maharaja Sembilan Dewa sedang bertarung sengit. Maharaja Sembilan Dewa paham bahwa di belakang dirinya tak ada seorang pun yang sedang bertarung. Dengan sudut mata tajamnya, ia melirik apa yang terjadi; keringat dingin mengucur dari pelipisnya.
"Jurus siluman apa tadi?" pekik Maharaja Sembilan Dewa sambil menjauhi arena.
"Tak ada jurus siluman. Jurus itu merupakan gabungan dari Jurus Halilintar Perobek Bumi, Jurus Silat Rubah, Jurus Tornado Arwah, Totokan Si Kelabang Biru, Ninjutsu, Genjutsu, Sihir Penyesat Sukma, dan Aura Kematian. Adapun jurus itu kunamakan Jurus Ksatria Langit, dan barusan adalah jurus pertamanya, yaitu Ksatria Memberi Sembah. Mungkin kau terlalu bodoh untuk memahami konsep kecepatan, padahal jurus itu kusiapkan untukmu." Aram mengatakan itu seolah Maharaja Sembilan Dewa adalah muridnya.
Maharaja Sembilan Dewa tentu saja paham maksud ucapan itu; wajahnya merah membara menahan marah. "Kau terlalu menghina! Terima ini, Dewa Tersesat di Jalan Iblis!"
Tangan kiri dikebutkan ke dada Aram, sementara tangan kanan ditarik ke depan dada sambil bersiap memukul. Aram tertawa dingin, segera ia menekuk silang kaki dengan putaran tangkisan atas oleh tangan kanan, sementara tangan lainnya melakukan pukulan yang sangat keras.
"Blaaarr!"
Dua buah pukulan beradu. Dengan terhuyung-huyung, keduanya mundur empat tindak. Tanah di sekitarnya berubah menjadi kering kerontang seolah telah mengalami musim kemarau, padahal waktu itu hujan turun dengan rintik. Aram yang sudah berada dalam posisi kuda-kuda segera mendorongkan kedua telapak tangannya dengan kuat, mendorong angin seakan angin itu memiliki bobot ribuan kati.
Entah bagaimana kejadiannya, kedua tangannya masih mendorong angin, namun muncul pula dua tangan lagi yang mengayun menyamping pada tangan kanan yang diayunkan ke dalam, dan tangan lainnya yang terkepal untuk disilangkan di depan dada. Perlahan kedua tangan yang mendorong angin tadi menghilang, sambil menyelinapkan tubuh ke depan, tangan kiri Aram melakukan totokan cepat pada daerah lemah di tubuh lawan dari jarak jauh.
Sejak awal, Maharaja Sembilan Dewa sudah siaga, apalagi melihat pembawaan jurus Aram yang serba aneh. Ia segera menghindari setiap serangan tangan yang mengarah pada dirinya. Tindakan Maharaja Sembilan Dewa memang tepat; seandainya ia bersikeras menahan serangan itu, barangkali tubuhnya sudah dipenuhi lubang dan terkoyak-koyak oleh angin dahsyat yang laksana tornado itu.