Chapter 96
"Cus... cuss... cuss... Duarr!" "Wuurrssshhhh... Blaarrr... Crekk... crekkk." Gulungan angin tornado berputar-putar dari tempat kedua telapak tangan Aram mendorong angin. Berat namun cepat, itulah salah satu rahasia dari jurus tersebut.
Diam namun bergerak, gerakannya kosong seolah tak berisi, namun memiliki sumber kekuatan tenaga dalam dari alam yang diolah di tangan tanpa memasuki tiantan. Hal itu sesuai dengan ajaran penyatuan dari kitab *Satu Bukan Dua atau Seribu Bagian*, yakni penyatuan hawa dan bentuk.
"Kau takut?" Aram tertawa terbahak-bahak.
"Cis... Seandainya yang kaugunakan bukan ilmu siluman itu, barangkali sekarang kau sudah ada di alam baka." Aram hanya tertawa kosong mendengar ucapan Maharaja Sembilan Dewa itu. "Haha... Aku tahu maksud ucapanmu itu. Aku tidak akan terkena hasutan busukmu. Sebaiknya kau katakan saja kalau kau takut."
Aram mengejek sambil memajukan kaki kanan di samping kaki lainnya, sedikit menekuk rendah kuda-kudanya dengan kedua tangan yang tertekuk. Lalu, ia mengayunkan kaki kanan ke belakang sambil mengangsurkan kedua tangan ke depan untuk mengimbangi kaki kanannya yang terangkat. Dengan cepat, ia berjongkok dengan jari-jari kaki berjinjit dan kedua tangan diturunkan, lalu meloncat mengudara setinggi empat sampai lima tombak dengan kedua tangan terangkat tinggi.
Kemudian, ia mengangkat kaki kanannya untuk menendang ke atas, sementara tangan kirinya diturunkan ke bawah. Ketika sudah hampir sampai di hadapan Maharaja Sembilan Dewa, kaki itu diturunkan diiringi desingan angin tajam yang menggiriskan kulit.
Melihat lawan mulai menyerang, Maharaja Sembilan Dewa merasa dirinya direndahkan. Ia mengerahkan tenaga dalamnya ke dua bagian: tangan dan kaki. Itulah jurus yang dinamakan *Seteru Iblis Bumi dengan Dewa Langit*. Jurus itu merupakan jurus pertahanan terbaik dari rangkaian *Jurus Sembilan Dewa Iblis*.
"Wusssttt... Blaaarrrrrr..." Dengan gagah berani, Maharaja Sembilan Dewa menangkis serangan itu. Tanah merekah terkena adu tenaga dalam tersebut; tubuh Maharaja Sembilan Dewa amblas ke bumi sebatas lutut, sementara Aram berada di atas tubuhnya dengan bertumpu pada kakinya.
Bukannya berhenti setelah bentrokan itu, justru duel sesungguhnya baru dimulai. Dari kaki Aram muncul angin berhawa panas dan dingin berseliweran, membuktikan bahwa tendangan itu bukan tendangan biasa. Hawa kematian dan hawa magis bertebaran di sekeliling tempat itu. Mata Aram mencorong tajam luar biasa, begitu pula dengan Maharaja Sembilan Dewa.
"Heaaaaa!" "Heaaaaa!" "Wungg!" Debu mengepul tinggi bak ribuan kuda yang sedang berpacu di padang pasir. Lengkingan dahsyat keluar dari mulut keduanya, benar-benar suatu pertarungan terdahsyat sepanjang sejarah. Aram berusaha memasukkan Maharaja Sembilan Dewa ke dalam tanah, sementara sang Maharaja ingin melemparkan Aram ke langit. Mereka terus berkutat, entah akan berlangsung sampai kapan.
Di dekat gelanggang pada waktu itu, Rismi Laraspati juga tampak sedang berkutat seru. Lawannya, seorang lelaki paruh baya, menggulung tubuhnya, berputar dengan dahsyat, dan meluncur ke arah depan dengan dua tangan terentang ke arah kiri dan kanan. Rismi Laraspati tak mau kalah garang, ia segera meloncat tinggi dengan kaki menendang ke arah tengkuk lawan.
Lawannya tak mau dipermalukan oleh seorang wanita; ia menggunakan kekuatan pelanting tubuhnya untuk melayang ke atas. Keduanya beradu di udara. Lelaki setengah baya itu menekuk tangannya, lalu siku kanan dan kirinya menghantam dada Rismi Laraspati.
"Ughh!" Terdengar keluhan yang cukup keras. Rismi Laraspati segera mundur untuk mengatur langkah selanjutnya. Namun, mana mungkin lawannya membiarkan? Terlihat kedua tangan lawan berputar di atas kepala; satu bergerak ke depan dengan berputar, satu lagi menarik ke belakang dengan berputar.
Rismi Laraspati berteriak nyaring sambil maju bergulung. Kedua tangannya terjulur dengan jari-jari yang berkembang. Ia jungkir balik bagai penari yang kesetanan. Selendangnya sudah sobek di beberapa ujung, rambutnya terurai lepas, dan kedua tangan serta kakinya mencakar ke sana kemari. Dilihat sekilas, Rismi Laraspati justru tampak seperti gadis lemah yang sedang meminta perlindungan. Lawannya pun tertipu karenanya, sehingga kini pertarungan kembali imbang.
Pertarungan kedua belah pihak terus berlangsung seru. Merangsek, menggulung, membacok, menyabet, dan memukul adalah bumbu dalam pertarungan itu. Langit telah berubah menjadi kebiru-biruan; waktu sudah kembali fajar, tapi dua kubu masih enggan untuk berhenti.
Pertarungan Aram dan Maharaja Sembilan Dewa adalah yang terhebat. Dentuman adu tenaga mereka laksana jutaan tambur perang yang dipukul bersamaan. Hawa panas mereka seperti neraka, hawa dingin mereka seperti inti salju dari kutub. Angin tajam saling mencicit, bumi porak poranda. Hampir enam kentongan lebih Aram dan Maharaja terus berkutat mengadu tenaga dalam hingga akhirnya, "Mati kau, Aram!" tiba-tiba Maharaja berteriak.
"Heh!" Aram terkejut karena ia merasakan gelagat yang tidak beres. Memang tujuannya hendak mendorong tubuh Maharaja Sembilan Dewa ke dalam bumi, namun entah bagaimana, bumi yang dipijak Maharaja berubah menjadi seperti jel.
Maharaja Sembilan Dewa terkekeh-kekeh, "Jemparing Dewa Bumi!" Kini posisi mereka bak sebuah gendewa yang sedang ditarik dan Aram sebagai busurnya. Tubuh Maharaja mendorong Aram hingga terlempar ke langit. Entah berapa ratus tombak Aram melayang terbang; ia sungguh kaget tak terkira melihat jurus aneh dari Maharaja Sembilan Dewa itu. Semakin tinggi ia melayang, ia merasakan oksigen yang dihirupnya semakin tipis.
Maharaja Sembilan Dewa tertawa puas, ia bangga melihat tubuh Aram tertelan oleh awan. Siapakah yang akan hidup bila jatuh dari ketinggian seperti itu? Ia yakin sembilan puluh persen Aram bakal mati. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa Aram memiliki darah yang berbeda dari manusia pada umumnya.
Aram yang sedang terbang tinggi merasakan suhu yang berubah dingin dan panas menyengat tubuhnya. Ia sadar bila terus demikian, kematianlah yang menunggunya. Ia segera mengumpulkan segenap emosi dalam tubuhnya. Terdengar kretekan tulang, dan... "Bretttt!" sebuah sayap lebar mengembang dari dalam tubuhnya. Rambutnya yang hitam berubah menjadi perak, mata rajawalinya mencorong tajam.
"Kiaakkkkkk!" Suara mengguntur laksana ribuan rajawali berpekik. Tubuh Aram jatuh ke bumi dengan bantuan sayapnya yang dikuncupkan. Perlahan tubuhnya berubah menjadi kemerahan terkena gesekan udara. "Wungggg!"
Pertarungan berhenti saat semua orang menatap langit. Mereka melihat sebuah meteor berwarna merah menyala jatuh menuju tempat Maharaja Sembilan Dewa berada. Jarak dua puluh tombak dari bumi, Aram menarik kedua tangannya secara perlahan seakan menarik angin. Dengan suatu gerak putar pada pergelangan tangan, tangan kanannya melakukan tangkapan dan tangan lainnya melakukan tebasan tajam dengan tenaga yang tersalur sempurna. Selarik sinar kilat bersamaan dengan gema menggelegar laksana guntur keluar dari tangan yang menebas, menerobos udara pagi yang dingin.
"Jelegar! Kretek... kreteekkk!" Maharaja terpental sepuluh tombak akibat ledakan itu, mulutnya berdarah, wajahnya menyeringai menahan sakit.
Sementara tidak jauh dari situ, Aram berdiri membuka kakinya dan menaikkan kedua tangannya dengan jari-jari menunjuk ke atas. Lalu, perlahan ia menurunkan kedua tangannya ke depan dada dengan jari-jari masih menghadap ke atas, mengepalkan tangan untuk diletakkan di sisi pinggang, dan menurunkannya ke bawah dengan jari-jari terbuka kembali. Perlahan tubuhnya kembali menjadi semula. Ia memang tidak terlalu suka dengan tubuh setengah gaib dan hewannya, sebab bila sudah berubah seperti itu, pikiran dan kesadarannya tak sanggup ia kendalikan lagi.
"Hahaha... Siapakah yang mati sekarang, heh?" Aram tersenyum mengejek.
"Ciss... kau memang siluman!" Maharaja Sembilan Dewa bangun dengan tertatih-tatih.
"Wusss...!" Keduanya kembali saling terjang. Hawa panas dan dingin menyeruak tajam. Aram bersiap melaksanakan tendangan ringan ke bawah yang ditujukan kepada lutut lawan, yang dikaburkan dengan gerakan serangan pada kedua tangan sehingga lawan tidak menyangka serangan bawah tersebut. Seperti seorang yang bertarung di langit namun tiba-tiba menyerang di pusat bawah dengan merobek bumi.
Maharaja benar-benar terus-terusan memakan pil pahit. Meski Aram berada di atas angin, wajahnya malah terlihat sendu. Ia yakin mendiang gurunya, Si Pemabuk dari Selatan, meski menguasai jurus ini, tidak akan menggunakannya. Sebab bila digunakan dan tidak mempan menghadapi Maharaja Sembilan Dewa, maka Maharaja akan meraih keuntungan karena pernah melihat jurus itu. Hatinya pilu benar, namun serangan Aram tak pernah berhenti, seakan air yang mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah dan sebaliknya.
"Kurrr... Kurrr!" Suara aneh terdengar. Maharaja dan Aram menghentikan pertarungan sesaat.
"Hahaha... Binasalah kalian, wahai Nawa Awatara!" Aram terlihat kembali bersemangat. Bukan hanya Aram, orang-orang Bendera Awan Langit juga kembali bersemangat karena mereka tahu bala bantuan telah tiba.
"Maaf kami terlambat, Angin Berhembus badai tiba!" sapa seorang lelaki paruh baya berbaju prajurit sambil berteriak.
Laksana jangkrik atau serangga, dengan tiba-tiba anggota Bendera Awan Langit berloncatan keluar arena. Berbarengan dengan itu, dari sekeliling lapangan bermunculan beberapa ratus prajurit pemanah.
"Bidik!" "Lepas!" "Wurrr..."