Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 97

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 97

Ratusan anak panah berhamburan menerjang anggota Nawa Awatara. Denting senjata menangkis panah dan jeritan kesakitan bersatu padu saat anak panah terus dilepaskan.

"Serbu!" pekik komandan prajurit itu. Laksana air bah yang menjebol tanggul, dari sekeliling benteng itu berloncatan para prajurit bersenjata tombak, golok, trisula, pedang, dan bermacam senjata lainnya. Bukan hanya prajurit, para penduduk yang diberi wadah kekuatan oleh Adipati Rajalela juga tampak mengamuk dahsyat.

Meski mereka berpakaian seperti pengemis dan pedagang serta bersenjata seadanya, mereka adalah orang-orang yang dibekali dengan tiga ajian. Begitu terbunuh, mereka kembali bangkit sebab mengamalkan Ajian Pancasona. Hawa panas dari Ajian Saepi Geni terus berhamburan, selain itu mereka juga dapat bergerak selincah angin berkat Ajian Saepiangin.

"Kau paham, bila kau menjadikan penduduk atau orang awam sebagai musuhmu, maka itulah akhir dari sejarahmu! Ketahuilah bahwa mereka merupakan senjata terhebat bila kau tahu cara menggunakannya."

"Cerewet! Jangan anggap aku muridmu. Terima ini!" Maharaja merasa marah dan menerjang tubuh Aram.

Aram hanya tertawa manis. Ia menaikkan kaki kirinya, diturunkan lagi dengan mantap, disusul dengan dinaikkannya kaki kanan. Tangan kiri diayunkan ke arah samping kiri dengan jari-jari menunjuk ke kiri. "Heaaa...." Aram berteriak mengguntur. Maharaja Sembilan Dewa terperanjat, bukan hanya dia, seluruh anggotanya pun ikut terperanjat. Telinga luar dan telinga batin mereka seperti digedor jutaan gong. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, mereka akhirnya dapat meredam suara itu meski tak sepenuhnya. Beberapa anggota Nawa Awatara lainnya bahkan ada yang langsung kelojotan hingga mati.

Seperti tidak terjadi apa-apa, pasukan bala bantuan Aram menghabisi setiap orang yang masih hidup di antara mereka. Mengapa demikian? Seperti dijelaskan di awal, Aram telah menyuruh mereka menutupi telinga dengan tanah liat. Meski mereka dapat mendengar suara itu, namun tidak berakibat fatal.

Para anggota Bendera Awan Langit tampak sedang bersemedhi di atas benteng untuk memulihkan kekuatan, namun di antara mereka ada juga yang memperhatikan pertarungan Aram dan Maharaja Sembilan Dewa. Salah satunya adalah Yumi. Ia melihat Aram yang melangkahkan kaki kanan disertai ayunan tangan kiri ke belakang dan tangan lainnya ke arah depan. Gerakan itu benar-benar terpadu dan mantap.

Sebagai kelanjutan dari sikap terdahulu, pandangan Aram dialihkan ke arah kiri dengan tangan kiri yang telapaknya digerakkan ke arah samping bawah, sementara tangan kanan didekatkan ke depan pusar sambil menarik napas cukup panjang. Penarikan napas tersebut adalah cara pemantapan cadangan untuk gerakan yang panjang serta menambah potensi serangan.

Dengan secepat kilat, ia mengayunkan tubuhnya dengan menyanggahkan kedua tangan pada tanah sambil menyapukan kaki kanan pada sasaran, kemudian mengalihkan dalam suatu putaran tubuh ke kanan dengan sanggahan dua tangan dan berganti kaki kiri yang melakukan sapuan.

Berkali-kali Maharaja Sembilan Dewa dibuat berjumpalitan di udara menghindari serangan. Aram tidak berhenti di situ; ia melanjutkan dengan gerak maju pada kaki kanan sambil mengayunkan serangan memutar dari bawah ke atas pada tangan kanan, sementara tangan lainnya ditarik memutar ke atas. Dijabarkan memang panjang, namun kenyataannya serangan itu cepat dan dahsyat. Serangan ini seperti bumi yang merekah, dapat merusak serta menjatuhkan lawan, layaknya manusia yang sedang merobek-robek bumi.

Kali ini Maharaja Sembilan Dewa dibuat kelimpungan; tubuhnya doyong ke kanan, kiri, depan, belakang, atas, dan bawah. "Brengsek!" maki Maharaja Sembilan Dewa. Segera ia meloncat ke udara. Di sana ia merapal Ajian Dewa Iblis, ajian pamungkas yang ia miliki. Sepertinya ia sudah bertekad untuk mati bersama. Seluruh tubuh Maharaja Sembilan Dewa kini mula-mula berwarna putih kemerahan, perlahan berubah menjadi merah menyala, dan terakhir menjadi biru api. Dari jarak sepuluh tombak pun, Aram dapat merasakan panasnya api itu. Namun, ia tak gentar. Sejak semula bertarung, ia selalu menggunakan tenaga dalam Panca Menjadi Tunggal. Kali ini, ia tukar menjadi Tunggal Menjadi Kosong.

Tubuh Maharaja turun ke bumi. Begitu kakinya menginjak tanah, suara desisan api membakar bumi terdengar menggiriskan. Dengan perlahan ia mendekati Aram. Aram tak membiarkannya begitu saja; ia segera menurunkan kaki kanan dan menggeser maju cepat pada kaki lainnya untuk mengiringi dengan tamparan serta bacokan. "Jelegaaar!"

Bukan sesuatu yang ada di hadapannya yang menggelegar, namun sebuah kilat putih menyambar tajam setombak di depannya. Petir itu menyambar tubuh Maharaja Sembilan Dewa. Jika orang lain, barangkali bakal mati dengan keadaan gosong, namun Maharaja Sembilan Dewa tetaplah Maharaja Sembilan Dewa. Meski ia tak menyangka akan serangan itu, tubuhnya yang terlindungi Ajian Dewa Iblis tidak mengalami luka apa pun.

"Haha, ternyata jurus bututmu itu sama sekali tak berguna untukku!" Kini giliran Maharaja Sembilan Dewa yang mengejek Aram.

Meski hatinya mencelos, Aram sama sekali tak mau menyerah. Tubuhnya sudah dipenuhi peluh, ditambah jarak yang kian dekat dengan tubuh Maharaja Sembilan Dewa. Disaksikan matahari yang bersinar terik tepat di atas kepala, Aram menendang ke samping, dilanjutkan dengan menurunkannya dengan perhitungan membalik ke arah kiri belakang, lalu mengangkat kaki kanan tinggi-tinggi. Kedua tangan ditarik ke bagian tengah seakan menutup sayap. "Buk... Bak... Bik... Buk..."

Beberapa kali Aram menendang, memukul, mencakar, dan menggunakan berbagai cara, namun Maharaja Sembilan Dewa tetap tidak mengalami luka. Walau tidak terluka, tubuhnya tetap terdorong ke sana kemari akibat serangan itu. Pertarungan terus berlanjut. Entah berapa ratus jurus telah dikeluarkan Aram, namun pertarungan tetap imbang hingga matahari menghilang di ufuk barat. Para penonton berharap-harap cemas; mereka sadar bahwa mereka belum sanggup menyamai kemampuan kedua petarung itu.

Sementara itu, anggota Nawa Awatara yang berada di sana telah habis terbantai, menyisakan dua puluh orang yang tampak sebagai orang-orang pilihan. Namun, tenaga mereka terkuras habis, dan disertai jeritan kematian beriringan dengan kokok ayam, mereka mati dengan tubuh terkoyak-koyak. Mengapa anggota Nawa Awatara sama sekali tidak ada bala bantuan, padahal mereka terpencar ke seluruh penjuru negeri?

Jauh di pelosok negeri, ternyata para penduduk mulai bergerak bersama para prajurit. Pertarungan demi pertarungan mereka lakukan. Tak jarang mereka harus mati, namun kembali bangkit. Laksana semut, mereka mengeroyok bahkan mencincang habis musuh sebagai wujud pelampiasan dendam. Di antara mereka ada yang bergerak sembunyi-sembunyi, terpola, bahkan ada pula yang terang-terangan.

Siasat mereka bermacam-macam, salah satunya dilakukan oleh penduduk dari Selat Jampana. Di sebuah pasar, tampak berbagai macam rupa manusia berseliweran. Hari itu terdengar bisik-bisik dari sudut pasar. Mereka adalah dua orang lelaki berusia lima puluh tujuh tahunan dan empat puluh lima tahun. Mereka berdiam diri di sana seperti pengemis, sesuai dengan baju yang penuh tambalan.

"Kakang Prana, menurutmu apakah sekarang waktu yang tepat?"

"Belum, lihatlah... masih sedikit sekali kampret-kampret itu. Aku kira menjelang lohor mereka bakal kemari."

"Kakang, aku dengar diam-diam para murid lima perguruan telah disebar dan menyatu dengan kita, hanya saja kita tidak mengetahui siapa dan yang mana."

"Aku juga mendengar hal itu. Tuan kita, si Pujangga Silat, benar-benar hebat dalam mengatur siasatnya. Aku merasa heran, bagaimana mungkin seorang dapat mengendalikan jutaan manusia? Dan anehnya, aku merasa takluk kepadanya."

"Pujangga Silat? Bukankah yang berada di belakang kita adalah Si Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan?"

"Kau ketinggalan zaman, Sugeng. Di negeri tetangga, Negeri Malaya dan Kemboja, dia lebih dikenal dengan nama Pujangga Silat. Nama itu mereka ambil dari sandi darah yang menjadi tanda ulahnya. Karena tidak ada yang mengetahui nama dan gelarnya, akhirnya mereka menamainya sebagai Pujangga Silat. Mereka mengetahui sebutan Pendekar Seribu Diri adalah baru-baru ini saja."

"Oh, Kakang, aku juga mendengar bahwa dia merupakan keturunan guru dari Pangeran Empat Dewa!"

"Apa?" Lelaki yang bernama Prana terlonjak kaget. "Pantas, sungguh pantas, padahal..."

"Padahal apa, Kakang?"

"Padahal dahulu yang selalu menjaga keamanan adalah sang Pangeran Langit dan Bumi."

"Pangeran Langit dan Bumi?"

"Benar. Ketika terjadi badai beberapa tahun belakangan, aku pikir itu adalah kelahiran dari Pangeran Langit dan Bumi. Tapi ternyata bukan, itu hanyalah pertanda kekacauan dimulai."

"Siapakah Pangeran Langit dan Bumi itu, Kakang?"

"Haha, mengenai itu aku tidak tahu menahu. Seumur hidup aku belum pernah melihatnya, aku hanya tahu dari obrolan orang tua ketika aku masih kecil."

"Hah, aku pikir Kakang tahu."

"Sudahlah Adik, ngomong-ngomong aku merasa lapar juga."

"Hadeh, aku pikir hal penting seperti apa, kirain hanya lapar."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment