Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 98

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 98

"Sama, aku juga lapar, Kang."

"Hehe... Lihat, kampret-kampret itu mulai berdatangan. Bagaimana dengan ilmu Pancasonamu, Adik?"

"Lumayan, setidaknya aku bisa menjaga diri."

Begitulah, bisik-bisik itu terus terdengar. Namun, di antara keangkuhan para anggota Nawa Awatara, adakah yang mendengar itu? Tidak, tak ada satu pun yang memperhatikan. Yang mereka perhatikan hanyalah bagaimana supaya mereka bisa tertawa tanpa memedulikan apa yang dirasakan oleh orang lain.

Tak jauh dari tempat itu terdapat hutan yang cukup lebat. Hutan tersebut merupakan jembatan penghubung antara markas pusat Nawa Awatara dengan pasar. Di salah satu pohon di hutan itu, terdapat dua orang pemuda dan pemudi berpakaian compang-camping. Salah satu dari mereka tampak sedang membentangkan busur panah. Ternyata yang ditujunya adalah seekor burung dara yang sedang terbang.

"Wus! Crep! Bluk!"

Tanpa ampun, burung itu jatuh berdebum di tanah kering. Dengan sigap, si pemudi meloncat sambil berkata riang, "Tembakan yang jitu, Kakang Soma!"

"Emh, hihihi. Lihat ini, Kakang." Si pemudi itu menunjukkan gulungan surat yang ia ambil di kaki burung dara tersebut.

"Sudahlah Antari, cepat buka dan kita berikan kepada Nyi Sawitri. Bukankah gurumu sudah mewanti-wanti dirimu?" Wajah pemudi yang ternyata bernama Antari itu cemberut mendengar ucapan si pemuda. Setengah mendongkol, ia menjawab, "Boleh dong aku bahagia, lagipula tak setiap saat aku bisa seperti ini. Kakang Pandu, apa gurumu, Ki Madya, ikut kemari?"

"Tidak, Guru bersama Dewa Daun sedang berada di tempat lain."

"Oh. Kakang Pandu, mari!"

"Mari." Keduanya pun berkelebat cepat menuju arah barat. Di sana, mereka bertemu dengan beberapa orang berpakaian compang-camping yang sedang bersiap siaga.

"Pandu, Antari, mengapa kalian kemari? Bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk berjaga di arah timur?" seorang wanita paruh baya berwajah cemong berkata keheranan.

"Maaf, Nyi Sawitri, kami menemukan ini di kaki burung dara." Pandu menunjuk kertas di tangan Antari.

Antari menjulurkan lidah saat melihat gurunya melotot. Dengan ragu-ragu ia menyerahkan kertas itu. Nyi Sawitri mengernyitkan kening dan dengan hati-hati membukanya.

"Kepada seluruh Anggota Nawa Awatara, harap menghadap ke markas. Markas sedang berada dalam bahaya, harap siaga. Tertanda: Julis Nawa Awatara, Ladian Haramana."

"Bagus. Kalian sudah berjasa besar. Sekarang silakan kalian kembali ke tempat."

"Katanya berjasa, tapi malah diusir," Antari menggerutu sambil menggamit tangan Pandu dan melesat kembali ke arah mereka datang. Nyi Sawitri menggelengkan kepala melihat tingkah muridnya itu; memang ia terlalu memanjakan anak itu hingga menjadi seperti itu.

Waktu terus bergulir, matahari telah berada di atas kepala. Di antara panasnya terik, terdengar letupan kembang api berwarna biru. Ledakan itu berbarengan dengan menyerbunya sepasukan yang entah berapa jumlahnya, namun hutan itu ternyata sudah dipenuhi oleh ratusan manusia. Berbagai macam senjata tampak berkilauan di antara cahaya matahari.

Anggota Nawa Awatara yang berada di markas cabang itu terkejut tak terkira. Mereka melawan, namun apalah artinya perlawanan tanpa persiapan? Sabetan senjata tajam selalu diiringi teriakan menyayat hati juga muncratan darah merah. Tanah berubah warna, tapi tak ada yang peduli. Yang mereka pedulikan adalah kebebasan dan kebahagiaan generasi mendatang; tak peduli nyawa mereka melayang di antara sabetan senjata tajam.

Para penduduk yang mengamalkan Pancasona tampak selalu bangkit meski tubuh mereka telah hancur. Dalam mimpi pun para anggota Nawa Awatara tak akan menyangka bila orang yang mereka remehkan adalah orang yang akan membunuh mereka.

"Apakah kau pimpinan dari begundal ini?" tanya seorang lelaki berpakaian hitam bergambar Nawa Awatara. Telinganya tampak lebih menggantung karena ditempeli anting yang bulat dan besar.

"Benar, namaku Sawitri, Ketua Teratai Putih. Dan siapakah Kisanak?"

Wajah lelaki itu memerah. Ia tak menyangka bahwa orang yang ada di hadapannya merupakan ketua dari salah satu lima perguruan besar. "Bagaimana dengan para anggota Nawa Awatara yang menjaga perguruan kalian?"

"Haha... sudah lama mereka mati. Terbantai dengan mengerikan, dan saatnya kalianlah yang akan mengalaminya."

"Apa? Mustahil! Mengapa tak ada sedikit pun kabar yang kudengar?"

"Itu salah kalian sendiri, menjadikan orang awam sebagai korban. Ketika para orang awam itu kami tutup, kalian pun akan kehilangan telinga. Sudah lama kalian tertinggal informasi, termasuk ini." Nyi Sawitri melemparkan sebuah kertas.

Dengan diliputi seribu pertanyaan, orang itu membuka kertas tersebut, maka pucatlah wajahnya.

"Brengsek!" Begitu bentakannya sirna, tubuhnya yang kekar langsung melesat ke udara. Ketika pergelangan tangannya memutar, secara berturut-turut dia melancarkan tiga buah serangan dan sembilan buah totokan. Sebetulnya serangan ini berjumlah enam jurus. Kecepatannya bagai cahaya kilat. Meskipun dia melancarkan serangannya satu per satu, namun begitu cepatnya sehingga tampak dikerahkan dalam waktu yang bersamaan dan seakan ada empat telapak tangan yang sedang mengincar Nyi Sawitri.

Hati Nyi Sawitri tercekat melihat keadaan ini. Dia merasa mengenal jurus itu. Setelah berpikir sebentar, akhirnya ia berteriak, "Jurus Tapak Sembilan Totokan!"

Dengan gugup dia mundur beberapa langkah, tapi pengalamannya bicara. Pergelangan tangannya bergerak, sekaligus dia melancarkan dua belas pukulan. Tampak bayangan telapak tangan yang banyak seperti bunga teratai yang sedang mekar. Suara gemuruh angin yang ditimbulkannya berderu-deru. Seluruh ruangan sampai dipenuhi terpaan angin dari telapak tangannya.

"Duk... duk... Blaar!"

Keduanya mundur ke belakang. Tiba-tiba Nyi Sawitri mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuhnya memutar dan menerjang ke arah lelaki itu. Tampak bayangan tangan dalam jumlah yang banyak seperti teratai yang sedang kuncup. Jurus serangan yang tidak alang kepalang cepatnya!

Pada dasarnya lelaki itu memang sudah bersiap melancarkan serangan. Melihat Nyi Sawitri mendahului menyerang, mulutnya segera mengeluarkan suara bentakan, "Ayo kita lihat, siapakah yang akan mati duluan!"

Lengannya yang berubah menjadi kuning keemasan itu dibenturkan dengan keras untuk menangkis serangan tangan Nyi Sawitri. Dan dalam waktu yang bersamaan, pergelangan tangannya memutar, lalu disodokkan dengan kuat dan cepat. Nyi Sawitri baru merasakan adanya suara yang bergema di udara, hebatnya bukan main. Dia segera tahu bahwa yang meluncur datang merupakan serangan yang dahsyat dan berbahaya. Dia bermaksud menghindar, namun tidak keburu lagi.

Hati Nyi Sawitri tercekat, bulu kuduknya merinding seketika. Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, dia mengeluarkan suara bentakan dan tubuhnya pun melesat ke atas. Gerakan yang hebat. Caranya mencelat ke atas tadi sebetulnya merupakan kesalahan bagi kaum persilatan, tetapi karena telah melatih Tenaga Kapas di Markas Bendera Awan Langit, dengan kepala di bawah dan kaki di atas laksana seekor elang yang menukik, dia menerjang ke bawah.

Terdengar suara jeritan memenuhi seluruh arena. Segera terlihat lelaki yang menjadi lawannya terhantam mundur dua langkah. Orang itu memuntahkan darah segar dan roboh bermandikan darah. Nyi Sawitri tidak berhenti begitu saja. Diiringi suara jeritan yang menyayat hati, orang kedua pun tumbang, mati. Cahaya pedang dan bayangan golok melayang ke sana ke mari memenuhi arena. Deruan angin yang timbul dari pukulan dan tinju menyesakkan di setiap sudut. Yang dapat terlihat saat itu hanya bayangan tubuh manusia yang berkelebat, tanpa dapat dibedakan mana kawan dan mana lawan.

Dengan merayapnya waktu, pertarungan semakin lama semakin sengit!

Blam!

Segera ada seseorang yang memuntahkan darah segar dan terkapar di atas tanah. Hawa kematian yang memenuhi arena pertarungan semakin lama semakin menebal, hingga akhirnya menipis dan semakin menipis.

Sunyi... Senyap...

Tak ada dentingan pedang, hanya helaan napas yang memburu dan mayat yang bertumpuk di tempat itu.

Bagaimana keadaan di pasar?

Setelah tanda dibunyikan, tiba-tiba laksana air bah yang menerjang, laksana ombak yang menggulung, sekeliling anggota Nawa Awatara berloncatan penduduk yang menyerang. Kondisi ini tentu saja membuat mereka panik, apalagi jumlah mereka tidak sepertiga dari para penduduk. Bukan hanya orang dewasa, ternyata ada juga sepasukan anak kecil yang menerjang. Yang memimpin ternyata adalah Bayuputra.

Keadaan yang membahayakan semakin merapat pada para anggota Nawa Awatara. Tiba-tiba mereka menjadi sadar. Apabila mereka masih tidak mencari jalan untuk menerobos keluar, setiap saat pasti akan timbul bencana yang mungkin membuat nyawa mereka melayang.

Tiba-tiba Bayuputra bersiul, dan tanpa berpikir panjang lagi, dia menikam ke depan. Jurus serangannya ini tidak mempunyai nama. Dia hanya melancarkannya tanpa memedulikan keselamatan nyawanya sendiri. Salah seorang anggota Nawa Awatara tiba-tiba merasa cahaya dingin menyilaukan mata dan menekannya dari atas. Hatinya terkesiap. Baru saja dia bermaksud menggeserkan tubuhnya menghindar, tapi sudah kasip; pisau di tangan Bayuputra telah menancap di lehernya.

Bayuputra memutar pergelangan tangannya, pisaunya terjatuh ke tanah dan kembali melancarkan sepasang pukulan yang mengandung tenaga dahsyat! Meskipun anggota Nawa Awatara mempunyai kepandaian yang tinggi, tetap saja sulit baginya untuk menyelamatkan diri. Hatinya menjadi panik. Dengan gugup dia menghindar ke samping. Justru pada saat yang sedetik itu, tanpa dapat dipertahankan lagi mulutnya mengeluarkan suara keluhan.

Terasa pinggang sebelah kiri bawah agak dingin dan darah pun merembes keluar. Tusukan pedang ini hebat sekali. Darah mengalir dari pinggang sebelah kiri bawah anggota Nawa Awatara tersebut. Ternyata, salah seorang anak kecil bawaan Bayuputra menusukkan pedangnya di pinggang lelaki itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment