Chapter 99
Bayuputra tersenyum. Telapak tangan kirinya segera disodorkan, secara gencar melancarkan beberapa serangan.
Terlihat bahwa para anggota Nawa Awatara berusaha menerobos keluar dari kepungan lawan. Tampak jelas bahwa pihak lawannya juga tak kalah garang, apalagi mereka tidak lagi mematuhi aturan dan mengeroyoknya. Bagaimana mereka bisa mendapat kesempatan untuk kabur? Mengatur napas saja sudah sulit, sedangkan deruan pukulan, tinju, dan berbagai macam senjata mengepungnya dengan ketat.
Dalam waktu singkat, mereka sudah kalang kabut. Napas mereka tersengal-sengal, dan saat matahari berada di ufuk barat, pertarungan akhirnya berhenti, menyisakan mayat-mayat yang berserakan. Itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa para anggota Nawa Awatara sama sekali tak mendapat bantuan. Pertarungan antara Aram dan Maharaja Sembilan Dewa juga terlihat semakin tegang; darah dari mulut mereka menetes menggaris. Tubuh kekar Aram yang dipenuhi luka tampak menggiriskan saat itu. Entah sampai kapan akan berhenti, entahlah.
Aram menjejakkan kakinya hingga berada di udara, dan bagaikan gasing berkecepatan kilat, tubuhnya berputar dahsyat. Itulah jurus Bumi Berhenti Berputar. Maharaja Sembilan Dewa tertawa latah, ia segera memutar tubuhnya, memunculkan dua pusingan dahsyat yang berseliweran dengan tenaga dalam dan angin.
Keduanya beradu di udara. "Blaaarrrrrr! Jdarrrrr!" Ledakan dahsyat bak nuklir terdengar. Para bala bantuan dan anggota Bendera Awan Langit bahkan terpaksa harus berloncatan menghindari setiap serangan angin nyasar. Radius lima puluh tombak dari tempat itu hancur berantakan.
Perut Aram tampak robek sampai dada, darah bercucuran. Mulutnya menyeringai kesakitan, namun bukan Aram bila harus mati begitu saja. Segera ia kerahkan salah satu jurus dari Jurus Tunggal Jagad, yakni "Obat Penghalau Murka Jagad". Dengan memanfaatkan sari angin yang terhembus dan bumi yang dipijak, ia mengubahnya menjadi hawa tenaga dalam. Sekejap saja luka itu menutup, meninggalkan bekas luka menggaris.
Keadaan Maharaja Sembilan Dewa juga tidak menguntungkan; di dadanya terdapat sebuah cap telapak tangan berwarna hitam. Mulutnya menyemburkan darah segar, tapi ia enggan mati begitu saja. Ia menelan sebuah obat kecil dari sakunya, kemudian menghela napas dalam untuk menyembuhkan lukanya.
"Pukulan Tunggal Perobek Jagad!" Aram berteriak mengguntur dan menerjang dahsyat ke arah Maharaja Sembilan Dewa yang sedang menyembuhkan luka dalamnya.
"Tak ada pilihan, aku harus gunakan itu," gumam Maharaja Sembilan Dewa. "Arwah Iblis Jasad Dewa!"
"Belegar... belegar!" Adu tenaga dalam kali ini dua kali lebih dahsyat dari sebelumnya. Aram menyabetkan tangannya yang menggelegar dan mencicit seperti jutaan pedang sedang disabetkan. Itulah "Pedang Tunggal Melintang Jagad" yang dihadapi oleh Maharaja Sembilan Dewa dengan jurus sejenis. "Trangggggg!" Lelatu api bermuncratan seperti dua logam yang diadukan.
Aram segera membentuk tangannya menyerupai posisi totokan, jarinya kini berubah menjadi perak. "Totokan Tunggal Paku Jagad! Totokan Jasad Dewa Iblis!"
"Bukkkkkk... buk... Hoekk... hoekk!" Keduanya memuncratkan darah segar lagi. Brukkk! Keduanya jatuh ke tanah. Aram merasa dunia menjadi gelap dan perlahan memburam. Saat ia melihat sebuah batu meluncur ke arah kepalanya, ia sadar nyawanya akan lenyap jika dibiarkan. Memang tubuhnya sudah tak bisa digerakkan, tapi batinnya tidak. Segera ia menarik Kujang bergagang harimau di ikat rambutnya dan melemparkannya.
"Gerrrrrrrrrmmmm! Grauuk... grauuk... kres... kres..."
Batu itu ditelan oleh seekor harimau besar penjelmaan Kujang Kekuatan Sejati. Bukan itu saja, harimau itu segera menerkam tubuh Maharaja Sembilan Dewa, mengoyak, memakan, dan mencakar tubuh itu. Maharaja Sembilan Dewa yang pingsan setelah melemparkan batu bertenaga dalam tentu tidak tahu bahwa ia takkan pernah melihat dunia lagi. Ia takkan menyangka akan mati di tangan seekor harimau penjelmaan Kujang bernama Kekuatan Sejati.
Aram juga pingsan dan tidak sadarkan diri. Dunia yang kelam berubah secerah mentari pagi di antara apitan gunung yang menjulang tinggi.
"Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan sang Pujangga Silat." Nama itu kini menjadi buah bibir setiap insan, khususnya di Nusantara (Sweta Dwipa). Nama itu bagaikan penjelmaan dewa, perjuangannya takkan pernah mereka lupakan. Senyuman dan tawa bahagia berdengung di mana-mana, dari ujung barat sampai timur, selatan hingga utara. Di berbagai daerah, masyarakat membangun monumen di atas tebing yang menjulang, dengan tulisan: "AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG, AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH."
Di bawahnya terdapat lukisan Aram yang sedang bertarung dengan Maharaja Sembilan Dewa, dengan tulisan: "Seribu kebaikan takkan pernah hilang, Seribu diri dalam satu adalah kekuatan yang terhebat, singkap kebatilan dan rogoh keadilan."
Jauh dari tempat itu, di sebuah pulau bernama Anglep, tangisan duka dan bahagia terlihat di wajah orang-orang. Mereka berduka atas pengorbanan sahabat-sahabat yang telah mendahului pulang kepada Yang Maha Kuasa, namun bahagia karena telah melewati rintangan terhebat dalam perjuangan mereka.
Sementara itu, para petinggi Bendera Awan Langit dan Ksatria Satwa berdiri tertunduk lesu. Si Sinting dari Utara, Nyi Renjani, dan Kakek Arak Seribu Kati tampak mengelilingi Aram yang terbaring lemah. Di sampingnya, Melati, Thian Hong Li, dan Rismi Laraspati menangis sesenggukan. Sudah tiga hari ia pingsan. Thian Liong sibuk menghibur ketiganya.
"Hong Moay, jangan engkau terlalu sedih, nanti anak dalam kandunganmu terkena apa-apa. Percayalah bahwa dia akan baik-baik saja. Melati, jangan terlalu sedih, nanti kau akan jatuh sakit. Rismi, aku mohon kau juga jangan terus menangis."
"Ukghhh!" Aram melenguh, matanya perlahan terbuka. Mendengar lenguhan itu, serempak ketiga gadis itu menghentikan tangis. Aram berusaha untuk duduk, dan dengan sigap Thian Liong membantunya.
"Terima kasih," ucap Aram tersendat.
"Jangan terlalu banyak bergerak, tubuhmu..."
"Aku mengerti, sebelum pingsan pun aku sudah tahu bahwa tenaga dalamku sudah hilang," potong Aram tegas.
"Anakku, bagaimanakah keadaanmu?" tanya Ki Asmaradanu.
"Baik, baik sekali. Akh, Ayah, bisakah Ayah memanggil Kakang Sobar kemari?"
"Baik, ia berada di sampingmu!"
"Kakang," panggil Aram.
"Ya, Adikku."
"Dapatkah aku meminta bantuanmu sekali lagi?"
"Tentu saja aku akan melaksanakan perintahmu, Adikku."
"Kakang, kembalilah pimpin Bendera Awan Langit bagi anggota yang masih ingin bergerak dalam organisasi. Persilakan juga orang-orang yang hendak menyembunyikan diri atau melepaskan keanggotaan agar tidak menjadi duri. Aku bersama ketiga calon istriku akan pergi ke sebuah tempat terpencil. Sampaikan salam hormatku kepada yang lain. Apakah Kakang masih bisa melaksanakan permintaanku?"
Mata Si Pengabar Langit berkaca-kaca. "Aram, apakah keputusanmu sudah bulat?"
"Tentu, Kakang. Bagaimana?"
"Aku... aku ingin ikut bersamamu."
"Tidak, Kakang. Aku hanya akan tinggal bersama Ayah dan ketiga istriku. Aku ingin merasakan kebahagiaan dan menjadi orang biasa tanpa ada pembunuhan lagi. Aku ingin mencuci tangan. Jangan sampaikan kepergianku kepada mereka sebelum aku meninggalkan tempat ini."
"Ayah," panggil Aram lagi.
"Ya, anakku."
"Bawa aku ke ruanganku."
Segera saja Ki Asmaradanu memanggul tubuhnya diiringi ketiga calon istri Aram. Sebelum meninggalkan tempat itu, Aram meminta untuk mengucap beberapa patah kata kepada petinggi organisasi dan Ksatria Satwa.
"Saudaraku sekalian, mungkin kalian sudah mendengar keputusanku. Terima kasih atas pengertian dan bantuan kalian. Semoga kita bisa berjumpa di lain titisan. Hiduplah bersama kebahagiaan dan gunakan kepandaian kalian untuk kebaikan."
"Kami ikut bersamamu," seru Angkara mewakili yang lain.
"Tidak, silakan kalian pilih jalan kalian sendiri. Aku pergi. Selamat tinggal sahabat-sahabatku, saudaraku yang paling aku cintai dan sayangi," kata Aram tegar sembari memalingkan wajahnya yang berkaca-kaca.
"Selamat tinggal, Ketua yang paling kami banggakan," jawab Angkara tegas.
"Kakang, Supek, Hong Ji mohon pamit. Maafkan Hong Ji bila ada salah."
"Selamat jalan, anakku!" Kakek Arak Seribu Kati mengiringi Thian Hong Li yang berjalan menjauh.
Beberapa tahun telah berlalu, di sebuah hutan yang jarang terjamah manusia.