Chapter 05
Giok Cu hanya menunduk, tidak menggeleng maupun mengangguk, hingga ayahnya berkata, "Giok Cu! Jawablah pertanyaan Gan twako agar ia merasa puas. Aku tahu kau sungkan menjawab, tapi kalau kau setuju jawablah dengan menggelengkan kepala. Gan twako orangnya jujur, dia tidak akan merasa menyesal!"
Kali ini Giok Cu menggelengkan kepala, berdiri, lalu berlari ke kamarnya. Gan Im Kiat menarik napas panjang, "Ya, dasar kau yang sial, Kam Ciu!"
Pemuda yang jarang bicara itu kini tersenyum memandang ayahnya. "Ayah, kaulah yang aneh. Tentang perjodohanku, semua orang ditanya, sedangkan aku sendiri orang yang bersangkutan sama sekali tak pernah kau tanya!" Ayahnya memandang anaknya heran. "Lho, Kam Ciu, bukankah dalam segala hal pendapatmu sama dengan pendapatku? Coba katakan kalau kau berani, bukankah kau setuju sekali pada Nona Giok Cu?"
Kam Ciu terpukul kalah dan tak berdaya. Pemuda itu kini tunduk dengan wajah kemerahan. Ong Kang Ek hanya terbelalak heran melihat ayah-anak yang ganjil dan berbeda dengan orang lain itu. Namun, diam-diam ia merasa kagum dan suka melihat ketulusan serta kejujuran hati mereka, sedikit pun tidak dinodai kepalsuan dan kesopanan pura-pura yang hanya baik di luar tapi mungkin di dalamnya mengandung kekotoran yang menjijikkan.
Gan Im Kiat lalu berpamitan kepada tuan rumah, dan mereka berdua meninggalkan gedung. Ong Kang Ek diantar oleh tuan rumah sampai di depan pintu. Ketika hendak berpisah, Ong Kang Ek berkata,
"Gan twako, sungguh menyesal kita tak berjodoh untuk menjadi besan! Kuharap kau suka mengunjungi pesta yang hendak kuadakan bulan depan, hari kedua."
"Kau hendak adakan pesta apa, Saudara Ong?"
"Aku hendak merayakan ulang tahunku yang kelima puluh dan sekalian mengadakan pemilihan jodoh anakku." Gan Im Kiat mengangguk-angguk maklum. "Jadi, kau hendak mengadakan sayembara adu silat?"
Ong Kang Ek tersenyum dan mengulang undangannya. Gan Im Kiat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tak dapat mengikuti jejakmu, Saudara Ong. Entah mengapa, tapi aku tetap tidak dapat merasa suka pada tukang pukul. Tapi misalnya aku tak dapat datang, tentu aku akan wakilkan kepada Kam Ciu." Kemudian, ayah dan anak she Gan itu sekali lagi mengangkat tangan memberi selamat tinggal kepada tuan rumah mereka yang baik hati dan ramah.
Adapun Giok Cu, semenjak dilamar oleh Gan Im Kiat secara demikian luar biasa dan terang-terangan hingga ia menjadi sangat bingung, jengah, dan malu, tak pernah menemui lagi kedua tamunya. Bahkan ketika mereka meninggalkan rumahnya, ia pun tidak pergi menjumpai mereka. Ia merasa sangat marah dan benci kepada Kam Ciu. "Sungguh tak tahu diri," pikirnya. "Orang lemah dan tidak mengerti silat sedikit pun macam dia itu mau melamarnya?" Giok Cu, kalau teringat akan hal ini, lalu menjebikkan bibirnya. "Kutubuku-kutubuku yang demikian lemah hingga tertiup angin besar saja mungkin tak kuat berdiri lempeng, mau memperisteri dia?" Ia harus akui bahwa sikap pemuda itu cukup sopan santun, lemah lembut, dan tidak kurang ajar. Belum pernah pandangan mata pemuda itu menatap dirinya seperti yang dilakukan oleh tiap laki-laki, tua dan muda, jika mereka bertemu dengannya. Wajah pemuda itu memang tidak sangat tampan, tapi cukup tampan, terutama sepasang matanya yang bersinar tajam. "Sayang, ia hanya seorang kutubuku," demikian Giok Cu mengakhiri lamunannya dengan menarik napas dalam-dalam. Tapi sebentar saja ia telah melupakan pemuda dan ayahnya yang ganjil itu.
Ong Kang Ek menyebar undangan dan pemberitahuan melalui kawan-kawan dari kalangan persilatan. Biarpun undangannya hanya khusus untuk merayakan hari ulang tahunnya, tapi dengan berita lisan ia tambahkan tentang maksudnya hendak memilih mantu.
Bulan depan, pada hari kedua, gedung Ong Kang Ek dihias indah. Bangku-bangku dan meja-meja diatur di taman karena Ong Kang Ek hendak mengadakan pesta taman. Pada waktu itu, musim bunga masih belum lewat hingga kebun bunga itu masih indah dan penuh dengan bunga mekar beraneka warna yang harum baunya. Di tengah-tengah taman empang ikan yang penuh teratai didirikan sebuah panggung untuk bermain silat dan meja-meja diatur di sekeliling panggung itu.
Tamu-tamu mulai datang dari segala penjuru, hampir semua terdiri dari golongan tokoh persilatan. Tapi sebagian besar dari mereka datang dari Utara karena nama Ong Kang Ek dengan julukannya, Sian-kiam-bu-tek atau Pedang Dewa Tanpa Tandingan, amat terkenal di bagian itu.
Ong Kang Ek sebetulnya dulu adalah seorang panglima perang pada Kerajaan Beng-tiauw. Tapi ketika kerajaan itu dipukul jatuh ke tangan bangsa Boan, ia lari ke dalam hutan dan menjadi kepala berandal terkenal di Bukit Hek-houw-san. Berkali-kali tentara kaisar Boan mencoba menghancurkan barisan berandal ini, tapi mereka tak berhasil, karena selain barisan itu gagah berani dan berada di bawah pimpinan seorang ahli peperangan, juga kedudukan bukit itu baik sekali untuk tempat pertahanan. Akhirnya tentara Boan menjadi bosan sendiri dan selama kaum berandal itu tidak mengganggu pemerintah, mereka didiamkan saja.
Setelah memimpin barisan berandal selama lima bulan lamanya dan menjadi tokoh di daerah itu, Ong Kang Ek merasa bosan dan mengundurkan diri. Memang ia telah menjadi berandal dengan terpaksa, yaitu ketika ia dan keluarganya pergi mengungsi, telah dicegat dan diserang perampok yang dipimpin oleh seorang kepala bergelar Hek-houw-ong. Dalam pertempuran melawan Ong Kang Ek, kepala berandal ini tewas. Melihat kegagahan Sian-kiam-bu-tek, para anggota berandal lalu mengangkatnya sebagai kepala. Ong Kang Ek terpaksa menerimanya karena ia pikir bahwa jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dengan keluarganya dari kejaran bala tentara musuh ialah bersembunyi di situ. Namun, istrinya yang tidak biasa tinggal di tengah hutan menjadi sangat menderita dan jatuh sakit. Karena jauh dari obat dan ahli, penyakit ini membawanya ke liang lahat. Bukan main sedih hati Ong Kang Ek hingga ia makin tidak kerasan tinggal di situ.
Akhirnya, ia mengangkat seorang yang paling gagah di antara mereka sebagai kepala yang menggantikan kedudukannya, sedangkan ia sendiri bersama putrinya lalu meninggalkan tempat itu. Para berandal yang merasa hutang budi dan yang telah menerima banyak kebaikan dari Ong Kang Ek, segera mengumpulkan emas dan perak, lalu memberikannya sebagai hadiah kepadanya. Demikianlah Ong Kang Ek tiba di kota Kam Leng sebagai hartawan.
Ketika pesta dimulai, taman bunga itu telah penuh dengan para tamu. Taman itu dihias dengan kertas-kertas berwarna yang menambah indah keadaan. Meja-meja yang dipasang mengitari panggung dibagi tiga bagian: bagian terkecil adalah untuk para tamu wanita, karena di antara tamu terdapat pula beberapa belas pendekar wanita dari Utara seperti Soh Kwan Lian, Han Lian Hwa, Song Lian Eng, dan lain-lain, juga terdapat beberapa orang pendeta wanita. Bagian kedua adalah untuk orang tua dan di sinilah ditempatkan kursi-kursi kehormatan untuk para locianpwe yang tersohor. Bagian ketiga yang terbesar adalah untuk golongan para muda. Hampir semua tokoh persilatan datang menghadiri pesta itu, karena mereka menaruh hormat kepada bekas panglima yang tidak mau menyerah kepada musuh dan yang terkenal gagah perkasa.
Setelah hidangan disuguhkan dan keadaan menjadi gembira karena pengaruh arak, Ong Kang Ek dengan suara merendah menyatakan bahwa untuk menggembirakan para tamu yang terhormat, ia hendak menyuruh putrinya bermain pedang di atas panggung dengan harapan hendaknya setelah anaknya bersilat, tamu-tamu lain juga suka memberi sumbangan berupa pertunjukan silat untuk menggembirakan suasana. Tentu saja pernyataan ini disambut dengan tepuk tangan gembira, terutama dari para muda, karena mereka tahu maksud tuan rumah.
Tak lama kemudian, keluarlah Giok Cu dari dalam, berpakaian warna hijau dengan angkin merah yang ujungnya melambai ditiup angin. Di pinggangnya tergantung pedang pusaka keluarganya, Kim-hong-kiam. Pakaiannya serba ringkas sederhana, mukanya yang jelita tak berbekas pupur atau riasan, nampak kesederhanaannya itu tak mengurangi kecantikannya, bahkan kejelitaannya nampak asli dan segar. Dengan tindakan ringan, gadis itu berjalan menuju panggung, kemudian dengan gesit bagaikan burung walet ia melompat ke atas panggung, disambut tepuk tangan sopan tapi cukup meriah.
Melihat kecantikan gadis itu, di kalangan muda terbit hasrat untuk mencoba kepandaian Giok Cu, siapa tahu kalau-kalau mereka akan beruntung untuk berhasil menundukkan gadis jelita itu, menundukkan kemahiran silat, dan menundukkan hatinya pula! Sedikitnya ada dua puluh pemuda yang telah gatal tangan hendak mencoba kepandaian Giok Cu.
Sebelum Giok Cu mulai bersilat, Ong Kang Ek naik ke atas panggung dan sambil berdiri di sebelah putrinya, ia menjura ke empat penjuru.
"Cuwi sekalian yang terhormat, harap saja cuwi suka memberi maaf sebelumnya atas kelancangan anakku. Sebenarnya bukanlah maksud kami untuk menyombongkan kebiasaan yang tak berapa banyak, tapi ialah karena anakku yang manja ini telah berjanji kepadaku bahwa pada hari ulang tahunku ini dia hendak menyumbangkan tenaga meramaikan pesta dengan bersilat pedang dan mengambil kesempatan ini untuk minta tambahan pelajaran dari cuwi sekalian. Hanya saja memang adat anakku aneh, dia hanya melayani main pedang dengan mereka yang tidak saja pandai pegang senjata tajam, tapi juga yang pandai pegang dan mainkan pit dan pandai membaca!"
Mendengar uraian ini, kembali para muda bertepuk tangan, tapi di antara dua puluh orang anak muda yang gatal tangan tadi, kini hanya paling banyak sepuluh orang saja yang masih tetap hendak mencoba gadis itu karena mereka merasa cukup mengerti ilmu surat. Pada saat itu, datanglah seorang tamu dari luar yang diantar oleh pelayan yang mewakili Ong Kang Ek menjaga di luar.
Ong Kang Ek yang sudah selesai bicara, lalu menjura lagi dan cepat-cepat turun dari panggung untuk menyambut tamu-tamunya, seorang pemuda berpakaian sastrawan dan yang mendatangi dengan sikap lemah lembut dan sopan.
"Ah, Gan Hianti, kau akhirnya datang juga! Mana ayahmu?"