Chapter 09
"Kalau begitu, bukankah Anda Totiang Hoan yang bergelar Liok-chiu Sian Sienam? Sungguh bahagia, saya yang muda dapat berjumpa dengan Totiang yang telah membuat nama besar! Tapi apa maksud Totiang untuk menjajal Kiam-hwa Anda yang sudah terkenal itu kepada seorang muda seperti saya? Harap Totiang suka pikir-pikir kembali. Kalau Totiang dapat mengalahkan saya, hal ini tidak menguntungkan Totiang, juga tidak berarti apa-apa. Tapi sebaliknya, kalau sam pai kiam-hwat Anda kalah oleh saya, bukankah hal ini akan membuat Totiang merasa malu dan saya merasa tidak enak saja?"
Ucapan ini, biarpun kelihatan rendah dan halus, namun juga mengandung ejekan dan memandang rendah kepada Kwie-san Kiam-hwat.
"Souw Sicu! Kepandaian Anda sudah begitu hebat, apa pula Anda adalah murid Gak Bong, maka biarpun seandainya saya jatuh dalam tangan Anda, saya takkan merasa malu, bahkan merasa terhormat. Tentu saja, kalau Anda mampu menjatuhkan saya!"
Ong Kang Ek merasa tidak enak sekali menghadapi adu mulut ini, maka buru-buru ia berkata: "Hoan Totiang dan Souw Sicu yang terhormat. Saya tidak ada perlunya hal ini dilanjutkan, karena membikin kita semua tidak enak saja. Memang maksud Hoan Totiang baik, yakni untuk menambah pemandangan kita dan juga untuk meramaikan pesta ini, tapi hendaknya diingat bahwa Souw Sicu belum bertanding dengan putri saya, hingga kalau dia harus bermain-main dulu dengan Totiang, maka tentu hal ini kurang adil, apalagi baru saja Souw Sicu telah melayani saudara-saudara yang lain."
Hoan Tin-cu tertawa bergelak-gelak. "Saya orang tua tidak tahu diri, memang menjadi gangguan saja. Tadi saya minta kepada Souw Sicu, tapi ternyata Anda ingin lekas-lekas melihat pemuda ini mengadu kepandaian dengan anak Anda. Biarlah saya mundur saja. Tentu saja Souw Sicu lebih senang bertanding dengan Ong Siosia daripada dengan saya si tua bangka!"
Bukan main panas hati Thian In mendengar olok-olokan ini. Ia menghadapi Ong Kang Ek dan menjura: "Ong Lo-enghiong, perkenankanlah kiranya siauw titi melayani Hoan Totiang barang sepuluh jurus sebagai tanda hormat kepadanya dan juga untuk menggembirakan pesta ini."
Terpaksa Ong Kang Ek mengangguk dan tinggalkan panggung dengan hati cemas, karena ia tahu betapa lihainya pendeta tinggi kurus itu.
"Ha, ha! Harimau muda yang gagah berani. Sikap Anda ini membuat saya makin kagum, anak muda. Keluarkanlah pedang Anda dan mari kita bermain-main sebentar agar saya rasai sampai di mana kelihaian ilmu pedang turunan Gak Bong! Jangan Anda takut, saya tak begitu kejam untuk mencelakai seorang muda."
Kata-kata ini sangat memandang rendah, hingga tanpa banyak cakap lagi Souw Thian In lolos pedangnya dari pinggang. Sementara itu, Hoan Sin-cu juga telah cabut pedang dari punggungnya dan dengan jumawa sekali ia gerak-gerakkan pedang itu di tangan kanan hingga bersuitan mendatangkan angin dingin. Thian In maklum akan kelihaian orang tua itu, maka ia berdiri memasang kuda-kuda dengan tenang dan waspada. Kemudian ia berkata halus:
"Hoan Totiang, Anda mulailah dulu."
Setelah perdengarkan suara tawa yang nyaring, Hoan Tin-cu segera menggerakkan pedangnya mengirim serangan pertama. Gerakan pedangnya memang cepat sekali, ditambah pula dengan gaya-gaya palsu dengan jalan berputar-putar dan mengayunkan pedang itu bagaikan permainan pedang yang kacau, tapi yang sesungguhnya merupakan rangkaian serangan berbahaya. Tapi Thian In, biarpun masih muda, namun ia tergembleng hebat oleh gurunya hingga ia dapat berlaku tenang sekali dan tidak bingung karena gerak-gerak palsu itu. Dengan gerakan Huicwan atau Air Terjun Bertebaran, ia dapat menangkis serangan Hoan Tin-cu dengan mudah sekali.
Hoan Tin-cu terkejut juga melihat serangannya dapat dipatahkan demikian mudah, lebih-lebih ketika ia rasakan betapa tangkisan pedang Thian In membuat tangannya tergetar. Ia menjadi hati-hati dan berbareng penasaran sekali. Ia perdengarkan siulan keras dan tahu-tahu ia mengubah gerakan pedangnya. Kini ia memainkan tipu-tipu terlicik dari Kwie-san Kiam-hwat. Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih berkelip yang mengurung Thian In.
Untuk sesaat Thian In terdesak dan ia merasa betapa Kwie-san Kiam-hwat benar-benar lihai, cepat gerakannya, dan kuat tenaga serangannya. Namun ia telah mendapat petunjuk istimewa dari Gak Bong Tosu bagaimana harus menghadapi ilmu pedang Kwie-san, maka dengan cepat Thian In lalu memainkan gerakan Dinding Besi Membendung Banjir. Pedangnya diputar sedemikian cepatnya hingga merupakan sinar bulat besar yang menjaga dan melindungi seluruh tubuhnya, hingga jangankan senjata lawan, bahkan air hujan pun agaknya sukar untuk menembus dinding kuat yang terbuat dari mata pedangnya itu! Beberapa kali ujung pedang Hoan Tin-cu hendak menerobos masuk, tapi selalu dapat terpental keluar kembali karena tangkisan pedang Thian In.
Melihat betapa serangan-serangannya tak berhasil, sedangkan pemuda itu hanya membela diri saja dan belum balas menyerang, Hoan Tin-cu merasa penasaran dan marah karena ia anggap Thian In mengalah, yang berarti menghina dan memandang rendah. Maka ia berseru keras:
"Souw Sicu, balaslah menyerang! Jangan takut, saya takkan terluka oleh pedang Anda."
Sambil menangkis sebuah tusukan, Thian In menjawab: "Baik, Totiang, saya sudah terima pengajaran Anda. Sekarang, silakan menerima pertunjukan saya. Awas pedang!"
Bareng dengan teriakan ini, tiba-tiba Thian In menggerakkan pedangnya dengan tipu La-liong-sin Yauw atau Naga Emas Mengulet. Tiba-tiba saja Thian In membuat gerakan memutar dan secepat kilat pedangnya membalik dan meluncur dalam serangan berbahaya. Hoan Tin-cu yang sudah siap sedia tak menjadi gentar, bahkan ia berteriak: "Bagus!" sambil tersenyum dan menggerakkan pedangnya menangkis. Thian In menarik kembali senjatanya dan membuat serangan baru yang tidak kurang berbahaya. Hoan Tin-cu tak menjadi gugup dan bergerak cepat dalam menangkis dan balas menyerang dengan mengeluarkan tipu-tipu yang paling diandalkan, tapi keadaan mereka seimbang. Thian In menang gesit dan menang tenaga, tapi kalah ulet dan kalah tenang.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan memuji. Semua merasa heran dan memandang karena dalam keadaan setegang itu tak seorang pun berani mengganggu dengan suara maupun tepuk tangan. Ternyata yang bertepuk tangan itu adalah Kam Ciu. Pemuda sastrawan ini, yang menganggap permainan kedua orang itu sangat menarik, agaknya tidak tahu sama sekali bahwa permainan yang indah dipandang itu mengandung ancaman maut bagi kedua belah pihak! Sambil bertepuk tangan, pemuda itu memandang pertempuran dengan mata bersinar, sinar, dan mulut tersenyum-senyum. Sikapnya bagaikan seorang anak menonton pertunjukan tarian!
Orang-orang di dekatnya terpengaruh oleh kegembiraan pemuda itu hingga mereka pun ikut gembira, untuk sesaat melupakan ancaman bahaya bagi yang bertempur. Tapi tak lama kemudian melihat betapa kedua orang itu berputar-putar dalam pertarungan yang semakin sengit, mereka diam lagi dan memandang dengan hati diliputi ketegangan.
Kini hanya Kam Ciu saja yang masih merasa gembira. Ia sabar-sabar bertepuk tangan dan berteriak-teriak! "Lihat, lihat... Aduh, bagusnya tarian losuhu itu seperti seekor ular!"
Para ahli silat diam-diam merasa geli mendengar ini, lebih-lebih ketika Kam Ciu berteriak lagi: "Permainan pedang mereka mengingatkan saya akan pertempuran ular dan burung garuda. Pernah saya melihatnya! Tapi ketika burung terbang dan menyambar, ular pun kalah!"
Tak seorang pun memedulikan ocehannya itu walaupun kata-katanya cukup keras. Sesaat kemudian keadaan pertempuran berubah. Agaknya Thian In merubah gerakannya. Ia gunakan ginkang atau ilmu meringankan tubuh yang hebat dan yang tadi telah dipertunjukkan ketika melawan empat pemuda. Tubuhnya kini berkelebat ke kanan-kiri dan kadang-kadang berputar-putar lalu loncat ke atas dan menyerang dari belakang dan dari atas. Terpaksa Hoan Tin-cu mengikuti gerakan-gerakan lawan yang gesit bagaikan burung itu! Payah ia memutar-mutarkan, makin cepat Thian In berputar di lingkungan luar, makin cepat pulalah ia harus berputar hingga sebentar saja ia merasa pusing dan pandangan matanya kabur. Hoan Tin-cu merasa sibuk menghadapi serangan-serangan Thian In yang tak terduga dan yang dilancarkan dari segenap penjuru, bahkan sering kali di atas.
Makin riuhlah tepuk tangan Kam Ciu dan mulutnya tiada hentinya berkaok-kaok: "Bagus... bagus...! Nah, lihat tuh... sekarang benar-benar ular melawan burung! Aduh, bagusnya..."
Kini kata-kata gembira dari Kam Ciu ini mendapat perhatian semua orang karena betul-betul keadaan yang bertanding di atas panggung adalah seperti seekor ular dan seekor burung sedang berlagak! Thian In merupakan burung yang tangkas dan besar terbang ke sana kemari mengelilingi ular, dan tiap ada kesempatan ia menyerang bagaikan burung mematuk. Sedangkan Hoan Tin-cu berada di tengah bagaikan ular menanti untuk menangkis atau tiba-tiba menyerang kalau lawannya mendekat.
Hoan Tin-cu sudah merasa lelah dan pusing. Ia tak tahu bahwa jika dilanjutkan akan kalah, maka ketika pedang Thian In menyambar lagi, ia tidak menangkis, tapi berkelit sambil loncat ke belakang.
"Betul lihai! Betul kata orang, guru harimau, murid naga. Terima kasih atas pengajaran Anda, Souw Sicu."
Thian In buru-buru menjura. "Totiang, Anda telah mengalah, sungguh membuat saya bersyukur."
Tapi ia salah sangka kalau ia kira bahwa pendeta itu benar-benar mau mengaku kalah, karena dengan wajah muram Hoan Tin-cu berkata:
"Souw Sicu, jika Anda mau menghargai saya, orang tua, nanti pada permulaan musim semi tahun depan kuundang Anda ke Kwie-san di mana sekali lagi saya minta pengajaran Anda."
Terkejutlah Thian In mendengar ini, tapi dasar ia seorang muda yang tabah, ia tersenyum pahit sambil menjawab: "Jadi Totiang masih penasaran? Baiklah, kalau tidak ada aral melintang, pasti saya akan memenuhi permintaan Anda."
Hoan Tin-cu lalu menjura kepada Ong Kang Ek sambil berkata: "Ong Enghiong, tuan rumah tak dapat menemani lebih lama lagi. Terima kasih untuk arak Anda dan selamat berpisah!"
Tuan rumah tak sempat menjawab karena tamunya telah memutar tubuh dan bertindak pergi. Ketika lewat di depan ruang di mana anak-anak muda duduk, tiba-tiba berhenti di depan Kam Ciu dan ia berkata sambil mengangkat tangan menjura kepada pemuda itu yang masih duduk sambil tersenyum memandangnya:
"Anak muda, kau seorang kutu buku, lain kali janganlah banyak mulut bila menonton orang mengadu silat!"
Ong Kang Ek dan Giok Cu terkejut melihat gerakan Hoan Tin-cu karena itu adalah sebuah gerakan serangan yang dilakukan dengan mengerahkan tenaga dalam untuk merobohkan orang tanpa menjamah kulitnya! Ong Kang Ek tidak ingin melihat Kam Ciu dicelakakan, maka hampir saja ia loncat mencegah, sedangkan Giok Cu juga siap sedia dengan piauw di tangan. Tapi ternyata Hoan Tin-cu tidak jadi menyerang anak muda itu, karena buktinya Kam Ciu masih saja duduk dengan tertawa. Totiang itu untuk sesaat memandang wajah pemuda sastrawan yang tidak menjawab kata-katanya tapi hanya tertawa geli saja, kemudian tanpa banyak berkata lagi pendeta itu panjangkan langkah dan lari pergi!
Kam Ciu menggunakan jari telunjuk menuding ke arah punggung Hoan Tin-cu dan tawanya makin keras bergelak. Ong Kang Ek mendongkol juga melihat sikap pemuda itu. Ia segera loncat mendekati dan berkata:
"Gan Hianti, lain kali harap jangan suka menggoda orang. Tahukah Anda bahwa hampir saja Anda mengalami bencana maut?"
Kam Ciu memandangnya dengan tak mengerti. "Bencana maut? Mengapa Ong Lopeh?"